08/02/2019
Jaman now ini jika perempuan ditanya apa yang dapat membuatnya bahagia maka memiliki jawaban dengan standarnya masing-masing. Ada yang merasa bangga dengan pendidikan yg dicapainya. Sekolah tinggi hingga sarjana, master bahkan doktor dan profesor. Ada juga yang bangga dengan pekerjaanya. Baik itu pekerja kantoran dengan status ASN atau swasta dengan gaji dan tunjangan lumayan atau guru, dosen, atau apapun yang statusnya bekerja.
Jika semua ini dianggap kesuksesan, maka wajarlah jika sebagian perempuan justru merasa minder jika hanya menyandang predikat jadi ibu rumah tangga saja, yg sehari hari hanya sibuk mengurusi anak dan melayani suami. Tak jarang orang memandang sebelah mata atau menganggap remeh bahkan merasa percuma sudah sekolah tinggi tapi baliknya ke urusan rumah juga. Perempuan seperti ini tak jarang dianggap kurang sukses, sedikit gagal dan akhirnya dinilai kurang bahagia ketika kondisi keuangan melanda tersebab memang tak punya penghasilan.
Pekerjaan jadi ibu rumah tangga itu bisa dianggap memiliki value yg rendah, merasa kurang berdaya dan bermanfaat dimata masyarakat saat ini. Standar materi yang lebih diutamakan hingga tak heran akhirnya banyak perempuan yang memprioritaskan pekerjaan dan bisnis dibanding tugas utamanya sebagai ibu dan pengatur rumah tangga.
Wahai para perempuan, tahukah kita bahwa sesungguhnya dalam pandangan Islam justru yang dianggap sukses dan memiliki value yg tinggi atas nilai seorang perempuan itu adalah apa yang dilakukannya dengan sungguh-sungguh mengurus dan mendidik anak-anak nya serta melayani suaminya dan melakukan berbagai pekerjaan rumah tangga. Kita bisa dapatkan dalam dalil syar’i bahwa yg akan dibayar dengan syurga itu adalah pahala atas aktivitas nya sebagai isteri dan ibu.
Kita dapat belajar dari hadist Rasulullah Saw pada saat beliau memberikan nasehat kepada putrinya Fathimah
Suatu ketika Rasulullah saw. melihat Fatimah r.a, puteri tercintanya itu sedang menggiling gandum sambil menangis. Rasulullah pun menghampirinya, seraya bertanya mengapa dia menggiling gandum sambil menangis. Dengan terbata-bata, Fatimah menuturkan kepada ayahandanya, bahwa pekerjaan menggiling gandum dan semua pekerjaan rumah tangga yang dilakukannya setiap hari membuat dirinya bosan. Makanyanya ia menangis.
Mendengar cerita puteri kesayangannya itu Nabi saw. pun segera mengambil penggilingan gandum tersebut sambil mengucapkan Bismillah. Ajaibnya, atas izin Allah SWT tiba-tiba penggilingan gandum itu berputar sendiri. Lalu terdengar dari penggilingan yang terbuat dari batu itu BERTASBIH sambil menggiling gandum yang dilemparkan Rasulullah saw.
Tak begitu lama penggilingan itu berputar, Rasulullah saw. memintanya berhenti. Atas izin Allah SWT seketika penggilingan itu pun berhenti sendiri.
Nabi saw. pun menoleh ke arah Fatimah, puteri tercintanya itu seraya bersabda, “Jika Allah menghendaki, penggilingan itu akan berputar sendiri untuk puteri-Ku. Tapi itu terjadi karena Allah menghendaki beberapa kebaikan yang ditulis dan beberapa kesalahan yang dihapuskan dari Fatimah dan dinaikkan-Nya untuk puteri Nabi itu beberapa derajat lebih tinggi."
Nabi saw. pun tak lupa menyelipkan nasehat kepada putrinya, Fatimah, dengan menjelaskan beberapa kebaikan (pahala) yang bakal diperoleh setiap wanita (isteri), jika dia ikhlas dengan penuh kesabaran menjalankan tugas dan tanggung jawab kehidupan rumah tangganya. Nabi mengingatkan, “Jika seorang wanita melayani suaminya sehari semalam dengan baik, tulus, ikhlas serta dengan hati yang benar, Allah akan mengampuni segala dosanya dan akan dicatat untuknya dari setiap helai bulu dan rambut yang ada pada tubuhnya dengan seribu kebaikan dan dikaruniakan seribu pahala haji dan umroh.” (Hr. Abu Daud)
Rasulullah saw. bersabda kembali, “Ketika seorang suami p**ang ke rumah, kemudian isteri menyambutnya dengan senyuman, dan bersegera mengulurkan tangannya untuk mengambil tangan suaminya, maka dosa-dosa mereka berdua serta merta berguguran sebelum kedua tangan mereka dilepaskan.” (Hr. Abu Daud)
Subhanallah, walhamdulillah, betapa mudah jalan menuju surga bagi seorang isteri. Betapa mudah bagi seorang isteri mendapatkan ridha suaminya. Dengannya ridha Allah pun ia dapat.
Pesan Nabi kepada puterinya:
“Fatimah, kepada wanita yang membuat tepung untuk suami dan anak-anaknya, Allah pasti akan menetapkan kebaikan baginya dari setiap biji gandum, melebur kejelekan dan meningkatkan derajat wanita itu.”
“Fatimah, kepada wanita yang berkeringat ketika menumbuk tepung untuk suami dan anak-anaknya, niscaya Allah menjadikana dirinya dengan neraka tujuh tabir pemisah.”
“Fathimah, tiadalah seorang yang meminyaki rambut anak-anaknya lalu menyisirnya dan mencuci pakaiannya, melainkan Allah akan menetapkan pahala baginya seperti pahala memberi makan seribu orang yang kelaparan dan memberi pakaian seribu orang yang telanjang.”
“Fathimah, tiadalah wanita yang menahan kebutuhan tetangganya, melainkan Allah akan menahannya dari minum telaga kautsar pada hari kiamat nanti.
“Fathimah, yang lebih utama dari seluruh keutamaan di atas adalah keridhaan suami terhadap istri. Andaikata suamimu tidak ridha kepadamu, maka aku tidak akan mendoakanmu. Ketahuilah wahai Fathimah, kemarahan suami adalah kemurkaan Allah.”
“Fathimah, bila wanita mengandung, malaikat akan memohonkan ampunan untuknya, dan Allah menetapkan baginya setiap hari seribu kebaikan serta melebur seribu kejelekan. Ketika wanita merasa sakit saat akan melahirkan, Allah menetapkan pahala baginya sama dengan pahala para Mujahidin di jalan Allah. Jika dia melahirkan, maka bersihlah dosa-dosanya seperti ketika dia dilahirkan dari kandungan ibunya. Bila dia meninggal saat melahirkan, dia tidak akan membawa dosa sedikitpun. Di dalam kubur akan mendapat taman indah yang merupakan bagian dari taman surga. Allah akan memberikan pahala kepadanya sama dengan pahala seribu orang yang melaksanakan ibadah haji dan umrah, dan seribu malaikat memohonkan ampunan baginya hingga hari kiamat.”
“Fatimah, tiadalah wanita yang melayani suami selama sehari semalam dengan rasa senang serta ikhlas, melainkan Allah mengampuni dosa-dosanya serta memakaikan pakaian padanya di hari kiamat berupa pakaian yang serba hijau, dan menetapkan baginya setiap rambut pada tubuhnya seribu kebaikan. Allah memberikan kepadanya pahala seratus kali beribadah haji dan umrah."
“Fatimah, tiadalah wanita yang tersenyum di hadapan suami, melainkan Allah memandangnya dengan pandangan penuh kasih.”
“Fatimah, tidaklah wanita yang membentangkan alas tidur untuk suami dengan rasa senang hati, melainkan para malaikat yang memanggil dari langit menyeru wannita itu agar menyaksikan pahala amalnya, dan Allah mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang.”
“Fathimah, tiadalah wanita yang meminyaki kepala suami dan menyisirnya, meminyaki jenggot dan memotong kumisnya, serta memotong kukunya, melainkan Allah memberi minuman arak yang dikemas indah kepadanya yang didatangkan dari sungai-sungai surga. Allah mempermudah sakaratul-maut baginya, serta kuburnya menjadi bagian dari taman surga. Allah menetapkan baginya bebas dari siksa neraka serta dapat melintasi shirathal-mustaqim dengan selamat.”
Tak ada jaminan syurga atas ukuran kesuksesan materi, pendidikan, bisnis dan lainnya. Karena itu kembalikan kepada ukuran kebahagiaan kita apa yg ingin kita capai. Jika kita ingin mendapatkan kebahagiaan hakiki maka kejarlah amalan syurga ini. Memang betul siapa sih yg tak ingin jg memiliki standar kesuksesan duniawi namun hendaknya kita memiliki skala prioritas. Sungguh kebahagiaan yang sempurna itu manakala suatu saat dihari pembalasan nanti kita dapat memasuki syurgaNya Allah dengan segala kenikmatan nya...
Wallahu'alam