Kamila hijab

Kamila hijab menyediakan kebutuhan busana muslim dan muslimah Kamila Hijab Produsen Busana Muslimah yang mengedepankan Konsep Syar'i.

rindu itu ada, tapi biarlah saatnya nanti untuk berjumpa. jelajahi luasnya bumi Allah sampai dirimu yakin ilmu itu sudah...
19/12/2022

rindu itu ada, tapi biarlah saatnya nanti untuk berjumpa. jelajahi luasnya bumi Allah sampai dirimu yakin ilmu itu sudah terkristal di dalam dada.

17/12/2022

Untuk para pejuang dakwah Islam, teruslah mengalir dan menari seperti air. Teguhkan hati untuk selalu memberikan pencerahan Islam kepada seluruh manusia. Teruslah mencari celah jalan sekecil apa pun. Rendah hatilah seperti air yang tidak menyakiti bebatuan di sungai.
-

Dakwah dan Filosofi Air


https://muslimahnews.net/2022/10/03/12322/
-

Penulis: Ahmad Sastra

Muslimah News, NAFSIYAH — Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata, “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS Al-Fushilat: 33)

“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (QS Ali Imran: 110)

Dakwah adalah bentuk cinta hakiki para Nabi kepada umatnya agar selamat dunia akhirat. Seluruh Nabi dan Rasul yang diutus Allah Swt. membawa risalah untuk diajarkan dan didakwahkan kepada umatnya. Sementara risalah Islam, yang dibawa oleh Rasulullah ﷺ, diperuntukkan untuk kebaikan seluruh manusia di dunia. Inilah salah satu keistimewaan Rasulullah ﷺ dibandingkan dengan Nabi yang lain.

“Katakanlah (hai orang-orang mukmin), ‘Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Yaqub, dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan kami semua adalah muslim.’” (QS Al-Baqarah: 136)

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS Al-Anbiyaa: 107).

“Dan Kami tidak mengutusmu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya, sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (QS Saba’: 28)

“Katakanlah: ‘Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan yang mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimatNya (kitab-kitabNya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk’.” (QS Al-A’raf: 158)

Dari Jabir bin Abdullah, bahwa Nabi Muhammad ﷺ bersabda, “Aku diberi (oleh Allah) lima perkara, yang itu semua tidak diberikan kepada seorang pun sebelumku. Aku ditolong (oleh Allah) dengan kegentaran (musuh sebelum kedatanganku) sejauh perjalanan sebulan; bumi (tanah) dijadikan untukku sebagai masjid (tempat salat) dan alat bersuci (untuk tayammum—pen). Maka siapa saja dari umatku yang (waktu) salat menemuinya, hendaklah dia salat. Ganimah (harta rampasan perang) dihalalkan untukku dan itu tidaklah halal untuk seorang pun sebelumku. Aku diberi syafaat (oleh Allah). Dan Nabi-Nabi dahulu (sebelumku) diutus khusus kepada kaumnya, sedangkan aku diutus kepada manusia semuanya.” (HR Bukhari, no. 335)

Selain sebagai bentuk kecintaan para Nabi kepada umat manusia seluruhnya, dakwah juga merupakan fardu ain setiap individu muslim untuk memantaskan diri sebagai umat terbaik. Sebagai fardu ain, maka dakwah harus dilakukan oleh setiap individu tanpa bisa diwakilkan oleh siapa pun. Dakwah adalah mengajak manusia agar masuk Islam dan melaksanakan syariah secara kafah. Meski demikian, dakwah hendaknya dilakukan secara berjamaah dan terorganisir, sebab Allah mencintai umatnya yang memiliki saf kuat dalam berjuang.“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS Ali Imran: 104)

“Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang di jalanNya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (QS Shaf: 4)

Itulah mengapa setiap Nabi dan Rasul memiliki tugas utama dari Allah untuk mendakwahkan Islam agar manusia mentauhidkan Allah dan hanya menyambah kepadaNya serta menaati seluruh perintah Allah dan menjauhi seluruh laranganNya. Dakwah adalah ajakan menuju keimanan dan ketakwaan. Itulah juga mengapa dakwah tidak akan berhenti sampai hari kiamat dan juga tidak bisa dihentikan oleh siapa pun, sebab Surat Keputusan Kewajiban Dakwah (SKKD) itu datang langsung dari Allah.

Dakwah itu ibarat air yang akan terus mengalir tanpa bisa dihalangi. Jika air yang mengalir dibendung, maka air itu akan mencari celah-celah terkecil dari bendungan. Jika airnya mengalir terus, maka bendungan itu akan dilampaui oleh aliran air. Jika air itu mengalir sangat deras, maka akan mampu menjebol bendungan itu. Menghalangi dakwah adalah kesia-siaan, jika tidak hendak disebut sebagai kebodohan.

Menghalangi dakwah ibarat hendak mematikan cahaya matahari, hal yang mustahil bukan? Bisa saja manusia-manusia durjana seperti Fir’aun yang menghalangi dakwah Nabi Musa, Namrud yang menghalangi dakwah Nabi Ibrahim atau Abu Jahal yang menghalangi dakwah Nabi Muhammad ﷺ. Namun toh mereka akhirnya binasa, sementara dakwah makin menggelora. Bisa jadi ada manusia yang mencabut bunga-bunga di taman, tetapi tidak ada satu pun manusia yang bisa menghentikan datangnya musim semi.

Nah, jika hari ini masih saja ada orang-orang durjana yang ikut-ikutan mempersoalkan dakwah Islam, bahkan berusaha menghalanginya, maka dia akan dijungkalkan oleh Allah sebagaimana yang terjadi dalam sejarah para Nabi terdahulu. Meskipun sunatullahnya, dakwah memang selalu dihalangi. Di mana ada dakwah, maka di situ ada orang yang menghalanginya. Namun, sejarah membuktikan, dakwah Islam tidak akan pernah kalah.

Untuk para pejuang dakwah Islam, teruslah mengalir dan menari seperti air. Teguhkan hati untuk selalu memberikan pencerahan Islam kepada seluruh manusia. Teruslah mencari celah jalan sekecil apa pun. Manfaatkan setiap detik waktu kita untuk mendakwahkan Islam. Rendah hatilah seperti air yang tidak menyakiti bebatuan di sungai. Lembutkan hati dalam dakwah seperti Musa kepada Firaun atau seperti Rasulullah kepada Abu Thalib. Sebab, memilih jalan dakwah adalah sebuah kemenangan diri, sementara hidayah dan kemenangan Islam adalah hak Allah semata.

“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak akan dapat memberi hidayah (petunjuk) kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi hidayah kepada orang yang Dia kehendaki, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (Al-Qashash: 56)

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan dan kamu Lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima tobat.” (QS An-Nashr: 1—3) [MNews/Nsy]

06/12/2022

Wahai kaum muslimah, adakah air mata kita yang jatuh berurai ketika wahyu Allah dihinakan, dipinggirkan, dan dipandang rendah? Apakah kita benar-benar telah merasakan kepedihan yang mendalam saat wahyu Allah tidak dijadikan sebagai sandaran bagi kehidupan kaum muslim?
-

Taat Tanpa Syarat

https://muslimahnews.net/2022/09/26/12006/
-

Penulis: Ummu Aiman

Muslimah News, NAFSIYAH — Sering terungkap dalam percakapan sesama pengemban dakwah, mengapa sulit sekali memberikan konstribusi lebih dalam amanah dakwah? Padahal dengan dakwah, seluruh perintah Allah Azza wa Jalla akan tegak dengan sempurna, sebagaimana dicontohkan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, para sahabatnya, dan khulafaurasyidin yang mulia.

Jawaban yang sering terdengar adalah: saya sudah tua, saya sakit-sakitan, saya tidak punya ilmu, saya tidak bisa apa-apa, anak saya banyak, banyak pekerjaan rumah, habis waktu karena bekerja, baik untuk menambal ekonomi keluarga maupun untuk aktualisasi diri, dan hal-hal lain.

Mereka akhirnya tampak jauh dari upaya besar untuk berkorban demi menyempurnakan fardu kifayah kaum muslim. Padahal dengan kefarduan inilah ketaatan total kepada Allah Rabbulalamiin dalam seluruh aspek kehidupan dapat segera terealisasi.

-
Belajar dari Sosok Sahabiyat
-

Ada sekelumit kisah tentang sahabiyat yang juga pengasuh Rasulullah saw. saat beliau kecil, Ummu Aiman, radhiyallaahu ‘anha,

حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ أَخْبَرَنِي عَمْرُو بْنُ عَاصِمٍ الْكِلَابِيُّ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ الْمُغِيرَةِ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بَعْدَ وَفَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِعُمَرَ انْطَلِقْ بِنَا إِلَى أُمِّ أَيْمَنَ نَزُورُهَا كَمَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزُورُهَا فَلَمَّا انْتَهَيْنَا إِلَيْهَا بَكَتْ فَقَالَا لَهَا مَا يُبْكِيكِ مَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ لِرَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ مَا أَبْكِي أَنْ لَا أَكُونَ أَعْلَمُ أَنَّ مَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ لِرَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَكِنْ أَبْكِي أَنَّ الْوَحْيَ قَدْ انْقَطَعَ مِنْ السَّمَاءِ فَهَيَّجَتْهُمَا عَلَى الْبُكَاءِ فَجَعَلَا يَبْكِيَانِ مَعَهَا

Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb, telah mengabarkan kepadaku ‘Amru bin ‘Ashim Al Kilabi, telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Al Mughirah dari Tsabit dari Anas dia berkata, “Tidak lama setelah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam wafat, Abu Bakar berkata kepada Umar, ‘Ikutlah dengan kami menuju ke rumah Ummu Aiman untuk mengunjunginya sebagaimana Rasulullah sallallahu alaihi wasallam selalu mengunjunginya.‘ Dan ketika kami telah sampai di tempatnya, Ummu Aiman pun menangis. Lalu mereka berdua berkata kepadanya, ‘Kenapa kau menangisi beliau, bukankah apa yang ada di sisi Allah itu lebih baik bagi Rasul–Nya sallallahu alaihi wasallam?‘ Ia menjawab, ‘Bukanlah aku menangisi beliau, karena aku tahu bahwa apa yang ada di sisi Allah itu lebih baik bagi Rasul–Nya, tetapi aku menangis karena dengan wafatnya beliau berarti wahyu dari langit telah terputus.‘ Ummu Aiman pun membuat mereka berdua bersedih dan akhirnya mereka berdua pun menangis bersamanya.” (HR Muslim no 4492)

Sungguh riwayat ini memberi kita pelajaran tentang kualitas keimanan seorang Ummu Aiman ra., sang pengasuh yang begitu mencintai baginda Rasulullah saw.. Saat sosok yang mulia ini wafat, yang ia tangisi adalah wahyu yang tidak akan turun lagi dari langit.

Lalu bagaimanakah dengan kita? Adakah kepedulian yang sama terhadap wahyu Allah yang sudah turun dengan sempurna? Adakah air mata yang jatuh berurai ketika wahyu Allah dihinakan, dipinggirkan, dan dipandang rendah?

Apakah kita benar-benar telah merasakan kepedihan yang mendalam saat wahyu Allah tidak dijadikan sebagai sandaran bagi sendi-sendi kehidupan kaum muslim? Sekeras apakah hati kita ketika kita tidak bisa merasakan apa yang dirasakan ummu Aiman radhiyyallahu anha yang menangis karena wahyu Rabbnya benar-benar terputus?

-
Nyawa Pun Siap Dikorbankan
-

Keistimewaan Ummu Aiman tidak hanya itu. Pada Perang Uhud, Ummu Aiman berangkat bersama para wanita. Peran yang ia utamakan adalah mengobati orang-orang yang terluka dan memperhatikan mereka, serta memberi minum para mujahidin yang kehausan.

Beliau berkeliling membawa air, dan memberi minum kepada orang-orang yang terluka, kehausan, dan kepayahan.

Ummu Aiman pun memercikkan tanah ke wajah para prajurit yang desersi dari medan Uhud. Beliau melemparkan alat tenun kepada salah seorang prajurit itu lalu mengatakan, “Berikan pedangmu (kepadaku) dan ini (ambillah) alat tenunku untukmu!”

Pada Perang Khaibar, Ummu Aiman bersama dua puluh orang wanita berangkat menuju medan perang bersama Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam dan pas**an kaum muslim. Adapun anaknya, Aiman, tidak ikut dalam perang ini karena kudanya sakit. Meski memiliki alasan, ibunya menyifatinya sebagai pengecut.

Pada Perang Mu’tah, suaminya (Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu) wafat sebagai syuhada. Ummu Aiman menerima berita tersebut dengan sabar dan mengharap pahala dari Allah. Pada perang Hunain, anaknya (Aiman) juga mati sebagai syuhada. Kembali beliau bersabar dan mengharap pahala dari Allah dengan kematian anaknya. Beliau hanya mengharapkan keridaan Allah dan keridaan Rasul-Nya sallallahu alaihi wasallam.

-
Tidak Mundur Saat Menghadapi Ujian
-

Ummu Aiman termasuk golongan pertama orang yang masuk Islam. Ia bernasib seperti sahabat yang lainnya yang memeluk Islam yaitu mendapatkan siksaan serta hinaan dari kaum kafir Quraisy.

Ketika kaum musyrikin semakin keras dalam menyiksa dirinya beserta orang-orang yang masuk Islam bersamanya, Rasulullah saw. mengizinkan mereka untuk hijrah ke negeri Habasyah. Dengan demikian, Ummu Aiman merupakan salah seorang wanita yang hijrah untuk menyelamatkan agamanya dari kezaliman dan penyiksaan kaum musyrikin.

Ketika kembali ke Makkah al-Mukarramah, Ummu Aiman tidak lagi menghiraukan dirinya dan bersabar dalam menghadapi cacian, ancaman, dan penyiksaan. Pada akhirnya, datanglah pertolongan dari Allah Swt.. Ummu Aiman hijrah ke Madinah al-Munawwarah bersama orang-orang yang hijrah bersama Nabi Muhammad saw..

Pada saat hijrah ke Madinah al-Munawwarah itu, Ummu Aiman berpuasa, bangun malam, dan hijrah dengan berjalan kaki. Ia tidak memiliki sedikit pun bekal ataupun minuman hingga acapkali tersiksa oleh kehausan karena panas yang begitu menyengat di tengah sahara.

Ketika matahari tenggelam dan waktu berbuka tiba, Allah Swt. menurunkan karamah yang besar kepadanya dan tidak bisa terlihat oleh seorang pun yang berjalan bersamanya. Ketika itu Allah menurunkan sebuah ember dari langit berisi air yang diselimuti oleh cahaya putih. Ummu Aiman segera mengambil ember itu dan meminum isinya hingga kenyang.

Ummu Aiman berkata, “Sesudah itu, aku tidak pernah lagi merasa haus. Aku biasa berpuasa di bawah terik matahari dan tidak merasa haus.” (Bassam Muhammad Hamami, Biografi 39 Tokoh Wanita Pengukir Sejarah Islam).

-
Taat Tanpa Syarat
-

Ummu Aiman radhiyyallahu anha telah memberi teladan yang luar biasa dalam menjalani ketaatan total kepada Allah Swt.. Tidak ada syarat apa pun yang diajukan dalam perjuangan ketaatan ini.

Tanpa harta, beliau berhijrah. Ketika usia tua, beliau tetap aktif berkontribusi dalam medan perjuangan dakwah.

Beliau menjadi istri yang luar biasa, merelakan suami tercinta syahid di perang Mu’tah. Juga menjadi Ibu yang hebat karena memiliki anak yang siap berjuang membela Islam.

Aiman putra tercinta syahid pada perang Hunain, sementara Usamah putra tercinta menjadi pemimpin termuda bagi pas**an yang menghadapi pas**an kuat romawi dan berhasil mengalahkannya hanya dalam waktu 40 hari (termasuk pembagian ganimah). Bahkan pengiriman pas**an ini memberi dampak besar terhadap kukuhnya Daulah Islamiah di Madinah, setelah wafatnya Rasulullah sallalahu alaihi wasallam.

Sungguh, Ummu Aiman radhiyyallahu anha telah membuktikan bahwa ketaatan total kepada Allah tidak membutuhkan syarat apa pun. Oleh karena itu, taatlah, bekerjalah, dan berikanlah sebanyak mungkin konstribusi untuk kemenangan dakwah Islam. Karena ketaatan kepada Allah sejatinya akan memberikan jawaban bagi setiap persoalan hidup yang selalu dijadikan syarat (baca: penghalang) untuk berpartisipasi lebih dalam dakwah li i’laa-i kalimatillah.

-
Tangisan Yang Mulia
-

Ketika Khalifah Umar bin Khaththab radhiyyallahu anhu wafat setelah peristiwa penus**an kepada beliau oleh Abu Lu’lu’ah, Ummu Aiman radhiyyallahu anha menangisi kematiannya sambil berkata, “Hari ini Islam melemah (dengan terpecahnya pintu fitnah).”

Wanita agung lagi mulia ini menangis karena kekuatan kaum muslim mulai terpecah-belah seiring syahidnya Khalifah Umar bin Khaththab radhiyyallahu ‘anhu. Sungguh tangisan yang sangat berarti, tangisan dari hati yang terbakar karena panji Islam melemah.

Wahai Ummu Aiman, wahai ibunda Usamah bin Zaid pemimpin perang termuda pilihan Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, wahai istri dari Zaid bin Haritsah pemilik singgasana emas di surga-Nya, sungguh tetesan air matamu sangat mulia.

Bagaimanakah perasaan Anda saat melihat keadaan umat saat ini, ketika panji Islam melemah, bahkan tercabik-cabik? Bagaimana p**a seandainya Anda melihat kami para muslimah pengemban dakwah, masih banyak mengeluh, masih banyak memberi alasan, masih terjerat rantai kemalasan dan hawa nafsu duniawi?

Yang paling menyedihkan, kami sering tidak mampu menangis, padahal rintihan kaum muslim terdengar jelas. Bahkan kami tidak mampu meneteskan airmata, meski kaum kafir terus merusak agama-Nya di depan kami. Wahai kaum muslimah, bagaimanakah keadaan tangisan kita ini? [MNews/Rgl]

“Nikah itu sunnahku, barangsiapa yang tidak s**a, bukan golonganku ”(HR. Ibnu Majah)
10/01/2017

“Nikah itu sunnahku, barangsiapa yang tidak s**a, bukan golonganku ”(HR. Ibnu Majah)

Alkisah di sebuah padang pasir yang tandus terdapat sekelompok perampok yang sedang di kejar-kejar oleh tentara dari seb...
08/01/2017

Alkisah di sebuah padang pasir yang tandus terdapat sekelompok perampok yang sedang di kejar-kejar oleh tentara dari sebuah negeri muslim.

karena di kejar-kejar terus sepanjang hari ,mereka benar-benar mengalami kelelahan yang teramat sangat,bukan hanya itu mereka juga di landa rasa lapar dan juga haus yang begitu terasa di tenggorokan dan perut mereka.

Hingga suatu ketika, mereka menemukan sebuah rumah tua yang terletak di balik sebuah tebing batu raksasa, melihat ada sebuah tempat untuk bersembunyi, mereka bergegas untuk bergerak menuju rumah tersebut.

Sesampainya di sana mereka kemudian mengetuk pintu rumah, untuk mengecek apakah rumah itu berpenghuni atau tidak, akan tetapi ketika mereka sedang mengetuk pintu rumah, mereka mendengar sayup-sayup derap kuda yang berasal dari kejauhan sedang berjalan menuju tempat mereka. Dan ketika pintu rumah di buka, terlihatlah seorang anak perempuan yang masih sangat belia, ia kemudia bertanya pada kawananan rampok itu :

“Maaf tuan,siapa kalian?”tanya si anak perempuan
Ketua rampok kemudian mendekati si anak perempuan tersebut,dan menjawab :

“wahai anaku, kami adalah sekelompok mujahidin yang sedang bertempur di jalan allah, akan tetapi kami sedang mengalami kekalahan telak dari musuh, dan mereka pun terus mengejar-ngejar kami sepanjang hari, maka izinkanlah kami untuk berlindung di rumahmu” ucap nya berbohong.

“baiklah, silahkan masuk, berlindunglah di rumahku semoga Allah menolong kalian” jawab si anak perempuan sembari mempersilakan seluruh kawanan rampok itu masuk rumahnya.

Tak berselang lama, sesaat setelah kawanan rampok itu masuk kedalam rumah, para tentara telah sampai di depan rumah si anak perempuan. Salah satu komandan mereka turun dari kudanya dan mengetuk pintu, sang komandan segera bertanya setelah si anak peremuan itu telah keluar dari rumahnya..

“wahai anaku, apakah engkau melihat orang-orang yang mengendarai kuda yang lewat daerah sekitar sini?” tanya sang komandan

Si anak perempuan ini kemudian menjawab pertanyaan sang komandan dengan jawaban yang tidak perlu jujur tapi juga tidak perlu berbohong.

“semenjak aku berdiri di sini, aku tidak melihat ada sekolompok orang berkuda kecuali engkau dan orang-orang mu tuan.” Jawab sang anak sambil menunjuk tempatnya berdiri.

Mendengar hal itu akhirnya sang komandan dan juga tentaranya segera pergi meninggalkan rumah si anak tadi, tanpa mengetahui bahwa di dalam rumah itu terdapat kawanan rampok yang di carinya.

Singkat cerita, selama kawanan rampok itu berlindung di rumah si anak perempuan,mereka selalu di suguhi dengan aneka makanan dan juga minuman,yang membebaskan mereka dari rasa haus dan lapar,akan tetapi rupanya si anak perempuan ini tidak tinggal sendirian, ia juga tinggal bersama ibunya yang telah tua dan sakit-sakitan, dan ia selalu melewati hari-harinya dengan merawat ibunya.

Setelah mereka berlindung beberapa hari dan merasa sudah merasa aman akhirnya sang ketua kawanan rampok, ingin pergi meninggalkan rumah tersebut dengan kelompoknya, karena merasa berutang budi, ia ingin memberi beberapa uang emas miliknya kepada si anak perempuan.

“terimalah uang emas ini,sebagai bentuk balas budi kami pada mu” ucap sang pemimipin

Akan tetapi si anak perempuan ini justru menggelengkan kepala, dan berkata :

“Demi Allah,aku tidak akan meminta imbalan kepada seorang mujahid!”ucap si anak

“tapi aku memberikan ini karena engkau dalam keadaan kekurangan,tapi tidak pernah engkau memberikan suatu kekurangan apapun kepada kami, maka ambilah uang emas ini untukmu!” sang pemimpin rampok kembali membalas.

“maaf tuan, bila engkau memaksa agar aku menerima imbalan, maka bayarlah kami dengan doa, doakan agar ibuku segera sembuh dan allah memberkahi hidupku dan ibuku,karena ku yakin doa para mujahid akan selalu di kabulkan oleh Allah” ucap sang anak dengan tersenyum.

Mendengar kuatnya pendirian sang anak,pimpinan rampok itu akhirnya mengajak seluruh anggotanya untuk berdoa bersama, dan setelah berdoa mereka pun berlalu,tanpa memberi tahu si anak perempuan tentang siapa jati diri asli mereka
Minggu demi minggu telah berlalu, bulan demi bulan telah terlewat, para kawanan rampok ini masih beraksi seperti biasanya, menghadang dan merampas para pedagang padang pasir yang malang, hingga suatu ketika mereka melewati daerah dengan tebing raksasa,mereka teringat di balik tebing itu ada sebuah rumah tua yang pernah mereka singgahi, akhirnya mereka memutuskan untuk mengunjungi tempat dimana si anak perempuan itu tinggal.

Akan tetapi sesampainya di sana alangkah terkejutnya mereka, karena rumah tua yang dulu berada di sana,kini telah berubah menjadi sebuah rumah yang megah,bahkan banyak sekali rumah-rumah lain yang berdiri di sekitarnya,setelah mereka sampai di rumah si anak perempuan , mereka di sambut dengan s**a cita oleh si anak perempuan pemilik rumah,termasuk juga dengan sang ibu yang terlihat begitu sehat dan bugar.

Setelah berbincang-bincang ,karena rasa penasaran sang pemimpin perampok itu bertanya :

“bagaimana kabarmu? bagaimana engkau mendapatkan semua ini?”tanya sang pemimnpin.

“Alhamdullilah tuan,atas izin Allah tak lama berselang setelah tuan berlalu, Allah mengabulkan doa tuan,ibu saya langsung merasa sehat, dan tak Cuma itu saja,hingga hari ini kami tidak pernah sakit, dan Allah juga mendatangkan seorang Saudagar sholeh untuk diriku,hingga aku tidak pernah merasa kekurang lagi, ini semua adalah berkat doa tuan, dan seluruh mujahid yang tuan bawa.. “ ucap si anak

Mendengar hal itu, seluruh kawanan perampok itu terkejut dan saling berpandangan mata, begitu p**a dengan sang pemimpin,dan saat itulah langsung si pemimpin perampok berkata kepada si anak:

“Ketahuilah nak, kami sesungguhnya bukanlah mujahidin,tapi kami hanyalah kawanan rampok yang hina, akan tetapi dengan nama kebesaran Rabb ku yang Maha Mulia, diriNya mau mengabulkan doa dari kami yang hina dina ini... maka ketahuilah bahwa mulai sekarang aku bertaubat kepada Allah dengan sebenar-benarnya taubat” ucap si kepala perampok

Setelah sang pemimpin menyatakan bertaubat, seluruh anak buahnyapun turut mengikutinya, dan akhirnya mereka semuanya meninggalkan masa lalunya menjadi orang yang selalu taat kepada Allah, karena peristiwa Doa yang di kabulkan itu..

“Jangan pernah meremehkan Doa seseorang, bila ia Ikhlas dalam berdoa, tak peduli siapapun dirinya,seberapa tinggikah derajatnya,seburuk apapun kisah masa lalunya, bukan hal yang mustahil untuk terkabul bila Allah Ridho terhadap doanya”

Persiapkanlah.. karena sesungguhnya Akhirat itu adalah negeri yang abadi.. :)
07/01/2017

Persiapkanlah.. karena sesungguhnya Akhirat itu adalah negeri yang abadi.. :)

Ukhti pernah dengar nama Imam Hanafi atau yang biasa di sebut juga dengan Imam Abu Hanifah? Atau atau bukan hanya dengar...
06/01/2017

Ukhti pernah dengar nama Imam Hanafi atau yang biasa di sebut juga dengan Imam Abu Hanifah? Atau atau bukan hanya dengar tapi juga pernah membaca tentang kisah-kisah hidupnya? Atau bukan hanya mengenal dan membacanya tapi Ukhti juga ngefens banget sama dirinya?

Alhamdulilah kalau begitu, soalnya hari ini banyak orang yang salah dalam memilih Idola, jadi kalau Ukhti ngefens banget sama Imam Hanafi berarti Ukhti termasuk Akhwat langka nih hihihi, dan oleh karena itu patutlah kita bersyukur karena di beri petunjuk Idola yang baik oleh Allah SWT. ^_^

Ngomong-ngomong tentang Imam Hanafi nih,Beliau adalah salah satu di antara Imam besar yang pernah di miliki oleh kaum muslimin, banyak di antara kisah hidupnya, nasihat-nasihatnya, dan juga Ilmu yang beliau sampaikan begitu bermanfaaat bagi kebesaran dunia Islam, murid beliau jumlahnya begitu banyak di zamannya, belum lagi dengan jumlah murid yang belajar dari nasihat-nasihat dan ilmu belia,u yang di tuliskan oleh murid-muridny hingg saat ini.

Akan tetapi sekalipun ia hidup dengan kebesaran nama yang di milikinya,karena memiliki ilmu yang begitu luas, dan juga murid-murid yang begitu banyak yang datang dari seluruh penjuru dunia, beliau selalu bersikap rendah hati, hal ini sangat berbeda seratus delapan puluh derajat dari kebanyakan orang besar-orang besar yang hidup di zaman sekarang, biasanya mereka justru bersikap sombong dan tinggi hati ketika dirinya merasa kedudukannya berada di atas orang lain.

Nah ada salah satu kisah unik, yaitu ketika seorang Imam besar sekaliber Imam Hanafi mau mengambil pelajaran dari mana saja, tak terkecuali dari seorang anak kecil,Kok bisa ya? sudah tahu ceritanya? Atau Ukhtiti belum tahu? Penasaran kan? Ya sudah mari kita lanjutkan ceritanya.. ^_^

Suatu hari Imam Hanafi sedang jalan-jalan, saat itu ia melihat ada seorang Anak kecil yang berlari-lari dengan sandal kayu yang kebesaran,nah melihat hal itu, Imam yang begitu penyayang dan berhati lembut ini berkata kepada sang anak..

“nak bila engkau tidak berhati-hati ,engkau bisa terjatuh karena kebesaran sandalmu itu” ucap sang Imam kepada si anak.

Mendengar hal itu si anak menoleh pada Imam Hanafi dan bertanya:

“Tuan, siapakah namamu?”tanya sang anak

“Nu`man” jawab Imam Hanafi

“Oh, Jadi Tuan adalah orang yang selama ini di kenal dengan nama Al-A`dham (Imam yang besar) itu?”si anak kembali bertanya

“maaf nak, bukan aku yang memberi gelar itu,tetapi masyarakatlah yang berprangsaka baik dan memberi gelar itu padaku” ucap Imam Hanafi

mengetahui siapa yang sedang di hadapannya si anak ini justru kembali berkata dengan kata-kata yang selalu di ingat Imam Hanafi sepanjang hayatnya.

“Wahai Imam, dengan kebesaran ukuran sandalku, bila aku tidak berhati-hati aku hanya akan terjatuh dan membuat lututku terluka,tapi dengan kebesaran namamu, bila engkau tidak berhati-hati,akan membuatmu terjatuh dan membuatmu terperosok kedalam neraka” ucap sang anak.

Mendengar ucapan si anak, sang imam langsung jatuh tersungkur sambil menangis beliau merasa begitu bersyukur ada seseorang yang mengingatkannya, bahkan peringatan itu datang dari arah yang tidak di sangka-sangka, yaitu dari seorang anak kecil yang polos.

Banyak hikmah yang bisa kita ambil dari kisah ini Ukhti, dimana seorang Ulama besar yang bernama Imam Hanafi atau Imam abu hanifah mengajari kita untuk selalu berlapang dada menerima kritik dan nasihat dari mana saja,dan dari siapa saja,tak peduli siapa yang berkata..

Ada sebuah pepatah arab yang berkata :

“Undzur maa Qolla,Wa Laa tandzur Man Qolla”

Artinya : “Lihatlah apa yang di katakan,jangan melihat siapa yang mengatakan”

Bila seorang Imam Hanafi yang memiliki kedudukan begitu tinggi dengan nama yang begitu besar saja,mau merendah hati dan menerima nasihat dari mana saja, mengapa kita tidak? ^_^

wallahu'alam bissawab..

Alkisah hiduplah seorang Insiyur bangunan yang telah lanjut usia di sebuah perusahaan ternama, ia telah begitu lama pulu...
05/01/2017

Alkisah hiduplah seorang Insiyur bangunan yang telah lanjut usia di sebuah perusahaan ternama, ia telah begitu lama puluhan tahun mengabdi menjadi Insinyur di perusahaan itu,bahkan hingga majikannya telah tiada dan di ganti oleh putri tunggalnya.

karena pekerjaannya yang amanah,tepat waktu dan selalu memberikan hasil yang sangat bagus, pak Jundi menjadi orang kepercayaan dan begitu dekat dengan keluarga sang majikan.

Hingga suatu ketika, perusahaan yang menjadi tempatnya mencari nafkah, mengalami masa-masa yang susah sangat susah, banyak perumahan yang didirikan tidak laku di pasaran,banyak pesanan-pesanan rumah yang di batalkan, dan hal ini hampir-hampir membuat perusahaan ini benar-benar nyaris bangkrut.

Di saat orang-orang mulai meninggalkan putri majikannya dalam masa-masa susah, Pak tua ini justru berusaha dengan gigih dan pantang menyerah untuk menyelamatkan perusahaan sang majikan dari kebangkrutan, siang malam ia kerahkan seluruh waktunya,hari-hari ia gunakan untuk memikirkan cara untuk memecahkan masalahnya,dan minggu demi minggu ia manfaatkan untuk mendesain bangunan-bangunan terbaik dengan ketajaman berfikirnya,hal itu ia lakukan dengan Ikhlas, agar ada orang lain yang mau membeli,dan menolong perusahaan sang majikan dari kejatuhan.

Hingga kemudian tahun-tahun suram itupun telah berlalu berkat kegigihannya dan kerja kerasnya, perusahaannya terselamatkan dari kehancuran, bahkan bukan hanya itu, ia membuat perusahaan itu makin membesar berkali-kali lipat dari sebelumnya.

Dan saat itulah karena ia merasa tidak ada yang perlu di khawatirkan lagi, ia pergi menemui sang majikan dan berniat untuk pensiun karena usianya yang telah uzur.

“Bu saya, saya telah lama bekerja di sini.. hari ini saya bukanlah diri saya ketika pertama kali datang ke sini, usia saya telah memasuki usia senja, saya ingin pensiun bekerja.. “ ucap pak Tua

“Baiklah pak, anda boleh pensiun.. tapi saya punya satu syarat, tolong bangunkan sebuah rumah yang paling megah, dengan material bangunan yang paling bagus, di atas bukit yang paling baik” ucap sang majikan

“Tapi bu.. “ belum sempat pak Jundi melanjutkan kata-katanya, sang majikan sudah langsung menyela

“Maaf pak.. saya bener-bener ingin bapak bangunkan sebuah rumah untuk terahir kalinya dan tidak boleh ada alasan apapun untuk menolaknya! ” ucap sang majikan
Merasa dirinya tidak di hargai karena keinginannya untuk pensiun di halang-halangi akhirnya pak tua itu mengiyakan, akan tetapi...

Ia rancang rumah itu dengan asal-asalan,ia pilihkan bahan-bahan material dari bahan yang paling buruk, bahkan ia bangun rumah itu di sebuah bukit yang sangat rawan longsor,bangunan itu sendiri benar-benar rapuh dan tidak akan sanggup berdiri lebih dari satu tahun lamanya.

Setelah rumah itu selesai di bangun sang majikan mendatangi bangunan tersebut bersama sang insinyur, dalam hati pak Tua itu berkata :

“inilah balasan atas keserakahanmu” ucapnya dalam hati.

Selesai melihat-lihat sebentar, sang majikan berkata kepada Insinyur kesayangannya

“pak maaf saya tidak bisa memberi yang lebih baik lagi dari ini,terima kasih telah sekian lama bekerja untuk perusahaan ayahku,pengorbananmu selama ini benar-benar besar, rumah yang engkau bangun untuk terahir kalinya ini sebenarnya adalah untuk mu, sebagai bentuk rasa terima kasihku kepadamu.. “ ucap sang majikan sambil memandang wajah Insinyurnya yang telah menua.

Seperti laksana tersambar petir di siang bolong, pak tua itu tidak percaya dengan apa yang di dengarnya,ia tidak sanggup berkata apa-apa lagi, ia tidak bisa memberitahukan betapa buruknya bangunan rumah yang ciptakan, hanya rasa bersalah dan penuh penyesalan sajalah yang memenuhi hatinya,karena ketidak Ikhlasan dirinyalah yang menjadi bumerang bagi dirinya sendiri.
kerja kerasnya selama puluhan tahun,berbalas sebuah rumah rapuh akibat perbuatannya sendiri.

Ukhti..

Bersikaplah Ikhlas dimanapu,kapanpun dan kepada siapapun engkau bertemu, karena balasan Allah dari keikhlasan itu akan terasa begitu manis, sedangkan balasan Allah terhadap ketidak Ikhlasan itu akan terasa begitu pahit..

:) 

Address

Dukuh Tlangu Desa Bulan Kecamatan Wonosari
Klaten
57473

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Kamila hijab posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Kamila hijab:

Share