Bayi Bunda Sehati

Bayi Bunda Sehati Info Produk bisa kesini ya Bunda Wa : 0822-9700-7440

Selama Datang Bunda dan Yanda
Bayi Bunda Sehati menjual perlengkapan Baby dan Bunda yang tentunya ekslusif tidak di jual di pasaran. :) Dapatkan harga PROMO dan DISKON setiap harinya.

Bukan Hanya Porsi Makan, 5 Hal ini Menyebabkan Obesitas pada AnakKetahui penyebabnya agar bisa melakukan tindak pencegah...
25/03/2020

Bukan Hanya Porsi Makan, 5 Hal ini Menyebabkan Obesitas pada Anak
Ketahui penyebabnya agar bisa melakukan tindak pencegahan ya, Ma!

Obesitas terjadi ketika penumpukan lemak di tubuh melebihi batas normal karena jumlah kalori yang dikeluarkan lebih sedikit dari jumlah kalori yang terbakar. Tidak hanya pada orang dewasa, anak balita pun bisa mengalami kondisi ini.

Bahkan, Mama harus lebih waspada jika anak mengalaminya. Pasalnya, ada kemungkinan obesitas yang dialami anak-anak akan bertahan hingga ia beranjak remaja.

Nah, sebagian orangtua masih berpikir bahwa obesitas terjadi karena porsi makan yang berlebih ataupun junk food. Padahal penyebab obesitas pada anak bukan hanya itu lho, Ma. Berikut lima hal lain yang juga bisa menyebabkan obesitas pada anak:

1. Kebiasaan pilih-pilih makanan

Hampir semua anak memiliki kebiasaan untuk menjadi picky eater. Mereka hanya makan makanan yang mereka sukai dan menolak yang lain.

Alhasil, orangtua pun terpaksa memberikan makanan kesukaan mereka agar anak tetap makan dan mendapatkan nutrisi.

Padahal, anak cenderung hanya memilih makanan yang enak saja. Mereka menjauhi sayuran yang justru baik untuk menurunkan berat badan.

Alhasil, konsumsi gizi mereka jadi tidak seimbang dan berisiko obesitas.

2. Minum susu formula saat tengah malam

Saat anak terbangun tengah malam dan tidak bisa tidur, apa yang Mama lakukan? Apakah Mama mengandalkan susu untuk membuat mereka kenyang dan terlelap kembali?

Faktanya, tindakan tersebut berisiko membuat anak jadi obesitas lho, Ma.

Minum susu formula tengah malam akan meningkatkan berat badan mereka. Namun, hal ini tidak berlaku jika Mama memberikan ASI ya.

3. Duduk di stroller terlalu lama

Meski anak sudah bisa berjalan sendiri, terkadang mereka masih rewel minta digendong saat sedang jalan-jalan. Nah, daripada menggendongnya, sebagian besar orangtua memilih untuk menggunakan stroller.

Jika hal ini terus dibiasakan, anak bisa mengalami obesitas lho, Ma. Pasalnya, duduk di stroller membuat anak kurang bergerak. Padahal, jalan-jalan seharusnya menjadi kesempatan bagi mereka untuk berolahraga ringan dan membakar kalori.

4. Kurang tidur picu si Kecil obesitas

Layaknya orang dewasa, pola makan anak pun akan terganggu ketika mereka kurang tidur. Tubuhnya akan mendorong anak untuk makan lebih banyak. Nah, hal ini bisa memicu obesitas, apalagi jika makanan yang anak konsumsi adalah makanan tinggi garam, gula, dan lemak.

Untuk itu, jaga agar anak mendapatkan tidur yang cukup ya, Ma. Umumnya, anak berusia 1-3 tahun membutuhkan tidur selama 12-14 jam sehari dan anak berusia 3-5 tahun membutuhkan 11-13 jam sehari.

5. Tidak mengukur penambahan berat badan anak secara rutin

Selama anak masih balita, adalah tugas orangtua untuk mengukur penambahan berat badannya setiap bulan. Tidak hanya untuk mengetahui pertumbuhan anak, pengukuran ini juga untuk mendeteksi dini berbagai penyakit.

Nah, salah satu kondisi yang dapat dideteksi adalah obesitas.

Jika Mama lalai melakukan pengukuran ini, bisa saja penambahan berat badan sudah melampaui batas wajar lho!

Itulah lima hal lain yang bisa menyebabkan obesitas selain porsi makan. Yuk, hindari hal-hal tersebut agar anak tidak mengalami obesitas. Apalagi, obesitas dapat meningkatkan berbagai risiko penyakit, seperti diabetes, tekanan darah tinggi, jantung, stroke, dan lain-lain.

SOURCE:https://www.popmama.com/kid/1-3-years-old/bernadine/hal-yang-menyebabkan-obesitas-pada-anak/full

Anak pun Bisa Alami Emotional Eating. Ini Cara MencegahnyaJangan biasakan anak menjadikan makanan sebagai obat penenangD...
24/03/2020

Anak pun Bisa Alami Emotional Eating. Ini Cara Mencegahnya
Jangan biasakan anak menjadikan makanan sebagai obat penenang

Dalam hidup ini, manusia butuh makan untuk bertahan hidup. Akan tetapi, ada kondisi-kondisi di mana makan lebih dari sekadar pemenuhan kebutuhan biologis, melainkan juga psikologis. Kondisi ini disebut dengan emotional eating atau makan secara emotional.

Jika selama ini pelaku emotional eating yang banyak disoroti adalah orang dewasa yang sedang mengalami masalah psikologis, nyatanya gangguan ini juga dapat dialami anak-anak. Efeknya bisa buruk bagi kesehatan anak lho, Ma.

Lalu, bagaimana cara mencegahnya? Berikut Popmama.com punya lima tips menjauhkan anak dari emotional eating:

1. Jauhkan anak dari makanan dengan karakter atau warna yang menarik

Penelitian yang dimuat di rileychildrens.org menyebutkan, anak sangat mudah tertarik secara visual terhadap makanan dengan kemasan karaker kartun atau warna-warna yang menarik. Mereka cenderung memilih kemasan yang atraktif, sekalipun rasa makanannya biasa saja, bahkan tidak mereka sukai.

Karakter kartun dan warna-warni menarik mata mengingatkan anak akan momen yang menyenangkan, yang akhirnya membuat hubungan emosional antara anak dengan makanan tersebut.

2. Hindari memberikan makanan sebagai penenang

Saat anak mengalami hari yang buruk, reaksi sebagian besar orangtua adalah menenangkannya dengan sesuatu yang menyenangkan. Misalnya, mengajak ke restoran cepat saji atau membelikannya sekotak es krim favorit.

Banyak orang juga berpendapat bahwa cokelat dapat membuat suasana hati seseorang merasa lebih baikan. Hal ini mendorong kepercayaan bahwa makanan dapat menjadi obat penenang setelah mengalami hari yang buruk atau perasaan yang tak nyaman. Akibatnya adalah secara tak sadar terbentuk kebiasaan jangka panjang untuk memuaskan lidah setelah mengalami kekecewaan.

3. Alihkan perhatian anak ke hal lain selain makanan

Tak hanya karena perasaan sedih, kecewa atau marah saja, emotional eating juga bisa dialami anak jika ia merasa bosan atau kesepian. Emotional eating bisa berubah menjadi 'teman' yang memenuhi nafsu dan kepuasaan diri anak.

Karenanya, penting untuk selalu menyibukkan anak dengan berbagai kegiatan yang mengalihkan perhatiannya dari keingin untuk selalu makan, makan dan makan. Misalnya dengan berolahraga, bermain di luar ruangan, menggambar, bermain musik atau membuat kerajinan tangan.

4. Ajarkan anak menulis jurnal makanan

Salah satu cara untuk meruntut situasi hati adalah dengan menuliskan jurnal harian. Ajak anak menulis bagaimana suasana hatinya setiap hari, apa aktivitasnya, apa yang dimakannya hingga bagaimana perasaannya setelah makan.

Dari sinilah Mama dan anak bisa melihat apakah anak punya kecenderungan emotional eating dan mencari solusi yang lebih baik. Misalnya, berjalan kaki mengitari kompleks ketimbang ngemil sekantong keripik kentang.

5. Memikirkan ulang sebelum makan

Seringkali dalam keseharian, manusia dikendalikan oleh emosionalnya dan tidak mengacuhkan apa yang benar-benar menjadi kebutuhan diri sendiri. Anak-anak pun mengalaminya. Mereka mungkin merasa stres akan pekerjaan rumah atau terlalu sibuk dengan kegiatan di sekolah maupun ekstrakurikuler sehingga tak punya waktu mendengarkan tubuhnya sendiri.

Oleh karenanya, ajarkan anak ambil waktu sejenak untuk berhenti, dan menghitung dari angka satu sampai lima. Jika setelahnya keinginan makan masih menggebu-gebu, itu artinya benar-benar lapar dan boleh makan. Jika keinginan makan menghilang, berarti sekadar godaan emotional eating.

Meski anak mungkin mengerti apa yang terjadi pada dirinya, di usianya yang masih sangat dini ia membutuhkan bantuan untuk keluar dari siklus emotional eating ini. Tentu saja tak semudah membalikkan telapak tangan, terutama jika emotional eating berkaitan dengan self-esteem dan obesitas.

Bila dirasa emotional eating ini mengganggu, konsultasikan masalah anak dengan para ahli, seperti konselor dan terapis yang bisa membantu melatih anak mengatasi perasaannya sendiri. Kehadiran ahli gizi juga bisa menolong mengidentifikasi pola makan dan mengembalikan kebiasaan mengonsumsi makanan sehat.

Semoga informasi ini menginspirasi ya, Ma.

SOURCE:https://www.popmama.com/big-kid/10-12-years-old/winda-carmelita/cara-mencegah-anak-menjadi-emotional-eating/full

5 Tips Sukses Mendidik Anak di Era DigitalBegini cara yang tepat memanfaatkan teknologi untuk mendukung kecerdasan anakM...
24/03/2020

5 Tips Sukses Mendidik Anak di Era Digital
Begini cara yang tepat memanfaatkan teknologi untuk mendukung kecerdasan anak

Mendidik anak di zaman milenial rasanya lebih sulit dibandingkan pola asuh yang diterapkan orangtua zaman dulu. Pasalnya, anak-anak kini tumbuh dengan kecanggihan teknologi yang memudahkan akses informasi kapan pun dan dimana pun.

Disinilah peran orangtua sangat dibutuhkan untuk membentengi anak dari pengaruh negatif teknologi, meskipun ada banyak p**a manfaat yang dapat diperoleh.

Mama tak perlu menjadi pakar teknologi untuk mendidik anak di era digital ini. Menurut sejumlah pakar psikolog, yang dibutuhkan anak-anak ketika mereka tumbuh adalah kehadiran orangtua untuk senantiasa mendampingi serta memonitor apa yang mereka lakukan.

Apa saja yang harus dilakukan orangtua dalam mendidik anak di era digital?

1. Komunikasi dua arah

Dibutuhkan komunikasi dua arah dalam mendidik anak-anak zaman now. Artinya, orangtua tidak hanya sekedar melarang atau memberi instruksi kepada anak saja, tetapi juga bersikap sebagai pendengar yang baik dan memberikan solusi atas segala permasalahan yang dihadapi anak.

Komunikasikan secara terbuka hal-hal apa saja yang belum pantas dilakukan atau dilihat anak. Misalnya, menjelaskan mengapa orangtua melarang anak menonton video atau tayangan dengan konten orang dewasa. Jelaskan p**a aturan yang bijak dalam menggunakan gadget.

Komunikasi terbuka antara orangtua dan anak terbukti efektif membentengi anak dari pengaruh negatif pemakaian gadget.

2. Kembangkan bakat anak

Sebenarnya ada banyak manfaat yang bisa diperoleh dari kecanggihan teknologi. Melalui gadget dan internet, proses belajar anak menjadi lebih variatif dan menyenangkan.

Manfaatkan teknologi untuk mengembangkan bakat anak. Misalnya, jika anak memiliki bakat memasak, menjahit atau menari, Mama bisa memutar video tutorial yang bisa ditiru atau menjadi inspirasi bagi anak.

Pada anak usia sekolah, ajak dia untuk berkreasi membuat dan mengedit video yang kemudian diunggah ke akun sosial media. Dengan begitu, teknologi menjadi alat untuk mengembangkan kreativitas dan bakat anak, tentu saja dengan bimbingan orangtua.

3. Monitor aktivitas anak

Batasi screen time untuk anak. Buatlah kesepakatan dengan anak kapan ia boleh menggunakan gadgetdan berapa lama waktu pemakaiannya.

Selain itu, sepakati p**a jenis konten apa saja yang boleh dan tidak boleh dilihatnya. Atur pola pengaturan pada gadget agar anak tidak dapat melihat konten orang dewasa.

Baca disini: Panduan batasan screen time berdasarkan usia anak

4. Beri contoh yang baik

Anak adalah peniru ulung. Maka berilah contoh yang baik untuk anak-anak. Buat kesepakatan dengan pasangan untuk tidak memegang gadget dalam bentuk apapun, baik itu ponsel ataupun laptop, selama jam-jam tertentu dimana anak sedang membutuhkan perhatian orangtuanya.

Perilaku tersebut membuat anak lebih mudah memahami aturan yang dibuat dan mencontoh apa yang dilakukan oleh orangtuanya.

5. Pendidikan agama sejak dini

Pada akhirnya, tidak ada yang lebih penting daripada mengajarkan pendidikan agama sejak dini. Nilai-nilai agama yang diperoleh anak sejak kecil menjadi bekal baginya untuk membentengi diri dari perilaku atau pengaruh buruk lingkungan di sekitarnya.

Mendidik anak di era digital memang tidak mudah. Jika orangtua terlalu ketat menerapkan disiplin kepada mereka, dikhawatirkan akan membuat anak menjadi pribadi yang membangkang dan tidak mandiri. Dilain sisi, terlalu membebaskan anak juga beresiko membawa mereka pada pengaruh negatif serta lingkungan pergaulan yang salah.

Oleh sebab itu, peran orangtua sangat penting untuk selalu mendampingi anak-anak. Terapkan aturan dan disiplin tanpa membuat anak merasa tertekan.

Sebaliknya, orangtua hendaknya mampu memposisikan diri sebagai ‘sahabat’ yang selalu dapat diandalkan dan dipercaya oleh anak-anak. Sehingga kelak anak tumbuh menjadi pribadi yang positif.

SOURCE:https://www.popmama.com/big-kid/10-12-years-old/astri-diana/tips-sukses-mendidik-anak-di-era-digital/full

Yuk, Ubah Kebiasaan Konsumsi Gula pada Anak dalam 30 HariJangan sampai kebablasan karena dampaknya bisa buruk untuk kese...
24/03/2020

Yuk, Ubah Kebiasaan Konsumsi Gula pada Anak dalam 30 Hari
Jangan sampai kebablasan karena dampaknya bisa buruk untuk kesehatan anak jangka panjang

Gula ada di sekitar kita, itu adalah fakta yang tak bisa dipungkiri. Bahkan, gula tersembunyi dalam makanan dan minuman yang berlabel 'bebas gula'. Ironisnya, dilansir dari parents.com, konsumsi gula oleh anak-anak usia empat hingga delapan tahun mencapai 50 pon atau setara dengan 22,6 kg per tahunnya.

Jumlah yang sangat banyak dan tidak disadari siapapun, Ma.

Dampak Konsumsi Gula Berlebih pada Anak

Konsumsi gula berlebih di usia dini dapat menumpuk risiko-risiko penyakit yang akan dihadapi anak di kemudian hari. Jangan menyepelekannya. Jangan sampai konsumsi gula berlebih menjadi bom waktu yang akan meledak saat anak tumbuh dewasa nanti.

Pada dasarnya, secara biologis tubuh anak terprogram memilih rasa manis yang lebih tinggi ketimbang orang dewasa. Gula tinggi akan kalori dan tubuh kia berevolusi di lingkungan yang miskin kalori sehingga secara adaptif, tubuh kita akan ketagihan gula. Akibatnya, kita selalu menginginkan makanan manis sejak usia dini dan tidak mereda hingga usia remaja.

Studi menemukan bahwa anak yang mengonsumsi gula berlebih, bahkan jika itu hanya dua porsi minuman manis per hari, lebih tinggi risiko mengalami penyakit jantung, diabetes dan keduanya. Laporan dari Vanderbilt Universitu School of Medicine menemukan bahwa anak berusia tiga hingga sebelas tahun yang minum 12 ons minuman manis, secara signifikan mengalami peningkatan protein C-reaktif. Protein ini merupakan indikator berbahaya adanya peradangan pada organ tubuh dan jaringan.

Cegah sebelum terlambat, Mama bisa mengontrol konsumsi gula pada anak dalam waktu 30 hari. Tips dari Popmama.com ini bisa Mama terapkan di rumah.

Minggu ke-1: Ganti Rutinitas Sarapan

Sebagian orangtua di Indonesia memilih menyiapkan sarapan yang praktis dengan sereal, jus kemasan, roti isi selai atau susu bubuk. Padahal, makanan-makanan yang tampaknya sehat dan mengenyangkan ini mengandung banyak gula, baik itu gula alami maupun gula tambahan.

Mama bisa mengurangi konsumsi gula dengan mengganti menu sarapan. Misalnya, roti isi selai diganti dengan roti isi telur atau membuat omelet telur sayur sebagai alternatifnya. Hindari topping yang cenderung manis, seperti selai kacang, meses, selai cokelat dan sebagainya, dengan keju atau butter.

Bila anak terbiasa minum susu di pagi hari, hindari memberikan susu kemasan dengan rasa-rasa. Sebaiknya, buat sendiri susu rasa buah dari susu segar, buah strawberry dan sedikit madu. Blender hingga buah menjadi halus dan tercampur merata. Cara ini dapat meminimalkan konsumsi gula tak sehat yang seringkali terdapat pada minuman kemasan.

Minggu ke-2: Perhatikan Kebiasaan Mengonsumsi Camilan di Keluarga

Camilan sangatlah penting di masa tumbuh-kembang anak karena merupakan sumber energi tambahan. Akan tetapi, bukan berarti mengonsumsi kukis dan keripik tiap hari diperbolehkan karena alasan ini lho, Ma. Idealnya, konsumsi gula mingguan yang disarankan adalah sebanyak 60 gram yang berasal dari makanan pencuci mulut dan snack.

Mengapa tidak mengganti cake dan kukis dengan buah-buahan? Ajarkan pada anak bahwa buah-buahan juga merupakan makanan pencuci mulut. Bila anak masih merengek ingin kembali ke kebiasaan lama, Mama bisa menyiasatinya dengan melelehkan dark chocolate 70 persen sebagai celupan buah.

Minggu ke-3: Bersih-bersih Dapur, Kulkas dan Pantry

Salah satu godaan untuk mengonsumsi makanan manis adalah karena semuanya tersedia di rumah dan mudah dijangkau anak-anak. Untuk itu, Mama bisa memulainya dengan mengurangi belanja camilan kemasan dan menggantinya dengan edamame, baby carrots, pisang, apel dan buah-buahan lainnya.

Ganti kebiasaan minum minuman kemasan manis dengan membuat infused water atau jus buah segar, serta dorong anak agar lebih banyak minum air putih.

Minggu ke-4: Membiasakan Minum Minuman Sehat

American Academy of Pediatric menyarankan konsumsi setiap hari 180 ml jus yang dibuat dari 100 persen buah segar tanpa tambahan gula untuk anak usia satu hingga enam tahun dan 350 ml untuk anak yang lebih tua. Cara ini dapat mengurangi hingga 50 gram gula tambahan yang biasa dikonsumsi tiap hari.

Sebagai gantinya, tumbuhkan kebiasaan minum minuman sehat dengan lebih banyak minum air putih. Bisa dalam bentuk infused water sebagai awalan karena masih ada rasa manis yang berasal dari potongan buah yang direndam air. Kemudian, berikan segelas kecil jus buah segar di pagi hari dan susu segar tawar.

Bila anak sudah terbiasa, maka akan sangat mudah membatasi konsumsi gula hariannya. Seperti yang sudah disinggung di atas, gula bersifat seperti candu sehingga jika tidak dibatasi sejak dini, anak akan ketagihan dan mengonsumsinya dalam jumlah lebih besar dari hari ke hari.

Semoga menginspirasi ya, Ma!

SOURCE:https://www.popmama.com/big-kid/6-9-years-old/winda-carmelita/yuk-ubah-kebiasaan-konsumsi-gula-pada-anak-dalam-30-hari/full

Yuk, Tuntun Anak Menuju Sukses dengan 6 Langkah Ini, Ma!Mama bisa menerapkan hal ini sejak dini agar anak bisa sukses di...
23/03/2020

Yuk, Tuntun Anak Menuju Sukses dengan 6 Langkah Ini, Ma!
Mama bisa menerapkan hal ini sejak dini agar anak bisa sukses di masa depan

Kata sukses memang multi tafsir di benak para orangtua. Tentunya sukses itu sendiri merujuk kepada sebuah keberhasilan, namun tingkat keberhasilan inilah yang multi tafsir alias beragam tergantung bagaimana tiap individu mengartikannya.

Yang patut kita ketahui bahwa sukses bukanlah hal instan, didalamnya ada proses-proses yang mana hal ini menjadi kunci menuju keberhasilan kelak.

Salah satu kenyataan terberat yang Mama hadapi sebagai orangtua dalam membesarkan anak adalah memahami bahwa kesuksesan anak seperti dua sisi uang logam.

Pada akhirnya Mama sebagai orangtua melihat kesuksesan anak seperti berada di dalam kendali dan bisa juga tidak alias di luar kendali Mama.

Tidak ada panduan pasti dalam memastikan si kecil dapat dibesarkan menjadi anak-anak yang sukses.

Meski begitu pengaruh Mama sebagai orangtua terhadap mereka dapat memiliki efek yang lebih konkret daripada yang dipikirkan sebelumnya. Paling tidak ada cara mengatur langkah bagi Mama menuju pada kesuksesan anak baik di dalam maupun di luar sekolah.

Berikut Popmama.com.com telah merangkum enam cara untuk membantu si kecil menemukan jalan menuju sukses baik di dalam maupun di luar sekolah, menurut para ahli. Simak yuk, Ma!

1. Lakukan percakapan sejak bayi

Sebagaimana diketahui kemampuan komunikasi yang kuat membuka banyak peluang baik di seluruh kehidupan sang anak hingga mampu mendorong mereka sebagai siswa yang menonjol di bidang pilihan mereka sendiri.

Ternyata menumbuhkan kemampuan ini tidak perlu menunggu sampai anak mama mengucapkan kata-kata pertamanya lho, Ma.

Dilansir dari Parents.com, para peneliti di University of Lowa telah menemukan bahwa bayi dapat terlibat dalam panggilan dan respons percakapan sehari-hari.

"Ini seperti sebuah tarian, ada hal yang tampaknya dipelajari anak-anak sekitar usia 6 hingga 8 bulan. Tarian menjadi langkah sederhana yang kamu lakukan secara bergiliran," kata Peter M. Vishton, Ph.D., director of the National Science Foundation's Developmental Sciences Program, yang mendanai penelitian ini.

Sebuah studi bersama di MIT, Harvard, dan University of Pennsylvania mengambil korelasi itu selangkah lebih maju. Ditemukan bahwa anak-anak usia 4 hingga 6 tahun yang secara efektif terlibat dalam percakapan bolak-balik memiliki lebih banyak keaktifan di area Broca atau bagian otak yang terkait dengan produksi bicara.

Lebih jauh lagi, anak-anak dengan area Broca yang lebih aktif ini tampil lebih baik dalam tes yang mencakup konsep seni bahasa. Dengan mendorong percakapan bahkan sejak usia dini, Mama tidak hanya membantu anak dalam berbahasa lebih cepat, tetapi juga turut membantu perkembangan bagian otak yang berguna bagi kemampuan komunikasinya kelak.

2. Berpikir kritis tentang "diet screen time" pada anak

Melakukan screentime sering kali digambarkan sebagai musuh dari sebuah kesuksesan, terkait dengan masalah di sekolah, obesitas, dan interaksi sosial yang akhirnya kurang efektif bagi sang Anak. Dalam hal ini lebih menyoroti apa yang mereka lewatkan saat menyaksikan hiburan media seperti tayangan televisi misalnya.

"Bukan berarti TV itu 'beracun', tetapi jika anak-anak menghabiskan satu jam menonton TV, mereka menghabiskan satu jam tidak melakukan hal-hal yang merangsang perkembangan mereka," kata Dr. Vishton.

Namun ada acara yang merupakan pengecualian dari aturan tersebut. SesameStreet misalnya, ini adalah acara berstandar emas dalam televisi pendidikan, pakar konsultasi, dan juga kelompok-kelompok yang memfokuskan studi pada audiens dengan mempelajari subjek yang dimaksud dari setiap segmen acara televisi.

Jadi, dalam hal ini atur dan awaslah pada 'menu diet' screen time yang anak konsumsi. Mulailah aktif dalam melihat hal ini sebagai orangtua, Mama harus tahu apakah acara favorit si kecil telah lulus standar penelitian serupa.

Jadi tontonan yang anak saksikan baiknya yang memiliki 'nilai gizi' yang baik bagi perkembangannya Ma.

3. Pastikan anak cukup tidur

Bagi anak, Mama tidak hanya berbicara bagaimana jumlah tidur yang mereka dapatkan dalam sehari, tetapi juga faktor konsistensi jadwal tidur mereka adalah penentu kesuksesan. Tidur siang misalnya, penting untuk kemampuan balita mama dalam menerapkan konsep bahasa baru secara abstrak.

Dalam sebuah penelitian oleh Rebecca Gomez di University of Arizona, timnya menemukan bahwa anak-anak yang tidur siang dalam waktu empat jam setelah mempelajari kata baru atau aturan tata bahasa, lebih mungkin untuk menggeneralisasikannya pada hari berikutnya.

Anak berusia delapan belas bulan bahkan dapat mempelajari peraturan dan menerapkannya dalam kalimat yang sama sekali baru jika tidur siang setelahnya, tetapi mereka akan gagal melakukannya jika mereka tetap terjaga.

Kebutuhan tidur akan meningkat seiring bertambahnya usia. Otak anak hingga usia 30 bulan cukup matang untuk memungkinkan memutar ulang saraf atau bisa dibilang ini adalah cara pikiran si Anak untuk mempelajari hal baru saat mereka tidur dan menyimpannya dalam memori.

Saat anak mama mulai masuk sekolah dasar, barulah mereka akan membutuhkan sekitar sembilan hingga 11 jam tidur malam untuk memaksimalkan apa yang mereka pelajari di kelas sehari sebelumnya.

4. Ajari anak untuk menghargai proses

Di Holy Catholic Redeemer Catholic School di Johns Creek, Georgia, Kepala Sekolah Lauren Schell melihat keberhasilan pada siswa yang menghargai proses dibanding yang berorientasi pada hasil.

"Anak-anak cenderung meraih penghargaan dengan cepat, tetapi keberhasilan sekolah sering kali melibatkan upaya berkelanjutan dan rasa untuk tidak cepat puas," katanya. "Sebagai orangtua, kita perlu membantu anak yang sudah dewasa dengan proses ini."

Membangun sebuah rutinitas yang disiplin lalu menetapkan harapan agar anak mengikutinya akan membantu anak-anak memahami manfaat dari manajemen waktu dan konsistensi.

Ini akan menjadi keinginan anak-anak sendiri saat mereka sudah dewasa dan sang Anak mampu melihat sebagai imbalan atas upaya yang mereka lakukan dari waktu ke waktu.

5. Ajak bermain pura-pura

Bukan untuk menunjukkan sikap berpura-pura lho, Ma. Contoh dari permainan ini misalnya bermain menjadi sebuah karakter atau membuat teman imajiner baru.

Ini baik adanya untuk membangun landasan keberadaan karakter anak dari usia dini. Pada masa dewasa, anak akan mengingat kembali pada saat-saat itu sebagai momen manis nostalgia dari masa kanak-kanak mereka, dari situlah perkembangan mental yang dialami anak mama dari permainan pura-pura akan mengikuti mereka sepanjang hidupnya.

Ilmuwan perkembangan seperti Dr. Vishton sering mengatakan bahwa "bermain adalah pekerjaan anak-anak."

Ketika anak-anak mengadopsi peran tertentu, membangun dunia imajiner mereka, dan mengundang teman-teman mereka untuk berpartisipasi dalam perjalanan yang telah mereka bangun, anak-anak belajar untuk menjadi lebih kreatif, memiliki komunikasi jangka panjang yang lebih baik, dan mematangkan keterampilan pemecahan masalah mereka.

6. Membangun sistem pendukung di sekolah

Saat anak mama lulus sekolah dasar dan lanjut jenjang berikutnya, pandangan dunia mereka akan mulai terbuka luas nantinya di sekolah menengah.

Guru-guru menjadi pengaruh kuat pada pertumbuhan mereka, membawa serta banyak pengalaman dan pemahaman profesional tentang tonggak hidup dan perkembangan dalam pendidikan anak.

Hal ini perlu dikombinasikan dengan pengetahuan Mama sebagai orang tua tentang anak dan juga mama dapat melihat kebutuhan mereka, sekolah dan rumah harus bekerja bersama untuk menumbuhkan kesuksesan mereka saat mereka maju dari satu kelas ke kelas selanjutnya.

"Ketika kita mendengarkan dan menghormati wawasan satu sama lain, kita membentuk sistem pendukung untuk anak, keluarga, dan sekolah." pungkasnya.

Nah Ma, enam tahap membesarkan anak ini sangat baik untuk diterapkan dengan santai tapi tetap fokus.

Jangan lupa ya untuk tetap menyelipkan sebongkah cinta dan energi positif dalam mendidik anak-anak ya Ma. Cek terus tipsnya di Popmama.com ya, Ma!

SOURCE:https://www.popmama.com/kid/1-3-years-old/greg-bima/tuntun-anak-menuju-sukses-dengan-langkah-ini/full

Merawat bayi baru lahir bukanlah hal yang mudah, apalagi jika baru pertama kali menjadi seorang mama.Jika malas cuci tan...
23/03/2020

Merawat bayi baru lahir bukanlah hal yang mudah, apalagi jika baru pertama kali menjadi seorang mama.

Jika malas cuci tangan, bisa-bisa sejumlah sistem tubuhnya tidak bekerja dan berkembang dengan baik. Hal inilah yang kemudian menyebabkan bayi berakhir di dalam kematian.

Oleh sebab itu, mengapa tenaga medis yang menolong persalinan selalu mencuci tangan sebelumnya. Tujuannya untuk menghindari risiko kematian bayi.

Melihat informasi 5 bahaya akibat memegang bayi dengan tangan kotor, sebaiknya biasakan memulai dan mengakhiri kegiatan dengan mencuci tangan.Mama Tidak Mencuci Tangan Saat Memegang Bayi Baru Lahir
Bayi baru lahir tidak boleh sembarangan melakukan kontak dengan orang lain, lho

Terkadang, merawat bayi baru lahir menjadi suatu tantangan tersendiri bagi para orangtua. Dengan demikian, diperlukan perhatian khusus dan ketelitian dalam merawatnya.

Apalagi bayi baru lahir tidak boleh sembarangan melakukan kontak dengan orang lain. Hal ini disebabkan karena ia belum memiliki daya tahan tubuh yang belum sempurna, sehingga mudah terserang penyakit.

Bahkan, Mama pun tak boleh lupa untuk menjaga kebersihan diri sendiri sebelum menyentuh bayi yang baru lahir.

Berikut ini ada 5 bahaya jika tidak mencuci tangan sebelum memegang bayi baru lahir. Yuk, cek informasi selengkapnya dari Popmama.com :

1. Bakteri dapat menyerang sistem pertahanan cerna

Mencuci tangan merupakan cara menjaga kesehatan serta kebersihan tangan yang paling sederhana dan mudah.

Jika Mama mencuci tangan saat memegang bayi, ini akan membuat sang bayi terhindar dari berbagai penyakit yang disebabkan oleh kuman, bakteri, dan virus.

Sedangkan kalau tidak membersihkan tangan sebelum menyentuh bayi, kemungkinan bakteri yang menempel di tangan bisa menyerang sistem pencernaan mereka.

Bakteri tersebut akan menyebabkan bayi mengalami keram perut, diare, dan demam tinggi 5-7 hari setelah terinfeksi.

2. Bayi dapat terjangkit virus cytomegalovirus

Selain bakteri, sejumlah virus juga dapat dibawa oleh tangan yang tidak bersih. Salah satunya adalah cytomegalovirus atau CMV.

Cytomegalovirus merupakan bentuk virus yang menyerupai virus herpes. Pemeriksaan darah merupakan solusi yang tepat untuk mengetahui tubuh bayi terinfeksi Cytomegalovirus atau tidak.

Sedangkan cara agar virus tersebut tidak tersebar, sebaiknya Mama harus lebih sering mencuci tangan. Apalagi ketika hendak memegang bayi baru lahir.

Pasalnya jika bayi terkena CMV, virus ini akan hidup selamanya di tubuh si Kecil. Namun gejalanya tak langsung muncul. Bayi yang terjangkit virus CMV bisa mengalami gejala saat ia dewasa nanti.

3. Bayi terjangkit virus penyebab gangguan pernapasan

Tak cuma Mama, Papa dan anggota keluarga lainnya juga harus cuci tangan dulu sebelum menyentuh bayi yang baru lahir.

Pasalnya, banyak kasus medis pada anak yang terjangkit Respiratory Syncytial Virus (RSV) setelah digendong dengan tangan kotor.

Di mana jenis virus ini akan mengganggu pernapasan yang memasuki tubuh melalui mata, hidung atau mulut sang bayi.

Ya, RSV adalah virus yang biasanya menyerang sistem pernapasan bayi di bawah dua tahun. Jika dibiarkan, virus RSV dapat menyebabkan bronkiolitis hingga kondisi yang lebih parah. Bahkan pada beberapa bayi yang terinfeksi virus RSV memerlukan rawat inap.

4. Mengalami infeksi mata akibat sentuhan

Menjaga kebersihan bayi batu lahir bisa dilakukan dengan cara memandikan atau menyeka tubuhnya dua kali sehari.

Namun tak hanya sang bayi, Mama pun juga diwajibkan menjaga kebersihan diri saat memegang mereka. Sebab bayi baru lahir dapat mengalami masalah mata akibat sentuhan dari tangan yang kotor.

Beberapa masalah mata karena disebabkan oleh virus atau bakteri. Di mana virus dapat memiliki gejala seperti mata menjadi berwarna merah dan terlihat bengkak.

Selain itu matanya pun jadi sering mengeluarkan cairan hingga menimbulkan rasa perih yang buat anak jadi menangis.

5. Sejumlah sistem tubuh bayi tidak bekerja dengan baik

SOURCE:https://www.popmama.com/baby/0-6-months/bella-lesmana/bahaya-jika-tidak-mencuci-tangan-saat-memegang-bayi-baru-lahir/full

Efektif Cegah Virus, tapi Amankah Bayi Pakai Hand Sanitizer?Sebagian hand sanitizer mengandung alkohol. Apa efek alkohol...
23/03/2020

Efektif Cegah Virus, tapi Amankah Bayi Pakai Hand Sanitizer?
Sebagian hand sanitizer mengandung alkohol. Apa efek alkohol ini untuk kesehatan si Bayi?

Merebaknya virus Corona belakangan ini, menimbulkan kekhawatiran di masyarakat. Selain melindungi diri dengan masker dan rutin mencuci tangan dengan sabun, masyarakat pun turut membekali diri dengan hand sanitizer.

Hand sanitizer merupakan alternatif untuk menjaga tangan kita agar tetap bersih, terutama pada kondisi di mana tidak ada air dan sabun di sekitar. Dengan sedikit saja cairan hand sanitizer, kuman dan bakteri di tangan bisa mati seketika. Namun, bolehkah bayi menggunakan hand sanitizer? Berikut Popmama.com merangkum serba-serbi yang perlu Mama ketahui seputar hand sanitizer dan penggunaannya pada bayi, dilansir dari firstcry.com:

Apakah Hand Sanitizer Mengandung Alkohol?

Ya, sebagian besar hand sanitizer yang dijual di pasaran mengandung alkohol sebanyak 60 persen atau lebih. Alkohol ini berfungsi sebagai pembunuh kuman dan bakteri yang efektif.

Alkohol yang terkandung dalam hand sanitizer akan menguap ketika digosokkan di tangan. Tetapi, sebagian terserap melalui kulit dan menembus pembuluh darah. Selain itu, bila digunakan bayi dan anak-anak, maka kandungan alkohol ini dapat terhirup atau tertelan bila mereka menjilat atau memasukkan tangannya ke mulut. Untuk itulah, disarankan memilih hand sanitizer bebas alkohol untuk anak-anak agar lebih aman digunakan.

Apakah Hand Sanitizer Berpotensi Menyebabkan Alergi pada Bayi?

Sejauh ini belum ada penelitian yang menunjukkan adanya keterkaitan antara penggunaan hand sanitizer terhadap alergi pada anak-anak. Meskipun begitu, karena bayi cenderung memasukkan apapun ke dalam mulutnya menggunakan tangannya, tak menutup kemungkinan sejumlah kecil bahan kimia yang terkandung dalam hand sanitizer dapat tertelan.

Oleh karena itu, sebaiknya Mama memilih pembersih yang terbuat dari bahan-bahan alami dan organik yang bebas dari bahan kimia berbahaya.

Benarkah Hand Sanitizer Dapat Memicu Asma pada Bayi?

Seperti yang disebutkan di atas, hand sanitizer mengandung beberapa bahan kimia. Salah satunya adalah parfum yang membuatnya lebih harum dan tidak terlalu beraroma alkohol menyengat.

Pada sebagian bayi dan anak-anak, penggunaan parfum yang cukup kuat dapat terhirup dan menimbulkan potensi pemicu asma. Konsultasikan dengan dokter anak Mama untuk kemungkinan apakah si Kecil boleh menggunakan hand sanitizer dalam kasus ini.

Memilih Hand Sanitizer untuk Bayi

Hand sanitizer merupakan pilihan yang baik jika di sekitar kita sulit mendapatkan air dan sabun untuk mencuci tangan. Akan tetapi jika digunakan setiap hari untuk membersihkan tangan, mainan atau permukaan benda-benda yang sering disentuh anak, sebaiknya dibatasi. Menggunakan hand sanitizer setiap kali si Kecil terpapar debu sebetulnya tidak perlu.

Usahakan agar bayi dan anak-anak mencuci tangannya dengan air dan sabun, ketimbang menggantungkan pada penggunaan hand sanitizer. Air dan sabun masih menjadi cara membersihkan tangan dari kuman yang terbaik ketimbang alternatif lain, seperti hand sanitizer atau tissue basah.

Bila memang diperlukan untuk kondisi darurat, pilih hand sanitizer yang bebas bahan pewangi dan pewarna untuk anak-anak. Saat ini telah tersedia hand sanitizer khusus bayi dan anak-anak, yang diperkaya dengan kandungan bahan alami untuk menjaga kelembutan tangan si Kecil meski terpapar pemakaian alkohol di dalamnya.

Semoga informasi ini bermanfaat ya, Ma.

SOURCE:https://www.popmama.com/baby/7-12-months/winda-carmelita/amankah-penggunaan-hand-sanitizer-untuk-bayi/full

Address

Bojonggede Bogor
Bogor
16922

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Bayi Bunda Sehati posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Bayi Bunda Sehati:

Share