05/05/2024
"Katakan saja maunya makan apa biar Mas enggak salah pilih."
"Hmm ... terserah Mas saja."
"Dari tadi terserah terus. Khas jawaban seorang wanita," kekehnya.
***
TAKDIR CINTA DILARA ( CALON SUAMIKU MENINGGAL SEBELUM AKAD - 10
Penulis Triyani Yuliana
"Dilara, kenapa dari tadi diam terus? Nggak lagi sariawan, kan, Sayangku?" tanya Mas Rayyandra yang tengah duduk di balik kemudi. Saat ini mobil yang kami tumpangi tengah melaju pelan menembus jalan raya yang lumayan padat. Aku pun menoleh ke arahnya.
Sariawan? Sayangku?
Seakan-akan ada sehelai bulu ayam yang menggelitik telinga mendengar dia memanggilku lembut dengan sebutan itu. Aku masih terheran-heran dengan segala sikapnya yang seperti cuaca yang tak bisa kuprediksi. Tiba-tiba mendung dipenuhi kilat dan petir, sebentar kemudian kembali berubah cerah.
"Mau sarapan di mana, Sayang?"
"Memangnya, Mas lapar?" sindirku dengan tenang.
"Ya, laparlah. Apalagi tadi habis olah raga. Kamu memangnya nggak lapar, Sayang?"
Aku terkekeh pelan.
"Dari tadi sebenarnya aku udah nahan lapar, Mas. Tapi, yang punya apartemen nggak peka sama sekali. Mana kulkas kosong mplompong lagi. Nasib orang numpang ya gini, terlunta-lunta," kekehku.
"Kok ngomong gitu? Di apartemen sendiri kok bilangnya numpang?"
Aku menggeleng. Masih terekam jelas di dalam ingatan mengenai kata-kata tajamnya yang menusuk dan sikapnya yang menyebalkan. Ternyata alasannya karena terbakar cemburu. Apa dia benar-benar cemburu? Atau sebenarnya ada alasan lain?
"Mungkin karena aku belum merasa memiliki, jadi masih seperti tamu yang numpang," keluhku pelan. "Dan aku juga belum terbiasa dengan sikapmu yang berubah-ubah itu, Mas."
"Maksudnya berubah jadi Power Rangers?" candanya.
Agak lucu sebenarnya, tapi sayangnya aku sedang tidak mood untuk tertawa.
Aku pun diam. Dia pun sama.
"Ngambek, nih?"
"Nggak!"
"Jangan cemberut gitu, Cinta?"
"Aku nggak ngambek, Mas. Cuma memilih berhati-hati saja dalam berucap. Aku tidak mau menerka-nerka lagi jika tiba-tiba Mas diam dan marah-marah setelah mendengar ucapanku."
"Maaf, ya, Sayang. Seharusnya aku mengajakmu sarapan dari tadi. Bukan malah mendiamkanmu. Dan seharusnya aku bisa mengendalikan rasa cemburu ini."
Dia menyentuh tangan kanan ini. Aku mengedikkan bahu sambil menggeleng.
"Entahlah, Mas. Aku juga belum bisa memahami kenapa Mas bisa secemburu itu. Apa Mas benar-benar sudah cinta sama aku?"
"Iya."
"Sejak kapan?"
"Sejak ...."
Saat mau melewati perempatan jalan, tiba-tiba ada sebuah motor yang melaju kencang memotong jalan. Membuat Mas Rayyandra menginjak rem secara mendadak. Tubuhku terhuyung ke depan hingga kepalaku terbentur dashboard dengan jantung yang hampir terlepas dari tempatnya. Aku mengusap dahi. Untung saja memakai sabuk pengaman dan benturannya tidak terlalu keras.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Mas Rayyandra cemas.
Dengan merasakan debar jantung yang tak karuan, aku pun menggeleng.
"Beneran nggak kenapa-napa?" Dia mengecek dahiku dengan perhatian. Embusan napasnya yang beraroma mint menerpa wajah ini membuat wajahku dijalari panas. Aku pun menggeleng lagi seraya menetralkan diri.
Suara klakson dari pengendara lain yang berbaris di belakang membuat Mas Rayyandra bergegas kembali melajukan mobil. Tak menunggu lama, dia kembali bertanya mengenai keinginanku mau makan di mana. Aku menelan kecewa. Kupikir dia mau meneruskan ucapan yang sempat terputus tadi.
"Terserah Mas," jawabku sesaat kemudian.
"Kamu s**anya makan apa, Sayang?" tanyanya dengan suara lembut.
"Apa aja yang penting halal."
"Kalau nasi pecel gimana?"
"Nasi pecel?"
Dahiku mengernyit sambil menoleh dan menatapnya. Apa aku tidak salah dengar? Terbiasa hidup di luar negeri, apa dia mengenali makanan tradisional khas Kediri tersebut?
"Kenapa? Enggak s**a? "
"Bukan begitu. Kaget aja. Kupikir Mas enggak tahu dan enggak s**a nasi pecel karena terbiasa hidup mewah di luar negeri."
Dia pun terkekeh pelan. "Sepertinya kita memang harus sering pacaran dan makan di luar biar lebih mengenal satu sama lain."
Aku hanya membalas dengan senyuman tipis.
"Katakan saja maunya makan apa biar aku enggak salah pilih."
"Hmm ... terserah Mas saja."
"Dari tadi terserah terus. Khas jawaban seorang wanita," kekehnya.
Aku pun memicing ke arahnya.
"Siapa saja memangnya wanita yang biasa menjawab terserah dengan tawaran Mas?" tanyaku. Namun, sedetik kemudian aku menyesali pertanyaan itu.
"Mama."
"Mama?"
"Iya. Kamu pikir siapa?"
"Iya, siapa tahu, kan ...."
"Tidak ada, Sayang. Jangan khawatir lagi. Oke?"
Aku diam saja, takut salah bicara lagi. Takut dia marah-marah lagi.
"Oh, iya. Jadinya makan di mana ini? Aku akan berusaha menuruti keinginanmu."
"Aku beneran ngikut saja maunya Mas makan apa dan di mana yang penting makanan halal, sehat, dan mengenyangkan," ucapku tetap dengan jawaban sebelumnya.
"Okelah kalau begitu, Tuan Putri."
Hening akhirnya mengambil tempat di antara kami. Sepanjang perjalanan yang entah mau ke mana aku pun lebih memilih diam sambil menatap ke luar jendela di sampingku. Pikiran ini tengah dipenuhi dengan rasa penasaran mengenai hukuman apa yang akan dia berikan untukku.
*TY*
Mas Rayyandra akhirnya memarkirkan kendaraan di restoran yang menu masakan utamanya berupa soto ayam kampung dan daging. Sesuai perkataan tadi aku menurut saja tanpa melayangkan protes. Suasananya begitu ramai membuat kami menduduki tempat yang berada di sudut ruangan. Tak berselang lama pelayan datang, Mas Rayyandra pun memesan makanan dan minuman yang sudah kami sepakati.
Di saat pelayan meninggalkan meja kami, tiba-tiba ponsel di genggamanku bergetar. Terdapat notifikasi pesan masuk dari nomor baru. Siapa lagi ini? Sebenarnya selain Bianca, nomorku tak jarang dimasuki pesan oleh nomor asing. Tapi, biasanya orang yang menghubungiku untuk alasan bisnis.
Tak berpikir lama, aku pun membuka pesan itu. Betapa jantung ini hampir saja terhenti detaknya ketika mendapati video Bianca dengan Mas Rayyandra yang berisi adegan sangat menjijikkan. Kali ini jauh lebih tak pantas dari video sebelumnya. Posisi mereka berdiri, tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuh. Adegan panas ini seperti sengaja direkam dan dijadikan koleksi. Mas Rayyadra benar-benar ....
Dengan tangan bergetar dan emosi yang bergejolak mendidih memenuhi dada hingga kepala, aku pun beranjak berdiri. Aku menatap nanar ke arahnya.
"Ada apa?" tanyanya.
Tenggorokanku yang tercekat membuatku kesulitan berkata-kata. Tak peduli dengan raut tanya yang terpancar dari netranya, aku pun bergegas meninggalkannya. Mas Rayyandra pun menyusulku. Berkali-kali dia berniat menyambar tanganku, tapi aku tepis kuat-kuat.
"Dilara!"
"Jangan sentuh aku!" tandasku pelan. Aku masih bisa menahan diri untuk tidak berteriak. Aku tidak ingin membuat orang sekeliling memusatkan perhatian padaku.
Di ambang pintu keluar, tanpa sadar kedua pelupuk mataku kini telah penuh dengan cairan bening. Kuusap secara kasar supaya tak terlihat menyedihkan di matanya. Aku tidak sudi ditertawakan olehnya. Hingga tepat di halaman parkir, aku pun berhenti dan menatapnya nyalang.
"Sayang ...."
"Ceraikan aku, Mas!"
"Apa?"
Bersambung .....
Novel penuh kebucinan dan pemanis buatan ini bisa dibaca di KBM App. Hayuk ah download aplikasinya
Judul: Takdir Cinta Dilara
Penulis: Triyani Yuliana
Triyani Yuliana
Takdir Cinta Dilara - Triyani Yuliana
Tiga minggu menjelang pernikahan, Rayyanza mengalami kecelakaan tunggal yang mengakibatkan pendaraha...
Baca selengkapnya di aplikasi KBM App. Klik link di bawah:
https://read.kbm.id/book/detail/e8d11afd-6f43-4d0c-88ea-1b95262ef0d2?af=b0e420c6-7a78-b479-5319-a599731dc7db