21/02/2026
Hutang Parkir yang Tak Tertulis
Waktu itu saya beli bakso kuah di sebuah tempat yang lagi ramai banget. Aroma kaldu sapi bercampur bawang goreng itu seperti punya kekuatan hipnotis. Tanpa pikir panjang, saya langsung menepi dan memarkir motor persis di dekat lapak penjualnya. Posisi strategis. Kalau ada lomba parkir terdekat dengan bakso, saya pasti juara satu.
Sambil makan, saya merasa damai. Dunia terasa adil. Bakso bulat, kuah panas, dan tidak ada mantan di sekitar. Sempurna.
Setelah mangkuk kosong dan saya mengusap sisa kuah terakhir dengan sendok (ini refleks, bukan keserakahan), saya berjalan ke motor. Saya duduk, masukkan kunci, lalu menyalakan mesin. Motor menyala dengan suara penuh semangat, seolah juga ingin cepat pulang.
Tiba-tiba…
*“PRIIIIITTT!”*
Suara peluit terdengar dari belakang.
Refleks saya langsung nengok sedikit. Dari kejauhan, terlihat seorang tukang parkir berjalan cepat ke arah saya. Wajahnya penuh harapan. Peluit masih di mulutnya, seperti simbol otoritas yang tak terbantahkan.
Tapi masalahnya… motor saya sudah hidup.
Di detik itu, otak saya mengalami konflik batin:
**Opsi A:** Berhenti, matikan motor, ambil uang, bayar parkir.
**Opsi B:** Gas pelan, pura-pura tidak dengar.
**Opsi C:** Tancap gas dan biarkan takdir yang menentukan.
Entah kenapa, tangan kanan saya memilih opsi C tanpa rapat koordinasi dulu dengan hati nurani.
Motor melaju.
Di kaca spion, saya lihat tukang parkir itu masih berdiri. Peluitnya sudah tidak berbunyi. Tatapannya kosong. Seperti baru saja ditinggal pas lagi sayang-sayangnya.
Sepanjang jalan pulang, perasaan saya campur aduk. Di satu sisi, saya merasa bebas. Di sisi lain, ada rasa bersalah yang kecil tapi gigih, seperti kerikil di dalam sandal.
Sampai rumah, saya duduk dan mulai berpikir.
Secara hukum, tidak ada kontrak tertulis. Tidak ada tanda tangan. Tidak ada saksi. Bahkan saya tidak pernah secara resmi menyerahkan motor saya ke dia.
Tapi secara moral…
dia sudah meniup peluit.
Dan peluit itu bukan peluit biasa. Itu peluit harapan.
Sekarang kadang saya kepikiran, kalau suatu hari saya parkir di sana lagi, apakah dia masih ingat wajah saya? Apakah dia akan menunjuk saya dan berkata,
“Ini dia. Yang bawa kabur motor tanpa bayar parkir tahun lalu.”
Atau mungkin lebih parah…
dia sudah mengikhlaskan, tapi alam semesta mencatatnya sebagai **hutang parkir yang tak tertulis.**
Sejak saat itu, setiap dengar suara peluit di kejauhan, jantung saya berdetak sedikit lebih cepat.