09/02/2016
SEJARAH DAN PERKEMBANGAN HIGH HEELS
SEJARAH SEPATU HIGH HEELS DULUNYA TERNYATA DIPAKAI KAUM PRIA BUKAN WANITA.
Sepatu high heels atau sepatu hak tinggi ternyata dulu kala merupakan sepatu untuk kaum pria, bukan untuk sepatu untuk wanita. tentunya model gaya jaman dulu berbeda dengan gaya model jaman sekarang begitu juga dengan sepatu hak tinggi jaman dulu berbeda atau tidak memiliki model yang sama dengan sepatu hak tinggi dengan yang sekarang, sepatu hak tinggi jaman dulu dirancang untuk memiliki kegunaan yang praktis.
Pada jaman dulu awalnya sepatu hak tinggi di gunakan oleh tentara pas**an penunggang kuda Persia, seperti yang di ungkapkan oleh Elizabeth Semmelhack, dari Museum Sepatu Bata, Toronto, Kanada, “karena Saat tentara berdiri di sanggurdi atau pijakan menunggang kuda, alas kaki itu (sepatu berhak) membantunya mengamankan posisi, sehingga ia bisa memanah dengan lebih efektif.
Pada akhir abad ke-16, Raja Persia, Syah Abbas memiliki pas**an kavaleri terbesar di dunia kemudian mengirimkan misi diplomatik ke Eropa, ke Rusia, Jerman, dan Spanyol. Ia tertarik untuk menjalin hubungan dengan penguasa di Eropa Barat. Untuk membantunya mengalahkan musuh besar mereka: Kekaisaran Ottoman
Dan sejak itulah para aristokrat latah yang saat itu merasa, sepasang sepatu berhak bisa meningkatkan penampilan mereka Lebih maskulin dan jantan. Ketika sepatu behak tinggi di gunakan oleh kalangan bawah, Maka para bangsawan mempertinggi hak sepatu mereka yang merupakan cikal bakal heigh heels.
Sepatu hak tinggi Juga di gunakan Raja Prancis Louis XIV, Louis XIV gemar memakai sepatu berhak tinggi bewarna merah, Sejak itu juga tren sepatu hak tinggi di gunakan pria tambah luas di wilayah eropa, hal tersebut terbukti ketika penobatan Charles II of England pada 1661 menggambarkannya menggunakan sepasang sepatu merah berhak tinggi, bergaya Prancis.
Namun sejak tahun 1740 an pria yang menggunakan sepatu hak tinggi mulai di pandang konyol dan para pria sudah mulai tidak memakai sepatu hak tinggi lagi.
Siapa yang tidak kenal dengan sepatu High Heels?Pasti diantara Anda para wanita pasti ada yang s**a memakainya agar terlihat lebih tinggi, memperidah bentuk betis dan penampilan Anda. Tapi taukan Anda dengan perkembangan High Heels dari zaman dahulju sampai saat ini?
Pada 4000 SM
Butcher Heels
Mesir, sepatu hak tinggi digunakan oleh para tukang jagal hewan. Mereka menggunakannya agar kaki mereka tak kotor terkena darah dan kotoran lain sisa jagalnya.
Tahun 1400-1600-an
Chopines
Dikenal dengan nama chopines, Heels yang menjadi tren di negara Turki, Italia dan Spanyol ini memiliki tinggi 5-36 inci, semakin tinggi Heel s yang di apakai semakin tinggi p**a status sosialnya di masyarakat.
Abad 16
Heels
Di akhir abad ini, seorang putri bangsawan bernama Catherine de Medici yang baru menginjak usia 14 tahun ingin terlihat lebih tinggi dan anggun saat dijodohkan dengan penguasa tanah of Orleans (yang pada akhirnya menjadi raja Prancis). Karena itulah ia menggunakan sepatu dengan Heels setinggi 5cm. Catherine pun tampil mempesona dan menjadi pusat perhatian para tamu di pesta pernikahan tersebut. Semenjak itulah, sepatu high heels menjadi semakin populer dan konon kabarnya, inilah saatnya dimana sepatu high heels dianggap lahir ke dunia fashion.
Tahun 1700an
Louis Heels
Raja Louis XIV menggunakan sepatu bertumit tinggi berwarna, raja yang bernama asli Regina George dan termasuk salah satu raja yang memandang orang lain lebih rendah daripada dirinya. Dalam kepemimpinannya, hanya orang-orang yang memiliki kekuasaan, anak buahnya, dan orang yang duduk di kursi monarki saja yang diijinkan memakai sepatu hak ini. Sepatu ini dilambangkan sebagai simbol kekuasaan dan kekayaan.
Di tahun-tahun ini Heels meredup karena larangan Napoleon dan eksekusi mati Maria Antoinette yang bersikukuh memakai sepatu dengan Heels. Tapi tidak ada yang tau pasti mengapa Napoleon melarang pemakaian Heels ini.
Tahun 1900 hingga saat ini
High Heels
SEPATU HAK TINGGI BERAWAL DARI PELINDUNG LUMPUR
Seiring perkembangan mesin, desain dan teknik pembuatannya, sepatu High Heels kembali menggeliat. Era heels modern dimulai oleh Roger Vivier yang bekerja untuk Christian Dior yang mendesain heels stilleto tinggi di pertengahan tahun 1950-an. Pada periode ini chopines kembali populer. Bagaimana tidak, sepatu hak tinggi yang digunakan supermodel saat ini justru membawa celaka. Stiletto tinggi dan tipis, platform tebal namun tidak utuh memang terlihat unik dan mengesankan. Sepatu hak tinggi kini nyaris tak pernah absen menghiasi kaki selebriti wanita Hollywood, lokal maupun masyarakat biasa. Kebutuhan akan tampil gaya dan penunjang kepercayaan diri, membuat high heels tetap di gandrungi hingga saat ini.
Penampilan merupakan hal utama bagi sebagian perempuan. Tak sedikit yang berpikir, penampilan akan menentukan daya tarik seseorang. Terlebih untuk kaum perempuan yang memperhatikan penampilan dari ujung rambut hingga ujung kaki, termasuk aksesoris yang digunakan. Salah satunya penunjang penampilan sepatu berhak tinggi atau yang lebih dikenal dengan nama high heels. Siapa sangka sepatu penunjang penamplan itu berawal sebagai pelindung lumpur.
Menurut sejarah, sepatu dengan hak tinggi itu sudah dibuat pada abad IV SM di Turki yang dikenal dengan sebutan chopine yang beralas datar. Penggunaan chopine ini tergantung keperluan, semakin tebal lumpur dijalan maka semakin tinggi sol sepatu yang dipergunakan.
Sekitar tahun 1600, Chopine di Venesia mengalami perkembangan dengan meninggalkan bentuk yang kaku. Rendah dibagian depan dan tinggi dibagian tumit. Meski mulai bergeser menjadi sedikit berbau fashion tetapi masih bertujuan untuk melindungi ujung pakaian mereka dari air yang tergenang di jalan.
Seiring berjalannya waktu, high heels mengalami modifikasi yang cenderung bergeser mengarah kepada fashion. Seperti perkembangan pada tahun 1950-an dikenal dengan model Stiletto yang memiliki ukuran hak 10 cm (4 Inch) dengan ujung hak yang kecil.
Silih berganti model dari kotak (blok)pada tahun 1970-an hingga akhir tahun 1980-an, pada tahun 1990-an dengan model runcing (tappered) lantas kembali muncul model yang lebih tipis seperti belati (Stiletto) pada tahun 2000-an hingga sekarang.
Pemikiran tentang high heels pun terus berubah. Perempuan yang menggunakan high heels cenderung dianggap anggun. Bahkan semakin tinggi high heels maka semakin anggun perempuan yang menggunakannya. Ada juga yang mengatakan menggunakan high heels akan meningkatkan gairah seksual bagi perempuan.
Seperti yang dikemukakan ahli urologi eropa, DR. Maria Cerruto, dia mengatakan studi yang dilakukan terhadap 66 orang. Dia menemukan 50 orang yang tumit pada kakinya berada 15 derajat dari tanah atau sekitar 2 inci akan mempengaruhi otot pelviks.
Otot pelviks merupakan komponen penting bagi tubuh wanita karena akan berpengaruh terhadap kemampuan seksual dan kepuasan ketika berhubungan intim. Jika terjadi masalah pada otot pelviks maka dianjurkan menggunakan high heels. Tidak salah jika kemudian muncul anggapan pemikiran tentang kemampuan high heel menciptakan keanggunan serta meningkatkan kemampuan seksual.
Terdapat p**a efek negatif dari pemakaian high heels seperti yang dikutip dari situs BBC. Berdasarkan hasil penelitian, sebagian besar wanita yang menggunakan high heels akan berisiko cedera peradangan sendi terutama pada sendi lutut dan panggul (Ostehoeatrithis), terlebih apabila high heels digunakan pada saat berdansa.
Sebuah studi yang diterbitkan pada jurnal epidemilogi dan komunitas kesehatan, Oxford Brokes University menyatakan, 2% dari dari pop**asi yang berusia diatas 55 tahun akan terkena penyakit kepala parah yang diakibatkan cedera sendi lutut dan panggul. Kondisi akan lebih parah jika berusia diatas 65 tahun.
Namun demikian, pro kontra apakah hig heels berbahaya bagi kesehatan atau tidak semua tergantung pada si pemakai. Namun, akan lebih bijak jika memperhatikan kecermatan pada pemakaian high heels. Tidak tepat juga jika Anda selalu menggunakannya dalam setiap kesempatan. Tampil modis penting, namun jangan lupa dengan kesehatan.
copas from :
nkristin.wordpress.com/2015/04/02/sejarah-dan-perkembangan-high-heels/