21/09/2024
Tidak ada bangsa yang tidak ingin hidup berdampingan secara damai dengan bangsa lainnya. Wajar jika perdamaian menjadi salah satu topik yang banyak dibincangkan di berbagai forum internasional. Namun, mungkinkah perdamaian akan terwujud hanya dengan menjadikan agama sebagai juru damai?
--
Mungkinkah Terwujud Perdamaian dengan Menjadikan Agama sebagai Juru Damai?
https://muslimahnews.net/2024/09/19/32110/
--
Penulis: Halima Noer
Muslimah News, FOKUS TSAQAFAH — Beberapa hari lalu berlangsung kolokium internasional di Fakultas Ushuluddin, UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Kolokium bertajuk Diplomacy of the Divine: Religion’s Role in International Peace ini memfasilitasi para profesor, akademisi, teolog, dan peneliti dari berbagai institusi untuk bertemu dan menghasilkan sebuah rumusan penting terkait peran agama.
Menurut Dekan Fakultas Ushuluddin Prof. Drs. Ismatu Ropi, M.A., Ph.D., forum ini diharapkan dapat menghasilkan pemahaman bersama akan pentingnya penguatan peran agama sebagai aktor juru damai kehidupan manusia. “Kami ingin menyegarkan kembali peran agama untuk perdamaian di berbagai wilayah,” ujarnya.
Kegiatan yang mempertemukan para sarjana dan praktisi dari berbagai latar belakang ini juga diharapkan bisa melahirkan formulasi global pemosisian agama sebagai kontributor perdamaian dan kohesi sosial. Secara khusus, titik fokus kolokium sendiri diharap dapat mendorong dialog antaragama dalam konteks penguatan peran agama dalam pembangunan perdamaian, meningkatkan pemahaman bersama tentang relasi agama dan pembangunan perdamaian, serta meminimalkan risiko keragaman agama. (Rilis Pusat Informasi dan Humas LP2M UIN Syarif Hidayatullah Jakarta).[1]
Sejatinya, perdamaian dunia adalah cita-cita bersama semua bangsa. Tidak ada bangsa yang tidak ingin hidup berdampingan secara damai dengan bangsa lainnya. Wajar jika perdamaian menjadi salah satu topik yang banyak dibincangkan di berbagai forum internasional. Namun, mungkinkah perdamaian akan terwujud hanya dengan menjadikan agama sebagai juru damai? Lantas, bagaimana kita menyikapi hal ini?
--
Melihat Realitasnya
--
Mari kita lihat realitasnya, mungkinkah berbagai konflik di dunia bisa selesai dengan perdamaian dan menjadikan agama sebagai juru damainya? Konflik Palestina-Israel, misalnya, mungkinkah selesai hanya dengan perjanjian damai? Nyatanya tidak. Jangankan sepakat hidup berdampingan secara damai, bahkan setiap perjanjian dan kesepakatan dibuat, tidak lama kemudian Israel malah mengkhianatinya.
Kemudian, berbagai konflik berujung penderitaan yang dialami umat Islam di Uighur, Rohingya, dan India, mungkinkah selesai dengan kesepakatan akan perdamaian? Jelas tidak! Selama penguasa (rezim) dan mayoritas penduduk di sana sebagai pihak yang kuat masih menindas pihak yang lemah (dalam hal ini adalah muslim), juga selama penindasan itu menjadi pemikiran yang diadopsi oleh pihak yang kuat, maka tidak akan pernah ada perdamaian.
Selama ada penderitaan yang dialami satu umat manusia akibat umat manusia lainnya, tidak akan pernah terwujud perdamaian dunia yang hakiki. Yang ada adalah perdamaian semu, yang mana pihak yang lemah dipaksa berdamai oleh pihak yang kuat. Perdamaian seperti ini tidak akan bertahan lama. Pihak yang lemah secara alami pasti akan berusaha menghilangkan penindasan yang dialaminya. Wajar jika konflik akan terus terjadi.
Oleh sebab itu, mewujudkan perdamaian dunia tidak cukup hanya dengan menjadikan agama sebagai juru damai, melainkan harus dengan menghentikan penindasan dan ketakadilan yang menyebabkan penderitaan umat manusia di dunia hari ini.
--
Sebab Penderitaan Dunia
--
Dalam Kibat Mafahim Siyasiyah li Hizbit at-Tahrir, Syekh Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan bahwa ada tiga sebab penderitaan dunia hari ini yang menjadikan dunia terus dilanda konflik berkepanjangan, yaitu karena kurafat keluarga internasional, cengkeraman dan dominasi negara-negara adidaya, dan adanya imperialisme (penjajahan) dan monopoli.
Dari ketiga sebab tersebut, yang paling mudah untuk bisa kita perhatikan adalah sebab ketiga, yaitu imperialisme (penjajahan). Perdamaian dunia tidak akan pernah terwujud selama masih ada imperialisme ataupun perampasan kekayaan bangsa-bangsa dan penghinaan bangsa-bangsa dalam berbagai bentuk dan cara.
Negara-negara di Afrika, Asia, dan Amerika Latin, sekalipun mereka secara fisik sudah dimerdekakan, sebenarnya mereka masih dijajah oleh negara-negara adidaya (seperti AS, Inggris, Prancis, dan sebagainya). Mereka telah dijajah dengan neoimperialisme (penjajahan gaya baru) yang tidak lagi bertumpu pada dominasi militer (sebagaimana terjadi pada “penjajahan gaya lama”), melainkan pada aspek-aspek lainnya.
Yang demikian itu di antaranya adalah aspek ekonomi, melalui jerat utang luar negeri, berbagai perjanjian ekonomi dan perdagangan, serta apa yang dinamakan dengan “rencana pembangunan” dan lainnya, di samping tekanan politik dan berbagai embargo. Negara-negara adidaya melakukannya karena meyakini imperialisme sebagai pemikirannya dan menggunakan kekuatan untuk mewujudkannya.
Walhasil, harus ada upaya menghilangkan imperialisme yang dengan cara itulah perdamaian dunia bisa terwujud. Tersebab imperialisme adalah bagian yang tidak terpisahkan dari ideologi kapitalisme, maka menghancurkan imperialisme hanya bisa dilakukan dengan menghancurkan kapitalisme.
Dalam hal ini, Islam adalah satu satunya solusi untuk menghapuskan imperialisme dan menghancurkan kapitalisme. Akan tetapi, solusi ini tidak mungkin dapat diterapkan secara praktis, kecuali dengan adanya Daulah Islam yang kuat di panggung internasional. Daulah Islam akan membangun opini yang benar tentang buruknya imperialisme sehingga semua bangsa akan menolak dan menentangnya. Imperialisme yang telah mencengkeram dunia selama berabad-abad itu haruslah dibatasi. Harus p**a diwujudkan sebuah negara yang mampu membatasinya, yaitu Khilafah Islamiah. (Mafahim Siyasiyah li Hizbi at-Tahrir).
--
Khilafah Mewujudkan Perdamaian Dunia
--
Khilafah mampu mewujudkan perdamaian dunia melalui kebijakan politik luar negerinya. Dakwah Islam menjadi asas Khilafah dalam membangun hubungannya dengan negara lainnya. Prinsip ini didasarkan pada firman Allah Swt., “Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan kepada seluruh umat manusia, sebagai pembawa berita dan pemberi peringatan.” (QS Saba’ [34]: 28).
Inilah yang menunjukkan bahwa politik luar negeri Khilafah adalah mengemban dakwah Islam sehingga Islam tersebar luas ke seluruh dunia. Dengan prinsip inilah Khilafah melakukan penaklukan (fatah) untuk menyebarkan rahmat, bukan untuk menjajah dan menindas. Kita bisa melihatnya dalam catatan sejarah, betapa penaklukan Islam membawa kemakmuran dan kesejahteraan di wilayah-wilayah yang ditaklukkannya. Penerapan aturan Islam pada masyarakat yang ditaklukkan membuat mereka tidak pernah merasa berbeda dengan yang menaklukkan mereka.
Khilafah juga menjamin kebutuhan pokok individu, seperti sandang, pangan, dan papan; juga kebutuhan pokok kolektif, seperti pendidikan, kesehatan, dan keamanan. Semua sama bagi seluruh warganya, tanpa melihat ia muslim maupun nonmuslim.
Di antara pengakuan keadilan dan kesejahteraan yang nonmuslim rasakan di bawah naungan Khilafah ialah surat yang dikirim oleh kaum Nasrani di Syam kepada sahabat Abu ‘Ubaidah bin Jarrah ra. pada 13 H, “Wahai kaum muslim, kalian lebih kami cintai daripada bangsa Romawi meskipun mereka seagama dengan kami. Kalian lebih menepati janji, lebih berbelas kasih terhadap kami, lebih bersikap adil terhadap kami, dan lebih baik dalam memerintah kami.” (Al-Baladzuri, Futuh al-Buldan, hlm 139).
Ketika Khilafah berhasil menjadi sebuah negara adidaya, Khilafah tidak melakukan hegemoni buruk dan tindakan unilateral yang merugikan. Khilafah justru menjadi tempat bernaungnya negara-negara yang lemah dan dizalimi negara musuhnya.
Misalnya, saat di Amerika berkecamuk perang antara Pemerintah Federal Amerika (yang baru berdiri) dan Inggris pada abad ke-18, Khilafah memberikan bantuan pangan terhadap rakyat AS yang dilanda kelaparan pascaperang. Surat ucapan terima kasih resmi Pemerintah AS kala itu tersimpan rapi di Museum Aya Sofia Turki. Tidak hanya itu, masih banyak catatan sejarah lainnya yang menjadi bukti betapa Khilafah berupaya mewujudkan perdamaian dunia selama berabad abad lamanya.
Dengan demikian, menjadi jelas bahwa tawaran perdamaian dunia dengan menjadikan agama sebagai juru damai, bukanlah solusi. Perdamaian dunia hanya akan terwujud ketika biang penderitaan umat manusia, yaitu imperialisme dengan induknya (kapitalisme), dihancurkan. Kemudian, hukum-hukum Islam diterapkan secara sempurna oleh Khilafah dan Islam disebarkan ke seluruh pelosok dunia sebagai rahmatan lil’ alamin, rahmat bagi seluruh alam.
Tinggal satu hal yang juga harus dijawab, pemosisian “agama sebagai juru damai” sendiri bukanlah narasi baru. Beberapa tahun terakhir, narasi itu sudah mencuat seiring masifnya arus program moderasi beragama oleh pemerintah. Pertanyaannya, mengapa agama terus-menerus dinarasikan sebagai juru damai dan bagaimana seharusnya kita menyikapi narasi ini?
--
Di Balik Narasi “Agama sebagai Juru Damai”
--
Jika kita telaah lebih dalam, kita bisa mendapati bahwa narasi “agama sebagai juru damai” sengaja dibangun setidaknya untuk beberapa hal. Pertama, hendak mereduksi fungsi Islam sebagai ideologi dan menghilangkan gambaran penerapan Islam secara kafah. Peran Islam dengan seluruh ajarannya yang mampu menjadi solusi tuntas terhadap berbagai macam problem umat manusia, hendak dikerdilkan sebatas “juru damai” yang bertugas mendamaikan pihak-pihak yang bersengketa.
Kedua, narasi ini sesungguhnya dibuat untuk mengacak-acak syariat Islam yang dianggap tidak searah dan sejalan dengan konsep mereka (Barat dan sekularis liberalis, ed.). Ajaran Islam tentang jihad, misalnya, dianggap menimbulkan konflik dan kekerasan sehingga harus direkonstruksi.
Jihad dengan makna syaraknya, yakni perang untuk meninggikan kalimat Allah, harus dialihkan sebatas makna bahasa, yakni bersungguh-sungguh. Lantas, dibuatlah narasi bahwa jihad bermakna perang (qital) sudah tidak relevan dengan kondisi sekarang, dan jihad terbesar adalah menahan hawa nafsu. Bahkan, memberi makan orang yang kelaparan dan menyediakan obat untuk orang sakit juga masuk dalam kategori jihad.
Ketiga, narasi ini dibuat untuk menghalangi umat Islam dari solusi sahih terhadap berbagai masalah. Konflik Palestina-Israel, misalnya, seharusnya jalan keluarnya hanyalah satu, yakni perang, jihad fi sabilillah. Jihadlah yang akan mengambil kembali seluruh Tanah Palestina yang hakikatnya adalah milik kaum muslim dan mengusir seluruh bangsa Yahudi Israel dari sana. Namun, umat Islam terus-menerus dicekoki dengan narasi damai untuk Palestina. Para penguasa negeri-negeri muslim pun hanya bisa diam terpaku, mengutuk dan menuntut perdamaian, tanpa bisa berbuat lebih daripada itu.
Keempat, narasi ini juga dibuat agar umat Islam tidak menuntut diterapkannya syariat Islam kafah dalam institusi Khilafah karena akan mengganggu harmonisasi antarpemeluk agama yang berbeda. Jangankan menuntut, baru bersuara sedikit saja tentang Islam kafah atau Khilafah, sudah dicap radikal dan dianggap sebagai ancaman bangsa dan negara.
Terakhir, kelima, narasi ini sengaja dibangun agar umat Islam meng-uninstall Islam ideologis yang ada dalam benak mereka, kemudian menginstal Islam yang ramah dan damai, tidak lain adalah Islam moderat, Islam yang berkompromi dengan semua pemikiran, ide, dan konsep kufur produk Barat.
Jelaslah, siapa sebenarnya yang berada di balik pengarusan narasi ini, tidak lain adalah desain global negara-negara kafir Barat yang hendak menjauhkan umat dari Islam ideologis, yakni untuk melemahkan umat dan mencegah kebangkitan Islam, mencegah tegaknya Khilafah.
Walhasil, bagaimana seharusnya kita menyikapi hal ini? Narasi ini tentu harus dijawab dengan mendakwahkan Islam sahih ke tengah masyarakat, apa pun risikonya karena itulah yang diperintahkan Allah Swt. (lihat QS Ali Imran: 104). Itulah yang akan mengantarkan umat ini sebagaimana yang ditetapkan Allah padanya, yakni menjadi khairu ummah, umat terbaik (lihat QS Ali Imran: 110). Wallahualam bissawab. [MNews/GZ]
———
[1] https://kemenag.go.id/internasional/kolokium-internasional-fakultas-ushuluddin-uin-jakarta-dorong-penguatan-peran-juru-damai-agama-dh5cp