Bunda Thata

Bunda Thata konten kreator

Istriku Pulang Setelah Dua Hari Dimakamkan (1)Penulis : Widya Yasmin [Aa, cepetan p**ang, Neng udah gak kuat.][Gak kuat ...
05/06/2024

Istriku Pulang Setelah Dua Hari Dimakamkan (1)

Penulis : Widya Yasmin

[Aa, cepetan p**ang, Neng udah gak kuat.]

[Gak kuat apa, Sayang? Sabar ya, kalau p**ang nanti, kita puas-puasin.] Aku membalas chat istriku dengan candaan.

[Neng serius, Aa. Cepetan p**ang, atau Aa gak akan pernah melihat Neng lagi.]

Aku terkejut saat membaca chat terakhir darinya. Setelah itu aku langsung menelponnya, tetapi langsung tak aktif. Karena khawatir, aku langsung menelpon ibuku.

"Gimana kabarnya, Kasep?" tanya wanita yang telah melahirkankanku itu.

"Alhamdulillah baik, Bu. Boleh gak aku bicara sama Kinasih, Bu?"

"Dia sedang tidur, ibu gak berani ganggu," jawabnya.

"Apa Kinasih sakit, Bu? Soalnya tadi dia bilang gak kuat, maksudnya apa ya?"

"Mungkin dia kangen sama kamu. Dia sehat, kok, seharian ini dia ngerujak dan ngeliwet sama teman-temannya. Pulang-p**ang langsung tidur."

Entah kenapa aku merasa masih kurang puas dengan jawaban Ibu. Karena dadaku rasanya terus bergemuruh dan tak tenang.

Namaku Nirwan, sudah dua tahun aku menjadi TKI di Korea Selatan. Sebenarnya aku sudah meminta izin untuk cuti sejak Kinasih terus memintaku untuk p**ang, tetapi semuanya tidak bisa mendadak, perlu waktu satu bulan untuk permintaan cutiku diizinkan perusahaan.

Sejak membaca pesan terakhir dari Kinasih, perasaanku semakin tak tenang. Apalagi ponselnya tak juga aktif. Akhirnya aku kembali menelpon ibuku, tetapi ternyata nomor ibu pun tak aktif. Akhirnya aku menelepon adikku.

"Aku lagi di kampus, A," jawab Dini, adikku.

"Ya udah kalau kamuudah p**ang, telpon Aa, ya."

Malam pun tiba, tetapi hp istriku masih sulit dihubungi, begitu p**a dengan Ibu juga Dini. Keesokan harinya aku memutuskan untuk resign, meskipun bulan depan aku baru bisa p**ang.

Sebulan berlalu, aku telah tiba di bandara. Aku sengaja tak memberitahu Ibu juga Dini, karena aku merasa ada yang tak beres di rumah. Selama sebulan sejak aku minta izin resign sampai hari ini, HP istriku tak bisa dihubungi, sementara Ibu dan Dini selalu saja memberikan alasan bahwa istriku sedang pergi dengan teman-temannya setiap kali aku menelpon.

Akhirnya setelah beberapa saat kemudian, aku telah tiba di kampung halamanku. Setibanya di depan rumah bercat hijau, aku terhenyak saat melihat bendera berwarna kuning berkibar-kibar. Selain itu rumahku tampak dipenuhi banyak tetangga.

"Astaghfirullah, Ibu. Apa yang terjadi padanya?"batinku.

Kemarin Ibu memang mengatakan jika dirinya sakit kepala dan minta ditransfer, tetapi aku malah menanyakan keberadaan Kinasih hingga Ibu marah lalu menutup telponnya.

Aku langsung bergegas menerobos kerumunan, hingga seketika aku terhenyak saat melihat sesosok tubuh yang terbujur kaku ditutupi kain jarik atau orang daerahku menyebutnya samping kebat.

"Nirwan, k-kamu p**ang?" tanya Ibu yang tampak tercengang saat melihat kep**anganku.

Begitu p**a dengan Dini yang juga tampak tercekat seolah melihat hantu. Tanpa memperdulikan mereka, aku langsung bergegas menghampiri sesosok tubuh yang terbujur kaku tadi. Kusibak kain yang menutupinya, hingga tiba-tiba seluruh tubuh ini terasa lemas.

"Neng Kinasih, bagun, Neng, ini Aa p**ang." Tangisku seketika pecah saat melihat tubuh istriku yang tak lagi bergerak.

"Neng harus bangun, masa suami p**ang, Neng malah tidur!" Semua orang tampak menitikkan air mata saat menyaksikanku yang terus membangunkan Kinasih.

"Kasep, anak Ibu. Sabar, ya. Kinasih sudah lebih dulu meninggalkan kita," ujar Ibu sembari mengelus kepalaku.

Kulihat air mata membasahi pipinya, lalu tiba-tiba ia menatapku dengan wajah penyesalan.

"Kenapa, Bu? Kenapa Ibu gak bilang soal kondisi Kinasih?" Aku menatapnya dengan wajah kecewa.

"Maafkan, Ibu. Maafkan Ibu." Hanya itu yang ia katakan, sementara air matanya terus berjatuhan membanjiri wajahnya.

Aku kembali menatap wajah istriku yang pucat pasi, apa sebenarnya yang terjadi padanya? Seketika aku teringat pesan terakhir darinya yang menyuruhku untuk segera p**ang. Aku sangat menyesal, karena tak bisa mencegah kepergiannya.

"Dini, sebenarnya apa yang terjadi pada Kinasih, Din?" Kini aku mengalihkan pandangan pada adikku yang sejak tadi hanya tertunduk sambil berlinang air mata.

Namun, ia hanya bungkam, begitu p**a dengan para tetangga yang juga hanya diam saat aku mengharapkan penjelasan.

"Neng, bangun, Neng. Aa sempat minta foto bareng Song Joong Ki, bahkan Aa juga punya tanda tangannya. Neng kan ngefans banget sama dia." Aku terus membujuknya, tetapi tetap saja matanya tak juga terbuka.

"Sabar, Jang, istrimu sudah diambil oleh pemiliknya. Jang Nirwan harus ikhlas," ujar Pak Ustaz hingga membuat tangisanku kembali pecah.

Meskipun berat, akhirnya aku merelakan istriku untuk dimandikan, dikafani dan dishalatkan sesuai syariat yang berlaku. Lalu setelah itu aku dibantu para tetangga menggotong jenazahnya menuju liang lahat.

Istriku adalah seorang yatim piatu, sejak kecil ia tinggal di panti asuhan, hingga akhirnya bertemu denganku lalu aku memutuskan untuk menikahinya.

Saat sedang menggotong tandu jenazah istriku, tiba-tiba aku teringat percakapan kami dua bulan yang lalu di telpon. Ia mengatakan bahwa dirinya ingin kugendong, karena ia bilang tubuhnya semakin hari semakin kurus. Ia mengatakan bahwa aku tak akan merasa berat menggendongnya meskipun harus keliling kampung, karena tubuhnya yang semakin hari semakin kurus.

Saat itu aku tak memiliki firasat apapun, karena aku hanya fokus bekerja agar bisa mengumpulkan banyak uang untuknya.

Setibanya di liang lahat, Pak Ustaz menyuruhku untuk turun ke lubang tempat peristirahatan terakhirnya. Aku berusaha menahan air mataku menetes sesuatu ucapan Pak Ustaz ketika menangkap tubuh Kinasih yang terbungkus kain kafan lalu menidurkannya, setelah itu mengadzaninya.

________

"Sekarang kalian harus menjawab, kenapa Kinasih bisa meninggal?" tanyaku pada Ibu juga Dini setelah p**ang dari pemakaman.

"Dia sakit setelah hujan-hujanan bersama pacarnya di tepi danau," jawab Ibu setelah tak ada lagi tetangga yang bertakziah.

"Ibu jangan mengada-ada! Kinasih bukan orang seperti itu!" Terpaksa aku meninggikan suara, karena aku sangat yakin jika ibuku sedang memfitnah istriku.

"Aa harus percaya sama Ibu. Teh Kinasih itu sudah selingkuh sama cowok yang ia kenal dari Facebook." Tiba-tiba Dini menyahut.

"Kalian jangan mengada-ada, aku sangat yakin istriku tak seperti itu."

"Asal kamu tahu, Nirwan, selama kamu di Korea, kerjaannya cuma tiktokan dan keluyuran. Tadinya ibu malas ikut campur, karena gak mau rumah tangga kalian kenapa-kenapa, tapi belakangan ibu baru mengetahui kalau dia punya selingkuhan."

"Diaaaaaaaam!" teriakku hingga membuat Ibu dan Dini seketika tercekat.

Entah mengapa aku sama sekali tak percaya dengan ucapan Ibu. Istriku adalah seorang pendiam dan pemalu, ia tak memiliki akun sosial media apapun, jadi aku yakin semua yang ibuku katakan pasti bohong.

Aku langsung masuk kamar dan membanting pintu. Pasti ada yang tak beres dengan kematian istriku, aku berjanji untuk menyelidiki semuanya.

Keesokan harinya, aku mendatangi satu persatu tetangga. Semua jawaban mereka tak jauh berbeda dengan apa yang Ibu dan Dini katakan. Mereka mengatakan bahwa istriku s**a keluyuran hingga larut malam. Hingga akhirnya aku mendatangi teman-temannya yang kebetulan tinggal di kampung sebelah.

"Sejak menikah denganmu, kami tak pernah bisa bertemu. Kinasih bilang, ibumu tak pernah mengizinkannya keluar rumah, kecuali ke warung," ujar Susi, sahabat dekat Kinasih ketika SMA.

Setelah Susi, aku juga mendatangi Ratna, Sartika dan Puri. Semua jawaban mereka sama, yaitu tak pernah bertemu dengan istriku karena dilarang oleh ibuku.

Baca selengkapnya di aplikasi KBM App. Klik link di bawah:
https://read.kbm.id/book/detail/3b5947a3-5b40-4b71-8dc4-7c95765b326d

Bersambung

Bab 1“Pak Ustad, apa hukumnya membeli kerupuk dari anak haram?”Joko tersentak kaget melihat beberapa pelanggan setianya ...
05/06/2024

Bab 1

“Pak Ustad, apa hukumnya membeli kerupuk dari anak haram?”

Joko tersentak kaget melihat beberapa pelanggan setianya bertanya kepada Ustad Ahmad. Lelaki itu kebetulan singgah di gerobak kerupuk milik Joko.

Dia menatap Joko sambil menghela napas panjang.

“Astagfirullah, masih pagi kok langsung gitu sih ibu-ibu?” ucap Ustad Ahmad membela.

“Saya serius pak Ustad. Apa ada dalil atau hadisnya?”

“Tahu dimana kalo Joko anak haram?” balas ustad Ahmad lagi.

Dia menepuk pundak Joko dengan pelan berusaha memberikan semangat. Joko terdiam membisu. Namun perlahan, bola matanya berkabut.

“Sebaiknya ibu-ibu p**ang ke rumah sekarang!”

Para ibu-ibu yang sudah membeli kerupuk segera berlari menjauh. Seperti biasa, mereka akan berteriak dan menyebut Joko sebagai anak haram dari negeri Yaman.

Kampung Duku kaget melihat Salma, seorang TKW asal Yaman p**ang dalam keadaan hamil. Mereka menduga jika Salma adalah korban rudal paksa.

Menikah dan merawat ibunya adalah tantangan bagi Joko. Pernikahannya dengan Lisa Anastasya, putri seorang kepala dinas di kampung Duku membuatnya harus bekerja lebih keras.

Sore ini, Joko mendapatkan uang sebesar seratus lima puluh ribu. Kemarin, Lisa meminta Joko membelikannya sebuah kalung berlian.

Menghasilnya lima puluh ribu perhari, tidak mampu untuk membeli kalung berlian seharga seratus juta rupiah.

Joko percaya jika Lisa ingin menjebaknya. Jika Joko tidak mampu membelikan Lisa kalung berlian, maka mereka akan bercerai.

Joko tidak tahu harus berbuat apa. Dia hanya bisa berusaha sekuat mungkin.

“Udah p**ang, Jok?”

Rina, bibinya menyambut Joko di depan pintu. Salma dikurung di dalam kamar karena dia akan menganggu warga jika keluar.

“Ibumu jatuh di pasar tadi,” ucap Rina. Dia melihat gerobak kerupuk milik Joko. Kerupuk yang di gorengnya kemarin sudah habis terjual. Itu artinya, Joko memiliki uang saat ini.

“Bisa bantu bibi? Ibumu perlu obat anti nyeri, harganya lumayan mahal.”

“Berapa Bi?” tanya Joko dengan cepat.

Rina mengeluarkan sebuah kertas kecil. Di sana, tertulis beberapa jenis obat yang harus diminum oleh Salma. Salah satunya obat anti depresi.

Joko menghela napas panjang melihat harga obat yang sangat mahal.

“Cukup lima puluh ribu saja,” ucap bibi Rina.
Joko kemudian mengambil dompet lusuhnya dan memberikan uang lima puluh ribu rupiah.

“Malam ini nggak ke rumah Lisa?” tanya bibi Rina basa-basi.

Pak Sumanto, kepala dinas di desa Duku sedang berulang tahun. Dia adalah mertua Joko. Lisa memilih untuk tidak tinggal dengan Joko karena dia tidak ingin hidup di gubuk.
Joko menuruti keinginan istrinya. Joko sangat mencintai Lisa. Dia berusaha untuk membahagiakannya.

Mengapa mereka bisa menikah?

Lisa pada awalnya mencintai Joko. Namun masalah ekonomi membuat Lisa menjauh. Lisa ingin menjadikan Joko seorang model majalah. Namun Joko menolak. Dia tidak ingin terkenal.

Ibunya akan menjadi sasaran amarah dan amukan para warga. Sebutan anak haram sudah cukup membuat Joko malu dan sangat hina.

“Nanti Bi, Joko pikirkan.”

“Tapi kamu punya uang buat beli kadonya, nggak?” tanya bibi Rina lagi. Joko menggelengkan kepala.

Dia sangat miskin. Jangankan membeli kado. Memberikan Lisa makanan terasa sangat sulit.

“Nggak usah pergi, nanti kamu dihina lagi. Di sana, anak-anak pak kepala dinas semuanya orang penting. Pejabat desa, PNS dan masih banyak yang lain. Hanya buat malu saja.”

“Kita miskin, Jok!”

Joko menganggukan kepala.
Rina mengeluarkan Salma dari dalam kamar. Dia kemudian membersihkan tubuh wanita itu.

“Lihat ibumu, sudah sangat kurus. Kalo punya uang lebih, mendingan beli susu saja yah, Jok.”

“Iya Bi!”

Joko keluar dari rumah. Dia duduk di teras beberapa menit. Mempertimbangkan jika dia harus ke rumah Lisa sekarang.

Namun banyak konsekuensi yang akan didapatkannya. Semua keluarga pak Sumanto akan menghinannya.

Dring!

“Kamu dimana sih? Apa nggak tahu kalo sekarang ayahku ulang tahun?”

Suara teriakan Lisa menganggu telinga Joko. Dia tahu jika istrinya akan meminta hadiah yang cukup besar.

“Aku nggak ada uang buat beli hadiah.”

“Jadi, uangmu hari ini kemana Jok? Apa habis lagi buat ibumu?” balas Lisa.

Dia selalu kesal karena Joko tidak pernah bisa memenuhi permintaanya.

“Pokoknya kamu harus datang, titik!”

Sambungan telepon terputus. Joko menatap layar ponselnya dan mengetuknya dengan pelan.

“Hallo, Lisa aku nggak bisa datang. Hallo, Lisa?”

Tidak ada suara. Joko mengusap wajahnya frustasi. Lisa akan marah dan seperti biasa, wanita itu ingin bercerai darinya.

Joko masuk ke dalam kamar, mengambil pakaian yang paling bagus lalu segera keluar dari rumah. Joko akan naik ojek ke rumah pak kepala Dinas.

Sesampai di rumah kepala dinas. Tidak ada yang menyambut Joko. Mereka menatap Joko dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan ekspresi jijik.

“Bawah apa Jok?”

Burhan, kepala sosial di lingkungan Duku menepuk pundak Joko. Dia adalah kakak kedua dari Lisa.

“Minyak rambut.”

“Apa? Minyak rambut? Hanya minyak rambut?” kekehnya.

Joko tidak bersuara. Dia melangkah menuju ruang tamu. Di sana beberapa orang-orang mengelilingi pak Sumanto. Mereka semua memberikan ucapan selamat.

“Menantu miskin kita sudah datang!”
Semua orang menatap Joko. Ada beberapa dari mereka menatap Joko sambil berbisik.
Di ujung sana sang mertua, Pak Sumanto sudah menatapnya dengan tatapan penuh intimidasi.

“Apa yang kamu bawah, Jok?” tanyanya.

Joko dengan pelan memberikan sebuah kotak minyak rambut. Minyak rambut itu didapatnya dari ustad Ahmad sebagai hadiah.

“Ya ampun, hanya obat rambut?” serunya.
Ch!

“Seharusnya kamu tahu, Joko. Putriku yang cantik dan berpendidikan ini sangat cocok dengan pengusaha, gaji mereka bahkan dua digit, berbeda denganmu. Hadiah ulang tahun saja, tidak bisa kamu dapatkan?”

“Dasar miskin!”

“Kau pellet apa si Lisa itu sehingga mau denganmu?”

“Ora sudi punya menantu sepertimu!” makinya.

“Semua saudara Lisa adalah PNS, lalu kamu hanya penjual kerupuk. Kalo saja kamu nggak tampan, Lisa nggak mungkin s**a sama kamu!”

Joko mengelus dadanya. Lisa melihatnya dari jauh. Tampak wanita itu tidak peduli.

“Orang miskin kok datang?” kekehnya.

Joko mengambil minyak rambutnya kembali dan bergegas pergi. Saat baru saja berada di pintu, semua orang menatapnya dengan ekspresi iba.

Tamu-tamu yang datang memakai seragam kerja. Bahkan hanya Joko yang tidak berseragam. Joko meninggalkan ruang pesta dengan perasaan kacau.

“Benar kata bibi Rina, kita hanya orang miskin. Nggak usah bergaul dengan orang kaya. Mereka hanya s**a menghina.”

Joko menyeka air matanya yang hampir jatuh. Saat ini, sebaiknya dia kembali ke rumah untuk merawat ibunya, Salma.

“Ya ampun, Jok. Makanya kamu tuh harus kerja. Jadi seperti kami, pake seragam. Di sini, kalo miskin tuh nggak dianggap!” ucap Burhan menanggapi.

Joko hanya bisa tersenyum.
***

Judul: Hinaan Karena Miskin (Ibuku Bukan Pelacur)
Nama penulis (Nama pena) : Anana-chan
User kbm: Nur_Jannah_Mangguali
Link:
https://read.kbm.id/book/detail/20ce7663-e9b8-4cd0-b6af-4bcf67fed88a?af=8ccb581b-5d9e-3930-19e2-d461e1029f21

MEMBALAS PENGKHIANATAN SUAMI DAN SAHABATKU"Kinar, aku rasa suamimu ada main lagi di belakangmu," ucap Fitri sedikit ragu...
05/06/2024

MEMBALAS PENGKHIANATAN SUAMI DAN SAHABATKU

"Kinar, aku rasa suamimu ada main lagi di belakangmu," ucap Fitri sedikit ragu juga sungkan.

Kinar yang sedang fokus pada laptop diam seketika. Dia menghela napas kasar lalu menatap Fitri yang duduk di depannya.

"Kali ini siapa?" tanyanya setelah menutup laptop lebih dulu.

"Niken."

Kinar menutup mata, sebilah belati seolah ditancapkan tepat di dadanya. Sakit tak terperi.

"Tapi itu baru dugaanku saja, Kinar," ucap Fitri cepat. Takut Kinar marah dan tak terima.

"Terima kasih untuk informasinya. Sungguh, nama yang tidak terduga. Tapi semua tidak bisa aku telan mentah-mentah, sebelum aku melihatnya sendiri."

Fitri mengangguk paham. Dia tak ingin terlalu ikut campur urusan rumah tangga sahabatnya itu. Yang penting dia sudah memberi tau, agar Kinar lebih waspada.

Cinta telah membutakan mata juga membuat Kinar sedikit bodoh. Padahal ini bukan kali pertama suaminya main serong. Dia seolah rela menelan luka-luka itu seorang diri.

"Kalau gitu aku balik dulu, ya. Mau mampir ke kantor Mas Reza dulu. Dia harus tau kabar baik tentang sanggar kita," pamit Kinar seraya merapikan dokumen juga laptopnya.

Fitri hanya tersenyum kecut. Apa yang ia ucapkan tadi bagai angin lalu. Jujur, sebenarnya ada rasa iba yang menelusup, tapi orang yang ia peringati seperti biasa saja.

Kinar melangkah menghampiri mobil yang dia parkirkan di halaman sanggar dengan senyum manis yang tersungging di wajah cantiknya. Mengemudikan mobilnya dengan santai, membelah jalanan yang cukup lenggang siang itu. Tidak lupa memutar lagu romantis favoritnya. Sesekali ikut berdendang mengikuti alunan musiknya.

Hati Kinar sungguh berbunga. Akhirnya apa yang dia impikan terwujud. Tidak hanya dia yang akan bahagia dengan kabar ini, orang-orang di sekelilingnya juga akan menikmati kebahagiaannya.

Investor itu, akhirnya mau bekerja sama dengan perusahaan Kinar. Produk-produk homemade yang selama ini dia perjuangkan akhirnya bisa tembus pasar ekspor. Tiga tahun dia berjuang dan tak pernah lelah menyemangati para perajin kayu dan bambu yang sudah mulai putus asa karena apa yang mereka harapkan tak kunjung ada titik terang. Sedangkan perut-perut di rumah butuh untuk diberi makan.

Kinar membelokkan kemudinya di sebuah toko bunga. Bermaksud membeli bunga mawar merah . Bunga favorit dia dan sang suami.

Keluar dari mobilnya dengan tangan kanan menenteng tas tangan berukuran sedang. Kaki jenjang Kinar melenggang anggun memasuki toko bunga itu. Dia tersenyum ramah dan sedikit mengangguk tatkala seorang pegawai toko membukakan pintu untuknya.

"Mbak, tolong satu buket bunga mawar merah, ya!" pintanya pada seorang gadis yang berdiri tak jauh dari tempatnya berdiri.

"Baik, Bu. Barangkali ada yang lain lagi, Bu?" tanya gadis itu sopan.

"Tidak, Mbak. Cukup itu saja!" jawab Kinar dengan tersenyum kecil.

Kinarian Nitami, bisa dibilang wanita yang sempurna. Cantik, dengan tinggi badan 170cm, rambut lurus sepinggang dengan warna sedikit coklat. Bulu mata lentik dengan iris coklat terang. Kulitnya kuning langsat khas perempuan jawa. Siapa yang tak menggilainya.

Ya. Setidaknya itulah yang orang tau. Orang melihat dan menilai apa yang mereka lihat. Namun kenyataan sesungguhnya, siapa yang tau, karena Kiran begitu rapi memolesnya sebegitu indah.

Sambil menunggu pesanannya jadi, Kinar duduk di sofa di sudut ruang yang dikelilingi banyak bunga segar yang ditaruh dalam pot-pot besar. Harum bunga-bunga itu sungguh memanjakan indra penciuman.

Kinar memainkan ponsel sambil menunggu pesanannya. Sesekali dia mendongak, melihat bunga-bunga segar di depannya dengan seulas senyum manis yang terukir di bibir tipisnya.

"Bu, maaf, pesanan Anda sudah jadi!" Seorang gadis dengan rambut sebahu yang digerai dan disematkan jepit kecil di atas kepalanya memberi tahu Kinar yang sedang asik dengan ponselnya.

Kinar mendongak, tersenyum dan mengangguk pada gadis yang berdiri tidak jauh dari sofa yang dia duduki.

"Terima kasih, Mbak!" ucap Kinar tulus, lalu beranjak untuk mengambil pesanannya.

"Sama-sama, Bu," jawab gadis itu lalu mengekor Kinar ke kasir untuk mengambilkan buket bunga mawar pesanannya.

Kinar meletakkan buket bunga itu di kursi samping kemudi. Dia tersenyum puas melihat buket itu. Mengeluarkan ponselnya lalu memotret buket bunga mawar itu. Memasang foto itu distatus whatsapp dengan ception, akan menjadi kenangan yang tak terlupakan.

***

Setelah memarkirkan mobilnya, Kinar melenggang masuk ke kantor sang suami. Dia tersenyum dan mengangguk saat berpapasan dengan beberapa karyawan yang menyapanya. Ya, Kinar memang terkenal ramah pada para karyawan, terkadang dia tak segan untuk ikut berbincang dengan mereka.

Kinar memasuki lift, menekan angka lima di mana ruangan sang suami berada. Menciumi mawar yang di pegang dengan tangan kirinya. Dia sangat s**a dengan aromanya. Tak sabar untuk memberi kejutan pada suaminya. Saat lift berhenti dan terbuka, dia segera keluar. Ruang kantor sang suami ada di ujung koridor.

Ayu- sekertaris Reza- mengalihkan tatapannya dari laptop yang ada di depannya saat mendengar langkah kaki menuju tempatnya. Betapa kagetnya dia, ternyata yang berjalan kearahnya adalah istri bosnya. Dia langsung berdiri dengan wajah pucat. Telapak tangannya sudah dingin dan berkeringat.

"Duh, Bu Kinar. Bagaimana ini." Ayu bergumam sendiri, dia panik tapi tidak tahu apa yang harus diperbuat. Ayu terus saja melihat Kinar dan pintu ruang bosnya secara bergantian.

Langkah Kinar semakin dekat. Dia sedikit heran melihat Ayu yang pucat. Apa anak itu sakit, batinnya.

"Si-siang, Bu!" Sapa Ayu dengan suara yang sedikit bergetar. Dia menunduk tak sanggup melihat wajah Kinar. Meremas telapak tangannya yang sudah sedingin es.

"Ayu, apa kamu sakit?" tanya Kinar lembut.

Seketika Ayu gelagapan dan hanya bisa menggeleng lemah. Kinar mengernyit, dia heran sekali melihat tingkah Ayu, tidak biasanya dia begitu.

"Bapak ada kan, Yu?" tanya Kinar pada akhirnya, karena gadis itu hanya diam saja.

"Eh, itu ... emm ada, Bu!" jawab Ayu pelan, masih tak berani melihat wajah Kinar.

Kinar menghela napas kasar. Sedikit kesal dengan sekretaris sang suami.

"Ya sudah, tolong kamu taruh bunga mawar ini di vas ya, Yu. Nanti antarkan ke dalam. Saya tunggu!" Kinar berucap sambil meletakkan buket bunga mawar di meja Ayu, mengambil tiga tangkai untuk dia pegang sendiri.

Seketika Ayu langsung mendongak mendengar perintah istri bosnya itu. 'Duh, gimana ini, mati aku,' batinnya.

Mulutnya baru akan protes sudah dipotong terlebih dulu dengan Kinar.

"Ga ada kata tapi, oke!" ucap Kinar tegas sambil menatap tajam Ayu.

Dengan memasang senyum terbaiknya, Kinar menggenggam tiga tangkai bunga mawar ditangan kiri. Lalu dia sembunyikan dibelakang punggungnya. Dia tak mengetuk pintu dulu karena ingin memberikan kejutan.

Kinar memutar handle pintu dengan sangat pelan, agar tak menimbulkan suara. Pandangannya justru tertuju pada tangannya yang sedang memutar handle pintu. Saat pintu sudah terbuka separuh, dia baru mendongak. Dan dadanya tiba-tiba sakit, telinganya berdengung.

Kinar melihat pemandangan yang begitu menyakitkan. Tanpa dia sadari tangannya menggenggam tangkai mawar dengan sangat kuat. Duri mawar itu menancap kuat di telapak tangannya. Darah segar seketika memenuhi telapak tangannya.

Reza sepertinya sangat menikmati sampai-sampai tak menyadari pintu ruangannya terbuka. Dan sang istri yang berdiri membeku dengan hati yang hancur.

"Mas," Kinar memanggil pelan dengan suara yang bergetar. Matanya sudah berkabut, air matanya sudah berjejalan ingin segera keluar.

Reza tak mendengar, pun dengan perempuan yang duduk dipangkuannya. Ayu yang baru saja kembali dari pentry terkejut melihat yang terjadi di hadapannya. Vas bunga yang dia bawa meluncur mengenai lantai dan menimbulkan suara yang cukup nyaring, dengan bentuk vas yang tak utuh lagi karena pecah.

Reza seketika melihat kepintu, wajahnya berubah pucat pasi melihat Kinar. Kinar langsung membekap mulutnya tatkala perempuan itu menoleh. Dia pun tak kalah terkejut, dan segera turun dari pangkuan kekasihnya.

Kinar menatap keduanya nyalang. Tangan kanannya menunjuk mereka berdua dengan amarah yang memuncak.

"Manusia lak-nat!" teriaknya.

SUDAH TAMAT DI KBM APP
JUDUL : KINARIAN
PENULIS: Fizchanayla

Link kbm :

KINARIAN - Fizchanayla
jangan lupa subscribe n follow dulu ya,,,,

ketegaran Kinar yang menghadapi suaminya, Reza, yang sel...

Baca selengkapnya di aplikasi KBM App. Klik link di bawah:
https://read.kbm.id/book/detail/629e917b-f03b-3c71-ba03-ee478dcd116f

31/05/2024


Selamat pagi ,Selamat beraktifitas
01/03/2024

Selamat pagi ,
Selamat beraktifitas

29/02/2024

Selamat pagi ,,
Selamat beraktifitas

29/02/2024

Assalamualaikum

Promo khusus malam ini saja 🥰🥰 daftaran telpon Sdh 1 bulan harga cuma mulai 3ribu
02/02/2024

Promo khusus malam ini saja 🥰🥰 daftaran telpon Sdh 1 bulan harga cuma mulai 3ribu

31/01/2024

Mulai dari 0

22/01/2024

Perlahan saja yah ,,
Karena kita memang memulai dari 0 💪🏻💪🏻


21/01/2024

Ketika kita memulai dari 0 ,,
Insya Allah lambat laun akan jadi banyak juga
Jika kita berusaha

14/01/2024

Paket mukenah sudah datang sebagian


Address

Rajshahi Division
90971

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Bunda Thata posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Bunda Thata:

Share