24/04/2019
AYAH, apakah ayah termasuk orang yang berkeyakinan seperti ini : โAyah kan sudah keluar seharian sampai kadang pulang malam mencari uang demi anak. Supaya bisa memberikan gizi yang lebih baik, menyekolahkan di tempat yang berkualitas yang biasanya mahal, memenuhi fasilitas belajar dan kehidupan anak-anak. Jadi pendidikan, diserahkan ke ibunya sajaโ
Jika ayah tipe orang yang seperti ini, terjemahan dalam rumahnya menjadi begini : โIbu yang mengurusi semua semua hal tentang pendidikan baik ilmu ataupun keteladanan, kemudian pertemuan dengan ibu dianggap sudah cukup mewakili, efeknya merasa tidak terlalu penting pertemuan fisik ayah dengan anaknya, dan akhirnya ayah menumpahkan kesalahan yang dilakukan anak kepada ibu yang tidak becus mendidik, tanpa merasa ada andil kesalahan ayah di sanaโ
Ayah adalah orang yang seperti ini? Jika โiyaโ jawaban ayah, atau โmungkinโ, atau kayaknya โsebagian benarโ, maka sungguh ayah akan kehilangan anak-anak ayah di kemudian hari. Saat anak ayah memasuki pelataran masa depannya dan ayah telah memasuki kamar usia senja, atau bahkan lebih cepat dari itu, berbagai โtsunamiโ masalah menghantam kenyamanan rumah ayah karena ulah anak ayah yang baru gede.
Para ayah yang dirahmati Allah, yuk kita baca nasehat ini. Nasehat yang datang dari seorang ulama ternama abad 8 H.
Ibnu Qoyyim r.a dalam kitab Tuhfatul maudud 1/242, MS, secara tegas mengatakan bahwa penyebab utama rusaknya generasi hari ini adalah karena ayah.
Beliau mengatakan, โBetapa banyak orang yang menyengsarakan anaknya, buah hatinya di dunia dan akhirat karena ia tidak memperhatikannya, tidak mendidiknya dan memfasilitasi syahwat (keinginannya), sementara dia mengira telah memuliakannya padahal dia telah merendahkannya. Dia juga mengira telah menyayanginya padahal dia telah mendzaliminya. Maka hilanglah bagiannya pada anak itu di dunia dan akhirat. Jika Anda amati kerusakan pada anak-anak, penyebab utamanya adalah ayahโ.
Bacalah kalimat yang paling bawah : Jika Anda amati kerusakan pada anak-anak, penyebab utamanya adalah ayah.
Selengkapnya
www.islamkajian.wordpress.com