Afrakids Indonesia

Afrakids Indonesia SUBSIDI ONGKIR SELURUH INDONESIA DAN DISKON UPTO 50% AFRAKIDS FREE ONGKIR SELURUH INDONESIA, MAU???

Caranya mudah, cukup belanja lewat toko online kami

Info
HP/SMS/WA: 0896 6850 4997

KEBOHONGAN YANG MERUSAKDi sebuah kampung kecil yang damai, hiduplah seorang anak gembala bernama Hasan. Setiap pagi, ia ...
17/12/2025

KEBOHONGAN YANG MERUSAK

Di sebuah kampung kecil yang damai, hiduplah seorang anak gembala bernama Hasan. Setiap pagi, ia menggiring domba-dombanya ke lereng bukit. Anginnya sejuk, pemandangannya indah, tapi lama-lama Hasan merasa bosan. Tidak ada teman berbicara, tidak ada hiburan selain suara angin.

Suatu hari, karena iseng dan ingin melihat reaksi warga, Hasan berdiri lalu berteriak sekeras-kerasnya:
“Serigala! Tolong! Ada serigala mau terkam dombaku!”
Orang-orang kampung terkejut. Mereka berlari menaiki bukit membawa tongkat dan batu. Nafas mereka terengah-engah, tapi ketika sampai di puncak tidak ada serigala sama sekali. Hasan hanya tertawa kecil melihat wajah mereka yang panik.
Warga menahan kesal.
“Hasan, jangan berteriak ‘serigala’ kalau tidak ada serigala,” kata mereka sambil kembali turun.

Namun keisengan itu membuat Hasan ketagihan.
Keesokan harinya, ia berteriak lagi:
“Serigala! Serigala!”
Dan lagi-lagi warga kampung berlari dalam keadaan panik.
Dan lagi-lagi, mereka hanya menemukan Hasan tertawa malu.
Warga mulai kehilangan kesabaran.
“Simpan teriakanmu untuk saat yang sungguh bahaya,” tegur mereka dengan nada kecewa.

Beberapa hari kemudian, ketika suasana begitu tenang, seekor serigala besar benar-benar muncul dari balik pepohonan. Mata serigalanya tajam, nafasnya berat, dan domba-domba mulai panik.
Hasan pucat. Ia langsung berteriak sekencang-kencangnya:
“Tolong! Ini sungguhan! Ada serigala! Serigala!!”
Tapi kali ini tidak seorang pun datang.
Orang kampung mengira Hasan hanya mengulang kebohongannya lagi.

Domba-dombanya tercerai-berai, dan Hasan menangis sambil memeluk dirinya sendiri. Sore hari, seorang kakek dari kampung naik ke bukit. Ia menemukan Hasan duduk penuh penyesalan.
Kakek itu menepuk bahunya dengan lembut.
“Nak… orang tidak datang bukan karena mereka jahat,” katanya. “Tapi karena engkau pernah bermain-main dengan ucapanmu. Sekali kepercayaan hilang, tidak mudah kembali.”

Hasan menunduk, mengusap air matanya. Hari itu ia belajar sesuatu yang tidak akan ia lupakan:
Kejujuran itu amanah.
Jika kita sering berbohong, orang tak akan percaya bahkan ketika kita berkata benar.

YA ALLAH, TOLONGLAH, AKU MASIH MAU MENGHAPAL AL-QURAN...(Kisah nyata)Jum’at sore tanggal 27 maret kami menyimak hafalann...
17/12/2025

YA ALLAH, TOLONGLAH, AKU MASIH MAU MENGHAPAL AL-QURAN...
(Kisah nyata)

Jum’at sore tanggal 27 maret kami menyimak hafalannya, ia tengah menyetorkan juz terakhirnya. Hafalannya lancar, sangat lancar. Bagaikan air yang mengalir. Tenang dan tartil. Dan memang santri yang baru masuk ke usia 9 tahun ini selalu lancar jika tasmi’.

Segenap santri, para musyrif dan peserta supermanzil yang menyimaknya larut dalam kekhusyuan. Udara yang menyebar di dalam masjid begitu menenangkan. Semua hanyut dalam setiap ayat yang ia bacakan.

Teringat saat ia menjalani tes penentuan ke supermanzil hasilnya mengecewakan. Ia jadi murung setelah itu, hanya keluar kamar saat menjelang adzan. Jika melihat saya maupun suami ia menghindar dan segera masuk asrama.

Saat kebetulan berpapasan, kami menahannya.
“Yasin, apa yang membuat hasil tes durasi kemarin tidak sukses. Padahal saat screening semua musyrif memujimu.”
“saya tegang ustadz” jawabnya lemah. Menunduk. Ia yakin tak lulus ke supermanzil. Saya melihat bekas jahitan panjang dilengannya.
“Yasin, kami akan memberimu kesempatan, asal berjanji untuk berjuang habis-habisan disana”
“saya boleh ke supermanzil ustadz?” tanyanya lemah, masih menunduk, tak percaya diri.
“Ya. Saya izinkan. Dengan syarat harus bekerja keras, Ok?”
“syukron ustadz” ia mencium tangan ustad Irfan.

Sebenarnya di tes penentuan ia gagal. Namun ustad Irfan meluluskannya. Karena jika ia tak lolos ke supermanzil, maka bukan hanya ia yang akan kecewa, segenap musyrifpun akan kecewa. Saya sendiripun tak rela jika ia tak lolos pada program super ini. Kami semua teringat pada sebuah kisah tentang dirinya.

Pada pertengahan September 2013, Al Hikmah Bogor menggelar Mukhoyyam Al Qur’an di Curug Naga, Megamendung, Bogor. Pagi sebelum sarapan, pada hari ketiga para santri menggelar acara badar game. Sebuah permainan perang-perangan untuk melatih kemampuan strategi, kekompakan tim dan untuk meningkatkan semangat jihad anak-anak.

Dalam permainan itu setiap anak diberi tugas oleh komandannya. Ada yang bertugas sebagai spionase, ada bagian penyerangan, ada kelompok bertahan, dan ada yang bertugas sebagai pemegang bendera pasukan.

Misi kedua pasukan adalah merebut bendera musuh. Yang berhasil merebut bendera musuh berarti dia menang. Sebaliknya, yang benderanya terampas berarti kalah. Ahmad Yasin yang merupakan peserta termuda ( 7 tahun waktu itu) dalam game itu mendapat tugas sebagai pemegang bendera. Baru 15 menit, pasukan Ahmad Yasin menunjukan tanda-tanda kekalahan, kelompok penyerangnya berguguran, dan 10 menit kemudian hanya sedikit pasukan bertahan yg tersisa. Akibatnya, Ahmad Yasin menjadi bulan-bulanan pasukan musuh. Ia dikepung dengan ketat.

Singkat cerita, pada saat bendera yang dipegang Yasin direbut, anak-anak – dan Yasin sendiri – tidak menyadari bahwa tiang bendera yang terbuat dari belahan bambu tersebut melukai lengan kanan Yasin. Yasin baru sadar tangannya terluka saat para perebut bendera berlalu, ia melihat darah segar membanjiri sekujur lengannya. Ia memanggil kakak seniornya,
“kakak saya berdarah!”

Saat para santri senior menghampiri, mereka panik karena luka Yasin cukup besar, besar sekali. Bahkan tulangnya kelihatan jelas. Seorang musyrif serta merta menggendong dan berlari menuju posko. Jarak dari arena pertempuran ke posko cukup jauh, arahnya memanjak dan vertikal.

Saat dibawa kehadapan saya dan suami, Yasin menangis,
“Ummi, ustadz, jangan bilang ke orangtua saya. nanti mereka sedih”.
“Iya nak...Umi ga akan bilang siapa-siapa. Yasin tenang saja ya nak...”
Saya lihat lukanya sangat besar. Tulangnya kelihatan. Putih. Pangkal lengan sudah di ikat baju kaos santri. Namun darah masih mengalir begitu derasnya. Membasahi seluruh baju musyrif yang menggendongnya.

Kami tak melihat yasin menangis, namun rintihannya melelehkan mata kami,
“Ya Alloh tolonglah… Aku masih ingin menghafal…
Ya Alloh tolongah...
Aku masih ingin menghafal...”

Ia terus mengatakan itu sambil menahan pedih.
“tenang nak, Alloh akan menolongmu”
kami semakin terisak, tak tahan dengan kata-katanya. Semua membawa yasin ke atas. Menuju tempat parkir sambil menghiburnya, sebisa-bisanya.

Setiap melihat saya, ia meminta dengan tangisan.
”umi tolong do’akan, aku masih ingin menyelesaikan hafalan Qur’an”
“Ya Alloh... Maafkan aku…
Tolonglah aku…
Aku masih ingin menghafal qur’an”.
Ia terus merintih.

Yasin dibawa ke Bareskrim untuk mendapat pertolongan pertama, namun pihak bareskrim menyuruh agar Yasin segera dibawa ke Rumah sakit Ciawi yang peralatannya lebih memadai. Dan disana mujahid kecil ini mendapat 14 jahitan. Luar dan dalam.

Sejak itu, putra Bu Nuri ini menunaikan janjinya untuk bersungguh-sungguh menghafal Qur’an. Dan pada bulan maret ini Alloh membantunya, Yasin mengkhatamkan hafalannya dalam program supermanzil.

Sore itu semua yang hadir menangis dan memeluknya, memberi penghargaan atas perjuangannya. Memberi pengakuan atas kerja kerasnya yang luar biasa. Menghafal siang malam tak kenal lelah. Demi cita-citanya, memberi mahkota pada kedua orangtuanya. Semoga tekad, usaha dan kegigihannya dalam menyelesaikan hafalan Qu'an menjadi ibroh dan pemacu bagi kita-kita yang sudah dewasa.

Berbahagialah kedua orangtuanya, Bunda Nuri dan Pak Rahmat. Karena anak sholeh yang begitu cinta Al-Qur’an adalah kekayaan yang tak bisa dinilai dengan seluruh dunia ini.

*Dikutip dari fb Astri Hamidah

KEBAIKAN YANG MENYELAMATKAN*Ada tiga orang melakukan perjalanan. Lalu mereka berteduh di sebuah gua. Tiba-tiba sebuah ba...
16/12/2025

KEBAIKAN YANG MENYELAMATKAN*

Ada tiga orang melakukan perjalanan. Lalu mereka berteduh di sebuah gua. Tiba-tiba sebuah batu besar runtuh dari gunung dan menutup pintu gua itu.

Mereka pun berkata satu sama lain,
‘Tidak ada yang dapat menyelamatkan kalian dari batu ini kecuali kalian berdoa kepada Allah dengan perantara amal-amal saleh kalian.’

Salah seorang dari mereka berkata:
“Ya Allah, dahulu aku memiliki kedua orang tua yang sudah lanjut usia. Aku tidak pernah memberi minum keluarga atau hewan ternakku sebelum aku memberi minum kedua orang tuaku.

Suatu hari aku pulang terlambat karena suatu keperluan. Ketika aku membawa minuman untuk mereka, ternyata keduanya telah tertidur. Aku tidak ingin memberi minum keluarga dan hewan ternakku sebelum memberi minum kepada mereka, dan aku pun tidak ingin membangunkan mereka.

Aku berdiri menunggu sambil memegang wadah minuman itu, sementara anak-anakku menangis kelaparan di dekat kakiku. Aku terus menunggu hingga terbit fajar. Setelah itu, aku membangunkan kedua orang tuaku dan memberi mereka minum.

Ya Allah, jika aku melakukan hal itu semata-mata karena mengharap wajah-Mu, maka lepaskanlah kami dari batu ini.”

Maka batu itu pun bergeser sedikit, namun mereka masih belum dapat keluar dari gua tersebut.

Kemudian orang yang kedua berkata:
“Ya Allah, dahulu aku memiliki seorang sepupu perempuan yang sangat aku cintai. Aku pernah menginginkan perbuatan zina dengannya, namun ia menolak.

Hingga suatu waktu ia mengalami kesulitan hidup dan datang kepadaku. Aku memberinya 120 dinar dengan syarat ia menyerahkan dirinya kepadaku. Ia pun menyetujuinya.

Ketika aku telah mampu melakukan apa yang aku inginkan, ia berkata, ‘Bertakwalah kepada Allah, jangan engkau lepaskan cincin kecuali dengan cara yang benar.’

Mendengar itu aku pun takut kepada Allah. Aku meninggalkannya padahal ia adalah orang yang paling aku cintai, dan aku pun meninggalkan harta yang telah aku berikan kepadanya.

Ya Allah, jika aku melakukan hal itu semata-mata karena mengharap wajah-Mu, maka lepaskanlah kami dari apa yang kami alami.”
Maka batu itu pun bergeser lagi, hingga terbuka dua pertiganya, namun mereka masih belum dapat keluar.

Kemudian orang yang ketiga berkata:
“Ya Allah, dahulu aku mempekerjakan beberapa orang. Aku telah memberikan upah mereka semua kecuali satu orang yang pergi tanpa mengambil upahnya.

Aku lalu mengembangkan upahnya itu hingga menjadi harta yang banyak. Setelah beberapa waktu, orang itu datang kepadaku dan berkata, ‘Wahai fulan, berikanlah upahku.’
Aku berkata kepadanya, ‘Semua yang engkau lihat berupa unta, sapi, kambing, dan budak adalah upahmu.’

Ia berkata, ‘Wahai Abdullah, jangan engkau mempermainkanku.’
Aku menjawab, ‘Aku tidak mempermainkanmu.’
Lalu ia mengambil seluruh harta itu dan membawanya pergi tanpa menyisakan sedikit pun.

Ya Allah, jika aku melakukan hal itu semata-mata karena mengharap wajah-Mu, maka lepaskanlah kami dari apa yang kami alami.”

Maka batu itu pun bergeser sepenuhnya, sehingga akhirnya mereka dapat keluar meninggalkan tempat tersebut.
*(HR Bukhari)

PRASANGKA BURUK SANG MUSAFIRSuatu hari, seorang musafir berjalan melewati kebun semangka yang sangat luas. Matahari bers...
13/12/2025

PRASANGKA BURUK SANG MUSAFIR

Suatu hari, seorang musafir berjalan melewati kebun semangka yang sangat luas. Matahari bersinar terik, menyengat kulit dan membuat tubuhnya lelah. Karena keletihan, ia pun berhenti dan berteduh di bawah sebuah pohon beringin di pinggir kebun. Ia duduk sejenak, melepas lelah, agar kembali bertenaga untuk melanjutkan perjalanan panjangnya.

Sambil memandangi hamparan kebun semangka, ia berkata dalam hati,
“Sepertinya ALLAH keliru. Mengapa buah semangka yang besar dan berat justru tumbuh pada batang yang kecil dan merambat di tanah?”

Lalu pandangannya beralih ke pohon beringin yang besar dan kokoh. Batangnya kuat, daunnya rimbun, ditiup angin dengan gagah. Musafir itu kembali berpikir,
“Bukankah pohon sebesar ini lebih pantas menanggung buah yang besar seperti semangka? Tapi mengapa pohon ini hanya menghasilkan buah kecil? Sepertinya ALLLAH tidak adil,” gumamnya.

Angin bertiup sepoi-sepoi. Rasa lelah membuat kelopak matanya semakin berat, hingga akhirnya ia pun tertidur pulas di bawah pohon itu.

Tiba-tiba,
“Pluk!”

Sesuatu jatuh dan mengenai kepalanya. Ia terkejut dan langsung terbangun. Sambil mengusap kepala, ia menoleh ke atas.

Ternyata yang jatuh adalah buah beringin dari pohon tempat ia berteduh.
Musafir itu terdiam sejenak, lalu tersenyum malu.

“Ya Allah… aku telah berprasangka buruk kepada-Mu. Seandainya buah pohon ini sebesar semangka, pasti kepalaku sudah terluka parah.”

Saat itu ia menyadari, Allah tidak pernah salah dalam menciptakan apa pun. Segala sesuatu diciptakan dengan ukuran, tempat, dan hikmah yang sempurna.

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.
(QS. Al-Baqarah: 216)

Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.
(QS. Al-Qamar: 49)

Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin. Semua urusannya baik baginya. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, dan itu pun baik baginya.
(HR. Muslim)

MENGAPA ORANG BERTERIAK KETIKA MARAHSeorang Syeikh berjalan dengan para muridnya, mereka melihat ada sebuah keluarga yan...
12/12/2025

MENGAPA ORANG BERTERIAK KETIKA MARAH

Seorang Syeikh berjalan dengan para muridnya, mereka melihat ada sebuah keluarga yang sedang bertengkar, dan saling berteriak.

Syeikh tersebut berpaling kepada muridnya dan bertanya:
"Mengapa orang saling berteriak jika mereka sedang marah?"

Salah satu murid menjawab:
"Karena kehilangan sabar, makanya mereka berteriak."

"Tetapi, mengapa harus berteriak kepada orang yang tepat berada di sebelahnya ?
Bukankah pesan yang ia sampaikan, bisa ia ucapkan dengan cara halus ?" Tanya sang Syeikh menguji murid2nya.

Muridnya pun saling beradu jawaban, namun tidak satupun jawaban yang mereka sepakati.

Akhirnya sang Syeikh berkata:
Bila dua orang sedang marah, maka hati mereka saling menjauh. Untuk dapat menempuh jarak yang jauh itu, mereka harus berteriak agar perkataannya dapat terdengar. Semakin marah, maka akan semakin keras teriakannya. Karena jarak kedua hati semakin jauh".

"Begitu juga sebaliknya, di saat kedua insan saling jatuh cinta?" lanjut sang Syeikh.

"Mereka tidak saling berteriak antara yang satu dengan yang lain. Mereka berbicara lembut karena hati mereka berdekatan. Jarak antara ke 2 hati sangat dekat."

"Bila mereka semakin hari saling mencintai, apa yang terjadi? Mereka tidak lagi bicara. Mereka Hanya berbisik dan saling mendekat dalam kasih-sayang. Pada Akhirnya, mereka bahkan tidak perlu lagi berbisik. Mereka cukup hanya dengan saling memandang. Itu saja. Sedekat itulah dua insan yang saling mengasihi."

Sang Syeikh memandangi muridnya dan mengingatkan dengan lembut:
"Jika terjadi pertengkaran diantara kalian, jangan biarkan hati kalian menjauh. Jangan ucapkan perkataan yang membuat hati kian menjauh. Karena jika kita biarkan, suatu hari jaraknya tidak akan lagi bisa ditempuh."

PENYESALAN RUMAH TERAKHIRAda seorang tukang kayu yang sepanjang hidupnya dikenal karena ketelitiannya. Ia membangun ruma...
11/12/2025

PENYESALAN RUMAH TERAKHIR

Ada seorang tukang kayu yang sepanjang hidupnya dikenal karena ketelitiannya. Ia membangun rumah-rumah yang kokoh, rapi, dan indah—setiap sudutnya selalu menunjukkan kecintaan pada pekerjaannya.

Bertahun-tahun ia bekerja tanpa lelah, hingga usia mulai menua dan tubuhnya tak sekuat dulu. Ia merasa saatnya tiba untuk pensiun dan menikmati hari-hari bersama keluarganya.

Suatu hari, ia mendatangi majikannya.
“Sudah saatnya saya beristirahat,” katanya lembut. “Izinkan saya pensiun setelah ini.”

Majikannya menghargai keputusannya, tetapi memiliki satu permintaan terakhir.
“Ada satu rumah lagi yang ingin aku minta kamu bangun. Setelah itu, kamu benar-benar boleh pensiun.”

Tukang kayu itu mengangguk, namun hatinya tidak lagi bersemangat. Ia ingin segera menyelesaikan proyek terakhir itu dan menutup lembaran panjang pekerjaannya.

Akhirnya ia mulai membangun rumah tersebut, tetapi tidak lagi dengan dedikasi yang biasa ia berikan. Bahan yang dipilih seadanya, pengerjaan dilakukan terburu-buru, banyak detail ia abaikan.
Ia berpikir, “Ini hanya satu rumah lagi. Tidak perlu terlalu sempurna.”

Setelah beberapa minggu, rumah itu selesai. Tampak bagus dari luar, tetapi ia tahu betul: bagian dalamnya penuh kekurangan. Ia sendiri tidak bangga melihatnya.

Majikannya datang memeriksa hasilnya. Setelah melihat rumah itu, ia menoleh kepada sang tukang kayu dan tersenyum hangat.
“Terima kasih untuk puluhan tahun kesetiaan dan kerja kerasmu,” katanya.
“Rumah ini… aku hadiahkan untukmu.”

Tukang kayu itu terdiam. Kunci rumah berada di tangannya, dan hatinya serasa jatuh. Ia ingin menangis—bukan karena bahagia, tapi karena penyesalan. Andai saja ia tahu rumah itu akan menjadi miliknya sendiri, tentu ia akan membangunnya dengan sepenuh hati seperti rumah-rumah lain yang pernah ia buat.

Namun hari itu ia belajar sesuatu yang jauh lebih besar:
Setiap pekerjaan yang kita lakukan, sekecil apa pun, sebenarnya kembali kepada diri kita sendiri.

Ketelitian, kejujuran, dan kesungguhan kita adalah “bahan bangunan” bagi rumah kehidupan yang kelak kita tinggali.
Ia pulang dengan kepala tertunduk, tetapi hatinya lebih bijak. Ia bersumpah bahwa apa pun yang ia lakukan setelah hari itu, ia akan melakukannya dengan yang terbaik—bukan untuk orang lain, tetapi untuk dirinya sendiri.

Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang ketika bekerja, ia menyempurnakannya.
(HR. Al-Baihaqi)

KETIKA UMAR MEMANGGUL GANDUMPada suatu malam, Khalifah Umar bin Khattab berjalan menyusuri perkampungan bersama seorang ...
11/12/2025

KETIKA UMAR MEMANGGUL GANDUM

Pada suatu malam, Khalifah Umar bin Khattab berjalan menyusuri perkampungan bersama seorang pengawalnya. Umar memang memiliki kebiasaan memeriksa keadaan rakyatnya secara langsung, tanpa diketahui siapa pun.

Malam itu, ia mendengar suara tangis anak kecil yang terdengar sangat pilu. Suara itu berasal dari sebuah gubuk sederhana di sudut desa.

Umar mendekat perlahan. Dari celah pintu, ia melihat seorang ibu duduk di depan tungku sambil sesekali mengaduk panci. Anak kecil di sampingnya terus menangis kelaparan.
Dengan suara lembut, sang ibu menenangkan anaknya, “Tidurlah, Nak. Sebentar lagi buburnya matang.”
Namun si kecil tak kunjung berhenti menangis.

Umar mengetuk pintu dan memberikan salam. Sang ibu mempersilakannya masuk, tanpa tahu bahwa tamu tersebut adalah khalifah.

Umar bertanya pelan, “Wahai Ibu, apa yang sedang engkau masak?”

Sang ibu menunduk dan berkata lirih, “Aku hanya memasak batu. Aku berharap anakku tertidur karena mengira makanannya sedang dimasak. Kami tidak punya apa pun untuk dimakan.”

Ia lalu melanjutkan keluhannya, “Celakalah Umar bin Khattab… ia tidak tahu bahwa rakyatnya ada yang kelaparan seperti ini.”

Mendengar kata-kata itu, hati Umar seakan terhantam. Ia menahan sedih dan meminta izin pergi. Sesampainya di Madinah, ia langsung menuju Baitul Mal, mengambil sekarung gandum, lalu memikulnya sendiri.

Pengawalnya menawarkan bantuan, tetapi Umar berkata:
“Aku yang harus memikulnya. Aku takut kelak dosanya justru aku bebankan kepadamu.”

Dengan langkah cepat, ia kembali ke gubuk sang ibu. Umar sendiri yang memasakkan gandum itu hingga matang. Setelah siap, ia menyuguhkan makanan tersebut kepada ibu dan anaknya. Barulah tangis anak itu mereda, dan wajah sang ibu tampak lega.

Sebelum pulang, Umar berkata, “Besok datanglah ke Baitul Mal. Engkau akan mendapatkan jatah makanan untuk kebutuhan harianmu.”

Keesokan harinya, sang ibu datang ke Baitul Mal. Betapa terkejutnya ia ketika melihat bahwa orang yang membantunya malam itu ternyata adalah Umar bin Khattab—khalifah yang ia keluhkan.

Namun Umar menyambutnya dengan senyum dan berkata pelan, “Maafkan aku karena lalai mengetahui keadaanmu.”

Ibu itu hanya bisa menunduk haru, tak menyangka pemimpin negara datang sendiri membawa gandum untuknya, di tengah malam, tanpa seorang pun tahu.

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu berbuat adil.
QS. An-Nisa’ (4:58)

Setiap dari kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.
HR. Bukhari & Muslim

Tidaklah seorang hamba yang diserahi Allah untuk memimpin rakyat, lalu ia meninggal dunia dalam keadaan curang terhadap rakyatnya, kecuali Allah mengharamkannya masuk surga.
HR Bukhari

UMAR DAN LILIN YANG PADAMSuatu malam, di ruang kerja sederhana milik Khalifah Umar bin Abdul Aziz, sebuah lilin kecil me...
10/12/2025

UMAR DAN LILIN YANG PADAM

Suatu malam, di ruang kerja sederhana milik Khalifah Umar bin Abdul Aziz, sebuah lilin kecil menyala menerangi dokumen-dokumen negara. Lilin itu bukan milik pribadi, itu adalah lilin yang dibeli dengan harta kaum muslimin. Umar menggunakannya hanya ketika ia bekerja untuk kepentingan umat.

Di tengah kesibukannya, datanglah seorang lelaki sebagai utusan untuk berbicara dengan beliau. Ketika masuk, utusan itu melihat Umar sedang fokus membaca surat-surat negara.

Umar bertanya,
“Apakah kedatanganmu untuk urusan negara atau urusan pribadi?”
Utusan itu menjawab,
“Untuk urusan pribadi, wahai Amirul Mukminin.”

Mendengar itu, Umar langsung memadamkan lilin yang menyala. Ruangan menjadi gelap sejenak, lalu ia menyalakan lilin lain yang lebih kecil, lebih redup, dan jelas bukan lilin milik negara.

Utusan itu terheran-heran melihat tindakan tersebut.
“Wahai Amirul Mukminin,” katanya, “mengapa engkau mematikan lilin itu?”

Umar menjawab dengan suara pelan namun tegas maknanya:
“Lilin itu dibeli dengan harta kaum muslimin. Selama aku bekerja untuk mereka, aku berhak menggunakannya. Tetapi ketika pembicaraan kita adalah urusan pribadi, aku tidak ingin membakar harta umat hanya untuk kepentingan diriku atau dirimu.”

Utusan itu terdiam. Hatinya bergetar mendengar jawaban itu.
Ia menyaksikan sendiri betapa halusnya rasa amanah seorang pemimpin, bahkan sampai pada cahaya sebuah lilin.

Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.
(QS. An-Nisa’ 4:58)

Tidak beriman seseorang yang tidak amanah.
HR. Ahmad

KISAH ANAK BEREBUT IBUNYA SAMPAI PENGADILANDi salah satu pengadilan di wilayah Qasim, Kerajaan Saudi Arabia, berdirilah ...
07/12/2025

KISAH ANAK BEREBUT IBUNYA SAMPAI PENGADILAN

Di salah satu pengadilan di wilayah Qasim, Kerajaan Saudi Arabia, berdirilah Hizan al-Fuhaidi dengan air mata yang terus bercucuran hingga membasahi janggutnya.
Apa yang membuatnya menangis begitu pilu?

Ia baru saja kalah dalam perseteruannya dengan saudara kandungnya sendiri.
Perseteruan apakah itu?
Apakah tentang tanah?
Ataukah tentang harta warisan?

Bukan.
Bukan karena hal-hal tersebut.
Hizan kalah dalam perkara hak pemeliharaan ibunya yang telah sangat tua dan renta, seorang ibu yang bahkan kini hanya mengenakan sebuah cincin timah di jari-jarinya yang keriput.

Seumur hidupnya, sang ibu tinggal bersama Hizan.
Dialah yang merawat dan menjaganya selama ini.
Ketika kondisi sang ibu semakin melemah, datanglah adik Hizan yang tinggal di kota lain. Ia ingin membawa ibunya tinggal bersamanya, dengan alasan bahwa fasilitas kesehatan di kota jauh lebih lengkap dibandingkan di desa.

Namun Hizan menolak, karena ia merasa masih mampu menjaga ibunya sebagaimana selama ini.
Perselisihan tersebut tidak selesai secara kekeluargaan dan akhirnya berlanjut ke pengadilan.

Sidang demi sidang pun berlangsung.
Pada suatu sidang, hakim memerintahkan agar sang ibu dihadirkan di hadapan majelis.
Kedua bersaudara itu membopong ibu mereka yang tubuhnya sangat lemah—beratnya bahkan tidak mencapai empat puluh kilogram.

Hakim kemudian bertanya kepada sang ibu, “Siapa di antara kedua putra Ibu yang berhak untuk tinggal bersama Ibu?”
Sang ibu memahami pertanyaan itu.
Sambil menunjuk kepada Hizan, ia berkata,
“Ini mata kananku.”
Lalu ia menunjuk kepada adik Hizan dan berkata,
“Ini mata kiriku.”

Hakim terdiam sejenak, memikirkan jawaban tersebut.
Akhirnya, ia memutuskan bahwa hak pemeliharaan diberikan kepada adik Hizan, dengan mempertimbangkan kemaslahatan dan kebutuhan kesehatan sang ibu.

Betapa mulia air mata yang jatuh dari wajah Hizan—
air mata kesedihan karena ia tidak lagi dapat merawat ibunya di usia senjanya.
Ia kalah di pengadilan, bukan karena kurang berbakti, tetapi karena keadaan menuntut keputusan yang berbeda.

Dan betapa agungnya sosok sang ibu—
seorang wanita yang diperebutkan oleh anak-anaknya dengan penuh cinta hingga ke persidangan.

Andaikan kita dapat memahami bagaimana sang ibu mendidik kedua putranya, hingga ia menjadi sosok yang begitu dihormati dan dicintai.

Inilah pelajaran berharga tentang kewajiban berbakti kepada orang tua, pada masa ketika sikap durhaka sering kali dianggap hal yang biasa.

Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah engkau berkata kepada mereka ‘ah’, dan janganlah engkau membentak mereka, tetapi ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik.”
“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang, dan ucapkanlah: ‘Wahai Tuhanku, sayangilah mereka keduanya sebagaimana mereka berdua telah menyayangi aku di waktu kecil.
Al-Isra’ ayat 23–24

Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada-Ku kembalimu.
Luqman ayat 14

Seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah ﷺ,
"Siapakah manusia yang paling berhak untuk aku berbuat baik kepadanya?”
Beliau menjawab: “Ibumu.”
Ia bertanya lagi: “Lalu siapa?”
Beliau menjawab: “Ibumu.”
Ia bertanya lagi: “Lalu siapa?”
Beliau menjawab: “Ibumu.”
Ia bertanya lagi: “Kemudian siapa?”
Beliau menjawab: “Ayahmu.”
Hadits Riwayat Bukhari & Muslim

“Keridaan Allah berada pada keridaan orang tua, dan kemurkaan Allah berada pada kemurkaan orang tua.”
Hadits Riwayat Bukhari

JADI KENTANG, TELUR ATAU KOPIPada suatu sore, seorang putri datang kepada ayahnya dengan mata sembap. Ia berkata lirih,"...
05/12/2025

JADI KENTANG, TELUR ATAU KOPI

Pada suatu sore, seorang putri datang kepada ayahnya dengan mata sembap. Ia berkata lirih,
"Ayah... hidup rasanya berat sekali. Baru selesai satu masalah, muncul lagi yang lain. Aku lelah. Aku tidak tahu harus bagaimana."

Ayahnya, seorang koki tua yang bijak, tidak langsung menjawab. Ia menggandeng tangan putrinya menuju dapur, lalu mengisi tiga panci dengan air. Semua panci itu ia letakkan di atas kompor, menyalakan api besar tanpa sepatah kata pun.

Ketika air mulai mendidih, ia memasukkan kentang ke panci pertama, sebutir telur ke panci kedua, dan bubuk kopi ke panci ketiga.
Putrinya hanya menunggu—bingung, resah, dan sedikit kesal.
Namun ayahnya tetap tenang.

Dua puluh menit berlalu. Ia mematikan api satu per satu.
Kentang ia angkat dan letakkan dalam mangkuk. Telur rebus ia kupas cangkangnya dan taruh di mangkuk lain. Kopi ia sendokkan ke dalam cangkir.

Ayahnya menatap lembut lalu bertanya,
"Nak, apa yang kamu lihat?"
"Kentang, telur, dan kopi," jawabnya cepat.
Ayahnya tersenyum tipis.
"Coba sentuh kentangnya."
Putrinya menyentuhnya—ternyata kentang itu sudah lembut.
Lalu ia diminta memecahkan telur—isinya kini keras.
Terakhir, ia diminta mencicipi kopi—aromanya harum, rasanya hangat, menenangkan.

Putrinya menatap ayahnya, masih bingung.
"Apa maksudnya, Ayah?"
Ayahnya menjawab pelan, dengan suara yang sangat lembut,
"Nak… ketiganya menghadapi cobaan yang sama: air mendidih. Tapi lihat bagaimana mereka berubah."
Kentang yang awalnya keras, berubah menjadi lembut dan rapuh.
Telur yang awalnya lembut di dalam, justru menjadi keras.
Kopi berbeda. Ia tidak hanya bertahan di air mendidih—ia mengubah air itu menjadi sesuatu yang lebih harum dan bermanfaat.

Ayahnya mengusap kepala putrinya dan berkata:
"Hidup memang penuh tekanan, Nak. Tapi yang terpenting bukan apa yang datang kepadamu, melainkan bagaimana kamu meresponsnya. Kamu ingin menjadi seperti apa? Lunak karena masalah? Keras karena luka? Atau… menjadi seperti kopi—yang mengubah ujian menjadi kebaikan?"

Putrinya tersenyum kecil. Untuk pertama kalinya hari itu, hatinya terasa lebih ringan.

Kita tidak bisa memilih cobaan, tapi kita bisa memilih sikap.
Masalah bisa membuat kita lemah, keras, atau justru semakin bijak.
Jadilah seperti kopi: menghadapi tekanan, tetapi tetap memberi kebaikan.
Hati yang lembut dan sabar membuat hidup lebih tenang.
Allah selalu memberi ujian agar kita tumbuh, bukan tumbang.

“Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.”
(QS. Al-Insyirah: 6)

“Sungguh menakjubkan perkara orang beriman, semua urusannya adalah kebaikan…”
(HR. Muslim)

Address

Margonda
Depok
16411

Telephone

+6281288054046

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Afrakids Indonesia posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Afrakids Indonesia:

Share