Amalia

Amalia Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Amalia, Clothing (Brand), Jalan Jendral Sudirman 620, Bandung.

23/11/2018
Ayo lebih baik 😊
23/11/2018

Ayo lebih baik 😊

14/11/2018

Ketua DPP PKS Ledia Hanifa menjadi satu-satunya perwakilan Indonesia yang diundang di Parlemen Inggris untuk berbicara m...
10/11/2018

Ketua DPP PKS Ledia Hanifa menjadi satu-satunya perwakilan Indonesia yang diundang di Parlemen Inggris untuk berbicara memperingati 100 tahun perempuan Inggris masuk ke parlemen.

"Jangan pernah takut untuk mendukung perempuan lain yang juga menjadi anggota parlemen. Dampingi dan didik mereka untuk sama-sama berjuang di parlemen, " papar Ledia di House of Commons of the United Kingdom, London,

baca selengkapnya disini : http://pks.id/content/ledia-hanifa-satu-satunya-anggota-perlemen-indonesia-di-world-s-women-mp-conference


FPI Jawa Barat siap bergerak untuk kemenangan PKS di 2019Ketua DPD FPI Jawa Barat, KH Abdul Qohar Al Qudsy, Lc menjamin ...
28/10/2018

FPI Jawa Barat siap bergerak untuk kemenangan PKS di 2019

Ketua DPD FPI Jawa Barat, KH Abdul Qohar Al Qudsy, Lc menjamin dukungan untuk membantu Caleg PKS diseluruh wilayah Jawa Barat. Beliau juga memberi arahan agar PKS dan FPI menyatukan fikiran dan gerakan untuk kemenangan pemilu 2019

https://youtu.be/7TDOIBU3n68

Agar lebih banyak tersebar lagi, mohon *like*, *share* dan *subscribe* haturnuhun


Pembekalan Caleg PKS se Jawa Barat
28/10/2018

Pembekalan Caleg PKS se Jawa Barat



*KOMITMEN DENGAN AL-QURAN*Oleh: Ustadz Abdul Aziz Abdul Rauf, Lc., Al Hafizh.1. Sebaik-baik pengajian adalah ketika kita...
24/09/2018

*KOMITMEN DENGAN AL-QURAN*

Oleh: Ustadz Abdul Aziz Abdul Rauf, Lc., Al Hafizh.

1. Sebaik-baik pengajian adalah ketika kita hadir kemudian *bertambah* keimanan, *bertambah* rindunya kepada Allah dan *bertambah* prestasinya

2. Jangan sampai *sekedar hadir di pengajian* kemudian merasa sudah mendapatkan prestasi amal yang banyak.

3. Mukmin sejati adalah jika Al Quran selalu *akrab* dengan mereka

4. *Jangan ada* dalam pikiran kita bahwa Al Quran adalah penghalang aktivitas kita

5. *Jangan malas* menghafal Al Quran karena usia

6. Lihat Surah Az-Zumar:23 tentang *tata cara interaksi* dengan Al Quran yang benar

7. *Luaskanlah hati* kita untuk menerima Al Quran , yaitu senang ketika membacanya , bahkan baru membayangkan membaca Al Quran, ia sudah merasa senang.
القران مأدوبة اللّٰه
_*"Al Quran adalah hidangan Allah "*_

8. Tidak akan bisa berinteraksi dengan Al Quran *kecuali mereka yang berusaha membersihkan hatinya*

9. *Jangan duakan Al Quran*, yaitu membaca Al Quran sambil melihat gadget

10. Berinteraksi dengan Al Quran yang benar adalah *meyakininya* bahwa membacanya mendatangkan keutamaan

11. Manusia yang bersama Al Quran hampir hampir *menandingi kenabian*, hanya wahyu tidak diturunkan kepada nya (Alhadist)

12. Berinteraksi dengan Al Quran adalah *terus membacanya* setiap hari

13. Jangan karena sudah membaca Al Quran 10 juz hari itu, lalu tidak membaca di
hari yang lain, karena 10 juz itu jatah hari tersebut dan hari yang lain mempunyai jatah juga

14. Waktu membaca Al Quran itu *harus definitif*, jika kita menunggu waktu kosong untuk membaca Al Quran, maka kita tidak akan mendapatkannya

15. *Adukanlah* surat surat yang sulit kita hafal, kepada Allah, maka *Allah akan memudahkannya*

16. Al Quran adalah ahsanal hadist ( *perkataan terbaik* ), hadist nabi _shallallahu'alayhi wasallam_ tingkatannya hanya hasan, sedangkan perkataan yang lainnya di bawah itu

17. Kita sering takjub dengan ciptaanNya, namun kita _*jarang takjub*_ dengan perkataan-Nya

18. Siapa yang *sering berhubungan* dengan perkataan yang terbaik, maka ia akan menjadi manusia yang terbaik

19. Al Quran itu *mudah dihafal* karena banyak kata yang sama dan diulang
Kalau kita sudah hafal "fa bi ayyi ala i rabbikuma tukadziban" dalam surah arrahhman, maka ayat yang lain dimana redaksinya sama itu sudah hafal secara otomatis
Berinteraksi dengan Al Quran itu harus *berulang ulang*

20. Orang yang membaca seratus kali sebuah surah, dan ia belum hafal, maka ia *tetap mulia*, dibandingkan orang yang hanya membaca tiga kali lalu langsung hafal , karena tujuannya adalah *berulang ulang bersama Al Quran* bukan hanya sekedar mendemostrasikan kekuatan hafalannya

21. Siapa yang sudah hafal juz 30, maka ia sudah *punya hidayah* untuk menghafal juz 29, dan seterusnya

22. *Jangan remehkan ketidak ada interaksian* kita dengan orang2 yang beriman dan beramal sholih.

23. *Mungkinkah* rizqi kita berkurang, karir kita menurun ketika bersama Allah dengan berinteraksi melalui firmanNya ?

24. Tidaklah kita jauh dengan Al Quran *kecuali* ketika itu kita jauh dengan Allah

25. Jangan *menolak kebaikan* untuk mempertahankan kebaikan yang lain

26. Jangan *membenturkan satu amalan* dengan amalan yang lain, karena manusia itu *mampu* melakukan berbagai macam aktivitas dalam satu waktu

27. Siapa yang *lelah untuk Allah* di dunia ini maka Allah akan *mencukupkan lelahnya* di akhirat

28. Siapa yang tidak mau *lelah di dunia untuk taat kepada Allah*, maka ia *akan merasakan lelah* di akhirat.
Semoga Allah SWT menganugerahkan kemudahan dan keridloan dalam berinteraksi dgn Al-Qur'an..


*Sembunyikan Amalan, Hingga Tangan Kiri Tak Tahu Yang Dilakukan Tangan Kanan*KALA itu, salah satu gerbang negeri Naisabu...
16/07/2018

*Sembunyikan Amalan, Hingga Tangan Kiri Tak Tahu Yang Dilakukan Tangan Kanan*

KALA itu, salah satu gerbang negeri Naisabur dijaga beberapa ulama mujahidin, guna mencegah masuknya musuh ke negeri tersebut. Namun sayang, bantuan materi terlambat sehingga mereka gundah. Di saat krisis seperti itu, Abu Utsman Al-Hirri yang bertanggung jawab akan hal itu, menerima bantuan dari Abu Amru bin Nujaid, seorang ulama Hadits dan ahli zuhud, sebesar 1000 dinar.

Esok harinya, dengan gembira Abu Utsman mengundang Abu Amru untuk duduk di sebuah majelis yang dihadiri banyak orang. Pada kesempatan itu Abu Utsman mengatakan, ”Wahai saudara-saudaraku, aku mengharap agar Abu Amru memperoleh balasan besar, karena ia telah mewakili beberapa orang dalam ribath (melakukan penjagaan) dan telah memberi bantuan sekian-sekian…”

Begitu Abu Utsman selesai bicara, mendadak Abu Amru berdiri di hadapan hadirin dan menyampaikan, ”Sesungguhnya harta yang saya berikan adalah harta ibu saya dan beliau tidak ridha, maka mestinya harta tersebut dikembalikan kepada saya untuk saya kembalikan kepada beliau.”

Tentu saja hadirin kaget, terlebih Abu Utsman. Ia tak menyangka Abu Amru bicara begitu. Tak ada yang bisa diperbuat Abu Utsman selain memerintahkan untuk mengembalikan kantong berisi harta yang cukup banyak tersebut kepada Abu Amru. Setelah itu hadirin pun bubar.

Namun ketika malam tiba, Abu Amru mendatangi kembali Abu Utsman dan mengatakan, ”Anda bisa memanfaatkan harta ini untuk keperluan seperti kemarin, dan tidak ada yang tahu akan hal ini kecuali kita.”

Setelah menyimak kata-kata Abu Amru, Abu Utsman pun menangis haru melihat upaya Abu Amru untuk menyembunyikan amalan kebaikannya, walau mungkin banyak orang telah kecewa terhadap apa yang ia lakukan sebelumnya.

Demikianlah bagaimana para ulama, meskipun keimanannya lebih baik dibanding manusia pada umumnya, mereka masih berusaha untuk menyembunyikan amalan, agar terhindar dari perbuatan riya’ (pamer).

Memang, bersedekah dengan sembunyi-sembunyi adalah amalan mulia, yang pelakunya dijanjikan pahala besar. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Tujuh pihak yang diberi naungan oleh Allah, dimana pada hari itu tidak ada naungan kecuali naungan-Nya.” Dari tujuh pihak tersebut, Rasulullah menyebutkan bahwa siapa saja yang bersedekah secara sembunyi-sembunyi -ibarat tangan kiri tak mengetahui apa yang dilakukan tangan kanan- maka ia termasuk salah satu di dalamnya. Begitulah yang diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Disamping itu, ikhfa’ al-amal (menyembunyikan amalan) merupakan salah satu cara untuk menutup pintu riya’. Dengan demikian, jika amalan kebaikan tidak ada yang menyaksikannya, maka pikiran yang menginginkan agar ada yang melihatnya dan memujinya akan sirna, sebagaimana disebutkan oleh Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Al-Ihya.

Tingkatan Riya’

Para ulama berpayah-payah agar terhindar diri riya’, dengan menyembunyikan amalan yang mereka lakukan, karena mereka tahu betapa halusnya penyakit riya’ hingga terkadang pelakunya tidak merasakan.

Imam Al-Ghazali menyebutkan, disamping ada jenis riya’ al-jali (riya’ yang jelas), ada juga riya’ al-khafi (riya’ tersembunyi). Contoh riya’ al-jali, seseorang beramal karena dorongan utamanya ingin mendapat pujian dari orang.

Sedangkan riya’ tersembunyi, ia bukan menjadi pendorong utama seseorang untuk melakukan amalan. Hanya saja, dengan adanya riya’ tersembunyi ini semangatnya untuk beramal lebih kuat. Contohnya, ada seseorang melaksanakan shalat Tahajjud dan ibadah itu sendiri sebenarnya berat baginya, namun jika ada tamu yang bermalam di rumahnya, maka ia semakin giat dan semakin ringan melaksanakannya. Itu berarti ia sudah terjebak oleh riya’ tersembunyi. Dan itu tidak boleh.

Sebaiknya Dijauhi Meski Kadang Bermanfaat

Menampakkan amalan dengan riya’, sebaiknya memang dijauhi walau kadang bermanfaat. Al-Ghazali mengisahkan dalam Al-Ihya. Suatu saat di Baghdad banyak umat Islam yang bangun malam dan melaksanakan shalat dengan suara jahr (nyaring), hingga bacaan mereka terdengar di jalanan. Mereka yang melintasi jalan di waktu sebelum fajar akan mendengar bacaan tersebut, hingga mereka terdorong untuk melakukan hal yang sama (shalat malam). Namun, setelah itu ada seseorang yang menulis kitab yang menjelaskan riya’ al-khafi, hingga bacaan jahr dalam shalat malam berhenti karena mereka takut riya’. Padahal, bacaan itu menginspirasi orang lain untuk melaksanakan shalat malam.

Terkadang, suatu amalan kebaikan, baik itu dilakukan dengan ikhlas ataupun riya’, jika dilakukan terang-terangan bisa memberi dampak positif bagi orang lain, yakni memotivasi untuk berbuat kebaikan dan menampakkan syiar Islam. Hal ini memang tidak bisa dipungkiri. Rasulullah sendiri telah menyatakan bahwa orang pendosa pun bisa memberi dampak positif terhadap dien. Beliau bersabda, ”Sesungguhnya Allah benar-benar menguatkan agama ini dengan pendosa.”(Muttafaq Alaihi)

Namun hal itu, tidaklah sepatutnya dijadikan legitimasi untuk melakukan amalan dengan riya’atau bermudah-mudah menampakkan amalan, tanpa mempertimbangkan dampak positif-negatifnya, baik bagi pelakunya sendiri maupun orang lain. Tentu, ketika menampakkan amalan dirasa memiliki dampak positif lebih besar, maka pelakunya pun dituntut untuk ikhlas saat melakukannya.

Walau demikian tidak berarti menampakkan amalan dilarang sama sekali. Ada beberapa kondisi dimana dibolehkan untuk menampakkan amalan. Tentu saja dengan syarat, pelakunya bisa mengendalikan diri dari riya’.

Hal ini disinggung dalam al-Qur`an, di mana Allah Ta’ala berfirman yang artinya,

نْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

”Jika kalian menampakkan sedekah maka hal itu baik sekali. Dan jika kalian menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir maka hal itu lebih baik bagi kalian…” (QS: Al-Baqarah [2]: 271)

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim juga membedakan antara sedekah sunnah dan wajib seperti zakat, dan amalan wajib seperti shalat lima waktu. Untuk sedekah sunnah, maka lebih utama dirahasiakan karena lebih bisa menjaga dari riya’, sedangkan untuk zakat, dan shalat fardhu (wajib) lebih baik terang-terangan.

Jika dinilai ada manfaat dalam menampakkan amalan guna memberi contoh atau memotivasi orang lain, maka hal ini dibolehkan, dengan syarat pelakunya sendiri terhindar dari riya’. Semisal seseorang melakukan shalat malam dengan bacaan jahr, agar tetangganya bangun dan melakukan hal serupa, atau seseorang yang terang-terangan pergi terlebih dahulu untuk berjihad agar yang lain termotivasi. Mereka yang tidak aman dari perbuatan riya’, jika melakukan hal ini, bagaikan seseorang yang memutuskan untuk menolong orang yang tenggelam, namun ia sendiri tidak bisa berenang, akhirnya ia juga celaka.

Namun bagi mereka yang mampu melakukannya, maka disamping ia memperoleh pahala atas amalannya sendiri, ia juga memperoleh pahala karena telah memotivasi orang lain melakukan amalan kebaikan. *

Rep: Thoriq
Editor: Cholis Akbar

Urgensi amal jama’ioleh :yahyaayyash1. Dustur Ilahi :“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepa...
11/07/2018

Urgensi amal jama’i

oleh :yahyaayyash

1. Dustur Ilahi :

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar; mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran 3:104)

Dalam ayat ini Allah telah mengisyaratkan tentang wajibnya melaksanakan dakwah secara amal jama’i.

2. Perjuangan Islam terlalu berat untuk dipikul secara individual karena perjuangan Islam bertujuan mengikis habis jahiliyah sampai ke akar-akarnya dan menegakkan Islam sebagai penggantinya.

Tanpa adanya struktur (tandzim) haraki yang setarap dengan struktur yang dihadapi (jahiliyah) dalam segi kesadaran, penataan dan kekuatan, tugas perjuangan Islam tak mungkin dapat dihasung meskipun dengan berpayah-payah dan pengorbanan seluruh kemampuan.

3. Da’wah secara jama’ah adalah da’wah yang paling efektif dan sangat bermanfaat bagi Gerakan Islam. Sebaliknya da’wah secara sendirian akan kurang pengaruhnya dalam usaha menanamkan ajaran Islam pada umat manusia.

4. Beramal jama’i (bergerak secara bersama) akan memperkuat orang-orang yang lemah dan menambah kekuatan bagi orang-orang yang sudah kuat. Satu batu bata saja akan tetap lemah betapapun matangnya batu bata tersebut. Ribuan batu bata yang berserakan tidak akan membentuk kekuatan, kecuali jika telah menjadi dinding, yaitu antara batu bata yang satu dengan yang lain telah direkat dan ditata secara rapi.

“Orang Mu’min yang satu dengan orang Mu’min lainnya seperti bangunan yang saling memperrekat.” (Muttafaq ‘alaih)

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa danjangan tolong-menolong dalam berbuatdosa dan pelanggaran.” (Al Maaidah 5:2)

5. Beramal jama’i sebagai sarana mencapai keridhaan Allah

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, seolah-olah mereka adalah bagunan yang tersusun kokoh.” (QS. Ash Shaff 61:4)

6. Dengan amal jama’i balasan yang diberikan berlipat ganda

Allah SWT memberikan ganjaran yang besar kepada ibadah yang dilakukan secara berjamaah seperti shalat berjamaah dan sebagainya.

7. Iman lebih terpelihara dalam lingkungan amal jama’i

Persatuan dalam amal jama’i merupakan benteng pertahanan dari ancaman kehancuran. Seorang diri bisa saja lenyap, jatuh atau disergap oleh syethan-syethan manusia dan jin. Tetapi jika ia berada di dalam Jama’ah maka akan terlindungi.

Seperti seekor kambing yang berada di tengah kawanannya. Tidak ada serigala yang berani memangsanya karena perlindungan kawanan itu sendiri. Serigala akan berani memangsanya manakala kambing itu keluar dari kawanannya atau berjalan sendirian.

“Kalian harus berjama’ah karena tangan Allah bersama Jama’ah. Barang siapa melesat sendirian maka ia akan melesat sendirian di neraka.” (Hadits)

“Sesungguhnya syethan adalah serigala manusia dan serigala itu hanya memakan kambing yang lepas (dari kawanan).” (Hadits)

“Kalian harus ber-Jama’ah, karena syethan itu bersama orang yang sendirian dan dia akan lebih jauh terhadap dua orang.” (Hadits)

8. Kebathilan yang terorganisir dapat mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir

1.d. Jamaah Minal Muslimin (Jamaah dari kaum Muslimin)

Jamaah yang ada sekarang adalah jamaah minal muslimin bukan jamaah muslimin. Artinya, ada jamaah lain yang bergerak dan berdakwah untuk mencapai jamaah muslimin. Jamaah muslimin adalah khilafah Islamiyah yang tunggal, tidak boleh ada jamaah setelah berdirinya, karena Nabi Saw. bersabda untuk membunuh satu dari dua pimpinan jamaah muslimin (khalifah Islamiyah)

1.e. Bahaya Perpecahan Umat. Persatuan : Suatu Kewajiban Islam

Tidak menjadi masalah jika di dalam tubuh Kebangkitan Islam itu terdapat berbagai amal jama’i, kelompok atau Jama’ah, yang masing-masing memiliki manhaj tersendiri dalam berkhidmat dan berjuang menegakkan Islam di muka bumi, sesuatu dengan penentuan sasaran, skala prioritas, sasaran dan tahapannya.

Tidaklah menjadi masalah, apabila hal itu merupakan ta’addudu tanawwu’(perbedaan yang bersifat variatif) bukan ta’addudu ta’arudh (perbedaan yang bersifat kontradiktif). Asalkan semua pihak ada hubungan kerja dan koordinasi. Sehingga saling menyempurnakan dan menguatkan. Dalam menghadapi masalah-masalah asasi dan keprihatinan bersama harus mencerminkan satu barisan, laksana bangunan yang kokoh.

Tetapi yang menjadi masalah adalah jika satu gerakan Islam meluncur-kan makar terhadap gerakan Islam lainnya. Sehingga musuh itu datang dari dalam tubuh Kebangkitan Islam itu sendiri.

Tidaklah berbahaya jika terjadi perbedaan pendapat khususnya dalam soal-soal furu’ (cabang) dan sebagian ushul (pokok) yang tidak prinsipil. Tetapi yang berbahaya adalah perpecahan dan permusuhan yang telah diperingatkan Allah dan Rasul-Nya kepada kita.

Islam membenci perpecahan !

“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat” (QS. Ali Imran: 105)

“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikit pun tanggung jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah, kemudian Allah akan Memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.” (QS. Al An’aam 6:159)

“Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya”. (QS. Asy-Syura 42:13)

“Barang siapa memisahkan diri dari Jama’ah sejengkal kemudian dia mati maka matinya adalah (mati) jahiliah”. (Muttafaq ‘alaih)

“Jauhkanlah diri kalian dari tindakan merusak hubungan persaudaraan karena tindakan itu adalah pencukur (agama)” (HR. Tirmidzi)

Islam sangat membenci perpecahan dan perselisihan, sampai Rasulullah saw. memerintahkan kepada orang yang sedang membaca al-Qur’an agar menghentikan bacaannya apabila bacaannya itu akan mengakibatkan perpecahan.

“Bacalah al-Qur’an selama bacaan itu dapat menyatukan hati kalian, tetapi jika kalian berselisih maka hentikanlah bacaan itu” (Muttafaq ‘alaih)

Artinya bubarlah dan pergilah supaya perselisihan itu tidak berlarut-larut lalu menimbulkan keburukan. Kendatipun keutamaan membaca al-Qur’an sangat besar, tetapi Nabi saw. tidak mengizinkan membacanya apabila bacaan itu akan membawa kepada pertentangan dan perselisihan. Baik perselisihan itu menyangkut qira’atataupun menyangkut adab-adab lainnya. Para shahabat diperintahkan agar membubarkan majlis pada saat terjadinya perselisihan. Sementara itu masing-masing mereka tetap diperbolehkan berpegang teguh dengan qira’atnya.

Bimbingan Islam untuk memelihara persatuan :

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” (Al-Hujurat 49:10)

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok).” (al-Hujurat 49:11)

“Jauhkanlah diri kalian dari prasangka, karena prasangka itu merupakan omongan yang paling dusta. Janganlah saling mencurigai, saling menghasut, saling iri hati, saling membenci dan saling membuat makar. Tetapi jadilah Hamba-hamba Allah yang saling bersaudara”. (hadits)

Ada satu kisah di dalam al-Qur’an yang mengajarkan agar kita senantiasa menjaga kesatuan. Kisah tersebut ialah kisah Musa as. ketika pergi untuk memenuhi “panggilan” Allah selama tiga puluh malam kemudian disempurnakan dengan sepuluh sehingga menjadi empat puluh malam. Selama kepergian tersebut tugas Nabi Musa as. digantikan oleh saudaranya dan partnernya, Harun as. Selama kepergian Nabi Musa as. inilah, kaum diuji dengan penyembahan anak sapi yang dibuat oleh Samiri. Setelah kembali kepada kaumnya, Nabi Musa as. dikejutkan oleh penyimpangan besar yang menyentuh esensi aqidah yang dibawanya dan dibawa oleh semua Rasul sebelum ataupun sesudahnya.

Nabi Musa kemudian marah lalu melemparkan lembaran-lembarannya seraya menjambak rambut saudaranya dan berkata :

“Hai Harun! Apakah yang menyebabkanmu, waktu engkau melihat mereka sesat, untuk tidak mengikuti (contoh)-ku? Apakah (dengan sengaja) engkau telah durhaka kepada perintahku?” (QS. Thaha 20:92-93)

Jawaban Nabi Harun seperti disebutkan dalam al-Qur’an ialah :

“Ia (Harun) menjawab: Hai anak ibuku, janganlah engkau jambak jenggotku dan janganlah engkau tarik rambut kepalaku. Sesungguhnya aku takut engkau akan berkata: “Engkau telah memecah belah Bani Israel dan engkau tidak pelihara perkataanku”. (QS. Thaha 20:94)

Di dalam jawaban ini kita lihat bahwa Nabi Allah, Harun meminta maaf kepada saudaranya dengan ungkapan : “Aku takut bahwa engkau akan berkata: engkau telah memecah belah Bani Israel dan engkau tidak pelihara perkataanku”.

Ini berarti Nabi Harun as. mendiamkan tindakan kemusyrikan besar dan penyembahan anak sapi yang dibuat oleh Samiri, demi menjaga kesatuan Jama’ah dan khawatir akan perpecahannya. Tentu saja kekhawatiran tersebut hanya bersifat sementara, selama kepergian Musa. Setelah Nabi Musa kembali, kedua Rasul bersaudara ini bekerjasama dalam menangani krisis yang timbul.

1.f. Analisa Tugas Amal Jama’i
Tujuan-tujuan khusus :

1. Membina pribadi Muslim dan mengembalikan kepribadian Islam setelah dihancurkan oleh peradaban asing, Timur dan Barat

2. Membina keluarga Islam dan mengembalikan karakteristiknya yang asli agar dapat melaksanakan tugasnya, yaitu ikut berpartisipasi dalam menciptakan manusia Muslim yang sejati

3. Membina masyarakat Islam yang akan mencerminkan dakwah dan peri laku Islam, agar manusia dapat melihat hakikat Islam yang hanif ini dalam suatu bentuk yang kongkret di permukaan bumi

4. Mempersatukan umat Islam di seluruh penjuru dunia menjadi satu front kekuatan dalam menghadapi kekafiran, kemusyrikan dan kemunafikan, sehingga umat ini didengar perkataannya dan ditakuti gerakannya.

Sarana terpenting amal jama’i dalam mencapai tujuan-tujuan khusus :

1. Wajib mengembalikan mass-media, pengajaran, ekonomi dan alat-alat negara lainnya kepada Islam, supaya pengarahannya diatur sesuai dengan batas-batas dan syari’at Islam

2. Menghancurkan semua unsur kemunafikan dan kefasikan di dalam umat dan membersihkan masyarakat daripadanya

3. Mempersiapkan umat Islam sebaik-baiknya sehingga sesuai dengan berbagai tuntutan di masa datang.

MENDIDIK ANAK PEREMPUAN by : bendri jaisyurrahman 1. Berbahagialah orangtua yg dikaruniakan anak wanita sebab Rasulullah...
09/07/2018

MENDIDIK ANAK PEREMPUAN
by : bendri jaisyurrahman

1. Berbahagialah orangtua yg dikaruniakan anak wanita sebab Rasulullah telah menjamin baginya surga jika sabar dan sukses mendidiknya
2| Barangsiapa yg diuji dengan memiliki anak wanita, lalu ia asuh mereka dengan baik, maka anak itu akan menjadi penghalangnya dari api neraka (HR.Bukhari)
3| Sebagian orangtua menganggap remeh mendidik anak wanita, bahkan lebih mengunggulkan anak laki. Padahal wanita adalah tiang peradaban dunia
4| Itulah kenapa, jika gagal mendidik anak wanita berarti kita telah memutus kebaikan untuk generasi masa depan
5| Gagal mendidik anak wanita berarti kelak kita akan kekurangan di masa depan. Dan ujung-ujungnya rusaklah masyarakat
6| Ajarilah anak wanita kita akan keutamaan menjaga kesucian diri bukan sekedar menjaga keperawanan. Suci dan perawan itu beda !
7| Perawan terkait dengan faktor fisik, dimana selaput dara tidak robek. Sementara suci terkait dgn faktor akhlak dan sikap
Banyak wanita yang bisa jadi masih perawan tapi tidak suci. Ia membiarkan badannya disentuh, bibirnya dikecup lelaki lain, asal tidak bersetubuh
9| Sementara banyak juga wanita yg tidak perawan atas sebab kecelakaan, terjatuh, tapi masih suci. Sebab ia tak biarkan lelaki lain menyentuhnya
10| Quran memberikan gelar wanita terbaik kepada Maryam tersebab ia selalu menjaga kesucian dirinya dalam kata, sikap dan tingkah laku
11| Maryam tak sembarang gaul dengan lelaki asing. Maka, saat ia dinyatakan hamil, ia tetap suci di mata Allah
12| Demikian p**a dengan Bunda Khadijah, istri rasulullah yg tidak lagi perawan tapi digelari 'Ath Thohirah' atau wanita suci
13| Dari rahim wanita suci kelak muncul generasi berkualitas. Nabi Isa adalah bukti keberkahan dari wanita yg menjaga kesuciannya
14| Maka, tugas utama ortu yang memiliki anak wanita adalah mengingatkan pentingnya kesucian bukan sekedar keperawanan
15| Ajarkan anak wanita utk bersikap sepatutnya terhadap lelaki asing atau yg bukan mahram. Ramah boleh tapi tetap jaga kemuliaan diri
16| Saat anak wanita belum baligh atau masih anak2, ajarkan ia utk membedakan 3 jenis sentuhan : pantas, meragukan dan haram
17| Sentuhan pantas itu muaranya kasih sayang. Ini dilakukan oleh orang lain kepada anak wanita yg belum baligh di bagian sekitar kepala dan pundak
18| Sentuhan yg meragukan. Yakni antara kasing sayang versus nafsu. Biasanya berpindah-pindah tempat. Dari kepala turun ke bahu trus ke pinggang
19| Jika sudah melewati batas bahu, yakni ke pinggang, atau ke perut, ajarkan anak utk menolak dgn kalimat "Aku gak s**a ah"
20| Terakhir, sentuhan haram yakni di wilayah sekitar kemaluan dan buah dada. Ajarkan anak kemampuan utk menolak dan menghindar
21| Dengan mengajari anak wanita kita tentang sentuhan, mengajarkan juga kepada mereka tentang berharganya tubuh mereka. Tidak sembarangan disentuh
22| Selain itu, ajarkan juga kepada anak wanita kita tentang siapa itu saudara, sahabat, kenalan dan orang asing. Sikapi dgn beda
23| Buat anak wanita tidak membutuhkan sosok lelaki lain yg jadi 'pahlawan' nya selain ayah, kakek dan kakak kandungnya
24| Saat mereka tumbuh remaja, tak jual murah dirinya demi dicintai lelaki lain. Sebab sudah ada sosok lelaki idola dalam hidupnya, khususnya ayahnya
25| Sebagian besar remaja wanita yg memutuskan untuk pacaran, karena tak punya lelaki idola di rumahnya sebagai tempat berbagi
26| Dengan ayah dan kakak kandung tidak akrab. Sehingga ia membutuhkan figur lelaki lain. Akhirnya, perlahan kesuciannya pudar. Jadilah mereka anak cabe-cabean
27| Itulah kenapa AYAH perlu hadir dalam jiwa anak wanita sedari dini. Harus ada ikatan batin di antara mrk agar anak wanita tak cari idola lain
28| Ayah harus sering berkomunikasi dengann anak wanita nya saat dalam kandungan. Saat lahir, anak mengenali suara ayahnya pertama kali yg didengar
29| Saat lahir, jadikan wajah AYAH lebih banyak discan dalam memori anak. Hadirkan ekspresi saat menggendong anak
30| Ikatan batin antara ayah dan anak wanita ini memberi pengaruh saat anak tumbuh dewasa dan mengalami persoalan hidup
31| Saat anak wanita mulai jatuh cinta, ia akan jadikan AYAH sebagai mentor cintanya. Tak ingin ditipu lelaki buaya. Nasehat ayah jadi panduan
32| Saat anak wanita siap menikah, ia mencari sosok lelaki yg seperti ayahnya. Atau setidaknya pilihan ayahnya
33| Bahkan saat anak wanita menjalani gonjang ganjing pernikahan. Ia tak butuh lelaki lain sebagai tempat curhat. Ayahnya lah yg jadi labuhan
34| Peran ayah dalam menjaga kesucian anak wanita amatlah vital. Rusaknya moral anak wanita saat ini salah satunya karena ketidakterlibatan ayah dalam mengasuh
35| Karena itu, ajaklah para ayah agar terlibat dalam pengasuhan. Tak cuma sekedar cari nafkah. Tapi peduli akan anaknya khususnya yg wanita
36| Semoga anak wanita di negeri ini selalu jaga kesuciannya sehingga lahir generasi yg diberkahi. Sekian. Mohon maaf jika tak berkenan

by : bendri jaisyurrahman

Inspirasi Jiwa😊Suatu kali seorang Ayah ditanya oleh an aknya:"Mengapa Ayah selalu rajin berdoa padahal keadaan ekonomi k...
05/07/2018

Inspirasi Jiwa😊

Suatu kali seorang Ayah ditanya oleh an aknya:

"Mengapa Ayah selalu rajin berdoa padahal keadaan ekonomi kita tetap biasa saja? Apa yang Ayah dapatkan dgn seringnya Ayah berdoa secara teratur kepada Allah ?".

Sang Ayah menjawab:

"Tidak ada yg Ayah dapat, malah Ayah banyak kehilangan; tetapi ....... Ayah akan beritahu kepadamu Nak, apa-apa saja yang hilang itu ...".

*Ternyata yang hilang adalah:*
- Kekuatiran.
- Kemarahan.
- Depresi.
- Kekecewaan.
- Sakit Hati.
- Kerakusan.
- Ketamakan.
- Kebencian.
- Kesombongan.

"Setiap kali setelah berdoa Ayah selalu kembali menjadi tenang".

Kadangkala, jawaban atas doa kita tidak selalu tentang "apa yg kita dapat" tetapi justru "apa yg hilang" dari kehidupan kita.

Janganlah selalu mengukur kebaikan Allah dari "apa yang kita dapat" karena terkadang Allah bekerja lewat "apa yang hilang" dari kehidupan kita...

*Dahsyatnya Kekuatan Do'a*

Inspirasi JiwaOrang-Orang yang Di Do'akan Malaikat1. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci.“Barangsiapa yang tidur dala...
07/08/2016

Inspirasi Jiwa

Orang-Orang yang Di Do'akan Malaikat

1. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci.
“Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa ‘Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci”. (HR Imam Ibnu Hibban dari Abdullah bin Umar)

2. Orang yang sedang duduk menunggu waktu shalat.
“Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya ‘Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia’ (HR Imam Muslim dari Abu Hurairah, Shahih Muslim 469)

3. Orang-orang yang berada di shaf barisan depan di dalam shalat berjamaah.
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada (orang – orang) yang berada pada shaf – shaf terdepan” (Imam Abu Dawud (dan Ibnu Khuzaimah) dari Barra’ bin ‘Azib)
4. Orang-orang yang menyambung shaf pada sholat berjamaah (tidak membiarkan sebuah kekosongan di dalam shaf).
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu bershalawat kepada orang-orang yang menyambung shaf-shaf” (Para Imam yaitu Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Hakim meriwayatkan dari Aisyah)

5. Para malaikat mengucapkan ‘aamin’ ketika seorang Imam selesai membaca Al Fatihah.
“Jika seorang Imam membaca ‘ghairil maghdhuubi ‘alaihim waladh dhaalinn’, maka ucapkanlah oleh kalian ‘aamiin’, karena barangsiapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosanya yang masa lalu” (HR Imam Bukhari dari Abu Hurairah, Shahih Bukhari 782)

6. Orang yang duduk di tempat shalatnya setelah melakukan shalat.
“Para malaikat akan selalu bershalawat ( berdoa ) kepada salah satu diantara kalian selama ia ada di dalam tempat shalat dimana ia melakukan shalat, selama ia belum batal wudhunya, (para malaikat) berkata, ‘Ya Allah ampunilah dan sayangilah ia'” (HR Imam Ahmad dari Abu Hurairah, Al Musnad no. 8106)

7. Orang-orang yang melakukan shalat shubuh dan ‘ashar secara berjama’ah.
“Para malaikat berkumpul pada saat shalat shubuh lalu para malaikat ( yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga shubuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap tinggal. Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu shalat ‘ashar dan malaikat yang ditugaskan pada siang hari (hingga shalat ‘ashar) naik (ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada mereka, ‘Bagaimana kalian meninggalkan hambaku?’, mereka menjawab, ‘Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan shalat dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan shalat, maka ampunilah mereka pada hari kiamat'” (HR Imam Ahmad dari Abu Hurairah, Al Musnad no.9140)

8. Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan.
“Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata ‘aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan’ (HR Imam Muslim dari Ummud Darda’, Shahih Muslim 2733)

9. Orang-orang yang berinfak.
“Tidak satu hari pun dimana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu diantara keduanya berkata, ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak’. Dan lainnya berkata, ‘Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit'” (HR Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Abu Hurairah, Shahih Bukhari 1442 dan Shahih Muslim 1010)
10. Orang yang sedang makan sahur.
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat (berdoa ) kepada orang-orang yang sedang makan sahur” Insya Allah termasuk disaat sahur untuk puasa “sunnah” (HR Imam Ibnu Hibban dan Imam Ath Thabrani, dari Abdullah bin Umar)

11. Orang yang sedang menjenguk orang sakit.
“Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70.000 malaikat untuknya yang akan bershalawat kepadanya di waktu siang kapan saja hingga sore dan di waktu malam kapan saja hingga shubuh” (HR Imam Ahmad dari ‘Ali bin Abi Thalib, Al Musnad 754)

12. Seseorang yang sedang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.
“Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah diantara kalian. Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain” (HR Imam Tirmidzi dari Abu Umamah Al Bahily).

Instagram :ely
amalia

Address

Jalan Jendral Sudirman 620
Bandung

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Amalia posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share