31/05/2021
/Tanda-Tanda Takwa/
Oleh : Ustaz Arief B. Iskandar
Ramadan akan segera meninggalkan kita. Suasana Idulfitri pun akan segera kita rasakan. Dalam hal ini, kita tentu penting merenungi: Sukseskah puasa Ramadan kita selama ini? Berhasilkah kita mewujudkan takwa sebagai “buah” dari puasa Ramadan yang telah kita jalani? Pantaskah kita nanti merayakan Hari Kemenangan, yakni Idulfitri? Menangkah kita dalam melawan hawa nafsu dan godaan setan selama Ramadan, juga selepas Idulfitri?
Jika jawabannya ya, tentu itu yang kita harapkan. Namun, jika jawabannya tidak, tentu puasa Ramadan kita yang selama ini sia-sia belaka. Kita pun sesungguhnya tak layak merayakan Hari Kemenangan ‘Idulfitri’.
Sebabnya, sebagaimana dinyatakan oleh sebagian ulama, “Laysa al-‘id li man labisa al-jadid walakin al-‘id li man takwahu yazid (Idulfitri bukanlah milik orang yang mengenakan segala sesuatu yang serba baru. Namun, Idulfitri adalah milik orang yang ketakwaannya bertambah).”
Pertanyaannya: Apakah ketakwaan kita bertambah selepas puasa Ramadan dan Idulfitri? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita tentu mesti mengetahui hakikat takwa sekaligus tanda-tanda (ciri-ciri)-nya.
Siapa Orang Bertakwa?
Imam ath-Thabari saat menafsirkan QS Al-Baqarah ayat 2, mengutip sejumlah pernyataan tentang hakikat orang-orang bertakwa. Al-Hasan, misalnya, menyatakan, “Orang-orang bertakwa adalah mereka yang takut terhadap perkara apa saja yang Allah haramkan atas mereka dan melaksanakan apa saja kewajiban yang Allah titahkan atas mereka.”
Ibn Abbas berkata, “Orang-orang bertakwa adalah orang-orang yang khawatir terhadap azab Allah ‘Azza wa Jalla jika meninggalkan petunjuk-Nya yang telah mereka ketahui dan berharap pada rahmat-Nya dengan membenarkan apa saja yang datang kepada dirinya (berupa Al-Qur’an, pen.).”
Ibn Mas’ud menuturkan dari sekelompok sahabat Nabi saw. bahwa orang-orang yang bertakwa dalah orang-orang mukmin.
Abu Bakr ‘Ayyas berkata, “Orang-orang bertakwa adalah mereka yang menjauhi dosa-dosa besar.” Demikian p**a disepakati oleh Al-A’masyi.
__