10/11/2024
Nikah Campuran
Sejak bertugas menjadi penghulu, saya sudah memproses belasan pernikahan campuran (WNA & WNI). Dan yang cukup mencengangkan, seratus persen bulenya adalah laki-laki. Sedangkan catin perempuannya, sebagian besar adalah produk asli Cilacap punya.
Mak comblangnya? Banyak. Ada yang memang bekerja di negara yang sama, dijodohkan, ketemu waktu liburan, dan yang tidak saya duga adalah, lewat Facebook. Ya, Anda tidak salah baca. Gak main-main, ada lebih dari 3 pasang yang menambatkan hatinya via Facebook.
Seingat saya, mas-mas bule yang nyari jodohnya sampe ke Indonesia ini asalnya dari Taiwan, Jepang, Kanada, Turki, Timor Leste dan yang terbaru ini mas-mas dari Australia.
Perasaan saya? Jelas senang sekali. Tapi saya agak sedikit bingung kalo bulenya tidak bisa ngobrol bahasa Inggris. Saya emang ga ahli juga, tapi minimal dulu waktu MTS, pelajaran konversesyen saya selalu maju pertama. Hhe
Apesnya lagi, ada catin putri yang juga tidak menguasai betul bahasa calon suaminya. Akhirnya om gugel turun tangan menjadi perantara kami dalam komunikasi di KUA saat validasi data. Dan bisa jadi berlanjut sampai di awal pernikahan, om gugel adalah asisten komunikasi mereka.
Untuk ijab qobul, saya minta pengantin pria melafalkan qobul dalam dua bahasa. Indonesia dan bahasa ibu mereka. Apakah dihafal? Ya jelas tidak, mereka saya siapkan contekan, jadi tinggal dibaca saja.
Sebelum ijab qobul saya membiasakan diri untuk menyampaikan nasihat pernikahan. Bagi saya, nasihat pernikahan ini sangat penting untuk disampaikan. Meski tanpa nasihat atau khutbah nikah, pernikahan juga tetap sah.
Termasuk untuk mas bule satu ini, nasihat pernikahan saya tulis di selembar stiky notes. Menurut saya ini tidak panjang, tidak sampai satu menit dilafalkan. Toh yang saya sampaikan ini nasihat, bukan pengajian, jadi pendek saja.
Pakai bahasa juga sebisa saya. Salah kata ya jelas ada, yang penting mas bulenya ngangguk2. Tandanya dia paham, kan? 😄
Nah, tren nikah campuran ini menarik. Salah satunya karena kita bisa mengerti bahwa selain buta, cinta juga terkadang bisu. Mereka berbicara, tanpa mulut harus berkata-kata.