20/06/2017
{ Hidayah Dari Sebuah Warung Kopi }
Dalam suatu majelisnya, Syaikh Utsman al-Khomis ditanya, “Hal apakah yang bisa menjadi sebab datangnya hidayah dan keistiqomahan pada seseorang?” Beliau menjawab, “Sangat banyak hal yang bisa mendatangkan hidayah. Di antaranya beliau bercerita tentang seorang pemuda Libiya yang diberi hadiah buku saku tentang dzikir oleh seorang pemuda dari Arab Saudi”. Kurang lebih, cerita beliau adalah
sebagai berikut:
Ada seorang warga Libia, ia bersama ibu dan seorang saudari perempuannya pindah dari Libia untuk menetap di London. Ia mengatakan, di antara kami
bertiga hanya ibuku saja yang shalat. Aku dan saudariku tidak shalat bahkan tidak mengerti shalat.
Suatu hari, aku datang di suatu kedai kopi, aku berkenalan dengan seorang laki-laki dari Arab Saudi.
Di akhir perjumpaan, dia memberiku sebuah buku saku tentang dzikir. Aku merasa pemberiannya ini
tidak bermanfaat sama sekali, shalat saja aku tidak,
apalagi membaca dzikir. Tapi karena merasa tidak
enak menolak, aku pun menerima pemberiannya dan
kusimpan di saku baju. Sesampainya di rumah,
kukeluarkan dari saku bajuku buku yang ia berikan, lalu kulemparkan hingga terperosok di bawah
lemariku.
Setelah beberapa hari, di suatu malam, seperti biasa
aku p**ang dari aktivitas lalu aku menonton televisi.
Aku mencari acara yang menarik di TV, dari chanel ke
chanel lainnya namun tidak ada acara yang membuat aku tertarik. Lalu kubuka majalah, tidak juga aku
merasa berselera berlama-lama membacanya.
Setelah itu berselancar di dunia maya, juga tidak ada
yang memikat perhatianku. Sudah, kututup pintu
kamar dan tirai jendela, aku pun bersiap tidur.
Kubolak-balikkan badan, namun tidak juga rasa kantuk itu datang. Malah aku teringat akan buku saku
yang diberikan laki-laki Arab Saudi tempo hari itu.
Susah payah, akhirnya aku berhasil mengeluarkan
buku itu dari bawah kolong lemariku.
Saat kubuka buku itu, ternyata berisi, barangsiapa
mengamalkan ini akan mendapatkan hal ini, barangsiapa mengamalkan demikian maka
pahalanya demikian. Saat itu, kondisi jiwaku adalah
kondisi seseorang yang telah berputus asa dari
rahmat Allah karena banyaknya dosa-dosa yang
telah aku lakukan. Aku adalah seseorang yang telah
berpasrah diri kalau ditetapkan sebagai penghuni neraka. Saat kubaca buku itu, ternyata pengampunan
dosa dari Allah demikian mudahnya. Buku itu benar-
benar memberikan kesan yang dalam bagi diriku.
Hingga tak terasa aku membacanya hingga datang
waktu subuh.
Saat itu kulihat ibuku sedang menunaikan shalat. Selesainya ibuku dari shalat, kukatakan kepadanya,
“Ibu, aku ingin shalat”. Ibuku menjawab,
“Mandilah terlebih dahulu”. Aku pun mandi
kemudian menunaikan shalat. Sejak saat itu aku tidak
pernah lagi meninggalkan shalat.
Diceritakan kepada Syaikh Utsman al-Khomis bahwa orang ini kemudian menjadi seorang da’i yang
cukup dikenal di London. Ia sangat bersemangat
dalam berdakwah hingga mendakwahkan Islam di
jalan-jalan ketika berjumpa dengan orang-orang non-
Islam. Dan banyak orang mendapatkan hidayah Islam
melalui dirinya.
Pelajaran:
1.Jangan remehkan hadiah sekecil apapun.
2.Jangan memvonis seseorang sudah tertutup darinya
hidayah.
3.Biasakanlah memberi hadiah-hadiah yang
bermanfaat kepada orang-orang untuk melembutkan hati mereka menerima dakwah.
4.Seseorang dengan profesinya masing-masing bisa
memberikan hadiah. Seorang dosen bisa memberikan
buku-buku bermanfaat kepada mahasiswanya
karena nilai ujiannya yang baik atau lain sebagainya.
Seorang pengusaha bisa memberikan hadiah kepada relasinya saat di awal jumpa. Seorang teman
memberikan hadiah kepada temannya. Dll. Mungkin
akan datang suatu hari, Allah bukakan kebaikan bagi
mereka yang diberi hadiah tersebut.
5.Berdakwah bisa dilakukan dimana saja, sampai
berjumpa dengan seseorang di sebuah warung kopi pun adalah kesempatan untuk berdakwah.
Sumber : kisah muslim
Oleh: Mutiara Risalah Islam