05/04/2026
Wahai para santri…
Seindah apa pun kampung halamanmu,
akan tiba saatnya engkau harus melangkah pergi.
Ada pelukan ibu yang harus kau lepaskan.
Ada nasihat ayah yang harus kau simpan dalam dada.
Ada rumah yang harus kau tinggalkan
bukan karena engkau tidak mencintainya,
tetapi justru karena cinta itu ingin melihatmu tumbuh.
Tumbuh menjadi pribadi yang kuat.
Tumbuh menjadi insan yang bertanggung jawab.
Tumbuh menjadi hamba yang lebih takut kepada Allah daripada kepada dunia.
Kembali ke pesantren bukan sekadar kembali ke bangunan dan kelas.
Ia adalah perjalanan jiwa.
Perjalanan menahan rindu.
Perjalanan melawan malas.
Perjalanan belajar sabar saat lelah,
belajar ikhlas saat tidak dipuji,
dan belajar kuat saat ingin menyerah.
Lihatlah kapal di pelabuhan.
Ia tampak indah saat diam bersandar.
Aman dari ombak, jauh dari badai.
Namun kapal tidak diciptakan untuk tinggal di pelabuhan.
Ia diciptakan untuk berlayar,
menembus gelombang,
dan menemukan samudra luas tempat ia menjalankan tugasnya.
Begitu p**a dirimu, wahai santri.
Allah tidak menciptakanmu untuk hidup dalam kenyamanan selamanya.
Engkau dipilih untuk belajar,
ditempa oleh waktu,
diasah oleh kesulitan,
agar suatu hari menjadi cahaya bagi banyak manusia.
Maka pergilah…
meski langkah terasa berat.
Belajarlah…
meski rindu sering datang diam-diam.
Bertahanlah…
meski lelah terkadang membuatmu ingin p**ang.
Karena yakinlah,
setiap air mata yang jatuh di jalan ilmu
tidak pernah sia-sia di sisi Allah.
Dan suatu hari nanti,
ketika engkau kembali p**ang
ibumu akan melihat sosok yang berbeda.
Ayahmu akan menyaksikan kebanggaan yang nyata.
Masyarakat akan menyambutmu dengan hormat.
Engkau p**ang bukan sekadar sebagai anak mereka,
tetapi sebagai pribadi yang dimuliakan oleh ilmu,
yang akhlaknya menenangkan,
yang kehadirannya membawa keberkahan.
Pergilah sebagai penuntut ilmu.
Dan p**anglah sebagai cahaya bagi umat.
*kesantrianAlfurqonAlislami*