06/02/2026
Kisah ini bermula di Tokyo, pada 21 Agustus 1962, dengan lahirnya seorang bayi bernama Tsutomu Miyazaki. Ia lahir prematur dengan kondisi fisik syndactyly, di mana jari-jari tangannya menyatu. Kelainan fisik ini seolah menjadi kutukan awal; ia tumbuh dengan rasa rendah diri yang akut, menjadi sasaran perundungan di sekolah, dan perlahan menarik diri dari dunia manusia.
Meski cerdas secara akademis, Miyazaki gagal total dalam kehidupan sosial. Ia tidak memiliki teman, gagal dalam percintaan, dan akhirnya menemukan "dunia baru" di kamarnya. Ia menimbun ribuan kaset video anime, film horor slasher, dan pornografi sebagai pelarian.
Pada Mei 1988, satu-satunya benang pengikat kewarasannya putus. Kakeknya, satu-satunya orang yang ia rasa menyayanginya, meninggal dunia. Kematian ini mengguncang mental Miyazaki yang sudah rapuh. Tiga bulan kemudian, "monster" yang tersembunyi dalam isolasi itu pun keluar.
II. Musim Panas Berdarah (1988–1989)
Antara Agustus 1988 hingga Juni 1989, Miyazaki meneror Prefektur Saitama dan Tokyo dengan mobil Nissan Langley miliknya, mencari gadis kecil yang tidak berdaya.
Korban Pertama: Mari Konno (4 Tahun)
Pada 22 Agustus 1988, Miyazaki menculik Mari. Ia membawanya ke pegunungan, mencekiknya, dan memutilasi tubuhnya. Namun, kengerian sebenarnya terjadi setelah itu. Miyazaki tidak menyembunyikan diri; ia justru memprovokasi. Ia mengirimkan kotak kardus ke rumah keluarga Konno berisi tulang kaki yang sudah dibakar, gigi, dan foto pakaian Mari. Di dalamnya, terselip surat mengerikan atas nama palsu "Yuko Imada":
"Mari kedinginan, dia batuk-batuk... tolong hangatkan tulangnya."
Eskalasi Kejahatan
Kejahatan berlanjut dengan penculikan Masami Yoshizawa (7 tahun) pada Oktober 1988 dan Erika Nanba (4 tahun) pada Desember 1988. Keduanya dibunuh dan dibuang di hutan. Miyazaki semakin tenggelam dalam delusinya; ia mulai merekam tindakan nekrofilia terhadap jasad korban sebagai "koleksi" pribadinya.
Puncak Kekejian: Ayako Nomoto (5 Tahun)
Pada Juni 1989, kejahatan Miyazaki mencapai titik paling sadis. Setelah membunuh Ayako, ia meminum darah korban dan memakan sebagian tangannya. Dalam pengakuannya kelak, ia berdalih ingin "menyerap kehidupan" korban untuk menghidupkan kembali kakeknya.
III. Kejatuhan yang Ironis (Juli 1989)
Polisi dan detektif hebat Jepang saat itu mengalami kebuntuan. Mereka mencari seorang monster jenius, namun monster itu justru jatuh karena kecerobohannya sendiri.
Pada sore hari tanggal 23 Juli 1989, di sebuah taman di Hachioji, Miyazaki mencoba melakukan pelecehan seksual terhadap seorang gadis kecil sambil membawa kamera. Namun kali ini, ia salah perhitungan. Ayah gadis itu memergokinya, mengejarnya, dan berhasil melumpuhkannya sebelum ia kabur dengan mobilnya.
Awalnya ditahan hanya karena pelecehan, kedok Miyazaki terbongkar saat polisi memeriksa mobil Nissan Langley miliknya. Mereka menemukan film yang belum dicuci cetak. Saat foto-foto itu dikembangkan, polisi terhenyak: itu bukan hanya foto korban di taman, tapi juga foto barang-barang milik korban pembunuhan berantai yang selama ini mereka cari.
Penggeledahan berlanjut ke rumahnya. Di sana, polisi menemukan "Kamar Otaku" yang legendaris: sebuah ruangan sempit yang dindingnya tertutup 5.763 kaset video. Di antara tumpukan anime, terselip rekaman dokumentasi kejahatannya sendiri.
IV. Persidangan dan "Manusia Tikus"
Persidangan Miyazaki adalah pertunjukan horor dan tragedi keluarga yang berlangsung selama 16 tahun. Di pengadilan, Miyazaki berusaha menghindari hukuman mati dengan berpura-pura gila. Ia menggambar sketsa makhluk bernama "Rat Man" (Manusia Tikus) dan mengklaim bahwa makhluk itulah yang melakukan pembunuhan, bukan dirinya.
Sementara itu, di luar pengadilan, ayah Miyazaki menanggung beban "rasa malu budaya" yang tak tertahankan. Ia menolak membela anaknya, mengurung diri, dan akhirnya bunuh diri dengan melompat ke sungai pada tahun 1994. Ketika mendengar kabar kematian ayahnya, Miyazaki hanya merespons dingin: "Oh, aku merasa sedikit lebih baik sekarang."
Hakim dan tim psikiater akhirnya melihat menembus topeng "gila" Miyazaki. Mereka menyimpulkan bahwa ia memang memiliki gangguan kepribadian (narsistik dan disosiatif), namun ia sadar penuh saat merencanakan penculikan, menulis surat palsu, dan menghilangkan jejak. Ia dinilai jahat, bukan gila.
V. Akhir dan Warisan Kelam
Pada 14 April 1997, vonis mati dijatuhkan. Banding demi banding ditolak hingga keputusan final Mahkamah Agung pada 2006. Pada 17 Juni 2008, Tsutomu Miyazaki, sang "Dracula", dieksekusi gantung di Penjara Tokyo pada usia 45 tahun.
Kasus ini meninggalkan bekas luka permanen di Jepang:
- Stigma Otaku: Media menciptakan istilah "The Otaku Murderer", membuat hobi anime/manga dipandang sebagai sesuatu yang berbahaya dan menyimpang selama bertahun-tahun.
- Kewaspadaan: Masyarakat Jepang yang dulunya sangat aman bagi anak-anak untuk berjalan sendirian, berubah menjadi lebih curiga dan protektif.
VI. Refleksi
Kisah Tsutomu Miyazaki adalah pengingat gelap bahwa monster tidak lahir dari ruang hampa. Ia ditempa oleh rasa sakit fisik, dibentuk oleh pengucilan sosial, dan disempurnakan oleh kesepian yang tak terobati.
Ketika seseorang tidak memiliki satu pun koneksi manusiawi yang tulus, realitas menjadi kabur, dan fantasi tergelap bisa mengambil alih kemanusiaan. Ini adalah pelajaran bagi kita untuk lebih peka terhadap mereka yang terisolasi di sekitar kita, sebelum kesunyian itu berubah menjadi tragedi.