08/11/2021
SEBUAH KISAH YANG MEMBUAT MATA BERKACA-KACA
MBAH JUM..pelosok Yogyakarta..
Begitulah beliau dipanggil.
Aku sempat bertemu dengannya 5 tahun yang lalu, saat berlibur di Bantul, Yogyakarta.
Seorang tuna netra pedagang tempe. Setiap pagi beliau dibonceng cucunya ke pasar untuk berjualan tempe.
Sesampainya dipasar tempe segera digelar. Sambil menunggu pembeli datang, disaat pedagang lain sibuk menghitung uang dan ngerumpi dengan sesama pedagang, mbah Jum selalu bersenandung Sholawat.
Tidak sampai 2 jam dagangan tempe mbah Jum sudah habis ludes.
Mbah Jum selalu pulang paling awal dibanding pedagang lainnya.
Sebelum pulang mbah Jum selalu meminta cucunya menghitung uang hasil dagangannya dulu.
Bila cucunya menyebut angka lebih dari 50 ribu rupiah, mbah Jum selalu minta cucunya mampir ke masjid untuk memasukkan uang lebihnya itu ke kotak amal.
Saat kutanya : “kenapa begitu ?”“
karena kata simbah modal simbah bikin tempe Cuma 20 ribu.
Harusnya simbah paling banyak dapetnya yaa 50 ribu.
Kalau sampai lebih berarti itu punyanya gusti Allah, harus dikembalikan lagi.
“Lho, kalo sampai lebih dari 50 ribu, itukan hak simbah, kan artinya simbah saat itu bawa tempe lebih banyak to ?” Tanyaku lagi“
Nggak mas,,,Simbah itu tiap hari bawa tempenya ga berubah-ubah jumlahnya sama.”Tapi kenapa hasil penjualan simbah bisa berbeda-beda ?” tanyaku lagi“
Begini mas,,
kalau ada yang beli tempe sama simbah, karena simbah tidak bisa melihat, simbah selalu bilang, ambil sendiri kembaliannya.
Tapi mereka para pembeli itu selalu bilang, uangnya pas kok mbah, ga ada kembalian.
Padahal banyak dari mereka yang beli tempe 5 ribu, ngasih uang 20 ribu. Ada yang beli tempe 10 ribu ngasih uang 50 ribu.
Dan mereka semua selalu bilang uangnya pas, ga ada kembalian.
Pernah suatu hari simbah dapat uang 350 ribu
Yaaa 300 ribu nya saya taruh dikotak amal masjid.
Mbah Jum juga bisa membantu pemulihan kesehatan bagi orang dewasa yang mengalami keseleo, memar, patah tulang, dan sejenisnya.
Mbah Jum tidak pernah memberikan tarif untuk jasanya itu,
padahal beliau bersedia diganggu 24 jam bila ada yang butuh pertolongannya.
Bahkan bila ada yang memberikan imbalan untuk jasanya itu, ia selalu masukan lagi 100% ke kotak amal masjid.
Ya ! 100% ! anda kaget ? sama, saya juga kaget.
Ketika aku kembali bertanya : “kenapa harus semuanya dimasukkan ke kotak amal ?”
Mbah Jum memberi penjelasan sambil tersenyum :
Saya itu sebenarnya nggak pinter mijit. Kalau ada yang sembuh karena saya pijit, itu bukan karena saya, tapi karena gusti Allah.
Jadi bayarnya bukan sama saya, tapi sama gusti Allah.
Lagi-lagi aku terdiam.Lurus menatap wajah keriputnya yang bersih.
Itu kata-kata terakhir mbah Jum,sebelum aku pamit pulang.
Kupeluk erat dia, kuamati wajahnya.
Matur nuwun mbah Jum, atas pelajaran sedekah tingkat tinggi yang sudah simbah ajarkan pada saya di pelosok desa Yogyakarta.
Sumber :
https://www.linkedin.com/feed/update/urn:li:activity:6862402101725790208/