20/04/2026
BAHLIL SETUJU PRESIDEN PRABOWO INGIN BUKA PERKEBUNAN SAWIT DI PAPUA BAHKAN DISELURUH INDONESIA DEMI KESEJAHTERAAN RAKYAT INDONESIA
Bahlil Setuju Ide Prabowo Tanam Kelapa Sawit di Papua : Bisa Juga Ditanam Jagung dan Singkong untuk Hasilkan Etanol
---------------------------------------------------------
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan dukungannya terhadap wacana menjadikan Papua sebagai salah satu wilayah penghasil bahan baku etanol nasional.
Kebijakan ini dinilai sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto terkait penguatan swasembada energi dan pengurangan ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar minyak (BBM).
Bahlil menjelaskan, konsep swasembada energi yang ditekankan Presiden Prabowo tidak hanya terbatas pada energi fosil, tetapi juga mencakup optimalisasi energi nabati yang bersumber dari kekayaan alam dan pertanian nasional.
Menurutnya, salah satu langkah konkret yang tengah dijalankan pemerintah adalah peningkatan mandatori campuran biodiesel.
Saat ini, Indonesia telah menerapkan B40 dan tengah menyiapkan transisi menuju B50. Kebijakan tersebut, kata Bahlil, membutuhkan ketersediaan bahan baku yang semakin besar.
“Kalau kita bicara tentang B40, B50 itu kan campuran dari FAME. FAME itu sawit atau CPO dengan metanol dicampur solar. Ke depan kita mau dorong B50, maka potensi untuk penambahan bahan baku semakin tinggi,” ujar Bahlil dalam pernyataannya di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (17/12/2025).
Selain biodiesel, Bahlil juga menyoroti masih tingginya impor bensin yang membebani keuangan negara. Untuk menekan impor tersebut, pemerintah mendorong penerapan program mandatori pencampuran etanol pada bensin, mulai dari E-10, E-20, hingga E-30.
“Di satu sisi untuk bensin impor kita masih banyak, maka yang harus kita lakukan adalah membuat program mandatori E-10, E-20, atau E-30. Bahan bakunya adalah etanol,” jelasnya.
Bahlil menegaskan, etanol dapat diproduksi dari berbagai komoditas pertanian seperti singkong, jagung, dan tebu.
Ia menilai Papua memiliki potensi lahan dan sumber daya yang besar untuk dikembangkan sebagai salah satu sentra produksi bahan baku etanol nasional.
“Etanol itu dari mana? Dari singkong, jagung, kemudian tebu dan berbagai bahan baku lain. Saya pikir Papua salah satu wilayah yang bisa dijadikan sebagai bagian dari produksi bahan baku etanol,” tegas Bahlil.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto juga telah mengarahkan pengembangan sektor energi dan pertanian di Papua dalam rapat bersama Komite Eksekutif Percepatan Otonomi Khusus Papua (KEPP-OKP) di Istana Negara, Selasa (16/12/2025).
Dalam arahannya, Prabowo menekankan pentingnya pengembangan kelapa sawit sebagai bagian dari strategi nasional untuk mengurangi impor BBM yang nilainya mencapai sekitar Rp520 triliun per tahun.
“Nanti berharap di daerah Papua pun harus ditanam kelapa sawit supaya bisa menghasilkan juga BBM dari kelapa sawit,” kata Prabowo.
Selain sawit, Presiden juga mengusulkan pengembangan tebu dan singkong untuk diolah menjadi etanol sebagai bahan bakar alternatif. Menurutnya, langkah tersebut tidak hanya memperkuat kemandirian energi nasional, tetapi juga mendorong kemandirian ekonomi daerah serta menghemat anggaran negara.
“Dengan demikian kita akan menghemat ratusan triliun untuk subsidi, ratusan triliun untuk impor BBM dari luar negeri,” pungkas Prabowo.
Wacana pengembangan Papua sebagai sentra bahan baku etanol ini pun dipandang sebagai bagian dari strategi jangka panjang pemerintah dalam membangun ketahanan energi nasional sekaligus mempercepat pembangunan ekonomi di wilayah timur Indonesia.
Sumber kompas