07/04/2026
Malam itu tiba-tiba masuk satu pesan singkat, tapi cukup bikin mata yang sudah setengah terpejam langsung kembali segar.
Pesanan nasi gemuk tumpeng untuk pagi hari.
Tanpa banyak pikir, dapur yang sempat “istirahat” sebulan penuh di bulan ramadhan akhirnya kembali hidup. Subuh datang lebih cepat dari biasanya. Beras dicuci dalam diam, santan mulai menghangat bersama daun-daun rempah yang perlahan mengeluarkan aroma khasnya, harum yang entah kenapa selalu terasa menenangkan.
Di sisi lain, ayam disuwir pelan, rendang dipanaskan kembali sampai bumbunya meresap sempurna, kuah kari mulai mengepul, mengisi setiap sudut dapur dengan wangi yang sulit dijelaskan. Telur-telur direbus satu per satu, dicek dengan teliti, karena yang sederhana pun tetap harus terasa istimewa.
Pagi pun tiba.
Satu per satu mulai tersusun. Nasi uduk yang pulen dan gurih dibentuk perlahan, lauk-lauk ditata mengelilingi, warna-warna hangatnya seperti bercerita tanpa kata. Tumpeng sederhana, tapi rasanya seperti membawa banyak hal, niat, waktu, dan sedikit rasa rindu dari dapur yang lama terdiam.
Capeknya pasti ada. Tapi selalu hilang di momen ketika semuanya sudah siap berdiri rapi, menunggu untuk diantar.
Kadang memang begitu, yang bikin nagih bukan cuma soal jualannya, tapi momen dadakan yang justru terasa paling “kena”.
Dan entah kenapa, dari yang awalnya cuma satu pesanan, sering berakhir jadi cerita yang ingin diulang lagi.