14/09/2021
RUMAH dalam film-film Teguh Karya merupakan episentrum storytelling-nya. Apapun persoalan karakternya, mereka pasti memulainya dari rumah dan menyelesaikannya di rumah. Bahkan banyak sekali adegan yang terjadi di rumah dan diambil di semua interiornya seperti kamar tidur, kamar mandi, dapur, ruang makan, ruang tamu, teras, beranda, halaman, garasi, paviliun.
Lewat setting RUMAH, Teguh Karya menguliti karakter dan menghadirkan hubungan-hubungannya dengan benda, ruang, karakter lain dan akhirnya dengan storytelling-nya sendiri. Semuanya dihadirkan dalam pergerakan yang dinamis dan luwes. Saat menontonnya, kita bahkan akan percaya bahwa udara yang ada di rumah KAK IDA (Ibunda) dan yang ada di rumah reot NORA (Secangkir Kopi Pahit) pasti berbeda, karena cara karakternya bernafas di rumah masing-masing tampk sangat spesifik.
Lewat setting RUMAH, film-film Teguh Karya tidak mengingatkan kita pada film-film dari negara lain karena "mirip film itu ya". Film-filmnya mengingatkan penonton pada Indonesia dan kulturnya. Tidak ada karakter yang menggugu karakter lain di film lain dari negara lain. FACHRI, FIKAR, IDA, FITRI, NORA, TOGAR, dan lain-lain adalah kita, adalah Indonesia. Rumah mereka adalah rumah kita, rumah-rumah Indonesia pada umumnya. Sesak penuh barang dan memento, mandi dari jeding pakai gayung, anak lelaki pasti mencuci motor di garasi, meja makan tak pernah sepi makanan, dan seterusnya.
Jika Teman Heha ingin jadi sutradara, silakan pelajari film-film Teguh Karya. Jika di akhir setiap film kamu tidak menitikkan air mata menyaksikan kepiawaiannya melahirkan adikarya yang sangat Indonesia, silakan tonton lagi dan lagi.
Selamat menonton!