15/06/2017
“Bunda, kasihan ya anak yang jualan plastik di pasar tadi,” kata Alif setelah p**ang menemani ibunya berbelanja.
Ibunya menoleh menatap anak sulungnya ini, menunggu Alif melanjutkan kalimatnya.
“Bajunya kotor, tidak pakai sepatu, tidak sekolah, harus berjualan bukannya bermain. Kan kasihan? Bunda, bukankah Allah Mahakuasa? Kenapa Allah membuat anak itu miskin?” tanya Alif.
“Alif, Allah menetapkan semuanya tidak dengan sia-sia. Coba bayangkan kalau semua orang kaya dan punya semuanya, apa yang akan terjadi?” ibunya mencoba menjelaskan sambil membuat Alif berpikir.
“Semuanya kaya jadi senang semua, Bunda,” kata Alif.
“Alif, ada orang kaya ada orang miskin di dunia ini supaya kita saling membutuhkan dan saling tolong-menolong. Orang kaya menjadi belajar untuk bersyukur dan menolong orang miskin dengan memberikan hartanya untuk kebaikan. Sementara orang miskin belajar untuk berusaha keluar dari kemiskinan dan juga bersabar dengan cobaan yang dia hadapi,” jawab ibunya.
“Supaya saling membantu ya, Bunda. Kayaknya Alif pernah belajar itu di sekolah. Surat Al-Ma’un ya Bunda?” Alif menanggapi jawaban ibunya.
“Benar Alif, apa perintah Allah di surat Al-Ma’un?” tanya ibunya.
“Tidak menghardik pengemis dan berbuat baik ke anak yatim, iya kan?” jawab Alif.
“Benar, anak Bunda pintar!” balas ibunya sambil mengusap-usap kepala Alif.
----
Perbedaan kaya dan miskin bukanlah bentuk diskriminasi Allah kepada hamba-hamba-Nya. Harta yang orang kaya miliki menjadi ujian baginya agar memperhatikan dan berbagi kepada fakir miskin. Sementara fakir miskin belajar untuk berusaha dengan lebih baik.
Begitu p**a ada orang-orang yang diberi kelebihan kepintaran dan ilmu, keahlian. Semuanya agar kita saling tolong menolong. Sikap saling memberi dan menerima adalah cara manusia untuk bisa mencapai rida Allah.
Manusia diciptakan menjadi makhluk yang memiliki kebebasan memilih dan juga kekuatan untuk membentuk pribadinya sendiri. Jika kita diberi harta, ilmu, kemampuan yang sama persis untuk setiap manusia, kita tidak akan punya rasa saling ingin membantu dan menolong orang lain.
Jika semua orang sama dalam hal rezeki, dimana akan didapatkan kasih sayang dari si kaya kepada si miskin? Kapan nampak amalan menyambung tali silaturahmi dengan harta?
Allah berfirman, “Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat memanfa’atkan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan” (Az-Zukhruf:32).
Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah menafsirkan firman Allah di atas,
“Maksudnya agar sebagian mereka dapat memanfa’atkan sebagian yang lain dalam aktivitas,profesi,dan produksi/karya. Kalau seandainya manusia sama dalam kekayaan dan sebagian mereka tidak membutuhkan sebagian yang lain, tentu akan terhambat berbagai maslahat dan urusan mereka yang bermanfa’at” (Tafsir As-Sa’di, hal. 908).
Namun, Allah adalah Dzat Yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui itu telah membagi-bagi rezeki hamba-hamba-Nya. Sehingga manusia tidak sama dalam masalah rezeki. Ada yang kaya dan ada p**a yang miskin.
Maka Allah memerintahkan orang yang kaya untuk bersyukur dan berinfak dan memerintahkan orang yang miskin untuk bersabar serta mengharapkan kasih sayang dari-Nya.
Namun di balik harta yang Allah berikan kepada kita, Allah selalu menilai masing-masing dari diri kita dari satu hal: ketakwaan kita sebagai hamba-hamba-Nya.
Semoga kita tergolong hamba-hamba-Nya yang bertakwa. Aamiin Ya Rabbal Alamiin.
Mau Beli Produk Afrakids?
KLIK : bit.ly/katalogAfrakids
Mau Daftar sebagai reseller Afrakids ?
KLIK : bit.ly/GabungAfrakids
➡ Invite BBM Otomatis: http://bit.ly/BBMAfrakids
➡ Chat WA Otomatis: http://wa.afra.id/daftarReseller