28/05/2026
“ Lampu yang Menunggu “
Dulu Pak Hadi selalu marah kalau Rian pulang larut. Sekarang dia malah berharap ada ketukan pintu jam segini. Yang datang malah pesan: “Pa, aku kangen.”
Napasku ketahan. Tangan yang udah kapalan itu gemetar waktu mau nyentuh layar. Udah setahun gak denger suara itu, gak baca tulisan itu. Aku duduk di pinggir ranjang, kaos singletku basah keringat dingin.
Pesan kedua masuk tiga menit kemudian: “Pa, lampu di rumah kok mati lagi? Benerin dong.”
Itu persis kalimat terakhir yang Rian omongin sebelum dia pergi merantau. Aku gak bales. Aku cuma bisik pelan, “Hadi, ini mimpi kan?”
Tapi jam 3 pagi, HP-nya bergetar lagi.
Aku tarik napas panjang, jari tuaku akhirnya neken tombol telepon. Nada sambungnya cuma dua kali, langsung diangkat.
Suara di seberang itu muda, serak, persis suara Rian waktu SMA pulang latihan basket.
“Pa… benerin lampunya ya. Gelap di sini.”
Dadaku sesak. Aku mau jawab, tapi yang keluar cuma isakan.
“Rian? Kamu di mana, Nak? Pulang, Pa kangen.”
Di seberang hening. Cuma ada suara angin kencang sama derik listrik. Terus suara itu berbisik pelan, kayak dari jauh banget:
“Pa, aku nggak bisa pulang. Tapi aku lihat Bapak tiap malam duduk di sini… nunggu aku.”
Telepon mati. Layar HP mati. Dan di luar jendela, lampu tiang listrik yang mati seminggu lalu, tiba-tiba nyala sebentar… terus mati lagi.
Pak Hadi duduk di depan jendela sampai subuh. Dia nggak nangis lagi.
Di bawah bantal, dia tulis pesan terakhir: “Iya Nak, Pa ngerti. Jaga diri di sana. Pa ikhlas.”
Dia nggak kirim. Cuma disimpen.
Keesokan paginya, nomor itu nggak aktif lagi. Tapi Pak Hadi tidur nyenyak buat pertama kalinya dalam setahun.
Kadang, yang mati cuma butuh izin buat pergi.