14/12/2018
KETIKA ANAK MENELAN KOIN
Satu hari ini sungguh Allah telah menegur saya. Allah ingin memberikan pelajaran kepada saya & keluarga. Allah lagi sayang dengan kami. Hanya 1 hari, tapi ribuan hikmah yg sy dapatkan.
Dimulai dari anak yang menelan koin 1.000 secara tidak sengaja.
Padahal sebelumnya berada tepat disamping saya, lagi main bersama Abang & Adiknya. Kami mau bersiap tidur, saya hendak ke kamar mandi dulu. Kejadiannya begitu cepat, terdengar teriakan Abang, โBunda, Adek ketelan uang!โ
Panik, pasti! Tapi saya berusaha tenang, dzikir, istighfar. Saya langsung membawa anak ke dokter dekat rumah. awalnya bu dokter menyarankan, tunggu 2ร24 jam, insyaAllah bisa keluar melalui feses. Tapi kemudian sang anak mengeluh, tenggorokannya sakit, air liur nya terus menetes. Akhirnya disarankan rontgen ke RS terdekat.
Suami saat itu sedang berada di Bandara, menjemput saudara. Saya pun hendak memesan taksi online. Namun, Allah Maha Baik, ada tetangga yang mau mengantarkan kami.
Sampailah kami di RS terdekat, ternyata ruang rontgen sudah tutup. Maka saya menelpon ke beberapa RS yang lebih besar lagi dekat rumah. Ternyata, tidak ada dokter THT yang praktik di waktu itu. Lalu, suami menelpon temannya yang dokter. Maka kami pun meluncur ke RS yang menjadi pusat rujukan se-Indonesia itu.
Selama perjalaman, si anak tak banyak bicara, tapi saya melihat ada air liur menetes dan mulutnya mengulum sesuatu. Ternyata, dia mengulum ludah. Saya memintanya memuntahkan ludahnya. Sembari terus menyemangati, bahwa itu koin akan keluar. Saya meminta anak untuk sering menelan ludah, mengejan, dan memberikan usapan-usapan yang bisa meningkatkan hormon oksitosin (hormon kebahagiaan).
Sepanjang perjalanan yang macet, saya mencari opini & saran dari ahli kesehatan. Sesampainya di RS pusat, anak saya baru mendapatkan tempat tidur setelah 3 jam menunggu (sebelumnya hanya duduk dibangku sambil saya peluk). Itu pun saya memohon kepada petugas, bahwa anak saya sudah lelah. Dia ingin tidur. Untuk memastikan, di mana letak koin bersarang di tubuh anak, kami pun melakukan rontgen. Selama observasi, menanti sekaligus yakin, Allah pasti Akan memberikan pertolongan kepada hamba-NYA yang meminta.
Melihat suasana ruang UGD yang ramai, karena di sana tempat rujukan RS di Indonesia. Tapi saya bahagia, tim dokter, pak satpam, pelayanan RS, senyuman mereka, membuat hati saya tenang. Saya sempat satu ruangan dengan Malaikat Maut. Tak jauh dari saya, nyawa seorang pasien kembali kepada Sang Khalik, jeritan tangis memenuhi ruangan.
Pembelajaran parenting pun saya dapatkan. Bagaimana pengorbanan, kasih sayang, perjuangan ibu-anak, bapak-anak, suami-istri, ketika mereka diuji dengan harta yang paling mahal, KESEHATAN. Penyakit mereka sungguh beragam dan kronis. Semoga Allah memberikan kesembuhan kepada mereka.
Pelajaran toleransi dan saling menolong pun jelas terlihat. Sesama penunggu saling bercerita, mendoakan, memberikan semangat. Antara dokter dan pasien saling membantu memberikan yang terbaik dan menghormati pilihan. Tanpa pandang SARA. Tak peduli agama, suku, etnis. Di sana tak ada yang membanggakan kelompoknya sendiri.
Hasil observasi pun didapat, koin sudah berada di ujung lambung. Tim dokter memberikan pilihan. Tentu mereka ingin pasien p**ang dengan tenang. Dilakukan Endoskopi (memasukkan camera kecil ke dalam tubuh, untuk mengambil koin), atau p**ang dengan keinginan sendiri, self healing di rumah. Karena banyak kasus bisa keluar sendiri. Allah masih sayang kepada kami, karena pada saat yang sama, ada kasus anak tertelan tutup botol, setelah di rontgen, ternyata tak hanya tutup botol yang bersarang, ada peniti, dan benda-benda kecil lainnya.
Suami pun tiba lewat tengah malam. Suami mencarikan nasi dan lauk di rumah makan 24 jam. Anak saya harus makan banyak dan berat, serta air putih yang banyak untuk mendorong koinnya keluar, pikir saya saat itu.
Bukan, bukan masalah uang sebenarnya (demi anak, apapun akan dilakukan orang tua dengan cara yang halal. Alhamdulillah, kami ada asuransi kesehatan juga). Namun, pilihan kami jatuh kepada opsi kedua. Melihat kondisi anak baik-baik saja. Si anak malah sering bercerita, dan dia pun berjanji kalau menemukain uang dan koin, harus segera dimasukkan ke celengan, bukan ke mulut ๐
.
Saya mengikuti opini beberapa teman yang berprofesi sebagai dokter, pengalaman serupa dari saudara lainnya. Hasil cek darah normal. Anak pun kami bawa p**ang setelah diobservasi 12 jam.
Ada keyakinan dalam diri seorang bunda, Allah Maha Besar, benda tersebut bisa keluar, dengan cara yang alami. Percobaan anak sy pada dirinya pun terbukti. (Mungkin anak saya sedang bereksperimen, kalau koin ditelan, hipotesisnya adalah bisa dikeluarkan lagi oleh tubuh ๐). Bahwa doa, memakan sayur dan buah, gizi seimbang, minum air putih, olahraga, perasaan bahagia bisa memperlancar pencernaan dan menyembuhkan penyakit.
Sepanjang observasi dan perjalanan ke rumah, saya memotivasi anak, agar kita menjadi tim yang hebat, memanjatkan doa untuk menembus pintu langit-NYA. Saya juga terus memberinya makan. Nasi dan protein hewani (ayam), air putih, buah berserat tinggi dan antioksidan (apel, anggur), jus buah murni (jeruk+wortel+pepaya), bubur ayam, salad sayur mentah, yogurt.
Anak pun kami buat bahagia. Kami sempatkan ke taman bermain outdoor. Yaa, dia harus banyak gerak. Berlarian, naik perosotan, ayunan, dan lainnya. โKoin itu pasti keluar, Nak! Biiznillah!โ. Beberapa kali kami sempat berhenti ke tempat dengan fasilitas toilet, karena anak ingin buang air. Namun belum juga keluar.
Lalu ia pun beristirahat di rumah. Tepat setelah adzan Isya berkumandang, anak saya bangun, minum air putih, dan minta buang air. Penuh perjuangan memang, namun atas izin Allah koin akhirnya keluar tanpa rasa sakit, bersama fesesnya. โBun, koinnya keluar, kerasa koinnya!โ Teriaknya girang penuh kebahagiaan. Setelah koin bersarang 20 jam di tubuh sang anak. MAHA BESAR, ENGKAU YAA ALLAH..
MasyaAllah, syukur tak terhingga kepadaNYA. Kalau ada yang terjadi sesuatu pada anak, saya langsung instrospeksi. Yaโฆ mungkin ada hak mereka yang belum diterima. Ada kewajiban dari saya yang belum ditunaikan. Maafkan bunda ya Nak. Yuk, kita bersama jadi tim solid dan tim yang bahagia lagi!
Dengan tulisan ini, saya hanya mengajak, Dear Parents.. sayangi, beri perhatian anak-anak kita sebaik dan seoptimal mungkin. Jangan tunggu sakit tiba, menyesal di kemudian hari. Jangan panik, karena kepanikan hanya akan membuat pikiran kita menjadi tidak rasional. Ada Allah, mintalah segala pertolongan, hanya kepadaNYA. Semoga bisa menjadi pembelajaran bagi kita semua. Wallahuโalam.(*)
with Love