KIOS Santrinesia

KIOS Santrinesia Komitmen untuk kesatuan nusantara, Santri berdedikasi untuk negeri demi keutuhan NKRI harga mati Media Informasi Warga Nahdliyyin

“Saya masuk Barisan Hizbullah. Jumlah kami ribuan di setiap desa, yang kami punya untuk melawan Belanda hanyalah bambu r...
22/10/2025

“Saya masuk Barisan Hizbullah. Jumlah kami ribuan di setiap desa, yang kami punya untuk melawan Belanda hanyalah bambu runcing.” Kata Toto anak seorang petani. Demikian catatan Van Reybrouck, tanpa bambu tidak ada revolusi di Indonesia. Ia melihat bambu yang tumbuh di desa-desa, tak sekadar alat membunuh, tapi bisa dipakai untuk membuat rumah, mengangkut air dan memasak, alat musik hingga pakaian.

Jika kita mengenal Kiai Subkhi di Jawa Tengah, ada Kiai Manshur di Blitar. Bambu-bambu itu dimandikan di dalam kolam dengan bacaan Dalail Khoirot untuk dibawa ke Surabaya. Dan Mbah Hasyim dengan Reolusi Jihad-nya, para kiai yang lain seperti Mbah Wahab, menunggu “Singa dari Jawa Barat” Kiai Abbas sebelum meletus perang melawan sekutu 10 November.

Inggris, Belanda beserta NICA-nya kelelahan kalah. Ketulusan kiai mencintai tanah airnya telah berhasil memukul mundur sekutu. Pasukan terjun payung yang mengibarkan kembali bendera merah putih biru di Hotel Oranje sia-sia. Pasukan santri bergiliran merobek bagian bendera berwarna biru. Kedaulatan bangsa dalam genggaman.

Dan kini persekutuan tak melulu berbentuk fisik yang menjajah. Ia bisa menyelip dalam balutan transaksi ekonomi, informasi hingga sendi-sendi kehidupan lainnya. Propaganda yang mengkerdilkan dan mendistorsikan kian banyak nilai luhur, termasuk peran pesantren di dalamnya.

Resolusi Jihad yang mengakar pada agama, kecintaan pada tanah air dan dijulangkan batang bambu runcing, kudu tetap ada dalam sanubari untuk melawan persekutuan jahat lainnya yang berjubah penuh pesona, tapi menikam, mendistorsi, dan melucuti kearifan pesantren, santri dan kiai.

15/10/2025

YANG SEDANG VIRAL
AL INTIZAR

Dadi Kiyai abot sanggane
Mulang ngaji rino wengine
Sarung wae dimasalahke
Apik titik jare kemlete

Dadi Santri iku pengabdian
Melu ro'an jare perbudakan
Santri kudu golek keberkahan
Ta'dzim guru iku Kewajiban

BOIKOT TRANS7
14/10/2025

BOIKOT TRANS7


Gus Baha Terbaru Lakukan Hal ini Agar Gaya Hidupmu Berkah Nyaman Dan Tentram🔸🔸FULL video lengkapnya Share sebanyak-banya...
12/12/2024

Gus Baha Terbaru Lakukan Hal ini Agar Gaya Hidupmu Berkah Nyaman Dan Tentram
🔸
🔸
FULL video lengkapnya
Share sebanyak-banyaknya agar menjadi amal jariyah untuk kita ✔️



Gus Baha Terbaru Lakukan Hal ini Agar Gaya Hidupmu Berkah Nyaman Dan Tentram | Gus Baha Terbaru Gus Baha Nikmati Hidupmu Jangan Gelisah, Lakukan Hal ini Agar...

Ayo jaga sholat kita!
11/12/2024

Ayo jaga sholat kita!

inilah pahlawan yang sesungguhnyacoba kalau beliau tidak berucap seperti itumungkin cuma r4tusan rb saja rejeki penjual ...
08/12/2024

inilah pahlawan yang sesungguhnya
coba kalau beliau tidak berucap seperti itu
mungkin cuma r4tusan rb saja rejeki penjual es itu
berkat kata² mutiara beliau
kini penjual esteh dapat motor dari jhon lbf ,dapat h4diah umrah, dapat modal, dan banyak lagi

jadi kalian tau kan siapa pahlawanya
kenapa malah kalian huj*t 😅😅😅

Inilah pahlawan yang sesungguhnyacoba kalau beliau tidak berucap seperti itumungkin cuma r4tusan rb saja rejeki penjual ...
06/12/2024

Inilah pahlawan yang sesungguhnya
coba kalau beliau tidak berucap seperti itu
mungkin cuma r4tusan rb saja rejeki penjual es itu
berkat kata² mutiara beliau
kini penjual esteh dapat motor dari jhon lbf ,dapat h4diah umrah, dapat modal, dan banyak lagi

Allah punya cara tersendiri untuk mengangkat derajat seseorang

Lagi2 Allah mengangkat derajat seseorang dengan cara tersendiri Pak Sun alias Pak dolop alias Pak sunhaji berjualan es t...
04/12/2024

Lagi2 Allah mengangkat derajat seseorang dengan cara tersendiri

Pak Sun alias Pak dolop alias Pak sunhaji berjualan es teh karena mengalami cedera patah tulang tangan saat kerja di pemotongan kayu.

Akhirnya, pak Sun memilih berjualan es untuk menafkahi istri dan dua orang anaknya yang masih SD dan SMP.

Pak Sun dan keluarga tinggal dirumah mertua di Gesari, Banyusari, Grabag, Magelang, Jawa Tengah.

InsyaAllah bentar lagi bapak ini akan ketiban rejeki dari berbagai arah yg tak disangka2 dan diangkatkan derajatnya..aamiin😇

Legenda Gunung Tidar Magelang, Konon Berasal dari Paku yang Dipasang SemarSolo - Di tengah Kota Magelang, terdapat sebua...
04/12/2024

Legenda Gunung Tidar Magelang, Konon Berasal dari Paku yang Dipasang Semar

Solo - Di tengah Kota Magelang, terdapat sebuah bukit yang dikenal sebagai Gunung Tidar. Selain memiliki pemandangan alam yang indah, legenda Gunung Tidar Magelang juga sangat menarik untuk diketahui karena konon berasal dari paku yang dipasang oleh Semar.
Kini, Gunung Tidar sudah dikembangkan menjadi sebuah kebun raya yang terbagi dalam enam zona, yaitu zona penerima, pengelola, wisata budaya, koleksi tematik, taksonomi, dan konservasi in situ. Kebun Raya Gunung Tidar banyak dikunjungi oleh wisatawan dari sekitar Magelang maupun luar kota.

Penasaran dengan legenda Gunung Tidar Magelang, detikers? Mari simak informasi lengkap yang dihimpun dari buku Memahami Islam Jawa oleh M Bambang Pranowo dan artikel ilmiah Profil Wisata Religi Gunung Tidar Sebagai Pakuning Tanah Jawa oleh Cahyani Nurul Huda dkk berikut ini!

Legenda Gunung Tidar Magelang
Gunung Tidar terletak di Kota Magelang, Jawa Tengah. Gunung ini menyimpan berbagai legenda yang kaya akan makna. Konon, legenda Gunung Tidar berawal dari sebuah paku yang dipasang oleh dewa. Legenda ini menggambarkan bagaimana pulau Jawa diciptakan dan ditenangkan oleh kekuatan ilahi.

Dahulu, Pulau Jawa belum berdiri dengan kokoh. Pulau ini terus bergerak seolah-olah terombang-ambing di lautan luas. Para dewa yang melihat keadaan ini merasa khawatir. Salah satu dewa memutuskan untuk turun ke dunia dan menancapkan sebuah paku ke dasar laut. Paku ini menjadi simbol yang mengikat Pulau Jawa agar tidak bergerak lagi. Ketika paku itu dipasang, ia menjelma menjadi Gunung Tidar yang kita kenal sekarang.

Gunung Tidar sering disebut sebagai 'pakuning tanah Jawa' atau 'paku tanah Jawa'. Nama ini mencerminkan peran penting gunung ini dalam stabilitas pulau. Keberadaan Gunung Tidar membuat Pulau Jawa menjadi tenang dan tidak terguncang. Masyarakat Jawa menganggap gunung ini sebagai tempat yang keramat dan suci, yang memiliki makna spiritual yang mendalam.

Selain cerita tentang paku, ada juga legenda lain yang berkaitan dengan Gunung Tidar. Pada masa lalu, daerah Magelang merupakan kerajaan hantu yang diperintah oleh dua raksasa jahat. Kerajaan ini membuat masyarakat ketakutan dan hidup dalam ketidakpastian. Mendengar keadaan ini, Sultan Turki mengutus Syeikh Subakir untuk membantu mengusir kerajaan hantu tersebut.

Syeikh Subakir tiba di Pulau Jawa dengan misi mulia. Ia ingin menyebarkan agama Islam dan membebaskan masyarakat dari kekuasaan raksasa jahat. Dalam perjalanannya, ia bernegosiasi dengan Kyai Semar, penguasa Jawa yang bertapa di Gunung Tidar. Dengan bantuan Kyai Semar, Syeikh Subakir berhasil mengusir jin jahat dari kerajaan tersebut. Setelah perjuangan ini, masyarakat dapat kembali hidup tenang.

Setelah berhasil, Syeikh Subakir membawa 20.000 penduduk untuk menghuni pulau ini. Ia menjanjikan untuk menyebarkan ajaran Islam tanpa memaksa orang-orang untuk meninggalkannya. Sebagai penghargaan atas bantuan Kyai Semar, ia diangkat sebagai Ki Lurah Bodronoyo. Posisi ini membuat Kyai Semar dihormati oleh masyarakat dan dianggap sebagai penjaga spiritual Gunung Tidar.

Hingga kini, Gunung Tidar tetap dianggap suci oleh masyarakat sekitar. Ada beberapa pantangan yang dijunjung tinggi, seperti larangan menanam palawija dan membuat sumur di sekitar gunung. Masyarakat percaya bahwa gunung ini adalah sumber air yang terhubung dengan samudera. Dengan begitu, Gunung Tidar tidak hanya menjadi bentang alam, tetapi juga simbol spiritual yang melambangkan perdamaian dan kepercayaan masyarakat Jawa.

Sejarah Gunung Tidar di Masa Modern
Dikutip dari Buku Manual Mekanisme dan Pelayanan Eduwisata yang diterbitkan Dinas Lingkungan Hidup Pemerintah Kota Magelang, Kebun Raya Gunung Tidar, atau KRGT, memiliki sejarah yang kaya. Nama 'Tidar' berasal dari kata 'mukti kedadar,' yang berarti berhasil ditempa atau diuji. Makna ini menunjukkan bahwa siapa pun yang telah mengunjungi Gunung Tidar dianggap telah berhasil menghadapi ujian. Banyak tokoh besar lahir dari tempat ini, dan selama masa perjuangan, banyak pejuang datang ke Gunung Tidar.

Awalnya, Gunung Tidar adalah hutan kota yang gundul tanpa pepohonan. Pada masa penjajahan Belanda, kawasan ini digunakan untuk menggembala hewan ternak dan berbagai kegiatan militer. Namun, sejak 12 Januari 2021, kawasan ini resmi berstatus sebagai Kebun Raya. KRGT terletak di ketinggian 503 mdpl dan memiliki luas 701.674 m², dengan 1002 anak tangga yang mengarah ke puncak.

Seiring waktu, Gunung Tidar mengalami perubahan signifikan. Pada tahun 1960-an, penghijauan dilakukan dengan menanam pohon pinus. Sejak saat itu, Gunung Tidar semakin hijau dan indah. Berbagai jenis pohon lain juga ditanam, seperti mahoni dan damar, sehingga menciptakan suasana yang nyaman bagi pengunjung.

Gunung Tidar juga memiliki makna sejarah bagi masyarakat Magelang. Pada 25 September 1945, rakyat Magelang berkumpul di puncak Gunung Tidar untuk merayakan kemerdekaan Republik Indonesia dengan mengibarkan Bendera Merah Putih. Di era kemerdekaan, Gunung Tidar menjadi bagian penting dari perkembangan Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI), sekarang dikenal sebagai Akademi Militer.

Saat ini, Kebun Raya Gunung Tidar menjadi tempat wisata yang menarik. Pengunjung dapat menikmati keindahan alam, berolahraga, dan belajar tentang berbagai jenis tumbuhan. Suasana yang sejuk dan pemandangan yang indah menjadikan KRGT pilihan populer bagi keluarga dan pecinta alam. Dengan segala perubahan ini, Gunung Tidar kini menjadi tempat yang kaya akan sejarah dan keindahan alam
Sumber : Detik

MASJID TERTUA INDONESIA INI BERDIRI SEBELUM ADA WALI SONGOMasjid ini menjadi satu²nya masjid di Pulau Jawa yang dibangun...
03/12/2024

MASJID TERTUA INDONESIA INI BERDIRI SEBELUM ADA WALI SONGO

Masjid ini menjadi satu²nya masjid di Pulau Jawa yang dibangun jauh sebelum era Wali Sembilan (Wali Songo).

Nama resmi masjid ini adalah MASJID SAKA TUNGGAL BAITUSSALAM, tapi lebih populer dengan nama Masjid Saka Tunggal. Nama ini tak lepas dari struktur bangunan masjid yg memang hanya mempunyai satu tiang penyangga tunggal (Saka Tunggal).

Berukuran 12 x 18 meter, Masjid Saka Tunggal ini menjadi satu2nya masjid di Pulau Jawa yg dibangun jauh sebelum era Wali Sembilan (Wali Songo) yg hidup sekitar abad 15 - 16 Masehi.

Masjid ini didirikan tahun 1288 Masehi, atau dua abad sebelum Wali Songo. Ini sekaligus menjadikan Masjid Saka Tunggal Baitussalam sebagai masjid tertua di Indonesia.

Lokasi Masjid Saka Tunggal persisnya berada di Desa Cikakak, Kecamatan Wangon, Banyumas, Jawa Tengah, di tengah suasana pedesaan Jawa yg begitu kental.

Kera2 yg berkeliaran bebas masih sering dijumpai di sekitar area masjid. Di depan halamannya kini sudah disediakan tempat berwudhu dan kamar mandi.

Dari jalan raya, pintu gerbang masjid ini cukup jauh letaknya karena berada di antara pemukiman rumah penduduk. Di belakang masjid terdapat komplek pemakaman tua dengan gerbang yg masih bertuliskan aksara Jawa. Makam di dalamnya masih rutin diziarahi oleh warga muslim setempat.

Kawasan Masjid Saka Tunggal kini telah menjadi c***r budaya yg dilindungi pemerintah daerah setempat.

Catatan sejarah nasional menyebutkan aktvitas kerajaan tersebut berada di timur pulau Jawa termasuk peristiwa penyerbuan pasukan Kubilai Khan dari dinasti Yuan (china) ke tanah Jawa tahun 1293, dgn tujuan untuk menghukum Kertanegara, Raja Singosari yg telah melukai Meng Chi, utusan Kubilai Khan ke Singasari untuk meminta upeti.

Mereka dimanfaatkan Raden Wijaya untuk mengalahkan Jayakatwang, Setelah Kediri runtuh, Raden Wijaya dgn siasat cerdik ganti mengusir tentara Mongol keluar dari tanah Jawa, dan mendirikan Majapahit.

Sejarah Masjid Saka Tunggal (1288) senantiasa dikaitkan dgn Tokoh penyebar Islam di Cikakak, bernama MBAH MUSTOLIH yg disebutkan hidup dimasa Mataram Kuno Dalam syiar Islam yg dilakukan, Mbah Mustolih menjadikan Cikakak sbg "markas" dgn ditandai pembangunan masjid dengan tiang tunggal tersebut. Beliau dimakamkan tak jauh dari masjid Saka Tunggal.

Hal tersebut memang membingungkan mengingat bahwa Masjid ini dibangun tahun 282 tahun setelah Mataram Kuno runtuh oleh serbuan Kerajaan Sriwijaya tahun 1006.

Lagipula, sejarah kita mencatat bahwa Mataram Kuno menganut Agama Hindu bukan agama Islam. Kecuali bila yg dimaksud adalah: bahwa Mbah Mustolih adalah keturunan dari anggota keluarga kerajaan Mataram Kuno atau keturunan dari warga Mataram Kuno generasi kesekian yg sudah beragama Islam, dan kemudian menjadi penyebar Islam di Cikakak.

Akan lebih membingunkan lagi bila Mataram Kuno yg dimaksud adalah Mataram yg didirikan oleh Panebahan Senapati (kelanjutan dari Kesultanan Pajang), kemudian terpecah menjadi Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kasunanan Surakarta.

Mengingat Bahwa Alas Mentaok sendiri yg merupakan cikal bakal Mataram islam, baru dibuka oleh Panebahan Senapati di tahun 1556 atau 268 tahun setelah Masjid Saka Tunggal Berdiri.

Bisa jadi pengaitan Mbah Mustolih dgn Mataram kuno ini dihubungkan dgn unsur Kejawen masih cukup melekat pada masjid dan tradisi muslim Cikakak. Akan tetapi tidaklah tepat untuk mengaitkan Kejawen dan tradisi muslim Cikakak dengan Mataram Kuno mengingat rentang waktu diantara keduanya terpaut teramat jauh.

Disekitar masjid terdapat makam seorang penyebar agam Islam yang bernama Kyai Mustolih.

Berdasarkan ceritera nara sumber yaitu KGPH Dipo Kusumo dari Keraton Surakarta Hadiningrat dan Drs. Suwedi Montana , seorang peneliti Arkeologi Islam dari Puslit Arkenas Jakarta pada tanggal 29 Januari 2002 dijelaskan sebagai berikut :

SUNAN PANGGUNG adalah salah seorang dari kelompok Wali sanga yg merupakan murid Syech Siti Jenar. Sunan Panggung meninggal pada masa pemerintahan Sultan Trenggono di Demak Bintoro antara tahun 1546 - 1548 M.

Menurut Serat Cabolek, Sunan Panggung dihukum dengan cara dibakar atas kesalahannya menentang suatu syariat. Namun demikian dalam hukumannya tersebut ia tidak mati, bahkan saat pada saat itu mampu menulis suluk yg kemudian dikenal dgn sebutan Suluk Malangsumirang.

Sunan Panggung menurunkan anak bernama Pengeran Halas. Pangeran Halas menurunkan Tumenggung Perampilan. Tumenggung Perampilan menurunkan KYAI CIKAKAK.

Kyai Cikakak menurunkan Resayuda. Kyai Resayuda menurunkan Ngabehi Handaraka, dan Ngabehi Handaraka menurunkan Mas Ayu Tejawati, Istri Amangkurat IV, yg menurunkan Hamengkubuwana, Raja Ngayogyakarta Hadiningrat. Kyai Cikakak yg merupakan keturunan ketiga Sunan Panggung tidak diketahui nama aslinya.

Nama Kyai Cikakak diperkirakan merupakan sebutan, karena ia bertempat tinggal di Desa Cikakak. Di Desa inilah Kyai Cikakak mendirikan sebuah masjid dengan keunikan tersendiri, yaitu dengan tiang utama tunggal ( saka tunggal ) yang masih lestari hingga saat ini.

Masjid saka Tunggal di bangun di tempat suci Agama Kuno ( agama yang berkembang sebelum masuknya agama Hindu Budha ) yg dapat dibuktikan di sekitar masjid terdapat sebuah batu menhir yg merupakan tempat untuk kegiatan ritual :

agama kuno, dibangun pada tahun 1522 M. Di sekitar tempat ini terdapat hutan pinus dan hutan besar lainnya yang di huni oleh ratusan ekor kera yang jinak dan bersahabat, seperti di Sangeh Bali. Saat ini Masjid Saka Tunggal belum kehilangan sama sekali wajah aslinya. Bedanya, gebyok kayu dan gedek bambu yang semula menjadi dinding masjid ini telah diganti dengan tembok.

Salah satu tampilan asli masjid ini yang belum hilang adalah saka tunggal di tengah-tengah bangunan masjid. Sakatunggal tersebut dibuat dari galih kayu jati berukir motif bunga warna-warni.Di bagian pangkal berdiameter sekitar 35 sentimeter. Saka ini berdiri hingga di atas wuwungan yang berbentuk limas, seperti wuwungan pada Masjid Agung Demak.

Salah satu keunikan lain Saka Tunggal adalah keberadaan empat helai sayap dari kayu di tengah saka. Menurut Sopani sang Juru pelihara Masjid Saka Tunggal tersebut, empat sayap yang menempel di saka tersebut melambangkan papat kiblat lima pancer, atau empat mata angin dan satu pusat.

Papat kiblat lima pancer berarti manusia sebagai pancer dikelilingi empat mata angin yang empat. Mata angin itu berarti bahwa hidup manusia harus seimbang. Jangan terlalu banyak air bila tak ingin tenggelam, jangan banyak angin bila tak mau masuk angin, jangan terlalu bermain api bila tak mau terbakar, dan jangan terlalu memuja bumi bila tak ingin jatuh.

Address

Kauman RT 03/RW 04 Gang Ponpes Hidayatul Akbar, Dusun Kedungpring, Desa Kedungpring, Kec. Kedungpring Kab. Lamongan
Lamongan
62272

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when KIOS Santrinesia posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to KIOS Santrinesia:

Share

Category