12/01/2026
Malam itu dingin, tapi kota tidak peduli.
Lampu-lampu tetap menyala.
Orang-orang tetap pulang ke rumah masing-masing.
Di depan sebuah toko tua yang sudah lama tutup, seorang anak kecil meringkuk.
Tubuhnya kurus.
Bajunya kebesaran, entah bekas siapa.
Kardus bekas air mineral ia susun jadi alas tidur.
Itulah tempat paling aman yang ia miliki malam itu.
Setiap kali angin lewat, ia menarik jaket tipisnya lebih rapat.
Bukan hanya dingin yang ia lawan.
Tapi rasa takut yang selalu datang saat malam terlalu sepi.
Ia tidak pernah tidur nyenyak.
Bukan karena mimpi buruk.
Tapi karena ia tahu, di jalan, ia harus selalu siap bangun.
Kadang ia terbangun karena suara langkah.
Kadang karena suara orang tertawa.
Kadang karena rasa lapar yang menusuk perutnya.
Ia sudah terbiasa.
Dulu, ia pernah punya rumah.
Ia ingat bau nasi hangat.
Ia ingat suara sendok di piring.
Ia ingat dipanggil dengan namanya.
Sekarang, tak ada lagi yang memanggil.
Tak ada yang menunggu.
Tak ada yang akan bertanya jika ia tidak pulang.
Siang hari, ia mengumpulkan botol bekas.
Kadang mendapat seribu.
Kadang tidak sama sekali.
Jika beruntung, ia bisa membeli roti murah.
Jika tidak, ia minum air dari keran umum dan pura-pura kenyang.
Malam itu hujan turun perlahan.
Bukan hujan yang membuat orang panik.
Hanya hujan kecil yang merembes pelan,
membasahi jaketnya,
membasahi kardusnya,
membasahi tubuh kecilnya sedikit demi sedikit.
Ia terbangun.
Menggigil.
Tapi ia terlalu lelah untuk pindah.
Demam sudah ia rasakan sejak siang.
Kepalanya berat.
Matanya perih.
Ia berpikir sebentar,
“Besok aku cari tempat yang lebih kering.”
Tapi besok tidak pernah datang.
Beberapa orang lewat malam itu.
Ada yang melirik sebentar.
Ada yang berkata dalam hati, kasihan.
Lalu berjalan pergi.
Tak ada yang tahu, napasnya semakin pelan.
Tak ada yang tahu, tubuhnya kehilangan panas.
Malam berlalu.
Hujan berhenti.
Subuh datang.
Pagi itu kota kembali hidup.
Motor lewat.
Pedagang membuka lapak.
Orang-orang mengecek ponsel mereka.
Anak itu masih di sana.
Tak bergerak.
Seseorang berkata,
“Anaknya capek banget ya, tidurnya pulas.”
Waktu berjalan.
Ia tetap diam.
Saat seseorang akhirnya mendekat dan menyentuh pundaknya,
tubuh itu sudah dingin.
Terlalu dingin untuk dibangunkan.
Tak ada jeritan.
Tak ada yang memeluk.
Tak ada yang menangis histeris.
Petugas datang.
Mengangkat tubuh kecil itu.
Ringan.
Terlalu ringan untuk anak seusianya.
Tak ditemukan apa-apa di sakunya.
Tak ada nama.
Tak ada alamat.
Ia pergi sebagai angka.
Sebagai laporan.
Sebagai berita kecil yang mungkin tak dibaca siapa pun.
Malamnya, kota kembali terang.
Orang-orang kembali tidur di kasur empuk.
Dan di depan toko itu,
kardus basah masih tertinggal.
Kosong.
Seolah anak itu tidak pernah ada.
Jika satu malam saja ia punya tempat hangat,
mungkin ceritanya berbeda.
Tapi dunia terlalu sibuk
untuk berhenti
dan melihat
seorang anak
yang perlahan mati di depan mata kita.