01/06/2026
Syukur tak Terukur
: Lien Lazuardy
Aku belajar membaca waktu
Dari langkah kecil, kini mulai meninggalkan jejak panjang
Dulu, tangan mungil itu menggenggam jemariku
Seolah dunia terlalu luas untuk ditaklukkan
Kini, bahunya mulai tegak
Tatapannya mulai mengenal arah
Gerimis membasahi halaman hati
Aku menyadari dalam diam, musim telah bekerja
Anak laki-lakiku tumbuh, bukan lagi sekadar peluk yang mencari teduh
Melainkan pohon muda, sedang belajar menyentuh langit
Aku bersyukur
Atas tawa yang pernah memenuhi rumah
Atas pertanyaan-pertanyaan sederhana
Yang kini berubah menjadi pemikiran yang
Bersyukur atas setiap hari
Yang mengajarkannya menjadi lebih kuat
Tanpa kehilangan lembut hatinya
Gerimis hari ini terasa berbeda
Ada haru yang menetes bersama rinainya
Namun bukan kesedihan
Hanya rasa syukur yang begitu penuh
Hingga sulit kutampung dengan kata-kata
Jika kelak jalan hidup membawanya jauh
Aku berharap ia tetap mengenang
Bahwa ada doa yang tak pernah pulang dari langit
Ada kasih yang tak pernah selesai tumbuh
Dan di setiap gerimis yang jatuh
Aku akan selalu mengingat hari-hari ini
Saat seorang anak laki-laki
Perlahan menjelma lelaki yang lebih baik
Sementara aku berdiri di beranda waktu
Menatap hujan yang lembut
Dan mengucap syukur berulang-ulang
kepada Tuhan
Karena telah menitipkan
Sepotong cahaya dalam hidupku
Yang kini sedang belajar bersinar, dengan caranya sendiri
Bandung, 2 Juni 2026
(1185 karakter)