27/03/2026
Dari Garut, sebuah benang cerita dimulai.
Tentang warisan, ketekunan, dan tangan-tangan yang menenun makna lintas generasi.
Perjalanan Tenun Garut bersama Cita Tenun Indonesia bermula dari sebuah langkah sederhana—melalui pelatihan yang diadakan bersama keluarga Bapak Hendar di Garut. Di sanalah, pengetahuan diwariskan, keterampilan dipertahankan, dan semangat untuk menghidupkan kembali tenun lokal mulai tumbuh.
Dari akar yang kuat di tanah Garut, kisah ini kemudian melangkah melampaui batas geografis.
Pada tahun 2012, Tenun Garut hadir di panggung internasional melalui F4D Second First Ladies Luncheon 2012 yang diselenggarakan dalam rangka 67th Session of the United Nations General Assembly di The Pierre Hotel, New York. Dalam kesempatan tersebut, karya dari Sebastian Gunawan mempersembahkan Tenun Garut sebagai representasi keindahan tekstil Indonesia di hadapan dunia.
Lebih dari satu dekade kemudian, benang yang sama terus ditenun dengan perspektif baru.
Pada tahun 2023, Ria Miranda menghadirkan kembali Tenun Garut dalam presentasi mode Jalinan Lungsi Pakan—sebuah interpretasi yang lembut dan kontemporer, tanpa meninggalkan akar tradisinya.
Perjalanan ini terus berlanjut.
Pada tahun 2025, Dibba menghadirkan koleksi By The Docks of Time dalam Plaza Indonesia Fashion Week 2025, menggunakan Tenun Garut Cita Tenun Indonesia sebagai medium yang menjembatani waktu—antara yang telah berlalu dan yang sedang berlangsung.
Di tahun yang sama, The Rizkianto oleh Dery Rizkianto berkolaborasi dengan Cita Tenun Indonesia, menghadirkan Tenun Garut dalam panggung Jakarta Fashion Week 2026—membawa warisan ini ke dalam dialog yang lebih luas antara tradisi dan ekspresi mode masa kini.
Dari Garut ke dunia, dan kembali lagi ke masa kini—
Tenun Garut bukan sekadar kain, melainkan perjalanan yang terus hidup.
Cita Tenun Indonesia percaya bahwa dalam setiap helai benang, tersimpan masa lalu yang berharga, dan masa depan yang sedang ditenun.