19/05/2026
Kini aku mengerti,
tidak semua janji tinggal sampai akhir,
tidak semua pelukan mampu bertahan
saat hidup mulai dipenuhi luka dan air mata.
Dulu aku percaya,
dia akan mencintaiku selamanya,
menemani di waktu senang maupun susah,
menggenggam tanganku ketika dunia terasa berat.
Namun ternyata,
duka ini hanya aku yang memikul sendiri.
Aku berjalan sendiri mencari nafkah,
menahan lelah tanpa tempat bersandar,
tidur sendiri dengan hati yang sunyi,
sementara malam terus bertanya
mengapa cinta bisa berubah sedingin ini.
Tidak ada lagi suara lembut yang bertanya,
“kamu capek atau tidak?”
Tidak ada lagi perhatian kecil
yang dulu membuat hati merasa dihargai.
Yang tersisa hanyalah diam,
dan aku yang perlahan belajar kuat
meski hati terus retak setiap hari.
Kadang aku menangis diam-diam,
bukan karena aku lemah,
tetapi karena terlalu lama berjuang sendiri
di hubungan yang seharusnya dijalani berdua.
Aku hanya ingin dimengerti,
ingin dipeluk saat lelah,
ingin ada seseorang yang berkata
“terima kasih sudah bertahan sejauh ini.”
Namun malam mengajarkanku satu hal,
bahwa perempuan yang sering terluka
tetap bisa berdiri,
tetap bisa tersenyum,
meski hatinya penuh penyesalan dan kecewa.
Dan jika suatu hari nanti
aku kembali menemukan bahagia,
aku berharap itu datang
dari seseorang yang tidak hanya hadir saat s**a,
tetapi juga tetap tinggal
ketika hidup sedang paling sulit