04/01/2016
BENARKAH SELAMA INI ANDA MEMPRIORITASKAN KELUARGA?
Banyak orang ketika ditanya, siapakah yang menjadi prioritas anda didalam hidup?
Dengan tegas dan mantab, banyak yang menjawab keluarga sebagai prioritasnya.
Apakah benar, selama ini yang kita lakukan, waktu, tenaga, pikiran, perhatian, lebih banyak kita curahkan kepada keluarga kita?
Betulkah kita selama ini "telah" menempatkan keluarga sebagai prioritas didalam hidup?
Misal saja, jika anda memiliki utang, misal saja cicilannya Rp. 1 juta/bulan. Dan besok pagi adalah waktu jatuh tempo pembayaran cicilan, dan hari ini anda hanya memiliki uang Rp. 1 juta rupiah, sementara sebenarnya cicilan anda sudah macet 3 bulan, sehingga anda bakalan segera diblack list kalau sampai telat lagi, bahkan terancam kreditnya bermasalah.
Tetapi sementara itu, hari itu juga, ternyata istri anda membutuhkan uang untuk membeli beras dan sayuran, juga melunasi utang di warung karena sudah numpuk, juga aneka kebutuhan lainnya, katakanlah butuh Rp. 500 ribu.
Kemudian anak anda juga merengek minta uang untuk membayar SPP sekolah karena sudah beberapa bulan tidak dibayar, sehingga malu mau pergi kesekolah, katakanlah butuh Rp. 500 ribu.
Apa yang akan anda lakukan? Jika memberi uang, istri dan anak anda, maka besok pagi anda akan dimaki2 oleh debtcollector pastinya. Anda akan diancam macam-macam. Anda akan diintimidasi. Anda bakalan disatroni setiap hari. Dan parahnya, kredit anda dianggap kredit bermasalah, bahkan bisa dianggap kredit macet.
Ketika anda pada posisi seperti itu, benarkah anda masih memprioritaskan keluarga?
Banyak orang yang melakukan kesalahan, yaitu mendahulukan bayar utang ke bank. Istri dan anak ya harus menerima hidup seadanya, mereka berpikir, biarlah susah dulu anak istri, yang penting lunas dulu utangnya di bank.
Tapi, apakah cara tersebut mampu membuat mereka keluar dari masalah? TIDAK SAMA SEKALI.
Kita mengatakan: Keluarga nomor 1. Tapi tindakan kita ternyata justru sebaliknya, menomor satukan bank.
Sebenarnya, ketika kita memutuskan untuk membayar bank terlebih dahulu, kita sedang melakukan KEDHOLIMAN, melakukan KEJAHATAN kepada keluarga kita. Karena kedholiman inilah, makanya kita akan semakin sulit jalan rizqinya.
Kita ingin tenang dengan membayar utang. Kita takut dimaki debtcollector sementara anak istri kita harus menahan perut yang lapar.
Ingat, keluarga adalah tanggung jawab kita, sehingga apapun yang terjadi, keluarga adalah prioritas kita.
Mau dimaki debtcollector, BIARKAN!
Mau diancam, mau dimarahi, mau disumpahi, BIARKAN!
Mau didenda, mau disita, BIARKAN!
Utang boleh saja merenggut harta kita, tapi jangan sampai utang merenggut kehidupan keluarga kita.
Hanya karena utang sering kali kita kehilangan Kehidupan kita. Dengan istri/suami cekcok, dengan anak mudah marah, dengan kawan gampang tersinggung, dan macam2 lainnya.
Mulailah dari saat ini, gapai kembali kehidupan yang selama ini hilang dari keluarga anda. Cintailah istri/suami anda dengan sepenuh hati, inilah jiwa yang selama ini mendampingi kita dengan setia. sudah tidak pantas lagi dia menderita. Gapai lagi tawa bersama anak2 anda. Biarlah mereka tumbuh dengan riang dan sempurna. Jangan biarkan anak-anak kita ikut menanggung masalah yang kita alami saat ini.
Gapai kehidupan anda, dan kembalilah menjadi manusia yang penuh cinta. Anda tidak akan mampu melangkah kemana2 jika didalam keluarga anda saja anda tidak mampu menciptakan kehidupan didalamnya.
Utamakanlah keluarga dari hati, pikiran, ucapan dan tindakan kita.
Jika bermanfaat, silakan LIKE dan SHARE agar makin banyak keluarga, makin banyak istri2, makin banyak anak2 yang terselamatkan dari kehancuran hidup karena UTANG!
Hentikan tangis mereka sekarang juga!
Semoga Bermanfaat
*Diambil dari materi awal Kelas Wirausaha Room 1: Debt Free Center