27/02/2019
Alfred Russel Wallace, naturalis Inggris, pada tahun 1860 selama beberapa bulan menjelajah kawasan Papua bagian barat demi mengumpulkan spesies-spesies burung cendrawasih, berbagai jenis unggas lain, dan aneka jenis serangga.
Dalam bukunya yang terkenal, The Malay Archipelago, Wallace menceritakan pengalaman uniknya saat berhubungan dengan orang-orang Papua penduduk Pulau Waigeo, kini bagian barat Kabupaten Raja Ampat, Propinsi Papua Barat.
Untuk mengumpulkan spesies burung, Wallace dan pembantu setianya yang bernama Ali harus sering berburu dengan senapan. Selain itu, Wallace juga melakukan barter dengan penduduk asli demi mendapatkan sebanyak mungkin spesies burung cendrawasih. Di Waigeo, ia membayar burung-burung cendrawasih hidup ataupun mati dengan kampak atau parang dan cermin.
Barang-barang diserahkan terlebih dahulu sebelum orang-orang penduduk asli dengan menggunakan cawat, busur dan panah mereka masuk ke hutan. Setelah beberapa waktu Wallace menunggu di sebuah gubuk, berdatanganlah para pemburu itu untuk menyerahkan burung cendrawasih sesuai kesepakatan barter.
Suatu hari, seorang pemburu yang tidak beruntung muncul dari dalam hutan. Pemburu ini mengembalikan parang yang diterimanya dari Wallace karena tidak berhasil menangkap seekor burung pun. Ia merasa tidak berhak memiliki parang tersebut.
Tidak lama setelahnya tibalah saat Wallace harus meninggalkan Waigeo. Saat itu, perahu yang disewanya sudah bergerak menjauhi pantai. Tiba-tiba saja ada seseorang yang berlari menghampiri Wallace.
Sebelumnya, orang ini sudah menerima banyak barang dari Wallace untuk 6 ekor cendrawasih. Begitu tiba di hadapan Wallace, ia menyerahkan burung ke-6 sambil berkata, "Saya sudah tidak berutang lagi."
Wallace heran dengan kejujuran orang-orang yang disebutnya savage (belum beradab). Mereka bisa saja menghilang di hutan bersama barang-barang bagus dari Wallace dan tidak mungkin menemukan mereka di hutan lebat yang tidak dikenalnya.
Ini hanyalah satu cerita dari interaksi sang naturalis dengan orang-orang yang masih primitif, masih animis, dan belum kenal agama, yang terjadi lebih dari satu setengah abad silam.
Kalau kita menanam kejujuran, kita akan menuai kepercayaan. Kalau kita menanam kebaikan, kita akan mendapatkan banyak kawan. Kalau kita menanam kerendahan hati, kita akan mendapat keagungan. Kalau kita menanam ketekunan, kita akan mendapatkan kepuasan hati. Kalau kita menanam pertimbangan, kita akan mendapatkan perspektif. Kalau kita menanam kerja keras, kita akan meraih sukses. Oleh karena itu berhati-hatilah.
Apa yang kita tanam sekarang akan menentukan apa yang akan kita panen kemudian.