05/06/2026
# Bab 5 — Serangan Tengah Malam
Mobil hitam itu berhenti tanpa suara.
Empat pria turun dari dalamnya.
Mereka mengenakan pakaian gelap dan topi yang menutupi sebagian wajah.
Salah satu dari mereka mengangkat ponsel.
"Target masih di dalam."
"Ambil flashdisknya."
"Kalau perlu, habisi semua saksi."
Sambungan telepon terputus.
Mereka berjalan menuju pintu masuk rumah sakit.
---
Di lantai tujuh.
Eduardo masih terpaku di depan layar laptop.
Nama yang disebut Sofia terus terngiang di telinganya.
Alejandro Reyes.
Kakaknya sendiri.
Pria yang selama ini dianggap keluarga.
Pria yang berdiri di sampingnya saat pemakaman Sofia.
Pria yang menangis bersamanya ketika Angela koma.
"Aku tidak percaya..." bisik Eduardo.
Angela menggenggam tangannya.
"Mama tidak pernah bohong."
Eduardo menutup mata.
Ia tahu itu.
Sofia tidak pernah menuduh seseorang tanpa bukti.
Artinya selama tiga tahun terakhir...
Musuh sebenarnya berada sangat dekat.
---
Tiba-tiba pintu kamar terbuka.
Seorang perawat masuk dengan wajah panik.
"Pak Eduardo!"
"Ada apa?"
"Kepala keamanan ingin bicara sekarang juga."
Eduardo berdiri.
"Ada masalah?"
Perawat itu menelan ludah.
"Lima menit lalu ada empat pria yang memaksa masuk ke area rumah sakit."
"Mereka mencari seseorang."
Jantung Eduardo langsung berdebar.
"Mereka mencari saya?"
Perawat mengangguk.
Dan pada saat yang sama...
Lampu di seluruh lantai mendadak padam.
Gelap.
Total.
Jeritan terdengar dari koridor.
Angela langsung memegang tangan ayahnya.
"Papa..."
Eduardo merasakan firasat buruk.
Sangat buruk.
---
Di tengah kegelapan.
Langkah kaki terdengar mendekat.
Satu.
Dua.
Tiga.
Semakin dekat.
Eduardo segera mengambil laptop dan flashdisk.
Lalu menyembunyikannya ke dalam jaket.
Pintu kamar perlahan bergerak.
Krek...
Seseorang mencoba masuk.
Eduardo menarik kursi roda kosong dan menahannya di depan pintu.
Beberapa detik kemudian...
Brak!
Pintu dihantam dari luar.
Angela menjerit.
Brak!
Hantaman kedua.
Kursi roda bergeser.
Brak!
Hantaman ketiga.
Engsel pintu mulai retak.
Mereka tidak punya banyak waktu.
---
Tepat saat itu, suara lain terdengar dari belakang kamar.
Seorang pria muncul dari pintu darurat.
Eduardo langsung waspada.
Namun pria itu mengangkat kedua tangannya.
"Jangan berteriak."
"Aku di pihak kalian."
Eduardo mengernyit.
"Siapa kau?"
Pria itu berusia sekitar lima puluh tahun.
Wajahnya dipenuhi bekas luka lama.
Matanya tajam.
"Aku mantan penyelidik yang bekerja untuk Sofia."
Eduardo membeku.
"Apa?"
"Sofia mempekerjakanku sebelum kecelakaan."
Pria itu mengeluarkan sebuah foto.
Foto dirinya bersama Sofia.
Tanggalnya empat hari sebelum kecelakaan.
"Aku tidak punya waktu menjelaskan semuanya."
"Pintu itu akan jebol sebentar lagi."
Eduardo masih ragu.
Namun pria itu menyebut sesuatu yang membuatnya terdiam.
"Kalung yang dibawa anak penjual lotre itu milik Sofia."
"Dan anak itu bukan orang asing."
Darah Eduardo langsung berdesir.
"Maksudmu apa?"
Pria itu menatapnya serius.
"Anak itu adalah putramu."
Ruangan mendadak sunyi.
Bahkan suara hantaman di pintu terasa menghilang.
Eduardo menatap pria itu tak percaya.
"Itu mustahil."
"Tidak."
Pria itu menggeleng.
"Sofia melahirkannya secara diam-diam dua belas tahun lalu."
"Dia menyembunyikan keberadaannya untuk melindunginya."
Angela membelalak.
Eduardo merasa dunia kembali runtuh.
Satu rahasia belum selesai.
Kini muncul rahasia yang lebih besar.
Namun sebelum siapa pun sempat berbicara lagi...
Pintu kamar akhirnya jebol.
Brakkk!
Empat pria bersenjata menyerbu masuk.
Dan salah satu dari mereka langsung mengarahkan pistol ke kepala Angela.
"Serahkan flashdisk itu."
"Atau putrimu mati sekarang."
Bersambung...
bab berikutnya baca di https://web.facebook.com/ChefCraftId/