11/01/2026
Apa rencanamu pagi ini, langit nampak cukup cerah bukan?" tanyamu, memecah keheningan yang tersisa dari malam panjang.
Cahaya matahari pagi memang menyelinap masuk melalui celah gorden, mencoba menghapus jejak rembulan yang baru saja pergi. Aku menoleh ke jendela, membiarkan mata menyesuaikan diri dengan terangnya hari.
"Rencana?" Aku terkekeh pelan, masih memegang cangkir kopi yang kini hangat di tanganku. "Sepertinya, pagi ini rencanaku hanya ingin menyaksikan keindahan ini sebentar lagi." Aku menunjuk ke arah langit biru yang terpampang jelas di luar, kontras dengan mendung semalam.
"Mungkin secangkir kopi lagi, sambil merapikan sisa-sisa pikiran yang berantakan setelah semalaman berjaga."
Ada senyum tipis di wajahku, senyum yang terasa lebih ringan daripada senyum malam tadi.
Walaupun bayangan-bayangan itu masih ada, pagi yang cerah selalu membawa harapan baru, setidaknya untuk sejenak. Aku memejamkan mata sebentar, merasakan kehangatan matahari di kulit, mencoba menyerap setiap partikel positif yang dibawanya.
"Bagaimana denganmu?" tanyaku, kembali menatapmu. "Pagi secerah ini pasti punya rencana besar, ya?"