30/05/2018
MAHAR NIKAH LORO BLONYO
Sejarah Loro Blonyo
Loro Blonyo, dalam Bahasa Jawa yang berarti,”Loro adalah dua”, dan “Blonyo adalah dirias atau didandani melalui proses pemandian”. Menurut sejarah, Patung atau Boneka Loro Blonyo ini telah ada sejak zaman Kerajaan Mataram yang dipimpin oleh Sultan Agung pada tahun 1476. Menurut kepercayaan masyarakat jawa dulu, Loro Blonyo ini adalah perwujudan dari Dewi Sri dan Dewa Wisnu yang telah lama dipuja oleh masyarakat Jawa dan Bali pada masa pra-Hindu dan pra-Islam.
Seiring berkembangnya waktu, Patung Loro Blonyo ini dimodifikasi supaya terkesan universal dan diterima oleh seluruh masyarakat. Boneka atau Patung Loro Blonyo dibuat menjadi sepasang pengantin. Pada zaman dahulu, Loro Blonyo ini hanya dimiliki oleh orang-orang priyayi saja karena kepemilikan Patung Loro Blonyo ini berkaitan dengan kultur dan budaya masyarakat jawa. Orang-orang priyayi ini meletakkan patung tersebut di sebuah ruangan khusus atau ditaruh di sentong (ruang tengah rumah) yang dianggap merupakan ruangan pribadi suami dan istri.
Makna dan Perkembangan dari Patung Loro Blonyo
Terdapat beberapa makna dan mitos yang ada pada Boneka Loro Blonyo ini. Loro Blonyo bisa diartikan sebagai simbol kemakmuran yang berkesinambungan atau terus menerus. Masyarakat dahulu percaya bahwa meletakkan Loro Blonyo di rumah dapat memberikan pengaruh atau sugesti postif terhadap keluarga mereka. Dewasa ini, Patung Loro Blonyo ternyata tidak hanya dinikmati oleh masyarakat saja namun, juga disukai oleh mancanegara. Banyak turis yang mengkoleksi Patung Loro Blonyo ini. Loro Blonyo kini tidak lagi dianggap hanya sekedar mitos. Beberapa orang yang memiliki Patung Loro Blonyo ini mengaku merasakan sugesti positif terhadap kehidupan rumah tangganya.
Saat ini Loro Blonyo menjadi sebuah barang atau souvenir untuk hiasan rumah. Sebagai souvenir, Loro Blonyo banyak dicari oleh masyarakat karena keindahan dan dipercaya mempunyai kekuatan “magis”. Anda percaya?
Disimpulkan beberapa hal antara lain:
1. Keterkaitan ritual kesuburan dengan dewi Sri dan Sadono sangat dipengaruhi oleh mitologi dan kosmologi Jawa. Keberadaan dewi Sri dan Sadono dalam cara pandang orang Jawa diyakini sebagai konstruksi pemahaman asal-usul manusia yang harus dihormati sebagai leluhur Jawa. Kesuburan merupakan ritual sistem kepercayaan Jawa yang diyakini berasal dari serba pasangan yang kemudian mendatangkan dampak kemakmuran dan kesejahteraan hidup.
2. Expresi loro blonyo merupakan visualisasi mitos dewi Sri dan Sadono. Keberadaannya terbentuk sebagai akibat dari proses kreatif tangan seniman pengrajin sebagai perintah penguasa (Raja) yang kemudian diabsahkan (legitimasi) sebagai simbol yang diyakini masyarakat Jawa. Figure patung tersebut dalam kepercayaan Jawa sebagai kelengkapan ritual yang diletakkan di sentong tengah pada dalem dalam konteks rumah tradisional Joglo milik bangsawan atau priyayi.
3. Makna patung loro blonyo lebih merupakan sebuah pasangan oposisi binair, saling melengkapi satu sama lain atau dwitunggal. Dalam konteks pandangan Jawa patung sepasang yang menggambarkan penganten tersebut sebagai cerminan penyatuan yang mendatangkan kesuburan dan kemakmuran, kesuburan di sini dalam arti reproduksi biologis pada manusia, dan juga kesuburan tanaman. Dengan demikian makna loro blonyo dalam budaya Jawa lebih bersifat simbolik interpretative bagi masyarakat pendukungnya terutama kalangan agraris.
4. Konsep ritual merupakan bentuk penghormatan kepada Yang Widi dengan memberikan sesaji sebagai pengurbanan yang dimaksudkan sebagai bentuk rasa syukur. Mitos Dewi Sri-Sadono yang tercermin dalam simbolisme loro blonyo adalah merupakan salah satu kelengkapan ritual kesuburan di senthong tengah dalam pandangan budaya Jawan yang terkait dengan kosmologi masyarakat pendukungnya.