19/06/2026
Dalam perjalanan pulang sekolah kemarin siang, si Gadis Hujan tiba-tiba menoleh ke arahku. Wajahnya tampak setengah bingung, tapi ada semburat geli di matanya.
​"Bun, tadi pas ujian kan Adek udah selesai isi soal, terus Adek gabut. Eh, tiba-tiba kakak kelas yang duduk di sebelah Adek bisik-bisik," ceritanya membuka obrolan.
​"Bisik-bisik apa?" tanyaku penasaran.
​"Dia bilang, 'Dek, abang yang itu (sambil nunjuk temannya), mau minta nomor WA-mu, Dek. Boleh?' Terus Adek cuma ngeliatin bingung aja, Bun," katanya polos.
​Aku yang mendengar cerita itu langsung tersenyum geli, sekaligus ada rasa "deg-degan" yang halus menyelinap di hati. Ah, anak gadisku yang rasanya baru kemarin ditimang, ternyata sekarang sudah tumbuh sedemikian rupa. Dia mulai menarik perhatian, mulai didekati binar-binar kagum dari dunia luar.
​Melihat kepolosan wajahnya, aku langsung teringat pada keindahan Mutiara Lombok yang sering aku kagumi. ​Mutiara Lombok tidak menjadi indah dalam semalam. Ia berproses di dalam cangkang yang sunyi, dirawat dengan penuh kesabaran, hingga akhirnya menghasilkan kilau alami yang begitu memesona. Begitu juga dengan anak gadisku. Setiap didikan, petuah, dan kasih sayang yang ditenun di rumah, kini perlahan mulai membentuk "kilau" keanggunan seorang remaja.
​Wajar jika pesonanya mulai dilirik, persis seperti mutiara indah yang memikat mata siapapun yang melihatnya.
​Anak gadis kita adalah mutiara yang sedang mekar kian indah. Kilaunya lembut, tidak berlebihan, namun pesona alaminya tetap tak bisa disembunyikan.
​Momen berharga seperti ini jadi pengingat untukku. Tugas kita bukan mengurung mutiara itu agar tidak dilihat orang, melainkan memperkuat "cangkang" prinsip dan akhlaknya. Biarkan dia tumbuh dan bersinar dengan anggun, seotentik kilau abadi perhiasan mutiara Lombok.
​Sahabat, ada yang punya cerita serupa saat anak gadisnya mulai beranjak remaja? Berbagi di kolom komentar, yuk! 👇