Uluru Kids

Uluru Kids Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Uluru Kids, Clothing Store, Komp. Taman Rejeki, Jl. Kiangsana 50, Cibinong.

28/07/2024

# # # YANG BUKAN KRITIKUS SENI RUPA BOLEH AMBIL BAGIAN

Pengantar Buku 25 Review Soal Pameran Lukisan Dengan Asisten Artificial Intelligence

*Denny JA*

Datangnya era artificial intelligence memungkinkan itu. Kreator yang memamerkan lukisannya bukanlah pelukis profesional, yang dikenal memiliki tradisi panjang di dunia lukisan. Pengulas pameran lukisan itu bukan p**a kritikus seni rupa.

Memang, dua puluh lima penulis ini bukanlah kritikus seni rupa profesional. Mereka tidak belajar teori seni rupa, dan bukan p**a yang berprofesi sebagai pelukis.

Mereka adalah sastrawan, penulis kolom, wartawan, aktivis keberagaman agama, ahli hukum, dan pengajar. Mereka melihat pameran lukisan, lalu menuliskan pengalamannya.

Lukisan yang mereka nikmati bukan p**a lukisan biasa. Itu 186 lukisan karya seorang konsultan politik, saya sendiri, yang dibantu oleh asisten artificial intelligence.

Ruang pameran pun bukanlah Taman Ismail Marzuki atau galeri pada umumnya. Tempat memajang lukisan hanyalah dinding kosong sebuah hotel 6 lantai di jalan Mahakam, Jakarta, yang kemudian disulap menjadi galeri.

Di situlah uniknya. Ini era ketika terjadi demokratisasi seni rupa. Akibat kehadiran artificial intelligence, yang bukan pelukis profesional pun bisa menumpahkan gejolak batin dan visinya ke dalam kanvas.

Yang bukan kritikus seni rupa pun bisa mengekspresikan pengalamannya, tidak dengan teori seni rupa, tapi sisi human interest, kesan personal atas lukisan. Artificial intelligence pun bisa mereka gunakan untuk menambah bobot tulisan.

-000-

Membaca ulasan seni rupa 25 penulis ini, saya teringat review Amelia Brown. Saat itu ia menghadiri dan menikmati pameran “Whitney Biennial 2017" di Whitney Museum of America. (1)

Amelia Brown, seorang penulis yang tidak memiliki latar belakang kritikus seni. Ia mengunjungi Whitney Biennial 2017 di New York dan menulis ulasan berdasarkan pengalamannya pribadi.

Tulisnya: “Saya mengunjungi Whitney Biennial 2017 di Whitney Museum of American Art dengan harapan menemukan perspektif baru tentang dunia seni kontemporer. Pameran ini penuh dengan karya-karya yang beragam, mulai dari instalasi hingga seni performatif.

“Meskipun saya bukan ahli seni, beberapa karya berhasil membuat saya merenung tentang isu-isu sosial dan politik yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.”

“Salah satu karya yang paling berkesan adalah "Repellent Fence.” Instalasi ini menampilkan pagar besar yang melintasi perbatasan AS-Meksiko, menciptakan visual yang kuat tentang pemisahan dan koneksi antara dua negara.”

“Karya ini memaksa saya untuk berpikir lebih dalam tentang isu imigrasi dan identitas.”

“Karya lain yang menarik perhatian saya adalah "Ramps" oleh Park McArthur. Perupa ini menggunakan ramp sebagai patung untuk mengeksplorasi isu-isu disabilitas dan aksesibilitas. “

“Ramps adalah jalur sirkulasi yang memiliki kemiringan, dan biasanya digunakan sebagai alternatif bagi orang yang tidak dapat menggunakan tangga.”

“Instalasi ini mengingatkan saya betapa pentingnya membuat desain untuk semua orang, termasuk yang hanya bisa lewat Ramps saja. Seni dapat mengangkat isu-isu yang sering kali terabaikan.”

-000-

Mengapa ulasan Amelia Brown, dan juga 25 penulis di buku ini tetap menarik dibaca, walau mereka bukan ahli seni rupa? Empat hal ini bisa menjadi panduan.

# # # 1. Personalisasi Pengalaman

Mengaitkan karya seni dengan pengalaman pribadi atau perasaan dapat membuat ulasan lebih dimengerti dan menarik bagi pembaca. Pola ini paling banyak diekspresikan dalam ulasan di buku ini.

Mengulas aneka lukisan soal COVID-19, ada yang menghubungkan lukisan itu dengan pengalamannya hampir mati ketika menjadi korban virus itu.

“Sungguh mengerikan! Aku merinding, ingat masa-masa yang kritis dalam hidupku, antara hidup dan mati, saat melihat lukisan-lukisan tragedi pandemi COVID-19 di lantai dua Mahakam 24 Residence, Blok M, Jakarta.

Betapa tidak, saat itu Juni 2021, aku, istri, dan keempat anakku, semuanya terkena gigitan virus COVID-19. Aku yang paling parah. Seluruh tubuhku seperti dicincang. Sakit sekali.

Aku pasrah. Saat itu aku mengadu, "Tuhan, aku sudah siap jika Engkau ambil nyawaku, daripada sakit luar biasa diterkam virus Corona."

“Gambaran seperti itulah yang terbayang dalam benakku ketika menyaksikan puluhan lukisan Denny JA (DJA) yang berada di lantai dua Mahakam.”

“Dengan bantuan AI (Artificial Intelligence), DJA berhasil "membetot kenangan" munculnya tragedi terbesar abad 21, pandemi COVID-19, yang membunuh ratusan ribu --bahkan jutaan manusia -- di seluruh dunia.” (Saefudin Simon)

Atau ketika melihat lukisan soal imajinasi anak-anak, ada yang menghubungkannya dengan pengalamannya sendiri ketika masa kanak-kanak.

“Dan lukisan AI karya Denny jelas menyajikan dunia anak dengan segala imajinasi, keceriaan dan kepolosan mereka.

Terus terang aku langsung teringat dengan masa kecilku yang kurang lebih sama: asyik dengan imajinasi dan mimpi. Aku pernah membayangkan mengendarai kuda sembrani bertanduk, dengan warna pelangi.

“Kuda itu bisa berbicara dan terbang membawaku ke angkasa. Aku terbang di antara awan-awan, mengunjungi istana yang dasarnya bukan tanah, tapi awan. Lalu bertemu bidadari dan menyapa peri-peri mungil. Kami berteriak bersama, girang segirang-girangnya.” (Swary Utami)

Atau ketika melihat lukisan Jakarta tempo dulu, ia menceritakan pengalaman melihat patung itu di masa lalu.

“Ada tiga lukisan yang membekas dalam hati saya. Pertama, lukisan patung Dirgantara dan gerobak roti pada Jakarta yang masih sepi. Lukisan ini membangkitkan ingatan saya pada tahun 1970, ketika saya kanak-kanak. Kami tinggal di daerah Dukuh Atas.”

“Jika hendak ke Pasar Minggu membeli buah, kami naik oplet. Di persimpangan Pancoran, saya selalu terkagum-kagum melihat patung orang terbang di langit. Saya berpikir apakah jika helicak diberi baling-baling, bisa terbang ke dekat patung itu?” (Fatin Hamamah)

# # # 2. Penjelasan Konteks dan Latar Belakang

Memberikan informasi tentang latar belakang seniman, periode seni, atau konteks sosial dan budaya dari karya seni bisa memberikan kedalaman tambahan pada ulasan.

Ini membantu pembaca memahami lebih baik makna dan signifikansi dari karya tersebut.

Ketika melihat lukisan soal Fernando Botero di pameran lukisan Denny JA, ia mengisahkan pengalaman pribadinya dengan lukisan asli sang pelukis di negara lain.

“Di sini, saya teringat pada Botero tadi. Saya pertama kali jatuh hati pada karya Botero yang khas, yaitu proporsi tubuh dan bentuk yang bervolume saat melihat langsung karya-karyanya di Museo Botero di Kawasan La Candelaria, di jantung Kota Bogotá, Kolombia tahun 2015 silam.”

“Saat itu, saya sedang mengikuti short course di Universidad Externado de Colombia melalui program ELE Focalae atau Foreign Language Focalae initiative.”

“Seperti saya sebut di atas, saya juga tertarik pada Botero tentang sudut pandangan tentang lukisan yang tidak umum. Dia mempunyai kutipan yang terkenal: “Art was created to give a pleasure”. (Amelia Fitriani)

Ketika melihat lukisan soal derita anak-anak Palestina di Gaza, ada yang memberikan konteks data lukisan itu.

“Ya, lukisan itu mewakili realitas tragedi kemanusiaan yang paling memilukan saat ini. Bisa dibayangkan, dalam 8 bulan penyerangan Israel ke Gaza, Rafah, dan sekitarnya, kantor berita WAFA Agency Palestina melaporkan jumlah korban yang fantastis: 37.084 orang tewas, dan 84.494 orang luka-luka.

Publik luas telah menyebut operasi pembantaian yang dilakukan Israel ini sebagai genosida. Dan Israel bergeming. Di hari warga Palestina merayakan Idul Adha sekali pun, pasukan Israel juga melancarkan serangan udara di lingkungan Tel al-Sultan di Rafah.

Dalam liputannya, Tempo bahkan menyebutkan, selama 8 bulan operasinya, Israel telah menjatuhkan 70 ribu ton bom di Jalur Gaza, atau jauh melampaui gabungan jumlah bom yang digunakan di Dresden, Hamburg, dan London selama Perang Dunia II.”

“Menurut berbagai perkiraan, termasuk arsip dari New York Times, selama Perang Dunia II berlangsung, Jerman membom London dengan menjatuhkan sekitar 18.300 ton bom antara tahun 1940 dan 1941.”

“Sedangkan Hendrik Althoff, seorang peneliti di Departemen Sejarah di Universitas Hamburg mengatakan sekutu menjatuhkan 8.500 ton bom di Hamburg pada musim panas 1943. Sekutu juga menggunakan 3.900 ton bom di Dresden pada Februari 1945 berdasarkan catatan sejarah.” (Anick HT)

# # # 3. **Deskripsi Visual yang Mendetail**

Menggambarkan detail visual karya seni dengan cara yang vivid dan deskriptif membantu pembaca yang mungkin belum melihat karya tersebut merasakan keindahan dan kompleksitasnya.

Lukisan serial tema Lailatul Qadar, ada yang menguraikannya seperti ini:

“Contohnya tema “Lailatul Qadar” yang terdiri dari belasan lukisan dalam berbagai ukuran kanvas dan bauran visual.”

“Komposisi lukisan bersifat tipikal dengan separuh bagian atas menggambarkan kondisi langit malam dalam format aneka bentuk garis, k***a, dan warna. Sedangkan separuh bagian bawah menampilkan manusia dalam berbagai jumlah dan posisi.”

“Kadang seorang, kadang banyak. Kadang lelaki, kadang perempuan. Semua dalam posisi berdoa. Khusyuk.

“Dengan membuat serial lukisan bertema ini, Denny JA bukan saja sedang meletakkan hati dan kerinduan spiritualnya ke atas kanvas, juga seakan hendak melengkapi Teori Kebutuhan Dasar ( _Hierarchy of Needs)_ dari Abraham Maslow.”

“Bahwa manusia tak cukup hanya ditopang dengan kebutuhan fisiologis ( _physiological needs_), kebutuhan keamanan ( _safety needs_), kebutuhan sosial ( _social needs_), kebutuhan ego ( _egoistic needs)_ dan kebutuhan aktualisasi diri ( _self-actualization needs_). Manusia juga perlu kebutuhan keyakinan ( _spiritual needs_) secara mutlak, terlepas dari tingkat aktualisasi diri yang sudah diraihnya.” (Akmal Nasery Basral)

Ketika melihat lukisan wajah yang tak terlalu detil, ada komentar ini:

“Yang menarik, kualitas ketajaman wajah pada lukisan itu berbeda-beda. Ada yang detailnya muncul. Karakter wajah jadi tebal. Ada p**a tidak banyak garis di muka.”

“Wajah Ibu Teresa, di beberapa lukisan di sini, banyak ragamnya. Bahkan wajah pelukis Affandi, yang memiliki gaya aut-autannya, detailnya juga hilang.”

“Tentu saja hal ini disengaja oleh Denny. Sebab aplikasi AI sebenarnya mampu mengeluarkan detail wajah seseorang. Tapi Denny tidak melakukannya, atau tidak memilih aplikasi berintelejen untuk mengeluarkan guratan wajah seseorang.”

“Saya menduga, lukisan Denny JA di Mahakam 24 Residence ini tidak ditekankan pada detail wajah atau obyek lain di lukisan itu. Denny lebih mengutamakan pada pesan yang ingin disampaikannya melalui rangkaian gambar yang dipilihnya.”

“Misalnya, Denny mengkontraskan wajah Presiden Amerika Serikat pertama dengan Presiden AS di masa depan, berupa wajah robot. Titipan pesan yang dikatakan: seorang Presiden di masa depan bisa jadi berupa unit robot pintar.”

“Kepemimpinan di masa itu tidak perlu lagi melihat ideologi, atau partai, atau kepopuleran seorang tokoh. Yang penting adalah efektivitas pemimpin membuat kebijakan publik, yang bermanfaat untuk semua pihak di negara itu, dan negara menjadi makmur.” (Jonminofri Nazir)

# # # 4. **Mengajukan Pertanyaan dan Mengundang Diskusi**

Mengajukan pertanyaan retoris atau mengajak pembaca untuk berpikir lebih dalam tentang elemen-elemen karya seni bisa memicu refleksi dan diskusi, membuat ulasan lebih interaktif.

Ketika melihat lukisan seorang ibu menggendong bayi, tapi itu bayi robot dengan artificial intelligence, ia membahasnya seperti ini:

“Kevin bertanya kepada sang Ibu, 'Tidakkah kamu takut bahwa bayi AI kamu, suatu saat akan mengkhianati kamu, dan malah mengambil alih kontrol atas umat manusia?' dan Ibu itu hanya tersenyum.”

“Kemudian, Einstein bergabung dalam diskusi. Dia mengutip Sam Harris, seorang filsuf dan ahli neurosains Amerika, yang menyatakan bahwa persepsi AI terhadap kemanusiaan mungkin mencerminkan pandangan kita sendiri terhadap makhluk yang lebih rendah — bukan benci atau jahat tetapi acuh tak acuh terhadap keberadaan kita, seperti misalnya, kepada semut.”

“Potensi AI mencerminkan kesadaran dan nilai-nilai manusia itu sendiri.” (Monica JR).

Setelah merenungkan keseluruhan lukisan, dengan asisten Artificial Intelligence, ada yang mengajukan renungan:

“Pertanyaan yang muncul adalah apakah dunia seni lukis akan menjadi lebih bergairah karena kini orang bisa melukis dengan bantuan AI, seperti yang terjadi pada Denny JA?”

“Menurut saya, para pelukis yang sudah mapan, yang selama ini telah melukis dengan cara konvensional, mungkin merasa skeptis atau enggan untuk menggunakan AI sebagai alat bantu dalam proses kreatifnya.”

“Mereka telah mengembangkan keterampilan mereka selama bertahun-tahun, membangun hubungan yang intim antara diri para pelukis dan kanvas, mengungkapkan emosi, pengalaman, dan visi mereka melalui sentuhan kuas yang dipenuhi dengan perasaan.”

“Bagi banyak pelukis konvensional, proses melukis adalah sebuah perjalanan spiritual yang mengalir dari hati dan jiwa. Mereka mungkin merasa bahwa penggunaan AI dalam proses kreatif dapat mengurangi keintiman dan keaslian dalam karya seni mereka.”

“Bagi mereka, keindahan seni tidak hanya terletak pada hasil akhir, tetapi juga pada perjalanan artistik yang mereka alami selama proses menciptakan.” (Elza Peldi Taher).

Pandangan lain yang juga mengajak merenung: “AI memang memiliki potensi untuk mengubah lanskap profesi pelukis, tetapi tidak harus dilihat sebagai ancaman langsung.”

“Sebaliknya, AI dapat dilihat sebagai alat yang dapat digunakan untuk memperluas kemampuan kreatif dan membuka peluang baru.”

“Pelukis yang mampu beradaptasi dan memanfaatkan teknologi AI mungkin menemukan cara baru untuk berkembang dalam profesi mereka. Pada saat yang sama, nilai-nilai keaslian, kreativitas manusia, dan emosi dalam seni tetap menjadi faktor penting yang sulit digantikan oleh mesin.”

“Bagaimanapun, tantangan etis dan filosofis tentang peran seniman dan sifat seni itu sendiri akan tetap ada. Masa depan seni lukis dengan AI tampaknya akan terus berkembang, seiring kemajuan teknologi dan adaptasi oleh komunitas seni.”

“Dalam hal ini, kita patut mengapresiasi Denny JA yang telah merintis, melakukan eksperimen, dan eksplorasi penggunaan AI dalam dunia seni lukis. Apakah lukisan-lukisan karya Denny yang berbasis AI ini akan mendapat penerimaan meluas dari publik dan komunitas seni lukis Indonesia?”

“Kita tunggu saja. Yang jelas, tanpa menunggu reaksi publik, Denny tampaknya akan terus berkarya.” (Satrio Arismundar)

Banyak lagi ulasan penting dari penulis lain, seperti ulasan Budhy, Esthi, Halimah, Nazrina, Iwan, Ali, Nisak, Nia, Asrun, Anwar, Meutia, Nita, Isti dan Mila. Namun tak semuanya bisa ditampilkan karena keterbatasan halaman.

Elza Peldi Taher sebagai editor mampu merangkum keseluruhan review dari non- kritikus seni rupa itu dengan baik.

-000-

Review orang awam terhadap pameran lukisan tetap penting bagi pelukis dan pembaca lain.

Orang awam cenderung memberikan pandangan yang segar dan otentik. Mereka jujur dan tidak terpengaruh oleh teori seni yang kompleks.

Ini memberikan pelukis wawasan tentang bagaimana karyanya diterima oleh publik umum, yang seringkali lebih representatif dari audiens yang lebih luas dibandingkan dengan kritik profesional.

Perspektif segar ini juga dapat menginspirasi pelukis untuk melihat karya mereka dari sudut pandang baru.

Bagi pembaca lain, mengetahui bahwa orang awam bisa terhubung dengan seni memberikan keyakinan bahwa mereka juga bisa mengapresiasi dan menikmati seni tanpa harus menjadi ahli.***

Jakarta, 24 Juli 2024

CATATAN

(1) Tentang Whitney Biennial 2017 di [Artspace](https://www.artspace.com/magazine/art_101/book_report/whitney-biennial-2017-can-it-match-1993s-legacy-54690)

28/07/2024

LUKISAN DENNY JA SOAL PAUS DISERAHKAN KE GEREJA

Bekasi, 24 Juli 2024

“Paus Fransiskus mencuci kaki rakyat Indonesia. Ini lukisan yang menjadi simbol sangat kuat. Pesannya sangat mendalam tentang pemimpin yang melayani dan memperhatikan orang-orang yang terpinggirkan.”

Demikian dinyatakan Denny JA, ketika ia menyerahkan lukisan kepada Dewan Paroki Gereja Katolik Santo Servatius, Kampung Sawah, Bekasi, Rabu 24 Juli 2024.

Dewan Paroki diwakili oleh Romo Yohanes Wartaya SJ, Pastor Kepala Paroki, Hari Wibowo (Wakil Ketua DPH), Utami Haliday (Sekretaris DPH), Eko Praptanto (Tokoh Masyarakat), dan Yacob Napiun (Tokoh Betawi Kampung Sawah).

Dalam sambutannya, Denny JA menyatakan kedatangan Paus ke Indonesia, mengingatkannya tentang dua hal.

Pertama, sebuah lukisan dari tahun 1475 karya Meister des Hausbuches yang berjudul "Christ Washing The Feet of the Apostles". Lukisan ini menggambarkan Jesus Kristus yang sedang mencuci kaki muridnya.

Tradisi pelayanan sudah ditanamkan sejak era Jesus Kristus sendiri, atau Nabi Isa dalam ajaran Islam.

Dulu, kaki yang dicuci adalah kaki lelaki katolik/Kristen. Paus Fransiskus melanjutkan tradisi ini dengan lebih meluaskannya. Kaki rakyat kecil yang dicuci juga kaki wanita, dan rakyat dari agama di luar katolik: Muslim dan
Hindu.

Saya pun membayangkan Paus Fransiskus mencuci kaki rakyat Indonesia. Dalam lukisan itu, ada elemen batik, bendera merah putih, juga mesjid sebagai simbol suasana Indonesia.

“Kedua,” kata Denny, “saya teringat berita tentang riset Oxfam tahun 2022 yang disiapkan untuk World Economic Forum. Judul riset Oxfom itu "Inequality Kills".

Laporan ini mengungkapkan bahwa dalam satu hari, 22 ribu orang di 80 negara mati karena terlalu miskin untuk memiliki akses kesehatan.

Sumber daya di bumi ini sebenarnya cukup untuk semua orang. Namun, masalahnya adalah sistem sosial yang timpang.

Kesenjangan ini perlu diatasi. Negara-negara kesejahteraan di Skandinavia dapat menjadi contoh. Mereka memenuhi kebutuhan dasar seperti kesehatan, pendidikan, dan perumahan dengan pajak tinggi, mencapai 60 persen, yang didistribusikan kembali ke rakyat kecil.

Tapi dunia tak hanya perlu solusi tingkat kenegaraan. Juga diperlukan kepemimpinan yang lebih peduli, lebih rendah hati, lebih melayani, lebih memperhatikan rakyat kecil.

Paus yang membersihkan kaki rakyat kecil itu menjadi simbol yang kuat sekali. Pemimpin tertinggi sebuah agama mencuci kaki mereka yang terpinggirkan, apapun agama dan identitas orang itu.

Denny JA sendiri menyatakan ia bersama teman teman Forum Esoterika juga berterima kasih. Paus Fransiskus membawa pesan harmonisasi hubungan lintas iman. Itu juga yang menjadi spirit dari Forum Esoterika. ***

28/07/2024

“HIJRAH” BERKALI-KALI ALA DENNY JA

Buku Inspirasi Untuk Milenial dan Generasi Z

Oleh: Mila Muzakkar*

Bernegosiasi dengan takdir. “Trial and Error,” mencoba lalu gagal, mencoba lagi. Mengubah jalan agar tetap sampai ke puncak. Itulah kesan yang saya rasakan setelah lama mendalami pemikiran dan riwayat hidup Denny JA.

Dalam bahasanya sendiri, Denny menyatakan, ia melakukan hijrah berkali-kali. Hasilnya memang membuat banyak orang terpana. Denny membuat prestasi untuk banyak hal sekaligus.

Ia lima kali memenangkan pilpres berturut-turut, di bidang politik. Di bidang sastra, genre puisi esai yang diciptakannya kini dijadikan festival tingkat ASEAN, yang dibiayai pemerintah Sabah, Malaysia.

Di bidang spiritualitas, ia bersama Forum Esoterika membuat tradisi baru merayakan hari besar berbagai agama dan kepercayaan secara lintas iman.

Di bidang bisnis dan usaha, Denny juga tumbuh merangkak dari bawah hingga memiliki aset dengan nilai melampaui satu triliun rupiah.

Kini ia membawa tradisi baru p**a melukis dengan Artificial Intelligence (AI). Sebuah hotel di Jalan Mahakam, Jakarta, menjadi galeri abadi lukisannya.

Sebagai penulis, ia sudah membuat lebih dari 100 judul buku bidang politik, filsafat hidup, psikologi, sastra, review film, sejarah, agama, hingga catatan perjalanan.

Denny juga mendapatkan penghargaan dari TIME Magazine, memecahkan rekor dunia Guinness Book of World Record, penghargaan sastra tingkat ASEAN dari Malaysia, hingga dicalonkan Nobel Sastra, sastrawan kedua Indonesia setelah Pramudya Ananta Toer.

Satu pribadi tapi multi talenta. Denny JA pun menjadi filantropis, banyak membiayai kegiatan budaya, sastra, toleransi agama dan gerakan anti-diskriminasi, membantu banyak penerbitan.

Saya ingin memahami energi yang menggerakkan Denny JA. Kaum Milenial dan Generasi Z dapat mengambil inspirasi dari pemikirannya. Buku ini dibuat untuk maksud itu.

**Darurat Gangguan Kesehatan Mental**

Tahun 2022, Generasi Literat melakukan survei kepada 249 Generasi Z di 28 provinsi, tentang apa keresahan dan masalah terbesar yang mereka hadapi.

Hasilnya, isu gangguan kesehatan mental menjadi keresahan nomor dua. Penelitian yang dilakukan oleh Universitas Gajah Mada (UGM), 2021-2022, menyebutkan 2,45 juta anak muda di Indonesia mengalami gangguan kesehatan mental, seperti gangguan kecemasan, depresi mayor, gangguan perilaku 0,9 persen, serta PTSD dan ADHD.

Survei lain, dilakukan oleh Indonesia National Adolescent Mental Health Survey tahun 2022, menyebutkan 1,4 persen remaja mengaku memiliki ide bunuh diri, 0,5 persen telah membuat rencana untuk bunuh diri, dan 0,2 persen telah melakukan percobaan bunuh diri.

Bukan hanya pada tataran ide dan rencana, selama tahun 2020, sebanyak 2.700 anak muda sudah melakukan bunuh diri (Asosiasi Bunuh Diri Indonesia).

Sementara, menurut Pusat Informasi Kriminal Nasional (Pusiknas) Kepolisian RI, ada 287 kasus bunuh diri sepanjang 1 Januari-15 Maret 2024.

Data di atas bukan sekedar angka. Tapi fakta betapa daruratnya kondisi gangguan kesehatan mental generasi muda di negara kita. Mereka mudah menyerah pada tumpukan masalah hidup, hingga memilih mengakhiri hidupnya.

Itulah yang dihadapi MPD, mahasiswa FISIP Universitas Indonesia. Tanggal 11 Maret 2023, ia akan diwisuda sebagai sarjana.

Namun, tiga hari sebelumnya, ia memilih mengakhiri hidupnya dengan meloncat dari lantai 18 sebuah apartemen di Jakarta Selatan. Di Surabaya, CA, mahasiswi Fakultas Kedokteran Hewan, mati karena menghirup zat beracun di dalam mobilnya.

Kejadiannya di bulan November 2023. NJW, mahasiswa Universitas Negeri Semarang, meninggal setelah melompat dari lantai 4 mal Paragon, Semarang.

Di Nusa Tenggara Timur, selama Oktober 2023, ada tiga mahasiswa yang tak lama lagi akan diwisuda dari perguruan tinggi berbeda, juga bunuh diri.

Tak hanya di Indonesia, di tingkat dunia, berdasarkan data WHO (2019) menunjukkan saat ini lebih banyak orang mati bukan karena perang atau kelaparan, tapi karena bunuh diri (793 ribu).

Ada apa dengan generasi muda kita? Mengapa mereka sampai pada titik menyerah pada hidup? Tak adakah cara untuk melewati masalah itu, atau makna hidup tertinggi yang mereka ingin capai itu yang tak ada?

**Memaknai Hidup**

“Ke mana hidup ini harus diarahkan? Apa makna tertinggi dari hidup ini?”, akan dikenang sebagai apakah jika saya mati nanti?”

Pertanyaan-pertanyaan itu yang selalu mengganggu di keheningan malamnya. Ia selalu merenung, merefleksikan, menggali, hingga “hijrah” berkali-kali untuk “menjadi manusia”.

Dialah Denny JA—seorang intelektual, penulis, penyair, sastrawan, video maker, konsultan politik, pengusaha, dan filantropis. Ia adalah pembelajar ulung dan multitalenta.

Hasil-hasil renungan hidup yang ia tuangkan dalam berbagai karyanya: buku, puisi, video, dan lukisan, telah memberikan banyak pencerahan tentang bagaimana sebaiknya kita memaknai hidup dengan terus “menjadi manusia”.

Dalam pandangan saya, “menjadi manusia” artinya menjadi orang yang berprinsip untuk menjalani hidup dengan berpikir dan bertindak dalam kebaikan dan kebenaran, seperti tujuan Tuhan menciptakan manusia.

Ketika dalam proses itu, manusia “keseleo”, “keserempet”, atau “kecebur” ke lubang yang bernama “kesalahan”, maka ia akan berusaha kembali kepada prinsip “menjadi manusia”. Begitu seterusnya, sampai kembali pada Sang Pencipta.

“Hijrah” berkali-kali adalah proses Denny menjadi manusia. Ia terus berusaha mencari passion-nya, memperkaya dirinya dengan melahap berbagai genre ilmu pengetahuan dan keterampilan hidup, bahkan bernegosiasi dengan takdirnya ketika ia merasa gagal, lalu mencari jalan yang lebih sejati. Pada akhirnya,

Denny sampai pada puncak pencariannya, yaitu jalan menuju kebajikan.

**Buku Menjadi Manusia: Menggali Makna Hidup dari Denny JA**

Perjalanan Denny memaknai hidup sebagai manusia menurut saya menjadi penting dan relevan untuk dijadikan pelajaran, khususnya untuk generasi muda (Milenial dan Gen-Z), yang saat ini berada pada titik darurat gangguan kesehatan mental.

Kenapa Denny JA? Karena ia adalah pembelajar ulung. Denny melahap berbagai genre ilmu pengetahuan: filsafat, agama, sastra, politik, ekonomi, bisnis, gender, lingkungan, pengembangan diri, sampai isu-isu kekinian yang dibicarakan Milenial dan Gen-Z seperti mental health, AI, dan media sosial.

Saya berpikir, Denny ini seperti paket lengkap: berwawasan sangat luas, pola pikirnya sangat maju, update terhadap isu-isu kekinian, bijak dalam menghadapi berbagai situasi, dan yang paling penting ia menggunakan kekayaannya di jalan yang benar: untuk menolong orang yang membutuhkan.

Buku ini tentu saja tak bermaksud mengatakan: Denny JA adalah manusia yang sempurna. Absolutely No! Karena rumput yang bergoyang pun tahu, semua manusia pasti punya kelemahan dan kelebihan.

Tapi, saya pun percaya, setiap manusia bisa menjadi tempat dan guru untuk mengambil pelajaran hidup. Itulah yang membuat saya menuliskan buku yang berjudul “Menjadi Manusia: Menggali Makna Hidup dari Denny JA”.

Buku mungil yang berisi kump**an tulisan pendek, ringan, serta dikemas dengan bahasa yang sangat populer ini, berusaha menggali pengetahuan dan kebijaksanaan hidup dari sosok Denny JA, yang sudah ia sebar di berbagai media sosial dan di lukisannya yang menggunakan Artificial Intelligence (AI).

Karya-karya itu sebagian saya kutip langsung, apa adanya, lalu saya elaborasi dan relevansikan dengan isu-isu kekinian yang dihadapi Milenial dan Gen-Z.

Dalam beberapa bagian, saya berikan masukan yang diperlukan, serta memperkayanya dengan menambahkan pengalaman pribadi yang relevan.

Buku ini terbagi menjadi tiga bagian utama. Bagian pertama berisi tentang bagaimana menjadi pribadi yang bertumbuh. Beberapa cara yang dapat dilakukan seperti, bernegosiasi dengan takdir, mencari makna hidup, melampaui diri, karakter autentik, rumus sehat di dunia digital, hidup optimis & kekuatan psikologis.

Dengan mempraktikkan cara-cara di atas, harapannya, Milenial dan Gen-Z akan memiliki mindset yang lebih jernih, sehat, dan positif, dalam memandang dan merespons berbagai permasalahan hidup.

Bagian kedua akan mengeksplor lebih dalam tentang apa sebenarnya makna cinta. Cinta di sini dibicarakan dalam konteks yang luas, seperti bentuk cinta yang tertinggi, agama cinta, cinta dalam spiritualitas, cinta yang dibutuhkan orang tua, cinta lingkungan, cinta pada pekerjaan, cinta beda agama, serta tipe pemimpin yang dicintai rakyatnya.

Dengan landasan cinta, harapannya apa pun yang kita lakukan, akan berdasarkan semangat cinta kasih kepada sang Pencipta dan ciptaannya, alam semesta.

Bagian ketiga buku ini menonjolkan manusia “bertelinga besar” sebagai ikon manusia yang lebih peka, peduli dan empati kepada orang-orang di pinggirkan, yang suaranya jarang didengarkan.

Suara-suara itu ada pada penderitaan anak-anak di Gaza, pernikahan anak di berbagai belahan dunia, pemerkosaan pada anak-anak di lembaga pendidikan agama, pelarangan ibadah kelompok penganut agama/kepercayaan, perihnya menjadi seorang LGBT, pengekangan tubuh perempuan, hingga merebaknya kebohongan dan fitnah di dunia digital.

Maka, sekali lagi, buku ini begitu penting dibaca oleh Milenial dan Gen-Z khususnya, sebagai inspirasi dan mungkin panduan, dalam mencari makna hidup yang sejati.

Sehingga mereka tak lagi menjadi generasi yang rapuh, pesimis, dan mudah menyerah pada masalah kehidupan. Sebaliknya, mereka akan terus berproses “menjadi manusia” untuk dirinya, juga untuk manusia lainnya.***

*Penulis adalah Founder Generasi Literat, Trainer Pengembangan Diri, dan Pegiat Anak Muda

28/07/2024

Denny JA: Kreator yang Menggunakan AI untuk Karya Seni Akan Semakin Dominan

- DI UJUNG ERA SENIMAN YANG TAK GUNAKAN AI

Jakarta, 26/7/2024

Kita memasuki bab terakhir era kreator yang tak menggunakan AI. Bab selanjutnya akan diisi oleh seniman yang mendayagunakan AI. Penulis, pelukis, musisi, filmmaker hanya akan survive jika mereka menggunakan Artificial Intelligence.

Demikian dinyatakan Denny JA, membuka launching buku yang unik, di Jakarta (26/7/2024). Ini buku kump**an puisi yang dimusikalisasi oleh Artificial Intelligence. Menurut Denny, ini buku pertama di Indonesia, mungkin di dunia, untuk jenis itu.

Buku berjudul “Ketika Kata dan Nada Berjumpa,” diterbitkan oleh Satupena Jakarta, dengan ketua Nia Samsihono. Para penulisnya adalah para penyair Satupena Jakarta. Yang menjadi penata musiknya, dengan menggunakan AI, adalah Akmal Nasery Basral.

Turut menjadi pembicara, di samping Akmal dan Linda Djalil, juga Wina Sukardi dengan moderator Dwi Sutarjantono.

Peluncuran buku dan diskusi berlangsung di Nomu Kafe, Mahakam, Jakarta (26/7/2024). Di gedung itu p**a dipamerkan 186 lukisan Denny JA dengan asisten AI.

Denny JA mengutip berita di ABC bulan April 2024. Sekitar 200 musisi dan pencipta lagu yang tergabung dalam Artists Rights Alliance, menulis surat terbuka. Termasuk dalam jajaran musisi itu adalah Bon Jovi dan Stevie Wonder.

Mereka menyuarakan keprihatinan atas dampak negatif AI terhadap hak cipta dan keberlangsungan profesi musisi.

Protes ini berfokus pada beberapa alasan utama. Para musisi menyoroti masalah devaluasi musik, di mana AI menciptakan karya yang sangat mirip dengan lagu-lagu yang ada tanpa izin atau kompensasi yang adil kepada pencipta asli.

Mereka juga menekankan pentingnya melindungi hak cipta dan memberikan kompensasi yang layak bagi musisi yang karyanya digunakan sebagai bahan pelatihan untuk AI.

Tuntutan untuk menghormati hak cipta tentu harus kita akui dan hormati. Namun penggunaan AI dalam berkarya kini tak lagi bisa dihindari.

Teknologi ini telah menjadi bagian integral dari berbagai aspek kehidupan kreatif, dari penulisan hingga komposisi musik dan seni visual.

Menurut Denny JA, ke depan, kita akan melihat pembelahan yang semakin jelas di antara dua kelompok kreator: mereka yang menggunakan AI dalam berkarya dan mereka yang tidak.

Fenomena ini terjadi tidak hanya di dunia musik, tetapi juga di kalangan penulis, pelukis, dan seniman lainnya.

Tiga alasan utama mengapa kreator yang menggunakan AI akan menjadi dominan.

1. **Efisiensi dan Produktivitas Tinggi:**

AI memungkinkan kreator untuk menghasilkan karya dengan lebih cepat dan efisien. Alat-alat AI dapat mengotomatisasi tugas-tugas berulang dan teknis, sehingga kreator dapat fokus pada aspek-aspek kreatif dari pekerjaan mereka.

2. **Kemampuan untuk Bereksperimen dan Inovasi:**

AI menyediakan alat yang memungkinkan kreator untuk bereksperimen dengan ide-ide baru dan menciptakan karya yang mungkin tidak dapat dicapai dengan metode konvensional. Ini membuka peluang untuk inovasi yang lebih besar dalam seni.

3. **Aksesibilitas, Personalisasi dan Skala Global:**

Teknologi AI memungkinkan kreator untuk menjangkau audiens yang lebih personal, segmented, sekaligus lebih luas dengan lebih mudah.

Platform digital dan alat AI juga dapat mendistribusikan karya seni ke seluruh dunia, memberikan peluang baru untuk eksposur dan pendapatan.

Kita berada di bab terakhir dari era kreator yang tidak menggunakan AI. Kehadiran AI dalam seni bukan hanya sebuah tren, tetapi sebuah revolusi yang mengubah cara kita menciptakan dan menghargai karya seni.

Contoh konkret dari penerapan AI dalam seni adalah buku Satupena Jakarta: Kump**an Puisi yang Dimusikalisasi oleh AI.

Tidak lama lagi, puisi-puisi ini juga bisa diubah menjadi video animasi oleh AI, memperluas dimensi kreativitas yang dapat dijelajahi oleh para seniman.

Dengan demikian, jelas bahwa kreator yang memanfaatkan AI akan menjadi kekuatan dominan di dunia seni, membuka era baru kreativitas yang diperkaya oleh teknologi, menurut Denny JA.***

(Reportase DJAF)

Address

Komp. Taman Rejeki, Jl. Kiangsana 50
Cibinong
16918

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Uluru Kids posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Uluru Kids:

Share

Category