qurrota'ayun

qurrota'ayun Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from qurrota'ayun, Apparel & Clothing, Jalan majalaya cicalengka, Bandung.

13/03/2024

Beli koko dewasa Terbaru Harga Murah di Shopee. Ada Gratis Ongkir, Promo COD, & Cashback. Cek Review Produk Terlengkap

22/02/2024

Beli Gamis Set Syar'i / Gamis Set Murah Meriah Terbaru Harga Murah di Shopee. Ada Gratis Ongkir, Promo COD, & Cashback. Cek Review Produk Terlengkap

22/02/2024

Beli Gamis Set Syar'i / Gamis Murah Meriah Terbaru Harga Murah di Shopee. Ada Gratis Ongkir, Promo COD, & Cashback. Cek Review Produk Terlengkap

22/02/2024

Beli Gamis Set Syar'i / Bahan Cricle / Murah Meriah Terbaru Harga Murah di Shopee. Ada Gratis Ongkir, Promo COD, & Cashback. Cek Review Produk Terlengkap

14/02/2024

Beli kerudung instan Terbaru Harga Murah di Shopee. Ada Gratis Ongkir, Promo COD, & Cashback. Cek Review Produk Terlengkap

07/02/2024

Beli gamis murah live Terbaru Harga Murah di Shopee. Ada Gratis Ongkir, Promo COD, & Cashback. Cek Review Produk Terlengkap

06/02/2024

Beli gamis set crincle Terbaru Harga Murah di Shopee. Ada Gratis Ongkir, Promo COD, & Cashback. Cek Review Produk Terlengkap

06/02/2024

Beli gamis bunga premium Terbaru Harga Murah di Shopee. Ada Gratis Ongkir, Promo COD, & Cashback. Cek Review Produk Terlengkap

28/01/2024

Beli set 3 in 1 ank tanggung Terbaru Harga Murah di Shopee. Ada Gratis Ongkir, Promo COD, & Cashback. Cek Review Produk Terlengkap

19/08/2023

Sobat muslimah, saat ini healing seakan menjadi kebutuhan. Penatnya tubuh, banyaknya aktivitas, ditambah rutinitas harian yang monoton membuat sebagian besar orang merasa wajib untuk healing. Ya, jalan-jalan dijadikan cara untuk meredakan rasa mumet.


Healing ke Luar Negeri, Apa iya Stres Jadi Hilang?
https://muslimahnews.net/2023/08/18/22678/


Penulis: Shezan A. Gerung

Muslimah News, DUNIA REMAJA – Sobat muslimah, saat ini healing seakan menjadi kebutuhan. Penatnya tubuh, banyaknya aktivitas, ditambah rutinitas harian yang monoton membuat sebagian besar orang merasa wajib untuk healing. Ya, jalan-jalan dijadikan cara untuk meredakan rasa mumet.

Seiring pesatnya teknologi, dunia pariwisata pun berinovasi. Media sosial menjadi medium yang tepat untuk promosi wisata. Seakan memahami pasar, tidak sedikit konten kreator yang membuat konten bertema wisata. Menyaksikan keindahan alam dan keunikan masyarakat dari berbagai penjuru dunia, membuat sebagian warganet mulai bermimpi pengin jalan-jalan ke luar negeri.

Meski menikmati indahnya alam termasuk perkara mubah, tetapi banjirnya penawaran pada dunia pariwisata ini juga disambut dunia bisnis. Kalau dunia bisnis, sih, jelas menawarkan skema pendanaannya, guys. Hem, kalau begini, kudu ada pertimbangan masak-masak, nih.


Stres atau Sekadar Self Diagnosis?


Nah, hati-hati, ya, sobat. Jangan sampai healing kamu hanya karena ikut-ikutan tren. Terpengaruh konten para selebritas dan konten kreator, atau karena gaya hidup. Ini sih bisa parah dampaknya.

Jalan-jalan menikmati pemandangan alam yang awalnya mubah bisa jatuh pada transaksi haram. Lo, kok, bisa? Ya, hanya karena pengin ke luar negeri, tidak sedikit orang yang biayanya bersumber dari utang. Wah, wah, wah. Hitung-hitungannya bagaimana, tuh?

Ya, dana awal untuk healing ke luar negeri itu bisa jadi modal. Selanjutnya tinggal membuat konten healing. Tahu, kan, kalau beberapa media sosial menyediakan pilihan monetisasi atau afiliate. Nah, di situlah konten kreator menghasilkan uang. Wah, bisa ditiru, nih.

Eit, tetapi jatuh utangnya bisa riba, lo. Skema utang hari ini rawan “berbunga”. Sementara “bunga” bank sudah jelas keharamannya, sobat. Makanya, jangan sampai, deh, demi healing ke luar negeri, sobat sekalian menghalalkan berbagai macam cara.

Lagian, apa iya benaran stres atau sekadar self diagnosis doang? Jangan-jangan, p**ang dari healing malah makin pening. Stres enggak reda, malah tagihan yang berjibun. Wadidaw!


Filter Gaya Hidup


Sobat sekalian tentu update dengan berita maraknya anak muda yang terjerat pinjaman online. Mengejutkannya, jeratan pinjaman online ini sebagian besar mereka gunakan untuk membiayai gaya hidup doang. Maklum, promosi gaya hidup di dunia maya benar-benar meneror kaum muda.

Terlebih lagi, kehadiran promosi digital berbagai produk ada nyaris di semua platform. Permainan algoritma juga seakan menjadi pemandu untuk menjerat pembeli. Rasanya, lari ke platform manapun tetap saja bertemu iklan yang sama. Aduh, sampai segitunya, lo.

Sobat muslimah kudu paham, lo, bahwa saat ini apapun bisa menjadi bisnis, termasuk gaya hidup. Coba deh, lihat di sekitar kita. Betapa banyak kebutuhan hadir yang pada dasarnya hanya keinginan. Hanya saja, iklan yang sedemikian masif memiliki daya pengaruh yang besar. Apalagi bagi kawula muda. Mulai dari outfit, printilan, kosmetik, makanan dan minuman cepat saji, ticket war, property, hingga godaan healing.

Pertanyaannya, apa ada yang memikirkan bahwa gaya hidup kini berubah menjadi industri gaya hidup? Ada enggak yang melakukan filter antara kebutuhan dan keinginan? Jangan-jangan semuanya dijabanin semata karena godaan gaya hidup. Wah, kalau seperti ini sobat sekalian perlu menyalakan alarm. Jangan sampai bablas yang justru berbuah stres berkepanjangan. Bakal masuk rumah sakit jiwa kalau begini.


Menurut Islam, Gimana, ya?


Sobat, Islam memberikan tuntunan cara menikmati alam ciptaan Allah. Menikmati keindahannya bukanlah sekadar mengamati alam, tetapi juga melibatkan pemahaman yang mendalam. Pemahaman ini merupakan refleksi dari makna tanda-tanda kebesaran Allah yang tampak dari ciptaan-Nya.

Jika saat ini istilah yang lebih dikenal adalah “healing”, Islam mengenalkan konsep tadabur. Menadaburi alam semesta, artinya mengajak manusia untuk memperhatikan, merenungkan, dan mengambil pelajaran dari segala hal yang Allah ciptakan. Sebagaimana firman-Nya dalam QS Al-Imran: 190—191,

“Dan sungguh, dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka'”.

Demikian juga dalam QS Al-Jatsiyah: 13,

“Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir.”

Ayat-ayat tersebut menjelaskan tujuan tadabur alam seorang hamba. Tidak perlu mengeluarkan bujet besar hingga terlilit utang. Di mana pun di bumi ini, terdapat maha karya Sang Khalik. Senantiasa hadirkan rasa syukur terhadap nikmat yang telah Allah beri. Apalagi kondisi saat ini, seluruh aktivitas manusia cenderung dipandang melulu dari sudut pandang bisnis. Kudu pandai menimbang prioritas.

Tujuan tadabur alam sederhana saja, yakni menambah keimanan karena tujuannya untuk memuji ciptaan Allah. Sayangnya, sistem kehidupan hari ini yang jauh dari suasana keimanan membuat sudut pandang manusia berubah. Makanya, tidak sedikit yang niat awalnya healing berubah jadi pusing. Alih-alih stres hilang. Yuk, sekali lagi bijaklah menakar keinginan dan kebutuhan. Jangan mudah tergoda dan senantiasa jadikan Islam sebagai sandaran kehidupan. Setuju? Wallahualam. [MNews/YG]

19/08/2023

Puncak kebaikan ialah kebenaran. Betapa banyak orang yang berjalan di atas kebenaran, belum tentu bersabar. Orang yang bersabar hanya ada pada orang beriman.

--
Sabar Membina Umat

https://muslimahnews.net/2023/08/19/22685/
--

Muslimah News, NAFSIYAH — Mengajar dan membina umat membutuhkan bergunung-gunung kesabaran. Para pembina harus menghadapi berbagai tingkah pola mad’u (orang yang belajar agama). Ada yang bersikap cuek, merajuk karena perkara tertentu sehingga tidak lagi mendatangi majelis, mudah marah, hingga sering overthinking (memikirkan situasi dan suatu hal secara berulang sampai mengganggu kehidupannya). Ada p**a yang insecure (perasaan ragu, cemas, dan kurang percaya diri).

Para pembina bisa jadi juga sudah lelah menunaikan berbagai kewajibannya sebagai seorang anak, istri, dan ibu bagi anak-anak mereka. Namun, telah menjadi kewajiban dan tanggung jawab seorang pembina untuk mengajarkan dan membina para mad’u tentang pemahaman agama dengan sepenuh jiwa. Ini agar mereka menjadi para da’iyah yang siap membantu kebangkitan Islam di tengah umat.

Duhai para pembina, ketika ada perkara yang menyusahkan hati, menyesakkan dada terkait menyelesaikan urusan umat (para mad’u), bersabarlah. Saat hal itu terjadi, dibutuhkan kejernihan pikiran sehingga amarah tidak menguasai diri.

Ingatlah hadis Rasulullah saw., “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik untuknya. Hal itu tidak ada kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila ia mendapatkan kesenangan dan ia pun bersyukur, maka hal itu adalah kebaikan untuknya. Apabila ia tertimpa kesulitan dan ia pun bersabar, maka hal itu juga sebuah kebaikan untuknya.” (HR Muslim).

Para mad’u ialah tanggung jawab pembina (musyrifah). Jika musyrifah mampu bersabar dalam mengajar dan membina tentu akan ada balasan pahala dari Allah Taala. Para mad’u akan mampu terjun ke tengah umat melakukan dakwah, mereka pun menjadi manusia yang taat kepada Rabb-nya. Doa-doa yang selalu mereka panjatkan untuk para pembina adalah harta dan investasi yang tidak ternilai harganya.

Berikut beberapa contoh kesabaran dalam membina umat.

Pertama, sabar mengajarkan syariat Allah Taala. Pembina mengajarkan para mad’u tentang adab, tsaqafah Islam, menghafal Al-Qur’an, hadis, dan sebagainya.

Kedua, sabar menjawab berbagai pertanyaan mad’u. Terkadang berbagai pertanyaan para mad’u hadir ketika pembina sedang menunaikan kewajiban lainnya. Baik sedang mengurus anak, melayani suami, menunaikan amanah dakwah, dan lainnya. Pembina harus siap “diketuk” kapan saja oleh para ma’du untuk mempertanyakan berbagai persoalan kehidupan mereka. Namun, tentunya para mad’u juga harus bersabar menunggu jawaban dari pembina mereka.

Ketiga, sabar menjadi pendengar dan teman yang baik. Curhatan para mad’u yang membutuhkan nasihat dari pembina menjadi bagian dari pembentukan kepribadian mereka. Jadi para pembina jangan ogah-ogahan mendengar dan membersamai perubahan para mad’u agar menjadi lebih baik.

Keempat, bersabarlah ketika para mad’u belum menunjukkan perubahan ke arah yang lebih baik. Ingatlah, Allah melihat proses, bukan hasil. Hal sekecil apa pun yang dilakukan pembina dalam upaya membina para mad’u akan Allah balas. Senantiasa doakan para mad’u agar mereka menjadi pejuang tangguh nan salihah.

Duhai para pembina, kesetiaan membersamai ilmu meliputi dua fase sabar, yakni sabar saat belajar dan mengajar. Saat belajar perlu sabar, menghafal ilmu, memahami ilmu, dan konsisten hadir dalam majelis ilmu. Begitu p**a mengajarkan ilmu membutuhkan kesabaran. Seperti, berjam-jam duduk menyampaikan ilmu kepada umat, memahamkan mereka, dan menjumpai kekurangan para mad’u.

Saat mengajarkan ilmu, berarti memberikan teladan yang baik bagi para mad’u. Para pembina ketika menjadi teladan harus memerhatikan tuntunan Islam yakni janganlah perbuatannya menyelisihi perkataannya, apalagi ia juga seorang da’iyah.

Duhai para pembina, selain sabar, hendaklah lemah lembut dalam memotivasi para mad’u. Hadis Nabi saw., “Sesungguhnya kelembutan tidak menyertai sesuatu kecuali akan menghiasinya, dan tidak hilang dari sesuatu kecuali akan merusaknya.” (HR Ahmad, Muslim, dan Abu Daud).

Firman Allah Taala, “Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Rabb-mu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS An-Nahl: 125).

Para ulama telah mencontohkan kepada kita, mereka berbicara kepada para penuntut ilmu dengan perkataan yang bagus, tawaduk, mencintai para penuntut ilmu, serta bermuamalah dengan baik kepada mereka.

Demikian p**a dengan para pelajar, hendaklah mencintai para pembina, senang bersama mereka, menghormati dan memuliakan para pembinanya, serta mengambil faedah dari mereka. Seorang pembina yang bersabar membina para mad’u tentu akan meraih kebaikan bukan hanya di dunia, juga di akhirat.

Duhai para pembina, hendaklah memiliki tujuan ketika membentuk para mad’u agar menjadi seperti para sahabat dalam perkara akidah dan memahami Al-Qur’an dan sunah. Bimbing para mad’u agar selalu taat kepada Allah Taala dan Rasul-Nya. Bimbing juga mereka agar menjadi orang yang zuhud terhadap dunia dan antusias dengan akhirat.

Tanamkan pada para mad’u agar memiliki sikap mau berkorban dalam meraih rida Allah Taala. Selain itu, motivasi para mad’u agar senantiasa memiliki semangat membela agama dan ajaran Rasulullah saw.. Sungguh tidak mudah membina umat dengan Islam dan mengajarkan mereka tentang cinta hakiki kepada Allah dan Rasul-Nya. Terkadang para pembina terluka, kecewa, dan menjatuhkan air mata.

Namun, yakinlah, Allah akan membalas segalanya dengan pahala ketika pembina bersabar. Biarlah lelah, tetapi lelah lillah (karena Allah) akan berbuah surga. Perjuangan untuk mengembalikan kehidupan Islam memang membutuhkan kesabaran.

Imam Syafi’i mengatakan, “Puncak kebaikan ialah kebenaran. Betapa banyak orang yang berjalan di atas kebenaran, belum tentu bersabar. Orang yang bersabar hanya ada pada orang beriman.” Masyaallah. Wallahualam bissawab. [MNews/Rndy-YG]

19/08/2023

Kita memang layak dan wajib bersyukur karena kita telah lama terbebas dari penjajahan fisik. Namun, kita pun harus merasa prihatin dan tidak boleh melupakan bahwa bangsa ini masih dalam keterjajahan secara nonfisik, yang bermuara dari keterjajahan oleh pemikiran/ideologi kapitalisme-sekularisme.

--
Kemerdekaan yang Sesungguhnya

https://muslimahnews.net/2023/08/19/22681/
--

Muslimah News, KAFFAH — Sebagaimana diketahui, penjajahan di dunia ini bisa dipilah menjadi dua. Pertama, penjajahan fisik. Kedua, penjajahan nonfisik.

Penjajahan fisik dilakukan dengan pendudukan (ihtilâl); dengan menduduki wilayah, menguasai sumber daya alam, menundukkan sumber daya manusianya, kemudian mengontrol kekuasaan militer, politik, pemerintahan, ekonomi, sosial, dan sebagainya. Inilah yang dilakukan oleh negara-negara penjajah Barat pengusung utama ideologi kapitalisme-sekularisme pada masa lalu, khususnya di Dunia Islam, termasuk negeri ini.

Adapun penjajahan nonfisik dilakukan melalui pemikiran, pendidikan, budaya, dan soft power yang lainnya. Biasanya dilakukan dengan menggunakan strategi dan agen. Mereka ditanam di semua sektor; mulai dari sektor politik, pemerintahan, militer, ekonomi, budaya, agama, hukum, dan sebagainya. Inilah yang dilakukan oleh negara-negara penjajah Barat pengusung utama ideologi kapitalisme-sekularisme pada masa sekarang, khususnya di Dunia Islam, termasuk negeri ini.

Karena itu secara de jure negeri-negeri kaum muslim, termasuk negeri ini, memang sudah dinyatakan merdeka. Ini karena kaum penjajah telah lama meninggalkan negeri kaum muslim. Namun, secara de facto, pemikiran, mindset dan cara pandang penjajah itu tetap dipertahankan, terutama oleh para penguasa dan elite-elite politiknya. Bahkan mereka mengundang penjajah itu untuk mengangkangi dan mengeruk kekayaan negeri mereka atas nama “investasi” dan sebagainya.

Indonesia Hari Ini
Terkait Indonesia, era penjajahan fisik yang dialami bangsa ini memang sudah lama berakhir. Kaum penjajah yang pernah menjajah negeri ini pun—seperti Portugis, Belanda, Inggris dan Jepang—sudah lama terusir. Negeri ini bahkan telah merayakan Hari Kemerdekaan sekaligus Hari Ulang Tahun (HUT)-nya yang ke-78.

Namun sayang, setelah 78 tahun merdeka, cita-cita kemerdekaan yang diharap-harapkan oleh bangsa ini—adil, makmur, sejahtera, gemah ripah loh jinawi—masih jauh panggang dari api. Terbukti, angka kemiskinan masih tinggi. Angka pengangguran masih besar. Biaya pendidikan, khususnya pendidikan tinggi, masih mahal. Harga BBM, listrik, LPG dan sejumlah kebutuhan pokok terus merangkak naik. Aneka pajak pun terasa makin mencekik.

Di sisi lain, kesenjangan ekonomi makin melebar. Kekayaan alam lebih banyak dinikmati oleh segelintir orang. Mereka adalah para pengusaha dan korporasi asing dan aseng. Merekalah yang selama ini menguasai sebagian besar sumber daya alam (SDA) seperti barang tambang (emas, perak, nikel, tembaga, bijih besi), energi (seperti batubara) dan migas (minyak dan gas). Mereka pun—yakni para oligarki—menguasai sebagian besar lahan, termasuk hutan, yang sebagiannya telah berubah menjadi perkebunan sawit. Total luas area lahan yang mereka kuasai ratusan ribu bahkan jutaan hektar.

Yang tak kalah memprihatinkan, utang negara makin bertumpuk. Korupsi makin menjadi-jadi. BUMN banyak yang merugi. Banyak proyek infrastruktur yang kemudian menjadi beban negara, seperti proyek kereta cepat dan IKN.

Pada saat yang sama, ketakadilan makin nyata. Hukum makin tajam ke bawah dan makin tumpul ke atas. Banyak koruptor dihukum ringan, bahkan divonis bebas. Sebaliknya, tidak sedikit rakyat kecil—misal yang mencuri tidak seberapa dan sering karena dorongan rasa lapar—dihukum berat.

Belum lagi kita bicara moral. Sebagaimana diketahui, salah satu cita-cita utama kemerdekaan—terutama yang dirumuskan dalam sistem pendidikan nasional—adalah bagaimana melahirkan generasi yang beriman dan bertakwa. Faktanya, hari ini moralitas generasi muda makin merosot. Perilaku seks bebas makin liar. Bahkan banyak remaja terjerumus ke dalam perilaku “kaum sesama”. Banyak dari mereka yang terjerat narkoba. Kasus bullying (perundungan), khususnya di kalangan pelajar dan remaja, juga makin sering terjadi. Bahkan kasus kejahatan dengan pelaku pelajar dan mahasiswa sudah sering kita saksikan. Ragam kriminalitas pun makin hari makin beragam dan makin mengerikan.

Semua persoalan yang membelit bangsa ini bermuara pada keterjajahan bangsa ini secara nonfisik, bahkan dalam wujud yang paling fundamental, yakni keterjajahan secara pemikiran/ideologi. Harus diakui, bangsa dan negeri ini telah lama terjajah oleh pemikiran/ideologi kapitalisme-sekularisme. Keterjajahan oleh pemikiran/ideologi kapitalisme-sekularisme inilah yang menjadikan bangsa dan negeri ini terjajah secara nonfisik dalam berbagai bidang lainnya. Terjajah secara ekonomi, sosial, politik, budaya, hukum, pendidikan, dll.

Dengan demikian, kita memang layak dan wajib bersyukur karena kita telah lama terbebas dari penjajahan fisik. Namun, kita pun harus merasa prihatin dan tidak boleh melupakan bahwa bangsa ini masih dalam keterjajahan secara nonfisik, yang bermuara dari keterjajahan oleh pemikiran/ideologi kapitalisme-sekularisme.

Merdeka dari Segala Bentuk Penjajahan
Penjajahan, baik fisik maupun nonfisik, sesungguhnya merupakan manifestasi dari isti’bâd (perbudakan), yaitu menjadikan manusia sebagai budak bagi manusia lainnya. Oleh karena itu, Islam telah mengharamkan penjajahan. Allah Swt. berfirman,

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لاَ إِلَٰهَ إِلاَّ أَنَا فَاعْبُدْنِي

“Sungguh Aku adalah Allah. Tidak ada tuhan yang lain, selain Aku. Oleh karena itu, sembahlah Aku.” (QS Thaha [20]: 14).

Imam Ath-Thabari menjelaskan: “Innanî ana Allâh (Sungguh Aku adalah Allah),” bermakna: Allah menyatakan, “Sungguh Akulah Tuhan Yang berhak disembah. Tidak ada penghambaan, kecuali kepada Dia. Tidak ada satu pun tuhan, kecuali Aku. Oleh karena itu, janganlah kalian menyembah yang lain, selain Aku. Sungguh tidak ada yang berhak menjadi tempat menghambakan diri, yang boleh dan layak dijadikan sembahan, selain Aku.” Lalu frasa, “Fa’budnî (Oleh karena itu, sembahlah Aku),” bermakna: Allah menyatakan, “Murnikanlah ibadah hanya kepada-Ku, bukan sesembahan lain, selain Aku.” (Ibn Jarir at-Thabari, Tafsîr ath-Thabari, QS Thaha [20]: 14).

Inilah kalimat tauhid. Kalimat tauhid ini pada dasarnya telah terpatri di dalam hati setiap muslim. Jika tauhid mereka murni dan jernih, kemudian pemahaman yang terbentuk dari sana juga jernih, maka tauhid itu akan membangkitkan semangat penghambaan hanya kepada Allah. Spirit tauhid ini pun sekaligus akan membangkitkan perlawanan terhadap segala bentuk perbudakan/penghambaan atas sesama manusia, termasuk penjajahan atas segala bangsa. Inilah yang tampak dari kalimat Rub’i bin ‘Amir kepada panglima Persia, Rustum:

اللهُ اِبْتَعَثَنَا لِنُخْرِجَ مَنْ شَاءَ مِنْ عِبَادَةِ الْعِبَادِ إِلَى عِبَادَةِ اللهِ، وَ مِنْ ضَيْقِ الدُّنْيَا إِلىَ سِعَتِهَا، وَ مِنْ جُوْرِ اْلأَدْيَانِ إِلَى عَدْلِ اْلإِسْلاَمِ

“Allah telah mengirim kami untuk mengeluarkan (memerdekakan) siapa saja yang Dia kehendaki dari penghambaan kepada sesama manusia menuju penghambaan hanya kepada Allah; dari sempitnya dunia menuju keluasannya; dari kezaliman agama-agama yang ada menuju ke keadilan Islam.” (Ibn Jarir at-Thabari, Târîkh al-Umam wa al-Mulûk, 3/520; Ibn Katsir, Al-Bidâyah wa an-Nihâyah, 7/39).

Inilah spirit Islam. Spirit ini muaranya ada pada kalimat tauhid, “Lâ Ilâha illalLâh, Muhammad RasûlulLâh” (Tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah).

Kemerdekaan Hakiki
Atas dasar itu, menjadi kewajiban kaum muslim secara bersama, untuk bertafakur menyertai rasa syukur, dengan melihat realitas yang ada di negeri kita di segala bidang, sudahkah sistem yang mengatur kehidupan umat di segala bidang ditegakkan di atas prinsip tauhid? Sudahkah hakikat dan prinsip-prinsip kemerdekaan hakiki menurut ajaran Islam, seperti yang dikemukakan oleh Rub’i bin Amir di atas, telah kita dapatkan?

Jika belum, menjadi tugas kita bersama untuk mewujudkan kemerdekaan hakiki itu. Jika perjuangan dulu bertujuan untuk merebut kemerdekaan dari penjajahan fisik, kini diperlukan perjuangan baru untuk membebaskan umat dari penjajahan ideologi kapitalisme-sekularisme, hukum jahiliah, ekonomi kapitalis, budaya dan segenap tatanan yang tidak islami. Berikutnya kita wajib berjuang untuk menegakkan tatanan masyarakat dan negara yang benar-benar bertumpu pada prinsip-prinsip tauhid. Tatanan tersebut tidak lain adalah tatanan yang diatur oleh aturan-aturan Allah atau syariat Islam. Inilah kemerdekaan hakiki dalam pandangan Islam.

Dengan demikian, bangsa dan negeri ini bisa dikatakan benar-benar meraih kemerdekaan hakiki ketika mereka mau tunduk sepenuhnya kepada Allah. Tentu dengan menaati seluruh perintah dan larangan-Nya. Caranya dengan melepaskan diri dari belenggu ideologi dan sistem sekuler yang bertentangan dengan tauhid seraya menegakkan sistem Islam secara total.

Selain itu, misi Islam adalah mengeluarkan manusia dari “kegelapan” menuju “cahaya”. Maka dari itu, tidak ada negeri yang dikuasai Islam berubah kusam, sengsara, mundur dan terbelakang. Pada masa lalu Spanyol dan beberapa negeri Eropa lain, misalnya, justru mencapai kemajuan ketika berada di bawah kekuasaan Islam, saat belahan dunia lain sedang mengalami masa kegelapan.

Alhasil, bangsa dan negeri ini pun, jika ingin lepas dari “kegelapan” menuju “cahaya”, atau jika ingin bebas dari segala keterpurukan (sebagaimana saat ini) menuju era kebangkitan dan kemajuan, mau tidak mau, harus merujuk pada Islam. Caranya dengan menerapkan pemikiran/ideologi dan sistem Islam secara kafah dalam seluruh aspek kehidupan.

Wallahualam bissawab. []

—*—

Hikmah:

Sayidina Umar bin Al-Khaththab ra. berkata:

إِنَّا كُنَّا أَذَلَّ قَوْمٍ، فَأَعَزَّنَا اللهُ بِاْلإِسْلاَمِ. فَمَهْمَا نَطْلُبُ الْعِزَّةَ بِغَيْرِ مَا أَعَزَّنَا اللهُ بِهِ، أَذَلَّنَا اللهُ

“Sungguh, kami adalah bangsa yang paling hina. Lalu Allah memuliakan kami dengan Islam. Oleh karena itu, tatkala kami mencari kemuliaan tanpa Islam yang dengan Islam itu Allah telah memuliakan kami, Allah pasti akan (kembali) menghinakan kami. (HR Al-Hakim). [MNews/Ruh]

Sumber: Buletin Kaffah Edisi 306 (1 Safar 1445 H/18 Agustus 2023 M)

Address

Jalan Majalaya Cicalengka
Bandung
40383

Telephone

+6285862851521

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when qurrota'ayun posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share