13/04/2026
𝑴𝒊𝒕𝒐𝒔 𝑯𝒂𝒏𝒕𝒖 𝑷𝒆𝒏𝒈𝒂𝒏𝒕𝒊𝒏
Aku masih ingat jelas hari itu… terlalu jelas untuk dilupakan.
Saat itu aku duduk di kelas 2 SD. Siang terasa aneh—sunyi yang tidak wajar. Guru kami tiba-tiba keluar kelas tanpa alasan yang jelas, meninggalkan kami dengan tugas dan pesan untuk tetap tenang.
Awalnya semua berjalan normal… sampai suara itu muncul.
“Hm… kok bau bunga mawar ya?”
Angga berbisik pelan, tapi cukup keras untuk membuat semua orang menoleh.
Kami menertawakannya. Tidak ada yang mencium apa-apa.
Sampai beberapa menit kemudian… aku ikut menciumnya.
Bau itu… bukan sekadar harum. Tapi pekat. Menyesakkan. Seperti bunga mawar yang ditabur di atas tanah kuburan yang masih basah.
Aku menoleh ke Santi.
“San… kamu nyium nggak?”
Dia menggeleng.
Namun tiba-tiba, dari pojok belakang kelas—
“Ih… bau banget…” suara Desi bergetar, aneh, seperti tercekat sesuatu di tenggorokannya.
Tawa teman-teman pecah, tapi aku tidak ikut tertawa. Entah kenapa… suasana mulai terasa berat. Udara seperti menekan dada.
Karena penasaran—atau mungkin didorong sesuatu yang tidak terlihat—aku berdiri di atas kursi dan mengintip keluar jendela.
Dan saat itulah… aku melihatnya.
Rombongan orang mengangkat jenazah.
Diam. Tanpa suara.
Tidak ada tangisan. Tidak ada doa.
Hanya berjalan… perlahan… seperti bayangan.
Padahal, arah mereka bukan menuju sekolah. Jaraknya jauh, terpisah sawah luas.
Tapi bau itu… semakin kuat.
Seakan-akan… berasal dari dalam kelas.
Keesokan harinya, kabar menyebar.
Jenazah itu adalah calon pengantin wanita. Ia pulang untuk menikah… tapi tak pernah sampai. Kecelakaan merenggut nyawanya sebelum hari bahagianya.
Sejak itu, sesuatu berubah.
Aku memilih duduk di bangku paling belakang, berharap merasa lebih aman di antara teman-teman.
Tapi aku salah.
Hari itu panas terik. Semua orang kepanasan, mengipasi diri dengan buku.
Kecuali aku.
Tubuhku dingin.
Bukan sekadar dingin… tapi seperti es.
Gigiku bergetar. Tanganku gemetar.
Teman di sebelahku mengeluh gerah, tapi saat menyentuh lenganku—
dia langsung menarik tangannya.
“Dingin banget…”
Seorang teman di depanku, Ani, perlahan menoleh. Wajahnya pucat. Matanya menatap ke arah belakangku… bukan ke aku.
“Pit…” suaranya hampir berbisik,
“coba kamu lihat ke atas… di belakangmu…”
Jantungku berdegup keras.
Dengan ragu… aku menoleh.
Tidak ada apa-apa.
Hanya tembok kosong.
“Apa sih?” tanyaku, berusaha tenang.
Ani langsung memalingkan wajahnya ke depan.
“Gak… gak apa-apa…”
Tapi ekspresinya… tidak bohong.
Keesokan harinya, Ani menghampiriku sebelum kelas dimulai.
Wajahnya lebih pucat dari sebelumnya.
“Aku harus bilang…” katanya pelan.
“Kemarin… aku lihat sesuatu di atas kamu…”
Aku diam.
“Dia… duduk tepat di atas kepalamu.”
Darahku serasa berhenti mengalir.
“Pakai baju pengantin…” suara Ani mulai bergetar.
“Wajahnya pucat… matanya kosong…”
Aku tidak bisa bergerak.
“Dan…” Ani menelan ludah,
“dia… ngiler…”
Tiba-tiba aku merasakan dingin itu lagi… menjalar dari pundakku.
“Ilernya jatuh ke bahumu… pelan… terus menerus…”
Sejak saat itu, aku sadar…
Bau mawar itu bukan dari jauh.
Bukan dari jenazah yang lewat.
Tapi dari sesuatu… yang ikut masuk ke dalam kelas.
Dan mungkin…
Duduk… tepat di atas kita.