12/02/2026
Dalam tradisi Kejawen yang masih dilestarikan hingga saat ini, terdapat sebuah ritual sakral yang dilakukan ketika seorang anak tunggal hendak menikah. Tradisi tersebut dikenal dengan Barongan Bethara Kolo.
Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, anak tunggal memiliki posisi yang istimewa sekaligus rentan secara spiritual. Oleh karena itu, sebelum memasuki gerbang pernikahan—yang merupakan fase penting dalam kehidupan—diadakanlah ritual Barongan Bethara Kolo sebagai bentuk ikhtiar lahir dan batin.
Barongan melambangkan kekuatan, penjagaan, serta penolak bala. Sosok Bethara Kolo sendiri dalam filosofi Jawa dimaknai sebagai simbol energi besar alam semesta yang harus dihormati dan diseimbangkan. Melalui pertunjukan dan rangkaian doa-doa, keluarga memohon perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar pernikahan anak tersebut dijauhkan dari mara bahaya, gangguan, dan kesialan.
Tradisi ini bukan sekadar pertunjukan seni, tetapi mengandung nilai spiritual, budaya, serta doa yang mendalam. Di dalamnya terdapat pesan tentang keharmonisan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Ritual ini juga menjadi pengingat bahwa setiap langkah besar dalam hidup sebaiknya diawali dengan permohonan restu dan keselamatan.
Hingga kini, di beberapa daerah Jawa, tradisi Barongan Bethara Kolo tetap dijaga sebagai warisan leluhur—bukan semata karena adat, tetapi sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai kearifan lokal yang sarat makna.