06/06/2017
Ryan Rega:
_Zid Notes_
_Kamis, 1 Juni 2017_
*Bisnis Mudah VS Bisnis Sulit*
_"Kang, ada gak bisnis yang mudah, yang modalnya kecil, yang untungnya besar?"_
Pertanyaan ini selalu muncul pada berbagai kesempatan, baik di forum bisnis maupun japrian via WA.
Saya memahami bahwa banyak diantara Anda yang *mendamba jalan bisnis yang mudah*. Bukan cuma mudah, tetapi untungnya besar. Bahkan kalo perlu tidak pakai modal sama sekali.
Dalam sebuah kelas digital, Saya mengikuti paparan dari Kang *Dewa Eka Prayoga*. Dia mengajarkan bagaimana dia membangun varian konten mulai dari FB personal, Group FB, Telegram, Instagram, Youtube, bahkan email list.
Tiba-tiba saja visual slide yang ada seakan menjadi *jaring laba-laba*. Akun sosmed satu ke akun sosmed lainnya terhubung dengan baik. Seperti jaring laba-laba yang siap mengikat mangsa. Hehehehe....
Lalu kami semua pusing. Muka kami berubah, dan ada satu hal yang Saya tidak bisa lupa dari Bro Dewa :
_"Gimana? Pusing ya? Memang ini sulit. *Kalo mudah, maka kompetitor akan dapat dengan mudah mengikuti*. Karena sulit, maka cuma Anda saja yang mampu melakukannya. Jadi ya mesti sulit."_
Ini dia yang menghujam : kesulitan itulah kekuatan bisnis.
*
Artikel-artikel sebelum ini adalah tentang McD. Cobalah ingat, pada awalnya McD menghadirkan *Burger in 30 seconds*. Cara bikin burger yang cepat. Langkah pekerja di dapur yang efisien. Sistematika kerja yang efektif. Penataan perlengkapan dapur yang sistematis. Semua itu SULIT.
Lalu lihatlah brand-brand besar yang ada di negeri ini. Mereka membangun cabang di banyak tempat. KFC misalnya, mereka telah menancapkan cabanga di lebih dari 600 titik di Indonesia.
Banyak cabang, rasa sama, kualitas standard, identik dan terus menguntungkan.
Mari lihat bioskop XXI. Perjalanan Saya ke Bengkulu memberi Saya pelajaran besar. Sebuah *Mall yang secara kesa interior sangat tertinggal*, tetapi sama sekali tidak mempengaruhi kualitas interior XXI Bengkulu. *Mereka tetap menghadirkan XXI sekelas XXI Jabodetabek*. Ini SULIT.
Lagi, misalnya pada persaingan bisnis ekspedisi. JNE memiliki produk *layanan Yakin Esok Sampai, YES*. Dan resi bisa dicek secara online. Bahkan kiriman Anda bisa dijemput di rumah.
Jika Anda ingin bertarung dengan JNE, berarti Anda harus menghadirkan YAHISA, Yakin Hari Ini Sampai. Hehehehe....
Tentu dengan harga yang juga murah dan bisa dijemput. Dan juga online checking pada resi.
Sulit bukan?
Jika Anda ingin menghadirkan perusahaan ekspedisi yang hanya sekedar mengirimkan barang, bahkan dengan harga yang sama dengan JNE, *apa yang membuat orang memilih Anda?*
Inilah yang Saya sebut dengan Bisnis Sulit. Harus Sulit. Jika mudah, tentu semua orang daoat melakukannya, dan Anda bukan seseorang yang spesial.
*
Sahabat, inilah semangat pengajaran Saya pada tulisan kali ini : *tempuhlah jalan yang sulit*. Bangunlah di pagi hari, jangan banyak melakukan hal sia-sia, isilah setiap saat dengan produktifitas, hanya dengan itu... Anda bisa unggul dari yang lain.
*Menginginkan jalan yang mudah dan ringan sebenarnya adalah mental pecundang*. Itu Mental orang kalah. Tidak mau lelah, tidak mau belajar, tidak mau berkomunitas, tidak mau menerapkan perbaikan pada bisnis, itu mental pecundang.
*Maka, jika Anda mendamba jalan bisnis yang mudah, Anda akan berkumpul bersama para pecundang*. Dan sangat jelas ujungnya seperti apa.
Maka, hari ini... niatkanlah untuk menempuh jalan yang lebih ekstra dari yang lain. Tempuhlah jalan membangun list market yang potensial, tempuhlah jalan membangun kualitas produk, sesulit apapun Anda harus berisi tegang dengan suplier atau tim produksi Anda. Memang itulah kesulitannya.
Semoga terasa di sanubari...
*Rendy Saputra*
_CEO KeKe Group_
Log On KopdarSaudagar.com
Setelah menyelenggarakan Temu Nasional SBDKK pada bulan maret lalu, kami mendapati sebuah kenyataan bahwa para pebisnis membutuhkan sebuah wahana untuk berjejaring dan bertumbuh. Baik para pebisnis pemula maupun mereka yang sudah memasuki kelas menengah maupun besar.