19/03/2026
Di bawah rindang pohon yang berbuah tanpa tergesa, Cak John berdiri dengan kaus lama yang masih setia menempel pada tubuhnya. Bukan kain usang belaka, melainkan sebuah keputusan: untuk tidak tunduk pada siklus konsumsi yang tergesa-gesa. Dalam dunia yang memuja kebaruan, ia memilih bertahan pada yang telah dikenalnya—sebuah bentuk kesederhanaan yang tidak miskin makna.
Kaus itu bertuliskan, “Saya bahasa?”—sebuah pertanyaan yang terasa ganjil (mimin tidak tahu sejarah penciptaan kata-kata itu). Seakan-akan ia tidak hanya bertanya kepada orang lain, tetapi kepada dirinya sendiri: apakah aku telah menggunakan bahasa dengan baik? Apakah aku merawatnya sebagaimana aku merawat benda yang kupakai setiap hari?
Dalam kajian lingkungan, prinsip reduce, reuse, recycle adalah kebutuhan mendesak. Seperti yang dicatat dalam penelitian oleh Ellen MacArthur Foundation, “perpanjangan usia pakaian secara signifikan dapat mengurangi jejak karbon industri tekstil.” Kaus lama ini, dengan segala pudar dan lipatannya, menjadi bentuk kecil perlawanan terhadap limbah yang tak terlihat.
Namun lebih dari itu, ia adalah pernyataan batin. Seperti bahasa, pakaian menyimpan jejak waktu. Ludwig Wittgenstein pernah menulis, “The limits of my language mean the limits of my world.” Jika bahasa kita rusak, dunia kita pun menyempit. Maka merawat bahasa—memilih kata, menjaga makna—adalah tindakan yang tidak kalah penting dari merawat kain.
Ada kesederhanaan yang polos di sini. Tidak berteriak, tidak menggurui. "Hanya" sebuah kaus lama, dengan pertanyaan lugu: apakah kita masih peduli pada apa yang kita gunakan—baik itu pakaian, maupun bahasa?