31/01/2018
๐ *Gerhana, Bukan Sebatas Fenomena Alam*
Bismillah was shalatu was salamu โala Rasulillah, wa baโdu,
Sejak berita tentang peristiwa gerhana disebarkan di media, banyak orang mulai berfikir, bagaimana caranya bisa mengabadikan peristiwa dan fenomena gerhana itu dengan baik. Fenomena yang sangat langka, mengingat gerhana akan terjadi mendekati total, bahkan ada yang sampai lebih dari 90%. Dan itu hanya bisa dilihat di Indonesia. Bahkan diberitakan, akan ada banyak wisatawan manca negara yang datang ke Indonesia.
Terlepas dari semua rencana manusia terkait gerhana, sebelumnya kita perlu memperhatikan, sebenarnya suasana yang bagaimana yang perlu kita kondisikan ketika terjadi gerhana?
Allah menjelaskan dalam al-Qurโan,
ููู
ูุง ููุฑูุณููู ุจูุงููุขูููุงุชู ุฅููููุง ุชูุฎููููููุง
โTidaklah kami mengirim ayat-ayat itu selain untuk menakut-nakuti (hamba).โ (al-Isra: 59)
Yang dimaksud โayat-ayat ituโ adalah semua tanda yang menunjukkan kekuasaan Allah, baik yang ada di lingkungan sekitarnya, termasuk mukjizat yang Allah berikan kepada para nabi.
Tujuan Allah menciptakan semua fenomena alam, untuk menunjukkan ke-Maha Kuasan Allah kepada hamba-Nya. Sehingga semakin menambah rasa takut mereka kepada-Nya. Termasuk peristiwa gerhana. Matahari yang demikian terang, dengan kuasa Allah bisa tertutup, sehingga suasana menjadi gelap, hanya tinggal bayangan cahaya putih yang mengitarinya.
Bagi orang kafir, mereka melihat kejadian ini tanpa pernah terbayang tentang siapa penciptanya. Mereka hanya memikirkan, ini fenomena alam nan indah, yang layak diabadikan dengan kameranya.
Berbeda dengan seorang muslim, kejadian semacam ini bukan hanya sebatas fenomena alam. Namun itu adalah peringatan agar dia semakin takut kepada Sang Kuasa. Karena mereka mengimani bahwa ini semua ada penciptanya.
Sikap semacam inilah yang terjadi pada diri Rasulullah shallallahu โalaihi wa sallam ketika beliau melihat fenomena alam. Tidak hanya peristiwa gerhana, sampaipun hanya mendung gelap, terlihat roman ketakutan di wajah Nabi shallallahu โalaihi wa sallam.
Aisyah menceritakan,
ููุงูู ุฑูุณููููู ุงูููู โ ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู
โ ุฅูุฐูุง ุฑูุฃูู ููุงุดูุฆูุง ูููู ุฃููููู ู
ููู ุขููุงูู ุงูุณููู
ูุงุกูุ ุชูุฑููู ุนูู
ููููู โ ููุฅููู ููุงูู ูููู ุตููุงูุชููู โ ุซูู
ู ุฃูููุจููู ุนูููููููุ ููุฅููู ููุดููููู ุงูููู ุญูู
ูุฏู ุงููููุ ููุฅููู ู
ูุทูุฑูุชู ููุงูู : ุงูููููููู
ูู ุตููููุจูุง ููุงููุนูุง
โRasulullah โshallallahu alaihi wa sallamโ apabila melihat mendung di ufuk langit, maka beliau meninggalkan aktivitasnya, meskipun dalam keadaan shalat, kemudian menghadap kepadanya. Apabila Allah menyingkapnya, maka beliau memuji-Nya dan apabila turun hujan, beliau berdoa, โYa Allah jadikanlah hujan ini adalah hujan yang bermanfaatโ.โ (HR. Bukhari Adabul mufrad)
Mengapa Nabi shallallahu โalaihi wa sallam ketakutan? Karena beliau khawatir, jangan-jangan, mendung gelap itu adalah mukadimah adzab, seperti yang terjadi pada kaum โAd.
Aisyah radhiyallahu โanha menceritakan,
Apabila Rasulullah melihat mendung gelap atau angin ribut, kelihatan perasaan takut di wajah beliau. Saya bertanya, โYa Rasulullah, banyak orang ketika melihat mendung, mereka senang, berharap sebentar lagi turun hujan. Sementara anda, ketika melihat mendung, nampak di wajah anda suasana tidak nyaman.โ
Nabi shallallahu โalaihi wa sallam menjawab,
ููุง ุนูุงุฆูุดูุฉู ู
ูุง ููุคูู
ููููู ุฃููู ููููููู ููููู ุนูุฐูุงุจู ุนูุฐููุจู ููููู
ู ุจูุงูุฑูููุญู ุ ููููุฏู ุฑูุฃูู ููููู
ู ุงููุนูุฐูุงุจู ููููุงูููุง (ููุฐูุง ุนูุงุฑูุถู ู
ูู
ูุทูุฑูููุง)
Wahai Aisyah, saya khawatir, mendung ini membawa adzab, yang dulu ada orang diadzab dengan angin kencang. Kaum itu ketika melihat mendung berisi adzab, mereka mengatakan, โAwan ini akan menurunkan hujan untuk kami.โ(HR. Bukhari 4829)
Seperti ini p**a yang diingatkan Rasulullah shallallahu โalaihi wa sallam ketika terjadi gerhana. Beliau sampaikan kepada para sahabat, bahwa itu bagian dari tanda kekuasaan Allah. Agar kita semakin mengagungkan Allah dan semakin takut kepada-Nya. Inilah yang menjadi alasan mengapa kita dianjurkan melakukan shalat gerhana, dan banyak berdzikir kepada-Nya.
Dari al-Mughiroh bin Syuโbah, Rasulullah shallallahu โalaihi wasallam bersabda,
ุฅูููู ุงูุดููู
ูุณู ููุงููููู
ูุฑู ุขููุชูุงูู ู
ููู ุขููุงุชู ุงูููููู ุ ูุงู ููููููุณูููุงูู ููู
ูููุชู ุฃูุญูุฏู ูููุงู ููุญูููุงุชููู ุ ููุฅูุฐูุง ุฑูุฃูููุชูู
ููููู
ูุง ููุงุฏูุนููุง ุงูููููู ููุตูููููุง ุญูุชููู ููููุฌููููู
โMatahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Kedua gerhana tersebut tidak terjadi karena kematian atau lahirnya seseorang. Jika kalian melihat keduanya, berdoโalah pada Allah, lalu shalatlah hingga gerhana tersebut hilang (berakhir).โ (HR. Bukhari 1043 dan Muslim 2147)
Hadirkan perasaan takut kepada Allah ketika terjadi gerhanaโฆ
Bukan sebatas semangat untuk mengabadikannya dalam kamera.
Karena gerhana bukan semata fenomena alam. Namun tanda kekuasaan Sang Pencipta agar kita semaki takut kepada-Nya.
Allahu aโlam.
Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.Konsultasisyariah.com)