23/02/2024
inget banget awal mula merintis hanya ada 1 saung ukuran 5x5 meter sebagai satu-satunya tempat buat ngaji, belajar, makan bahkan sholat pun disitu. Jumlah santrinya hanya 9 orang. Itu pun ada santri yang gak betah, akhirnya kabur gak balik lagi. 🙂
Memulai memang selalu terasa sulit, tapi kalo sudah melangkah jangan berhenti. dari situ saya melihat akhirnya Allah pun menunjukkan jalan. Mendatangkan orang-orang baik dengan berbagai macam supportnya. Ada yang siap mengabdikan dirinya, ilmunya dan hartanya. Alhamdulillah atas izin Allah. Bagi saya lembaga pendidikan seperti pesantren itu harus bisa menjadi konektor kebaikan, dimana di dalamnya adalah perkumpulan orang-orang baik yang bisa membagikan kebaikannya kepada masyarakat sekitarnya.
Moment yang paling berkesan di pesantren itu adalah saat ramadhan, dimana pesantren seperti menjadi kampung qur'an. Para santri berlomba2 tadarus, terawih dengan bacaan merdu satu juz, tasmi' al-qur'an 30 juz sekali duduk. Gak cuma ngaji, santri juga semangat berbagi. Membagikan amanah yang dititipkan dari orang-orang baik yang kita konversi menjadi program2 kebaikan. Mulai dari berbagi takjil di jalan, sahur dan buka bersama, berbagi kado lebaran untuk yatim dan guru ngaji di kampung2.
Coba bayangin kalo kita dulu berhenti hanya karena fasilitas yang kurang memadai dan sumber daya manusia yang baperan dan mudah frustasi mungkin kebaikan-kebaikan itu gak akan pernah ada sampai saat ini. Iya gak?
Pelajarannya apa?
Jangan remehkan sekecil apapun kebaikanmu. Karena dari situ bisa menjadi wasilah kebaikan bagi orang lain. Inget pesan guru2 kita, "Jangan bosan jadi orang baik!"
Sebentar lagi ramadhan, semoga Allah sampaikan
Salam hangat,
Muzhoffar Hasan