Sablon Kaos Digital Medan

Sablon Kaos Digital Medan Melayani
- Sablon Kaos
- Pembuatan Stempel
- Edit Foto

 # Bab 5 — Serangan Tengah MalamMobil hitam itu berhenti tanpa suara.Empat pria turun dari dalamnya.Mereka mengenakan pa...
05/06/2026

# Bab 5 — Serangan Tengah Malam

Mobil hitam itu berhenti tanpa suara.

Empat pria turun dari dalamnya.

Mereka mengenakan pakaian gelap dan topi yang menutupi sebagian wajah.

Salah satu dari mereka mengangkat ponsel.

"Target masih di dalam."

"Ambil flashdisknya."

"Kalau perlu, habisi semua saksi."

Sambungan telepon terputus.

Mereka berjalan menuju pintu masuk rumah sakit.

---

Di lantai tujuh.

Eduardo masih terpaku di depan layar laptop.

Nama yang disebut Sofia terus terngiang di telinganya.

Alejandro Reyes.

Kakaknya sendiri.

Pria yang selama ini dianggap keluarga.

Pria yang berdiri di sampingnya saat pemakaman Sofia.

Pria yang menangis bersamanya ketika Angela koma.

"Aku tidak percaya..." bisik Eduardo.

Angela menggenggam tangannya.

"Mama tidak pernah bohong."

Eduardo menutup mata.

Ia tahu itu.

Sofia tidak pernah menuduh seseorang tanpa bukti.

Artinya selama tiga tahun terakhir...

Musuh sebenarnya berada sangat dekat.

---

Tiba-tiba pintu kamar terbuka.

Seorang perawat masuk dengan wajah panik.

"Pak Eduardo!"

"Ada apa?"

"Kepala keamanan ingin bicara sekarang juga."

Eduardo berdiri.

"Ada masalah?"

Perawat itu menelan ludah.

"Lima menit lalu ada empat pria yang memaksa masuk ke area rumah sakit."

"Mereka mencari seseorang."

Jantung Eduardo langsung berdebar.

"Mereka mencari saya?"

Perawat mengangguk.

Dan pada saat yang sama...

Lampu di seluruh lantai mendadak padam.

Gelap.

Total.

Jeritan terdengar dari koridor.

Angela langsung memegang tangan ayahnya.

"Papa..."

Eduardo merasakan firasat buruk.

Sangat buruk.

---

Di tengah kegelapan.

Langkah kaki terdengar mendekat.

Satu.

Dua.

Tiga.

Semakin dekat.

Eduardo segera mengambil laptop dan flashdisk.

Lalu menyembunyikannya ke dalam jaket.

Pintu kamar perlahan bergerak.

Krek...

Seseorang mencoba masuk.

Eduardo menarik kursi roda kosong dan menahannya di depan pintu.

Beberapa detik kemudian...

Brak!

Pintu dihantam dari luar.

Angela menjerit.

Brak!

Hantaman kedua.

Kursi roda bergeser.

Brak!

Hantaman ketiga.

Engsel pintu mulai retak.

Mereka tidak punya banyak waktu.

---

Tepat saat itu, suara lain terdengar dari belakang kamar.

Seorang pria muncul dari pintu darurat.

Eduardo langsung waspada.

Namun pria itu mengangkat kedua tangannya.

"Jangan berteriak."

"Aku di pihak kalian."

Eduardo mengernyit.

"Siapa kau?"

Pria itu berusia sekitar lima puluh tahun.

Wajahnya dipenuhi bekas luka lama.

Matanya tajam.

"Aku mantan penyelidik yang bekerja untuk Sofia."

Eduardo membeku.

"Apa?"

"Sofia mempekerjakanku sebelum kecelakaan."

Pria itu mengeluarkan sebuah foto.

Foto dirinya bersama Sofia.

Tanggalnya empat hari sebelum kecelakaan.

"Aku tidak punya waktu menjelaskan semuanya."

"Pintu itu akan jebol sebentar lagi."

Eduardo masih ragu.

Namun pria itu menyebut sesuatu yang membuatnya terdiam.

"Kalung yang dibawa anak penjual lotre itu milik Sofia."

"Dan anak itu bukan orang asing."

Darah Eduardo langsung berdesir.

"Maksudmu apa?"

Pria itu menatapnya serius.

"Anak itu adalah putramu."

Ruangan mendadak sunyi.

Bahkan suara hantaman di pintu terasa menghilang.

Eduardo menatap pria itu tak percaya.

"Itu mustahil."

"Tidak."

Pria itu menggeleng.

"Sofia melahirkannya secara diam-diam dua belas tahun lalu."

"Dia menyembunyikan keberadaannya untuk melindunginya."

Angela membelalak.

Eduardo merasa dunia kembali runtuh.

Satu rahasia belum selesai.

Kini muncul rahasia yang lebih besar.

Namun sebelum siapa pun sempat berbicara lagi...

Pintu kamar akhirnya jebol.

Brakkk!

Empat pria bersenjata menyerbu masuk.

Dan salah satu dari mereka langsung mengarahkan pistol ke kepala Angela.

"Serahkan flashdisk itu."

"Atau putrimu mati sekarang."

Bersambung...
bab berikutnya baca di https://web.facebook.com/ChefCraftId/

 # BAB 5 # # ANAK YANG MEREKA CARI"**Kami sudah menemukan anak itu.**"Aku membaca pesan tersebut berulang kali.Jari-jari...
05/06/2026

# BAB 5

# # ANAK YANG MEREKA CARI

"**Kami sudah menemukan anak itu.**"

Aku membaca pesan tersebut berulang kali.

Jari-jariku terasa dingin.

Sementara di lantai bawah, suara teriakan dan langkah kaki terus terdengar.

Teresa mencengkeram lenganku.

Wajah wanita tua itu sudah pucat seperti kertas.

— Mereka tahu.

— Mereka benar-benar tahu.

— Kita terlambat.

Aku menatapnya tajam.

— Siapa yang mereka maksud?

— Daniel?

— Atau Miguel?

Wanita itu menelan ludah.

Namun sebelum sempat menjawab, suara tembakan kedua terdengar.

**DUAARRR!**

Kali ini lebih dekat.
..

Petugas keamanan segera membawa kami menuju ruang evakuasi darurat.

Ruangan kecil tanpa jendela di lantai tujuh.

Beberapa anggota tim investigasi sudah berada di sana.

Semua tampak tegang.

Salah satu petugas sedang memantau kamera keamanan gedung.

Saat aku melihat layar monitor, napasku tertahan.

Tiga pria berpakaian hitam telah memasuki gedung.

Mereka bergerak cepat.

Terorganisasi.

Bukan preman.

Bukan pencuri.

Mereka tahu persis ke mana harus pergi.
..

— Polisi sudah dipanggil?

tanyaku.

— Sudah.

— Tapi mereka masih sepuluh menit lagi.

Sepuluh menit.

Dalam situasi seperti ini, sepuluh menit bisa terasa seperti sepuluh tahun.
..

Aku kembali menatap Teresa.

— Sekarang jawab saya.

— Apa yang sebenarnya diketahui orang-orang ini tentang Miguel?

Wanita tua itu memejamkan mata.

Seolah sudah terlalu lama menyimpan rahasia tersebut.

Lalu akhirnya ia berbicara.

— Karena Miguel tidak seharusnya ada.

Ruangan langsung sunyi.
..

— Apa maksud Ibu?

Teresa menatapku.

— Dua puluh tahun lalu ada enam anak yang dianggap berbeda.

— Sangat berbeda.

— Kecerdasan mereka jauh di atas rata-rata.

— Mereka mampu memecahkan soal yang bahkan tidak bisa diselesaikan siswa sekolah menengah.

— Mereka mengingat hampir semua yang mereka baca.

— Dan mereka berkembang jauh lebih cepat dibanding anak seusianya.

Aku mengerutkan dahi.

— Anak berbakat?

— Tidak sesederhana itu.

jawabnya.
..

Ia lalu menunjuk foto lama yang masih kubawa.

Enam wajah.

Enam anak.

Termasuk Daniel.

— Program itu awalnya dibuat untuk mencari mereka.

— Tapi kemudian berubah.

— Seseorang melihat peluang.

— Seseorang yang sangat berkuasa.

Aku merasakan jantungku berdetak semakin cepat.
..

— Peluang apa?

— Mengendalikan masa depan.

jawab Teresa pelan.

— Anak-anak itu dianggap investasi.

— Mereka dipelajari.

— Diawasi.

— Dicatat seluruh perkembangan mereka.

— Seolah mereka bukan manusia.

— Melainkan proyek.
..

Aku hampir tidak percaya apa yang kudengar.

Namun dari ekspresi Teresa, ia tidak sedang berbohong.

Bahkan sebaliknya.

Ia tampak ketakutan saat mengingatnya.
..

— Daniel adalah yang paling istimewa.

katanya.

— Dia selalu berada di atas semuanya.

— Bahkan di antara enam anak itu.

Aku kembali melihat wajah anak laki-laki dalam foto.

Wajah yang sangat mirip Miguel.

Terlalu mirip.
..

— Apa hubungan Daniel dengan anak saya?

Tangan Teresa mulai gemetar.

— Itu yang selama ini ingin saya hindari.

— Karena jika saya mengatakannya...

— Mereka akan memburu kalian.

Aku langsung berdiri.

— Mereka sudah memburu kami.

Wanita itu terdiam.

Lalu mengangguk pelan.
..

— Daniel adalah kakak Miguel.

Duniaku seperti berhenti berputar.
..

Aku menatap Teresa.

Berharap ia mengatakan bahwa semua ini salah.

Bahwa ia keliru.

Bahwa ia sudah tua dan ingatannya tidak lagi jelas.

Namun wanita itu hanya menunduk.
..

— Tidak mungkin.

Bisikku.

— Miguel tidak punya kakak.

— Saya melahirkannya sendiri.

— Saya tahu itu.

— Saya ibunya.

Teresa perlahan menggeleng.

— Tidak.

— Kamu adalah ibunya.

— Tapi kamu tidak mengetahui semuanya.
..

Kepalaku mulai berdenyut.

— Jelaskan.

Sekarang.
..

Wanita itu menarik napas panjang.

— Sebelum menikah denganmu, suamimu pernah terlibat dalam penyelidikan rahasia.

— Saat itulah ia menemukan program tersebut.

— Dan menemukan Daniel.

Aku membeku.
..

— Daniel masih hidup waktu itu.

— Tapi sedang diburu.

— Karena dia mengetahui terlalu banyak.

Aku merasakan telapak tanganku berkeringat.
..

— Suamimu mencoba menyelamatkannya.

— Namun keadaan menjadi kacau.

— Daniel menghilang.

— Dan beberapa tahun kemudian...

— Miguel lahir.

Aku menggeleng keras.

— Itu tidak masuk akal.

— Apa hubungannya?

Air mata mulai muncul di mata Teresa.
..

— Karena Daniel adalah kakak kandung Miguel.

Ruangan terasa berputar.

Aku harus memegang meja agar tidak jatuh.
..

— Tidak.

— Tidak mungkin.

— Saya tidak pernah—

Tiba-tiba aku teringat sesuatu.

Sesuatu yang selama bertahun-tahun tidak pernah kupikirkan.

Hari ketika aku melahirkan Miguel.

Hari yang aneh.

Hari yang penuh kekacauan.

Rumah sakit mendadak mengalami gangguan listrik.

Sebagian data pasien hilang.

Dan suamiku terlihat sangat gelisah selama berminggu-minggu setelahnya.

Saat itu aku mengira ia hanya cemas menjadi ayah.

Sekarang...

Aku tidak lagi yakin.
..

— Apa yang sebenarnya dilakukan suami saya?

Tanyaku.

Teresa menjawab dengan suara pelan.

— Dia menyembunyikan identitas Miguel.

— Menghapus jejak tertentu.

— Membuat banyak orang percaya bahwa garis keturunan itu telah berakhir.

Aku merasakan napasku tercekat.
..

Lalu tiba-tiba ponselku bergetar.

Satu pesan baru masuk.

Kali ini bukan nomor anonim.

Melainkan nomor yang tidak aktif selama sembilan tahun.

Nomor milik suamiku.

Aku langsung membeku.
..

Mustahil.

Nomor itu seharusnya sudah mati sejak lama.

Tanganku gemetar saat membuka pesan tersebut.

Hanya ada satu kalimat.

**"Jangan percaya siapa pun."**

Aku langsung berdiri.

Jantungku berdegup sangat keras.
..

— Ini tidak mungkin.

Bisikku.

— Tidak mungkin.

Semua orang di ruangan menatapku.

Aku menunjukkan layar ponsel.

Mereka sama terkejutnya.
..

Kemudian pesan kedua masuk.

**"Mereka sedang mendengarkan."**

Pesan ketiga.

**"Keluar dari gedung sekarang."**

Pesan keempat.

**"Gunakan tangga servis timur."**
..

Belum sempat aku berpikir.

Tiba-tiba seluruh monitor keamanan mati bersamaan.

Lampu berkedip.

Sistem komunikasi terputus.

Dan suara ledakan keras mengguncang lantai bawah.

**BOOOM!**

Beberapa orang terjatuh.

Kaca-kaca bergetar.
..

— Mereka masuk!

teriak seseorang.

— Kita harus bergerak!
..

Aku menggenggam foto lama itu.

Mengambil ponsel.

Lalu menatap Teresa.

— Siapa yang mengirim pesan ini?

Wanita tua itu tampak lebih pucat dari sebelumnya.

Karena ia juga menyadari sesuatu.

Sesuatu yang mengerikan.
..

— Jika nomor itu benar-benar aktif...

— Maka hanya ada satu kemungkinan.

Bisiknya.

Aku menatapnya.
..

— Apa?

Air mata mulai mengalir di pipinya.
..

— Orang yang selama ini kamu yakini meninggal...

— Mungkin tidak pernah mati.
..

Seluruh tubuhku membeku.

Karena untuk pertama kalinya dalam sembilan tahun...

Aku mulai mempertanyakan makam yang pernah kukunjungi.

Pemakaman yang pernah kuhadiri.

Jenazah yang tidak pernah kulihat langsung karena peti mati tertutup.

Laporan kematian yang kuterima begitu saja.

Semuanya.
..

Dan saat pikiran itu muncul...

Pesan terakhir masuk.

Kali ini hanya tiga kata.

Tiga kata yang membuat jantungku hampir berhenti.

**"Aku menemukan Daniel."**

Aku menatap layar tanpa berkedip.

Lalu muncul foto yang dikirim beberapa detik kemudian.

Foto seorang pria dewasa.

Berdiri di depan bangunan tua.

Wajahnya sebagian tertutup bayangan.

Namun kemiripannya dengan Miguel sangat jelas.

Terlalu jelas.

Mustahil diabaikan.
..

Di bawah foto itu terdapat koordinat lokasi.

Serta sebuah kalimat.

**"Datang sendiri jika ingin mengetahui kebenaran."**
..

Dan tepat saat itu, suara dari pengeras darurat gedung tiba-tiba menyala.

Suara seorang pria terdengar.

Tenang.

Dingin.

Dan sangat familiar.

Suara yang sama dari video dua puluh tahun lalu.

Suara yang sama dari telepon misterius.
..

— Maria...

— Permainan sudah selesai.

— Sekarang pilih.

— Selamatkan penyelidikanmu...

— Atau selamatkan keluargamu.

**BERSAMBUNG KE BAB 6 baca di https://web.facebook.com/ChefCraftId/

Namaku Senja.Dan sampai hari ini, setiap kali aku mengingat malam itu—malam yang seharusnya hanya menjadi kenangan hanga...
27/04/2026

Namaku Senja.

Dan sampai hari ini, setiap kali aku mengingat malam itu—malam yang seharusnya hanya menjadi kenangan hangat dari sebuah reuni—dadaku selalu terasa seperti diremas pelan, menyisakan sesak yang tak pernah benar-benar hilang.

Aku tidak pernah menyangka, satu keputusan sederhana untuk datang ke acara reuni justru menjadi awal dari runtuhnya segala hal yang selama ini aku jaga dengan penuh kehati-hatian.

Malam itu, lampu-lampu aula bersinar hangat, tawa-tawa lama kembali hidup, dan wajah-wajah yang pernah akrab kini hadir dengan cerita masing-masing. Aku datang sebagai seorang istri. Seorang perempuan yang merasa hidupnya sudah cukup—tidak sempurna, tapi cukup.

Sampai aku melihatnya.

Dia berdiri di sudut ruangan, bersandar santai, senyum tipis yang masih sama seperti dulu. Kakak kelasku. Seseorang yang dulu hanya bisa aku kagumi diam-diam, tanpa pernah berani berharap lebih.

Namanya—aku bahkan masih mengingat cara orang-orang memanggilnya dengan penuh hormat, seolah dia selalu punya tempat lebih tinggi di antara kami.

“Senja?”

Suara itu… masih sama.

Aku menoleh, dan untuk sesaat waktu seperti berhenti. Aku tersenyum, mencoba biasa saja, meski ada sesuatu di dalam diriku yang bergetar pelan.

“Lama nggak ketemu…”

Kami mulai berbicara. Awalnya ringan. Tentang pekerjaan. Tentang kehidupan. Tentang masa lalu yang dulu terasa jauh, tapi malam itu seperti kembali begitu dekat.

Entah bagaimana, percakapan itu terasa terlalu nyaman.

Terlalu mudah.

Terlalu… hangat.

Dan di sanalah semuanya dimulai.

Kami bertukar nomor.

Sederhana. Wajar. Bahkan terlihat tidak berbahaya.

Tapi aku tidak tahu, dari situlah perlahan aku mulai terseret ke dalam sesuatu yang tidak seharusnya aku jalani.

Awalnya hanya chat ringan. Menanyakan kabar. Mengirim candaan. Kadang sekadar mengomentari foto lama yang kami temukan kembali.

Namun lama-lama, ada sesuatu yang berubah.

Pesannya mulai berbeda.

Lebih personal.

Lebih dalam.

Dan lebih… menggoda.

“Dari dulu aku sebenarnya s**a sama kamu, Senja…”

Aku membaca pesan itu berulang kali. Jantungku berdetak lebih cepat. Ada bagian dalam diriku yang menolak, tapi ada juga bagian lain yang… diam-diam tersentuh.

Aku sudah menikah.

Aku tahu itu.

Aku sadar sepenuhnya.

Tapi entah kenapa, setiap kali dia berbicara, aku seperti kembali menjadi gadis muda yang dulu diam-diam memendam rasa.

Dan aku mulai membuat kesalahan.

Kami mulai sering bertemu.

Awalnya dengan alasan yang masuk akal—sekadar kopi, sekadar makan siang. Tapi lama-lama, alasan itu menjadi semakin tipis, semakin sulit dibenarkan bahkan oleh diriku sendiri.

Dia tahu cara menatap.

Tahu cara berbicara.

Tahu cara membuatku merasa… istimewa.

Hal yang perlahan hilang dari pernikahanku.

Aku tidak pernah berniat mengkhianati suamiku.

Tapi aku juga tidak cukup kuat untuk menghentikan semuanya.

Satu sore, hujan turun deras. Kami terjebak di sebuah kafe kecil yang hampir kosong. Suasana menjadi sunyi, hanya suara rintik air dan detak jantungku sendiri yang terasa begitu jelas.

Dia duduk di depanku, menatap tanpa berkedip.

“Senja… kamu bahagia?”

Pertanyaan itu sederhana.

Tapi jawabannya… tidak.

Aku terdiam terlalu lama.

Dan dia tahu.

Tangannya menyentuh tanganku. Pelan. Hangat. Membuat seluruh tubuhku menegang sekaligus melemah.

Aku tahu ini salah.

Aku tahu aku harus menarik tanganku.

Tapi aku tidak melakukannya.

Tatapan kami bertemu.

Dekat.

Terlalu dekat.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku membiarkan diriku jatuh… tanpa mencoba menahan.

Malam itu, batas yang selama ini aku jaga akhirnya runtuh.

Tidak ada kata-kata yang cukup untuk menjelaskan bagaimana semuanya terjadi. Hanya perasaan yang bercampur—rindu, rasa bersalah, keinginan, dan ketakutan—semua menyatu dalam satu momen yang seharusnya tidak pernah ada.

Aku pulang dengan hati yang kacau.

Dan sejak saat itu, aku bukan lagi Senja yang sama.

Hari-hari berikutnya menjadi semakin sulit. Aku mencoba menjauh, tapi selalu gagal. Dia selalu tahu cara menarikku kembali—dengan kata-kata lembut, dengan perhatian kecil, dengan rayuan yang terasa begitu nyata.

Aku terjebak.

Dan aku sadar… aku tidak benar-benar ingin keluar.

Sampai akhirnya…

Dua garis itu muncul.

Tanganku gemetar saat melihatnya. Dunia seperti berhenti. Nafasku tercekat, dan untuk beberapa detik, aku bahkan tidak bisa berpikir.

Aku hamil.

Air mataku jatuh tanpa suara.

Harusnya ini menjadi kabar bahagia.

Harusnya aku tersenyum.

Tapi yang kurasakan hanya… takut.

Takut yang begitu dalam.

Karena aku tidak tahu.

Aku benar-benar tidak tahu.

Anak ini… milik siapa?

Setiap malam aku terjaga, menatap langit-langit kamar, mendengar napas suamiku di sampingku—tenang, tanpa curiga, tanpa tahu bahwa aku telah menghancurkan segalanya.

Rasa bersalah itu seperti racun.

Perlahan.

Menyiksa.

Tidak memberi kesempatan untuk bernapas lega.

Aku mencoba menjauh darinya—dari kakak kelasku itu. Tapi setiap kali ponselku berbunyi, hatiku kembali goyah.

“Senja, aku kangen…”

Hanya satu kalimat.

Dan aku runtuh lagi.

Aku benci diriku sendiri.

Aku benci kenyataan bahwa aku tidak cukup kuat untuk berhenti.

Dan sekarang… semuanya sudah terlambat.

Perutku mulai menyimpan rahasia yang tidak bisa aku sembunyikan selamanya.

Suamiku mulai memperhatikanku lebih dalam. Tatapannya lebih sering berhenti di wajahku, seolah mencoba membaca sesuatu yang tidak pernah berani aku ungkapkan.

Dan aku tahu…

Cepat atau lambat, semua ini akan terungkap.

Aku hanya tidak tahu…

Saat hari itu datang…

Apakah aku masih punya sesuatu yang tersisa untuk diselamatkan?

Atau semuanya… sudah benar-benar hancur sejak malam hujan itu?

Langit pagi itu masih pucat, seperti perasaan yang belum sepenuhnya sadar bahwa hidupnya akan berubah selamanya.Namaku S...
27/04/2026

Langit pagi itu masih pucat, seperti perasaan yang belum sepenuhnya sadar bahwa hidupnya akan berubah selamanya.

Namaku Suci Hardiyanti.

Dan pengkhianatan itu… datang dari dua orang yang paling aku percaya.

Suamiku.

Dan sahabatku sendiri.

---

Selama bertahun-tahun, aku percaya hidupku sederhana namun cukup. Rumah kecil kami selalu hangat, meski tidak mewah. Suamiku, Bagas Pradana, adalah lelaki yang dulu aku perjuangkan mati-matian—dari titik nol, dari masa-masa sulit ketika ia belum punya apa-apa selain mimpi besar dan tekad keras.

Aku ada di sana.

Saat dia gagal.

Saat dia hampir menyerah.

Saat dunia menutup pintu untuknya.

Aku yang membuka jendela.

Aku yang berdiri di belakangnya, memastikan dia tidak jatuh.

Dan saat dia akhirnya berhasil… aku pikir kami berhasil bersama.

Ternyata tidak.

---

Ririn Siswari.

Nama itu dulu adalah rumah kedua bagiku.

Kami bertemu sejak kuliah. Makan bersama, tertawa bersama, menangis bersama. Dia tahu semua tentangku—tentang luka kecilku, tentang mimpiku, bahkan tentang bagaimana aku mencintai Bagas dengan sepenuh hati.

Aku tidak pernah menyangka…

Dialah yang diam-diam mengambilnya dariku.

---

Hari itu, Bagas berdiri di depan pintu, mengenakan kemeja putih yang baru. Wangi parfumnya lebih kuat dari biasanya.

“Aku harus ke Bali,” katanya santai. “Ada acara kantor. Tiga hari.”

Aku hanya mengangguk, mencoba tidak membaca terlalu dalam.

“Acara penting?” tanyaku.

“Iya. Bisa jadi titik balik karierku.”

Ia tersenyum, lalu mencium keningku. Cepat. Singkat. Tanpa rasa.

Dan aku… tetap percaya.

---

Beberapa jam setelah ia pergi, aku mencoba menghubungi Ririn.

“Ri, temenin aku yuk. Lagi sepi di rumah.”

Balasannya cepat.

“Aku lagi di luar kota, Cuy… sama keluarga. Nanti ya kita ketemu.”

Aku tersenyum kecil membaca pesan itu.

Tidak ada curiga.

Tidak ada tanda.

Tidak ada apa-apa.

---

Sampai keesokan harinya.

Satu notifikasi.

Satu angka.

Dan satu kenyataan yang tidak bisa ditarik kembali.

Transaksi berhasil: Rp1.520.000.000
Lokasi: Serene Cliff Resort, Bali
Keterangan: Wedding Ceremony Package

Tanganku langsung dingin.

Pernikahan?

Siapa yang menikah?

Dan kenapa menggunakan kartu yang aku berikan pada Bagas?

Jantungku berdegup keras. Tidak teratur.

Pikiranku mulai menyusun kemungkinan… lalu menolaknya sendiri.

“Tidak mungkin…”

Aku menggeleng.

“Tidak mungkin…”

Tapi tubuhku sudah tahu jawabannya, bahkan sebelum pikiranku siap menerima.

---

Aku tidak menangis.

Aku hanya berdiri.

Lama.

Sampai akhirnya aku mengambil keputusan paling gila dalam hidupku.

Aku pergi.

---

Perjalanan ke Bali terasa seperti mimpi buruk yang terlalu nyata. Setiap detik terasa berat. Setiap napas seperti menelan kaca.

Aku tidak tahu apa yang akan aku temukan.

Tapi aku tahu… aku harus melihatnya sendiri.

---

Resort itu berdiri megah di tepi tebing.

Indah.

Terlalu indah untuk sebuah pengkhianatan.

Aku berjalan perlahan, mengikuti suara musik yang samar-samar terdengar dari arah pantai.

Langkahku semakin berat.

Semakin dekat.

Semakin nyata.

---

Dan di sanalah aku melihatnya.

Bagas.

Berdiri tegak dengan setelan putih.

Tersenyum.

Bahagia.

Seperti pria yang sedang memulai hidup baru.

Dan di depannya…

Seorang wanita dengan gaun pengantin.

Perlahan berjalan mendekat.

Aku mengenali langkah itu.

Aku mengenali cara dia menunduk.

Aku mengenali segalanya.

Ririn.

---

Dunia berhenti.

Benar-benar berhenti.

Tidak ada suara.

Tidak ada angin.

Tidak ada apa-apa.

Hanya aku… dan kenyataan yang menghancurkan segalanya.

---

Aku tidak sadar kapan aku mulai berjalan.

Langkahku ringan.

Terlalu ringan untuk seseorang yang hatinya sedang hancur berkeping-keping.

Semua orang menoleh saat aku muncul.

Musik berhenti.

Suasana berubah.

Dan mata Bagas…

Langsung menemukan aku.

Wajahnya pucat.

“Su… Suci?”

Suara itu terdengar asing.

Seperti bukan miliknya lagi.

Ririn membeku.

Tangannya gemetar.

Gaun putihnya kini terlihat seperti noda yang tidak bisa dibersihkan.

---

Aku tersenyum.

Pelan.

Tenang.

“Kenapa berhenti?” tanyaku lembut. “Lanjutkan saja. Ini hari bahagia kalian, kan?”

Tidak ada yang berani bergerak.

Tidak ada yang berani bicara.

Semua orang hanya menunggu… sesuatu.

Mungkin ledakan.

Mungkin tangisan.

Mungkin amarah.

Tapi aku tidak memberikan itu.

---

Aku melangkah lebih dekat.

Menatap mereka berdua.

Orang yang aku cintai.

Dan orang yang aku percaya.

Sekarang berdiri berdampingan… sebagai pengkhianat.

“Lucu ya…” gumamku.

Mataku perlahan berkaca-kaca.

“Ternyata selama ini aku cuma jadi penonton di hidupku sendiri.”

Bagas mencoba mendekat.

“Aku bisa jelasin—”

“Jangan.”

Satu kata itu cukup menghentikannya.

---

Aku menatap Ririn.

Sahabatku.

Atau… mantan sahabatku.

“Capek ya, pura-pura jadi orang baik selama ini?”

Air mata jatuh dari matanya.

Tapi aku tidak merasakan apa-apa lagi.

Kosong.

Benar-benar kosong.

---

Aku menghela napas panjang.

Lalu berkata pelan, dengan suara yang hampir seperti bisikan:

“Kalian tidak mencuri dariku.”

Aku menatap mereka dalam-dalam.

“Kalian cuma mengambil apa yang memang tidak pernah benar-benar milikku.”

Sunyi.

Dalam.

Menusuk.

---

Aku mundur selangkah.

Lalu dua.

Lalu tiga.

Sebelum berbalik, aku berkata lagi:

“Tapi satu hal yang pasti…”

Aku tersenyum tipis.

“Hari ini bukan awal kebahagiaan kalian.”

Mataku menatap tajam.

“Tapi awal dari kehancuran yang kalian pilih sendiri.”

---

Aku pergi.

Tanpa menoleh.

Tanpa berlari.

Tanpa tangisan yang terdengar.

Karena beberapa luka…

Tidak perlu ditunjukkan.

Cukup disimpan.

Dan suatu hari…

Akan kembali… dengan cara yang tidak pernah mereka bayangkan.

Haii Bun, mau buat kaos dengan desain s**a s**a??? Bisa Pesan satu kaos saja loh. Yuks langsung WA 0853-8548-3338
03/10/2025

Haii Bun, mau buat kaos dengan desain s**a s**a???
Bisa Pesan satu kaos saja loh. Yuks langsung WA 0853-8548-3338

Part 9"Bicara apa kamu, Darren?" Ibu Renata menanggapi pertanyaan anak semata wayangnya sambil melengos. Tidak menunggu ...
11/08/2025

Part 9

"Bicara apa kamu, Darren?" Ibu Renata menanggapi pertanyaan anak semata wayangnya sambil melengos. Tidak menunggu anaknya menjawab. Sorot mata ibu Renata tetap tajam, melotot tak s**a atau mungkin gengsi.

Darren hanya mengulum senyum, menggelengkan kepala melihat Ibu Renata yang melenggang masuk ke dalam rumah. Darren tahu kalau Ibu Renata gengsi mengungkapkan rasa s**anya terhadap Sabrina. Namun, hati Darren semakin yakin kalau suatu saat atau mungkin sebentar lagi Ibu Renata akan menyukai istri keduanya.

Darren masuk ke dalam rumah, langkah kakinya menuju dapur. Samar-samar terdengar suara Ibu Renata yang meng-introgasi wanita yang dicintainya.

"Memangnya kamu kursus masak dan bikin kue di mana?"

Intonasi ibu Renata masih terdengar ketus. Sabrina tersenyum sebelum menjawab pertanyaan wanita yang sangat disegani di rumah ini. Sabrina berusaha menunjukkan sikap tidak takut pada Ibu Renata.

"S-saya enggak pernah kursus, Nyonya."

Ibu Renata tampak tak percaya kalau Sabrina tidak kursus memasak atau membuat kue.

"Benarkah? Kamu pasti berbohong!" Cetus Ibu Renata memalingkan wajah.

Salah satu asisten rumah tangga membuatkan teh hijau untuk Ibu Renata tanpa diperintah. Mereka berdua sudah mengerti jika jam-jam segini Ibu Renata selalu ingin dibuatkan teh hijau.

"Enggak bohong, Nyonya. Saya bicara jujur," jawab Sabrina sambil membuat olahan cake.

"Terus, kamu bisa dari mana?" tanya Ibu Renata lagi, mengangkat cangkir berisi teh hijau.

"Dulu waktu di desa, saya kerja di salah satu rumah makan dan s**a membantu membuat pesanan kue tetangga. Kadang mereka memesan cake, brownis atau kue bolu."

Jawaban Sabrina membuat kening Ibu Renata mengkerut. Wanita yang usianya sudah lebih dari setengah abad tidak percaya dengan jawaban Sabrina.

"Kamu jangan bohongi saya. Masa orang desa s**a makanan kota?"

Sangat angkuh ucapan Ibu Renata. Seolah merendahkan orang-orang yang tinggal di desa. Sabrina tidak marah, ia semakin bersemangat menunjukkan keahliannya di depan Ibu Renata.

"Saya enggak bohong, Nyonya. Zaman sekarang kan hampir semua masyarakat punya handphone. Mereka jadi tau makanan atau masakan orang kota seperti apa. Biasanya saya pelajari itu semua sambil melihat youtube," jawab Sabrina merunduk, tersenyum.

Ibu Renata semakin terkejut. "Kamu hanya nonton youtube, enggak kursus masak atau membuat kue-kue?"

"Enggak, Nyonya," jawab Sabrina tegas.

"Kenapa?"

"Enggak ada uang, Nyonya."

Ibu Renata menggelengkan kepala mendengar jawaban Sabrina.

"Oh iya ya. Jangankan buat kursus, buat kamu makan juga pasti susah."

Sabrina tak menimpali ucapan merendahkan Ibu Renata.

Tiba-tiba Darren datang sambil berdehem. Sedari tadi lelaki itu mendengar obrolan antara Ibu Renata dan Sabrina.

"Darren, ngapain kamu di dapur? Ayok sana! Ayookk!"

Tangan Darren ditarik paksa Ibu Renata agar menjauh dari dapur.

"Ma, jangan tarik-tarik tanganku kayak gini. Aku bukan anak kecil, Ma." protes Darren berusaha melepaskan cekalan tangan wanita yang telah melahirkannya.

"Kamunya ngeyel!" Ibu Renata melotot, menatap anak semata wayangnya. "Sekarang kamu masuk kamar! Inget kata Mama, seharian ini jangan ganggu Sabrina! Paham, Darren?" Lagi, kedua mata Ibu Renata seperti mau melompat. Darren tersenyum menganggukkan kepala. Perintah Ibu Renata bagianya, awal mula yang baik untuk pendekatan dengan Sabrina.

Darren masuk kamar, Ibu Renata kembali ke dapur. Wanita tua itu duduk di kursi, memerhatikan Sabrina dan dua asisten rumah tangganya sedang membuat cake.

Tidak dapat dipungkiri, melihat Sabrina yang cekatan membuat cake, hati Ibu Renata cukup bahagia. Paling tidak, sekarang dia memiliki menantu yang sesuai keinginannya. Tidak seperti Angelica yang hanya bisa makan, tidur, foya-foya, sungguh menantu tak ada guna.

"Wow, ada apa ini? Tumben sekali Mama ada di dapur?"

Orang yang baru saja berada dalam lamunan Ibu Renata, kini muncul di hadapan mata.

"Kamu nyindir Mama, Angelica?" Ibu Renata bertanya dingin. Tatapan tak s**a terhadap menantu pertamanya itu tak bisa disembunyikan.

"Bukan nyindir, Ma ... aku tuh nanya. Mama ngapain duduk di dapur? Enggak takut badan Mama bau dapur?" tanya Angelica berusaha tidak terpancing emosi. Wanita itu duduk di kursi samping ibu mertua.

"Lebih baik badan bau dapur ketimbang bau alkohol kayak kamu," tandas ibu Renata menatap lekat Angelica. Istri pertama Darren itu menelan saliva, memutar bola mata malas. Bibirnya menyeringai seolah mengejek Ibu Renata.

Sabrina yang mendengar obrolan mereka hanya melirik. Tidak berani melihat langsung apalagi nimbrung dalam pembicaraan menantu dan mertua itu.

"Wajarlah, aku s**a minum-minuman. Siapa yang enggak stres, punya suami tapi kayak enggak punya suami. Gimana aku mau punya anak, usaha membuatnya saja jarang banget."

"Diam kamu, Angelica!" sentak Ibu Renata tak s**a mendengar ucapan yang mengarah dalam privasi hubungan rumah tangga.

"Kenapa aku harus diam, Ma. Itu fakta! Harusnya Mama ngebujuk Darren supaya mau meny3ntuhku bukan justru nyuruh nikah lagi sama dia!" Emosi Angelica tak bisa dikendali. Sebagai perempuan, Angelica sangat tidak terima suaminya menikah lagi hanya karena tidak bisa memberinya keturunan.

Ibu Renata tak langsung menjawab. Napasnya turun naik karena menahan amarah yang semakin memuncak.

"Kenapa, Ma? Benar kan apa kataku? Mama mulai merasa bersalah sama aku? Mau minta maaf? Boleh ...."

Angelica merasa di atas awan. Bibirnya menyunggingkan senyum, pandangannya beralih pada Sabrina yang tengah sibuk membuat cake atas permintaan ibu Renata.

"Mulutmu makin kurang ajar, Angelica. Kamu benar-benar wanita yang enggak tau diri! Harusnya kamu berpikir, apa yang membuat Darren tidak ingin menyentuhmu?"

Senyum yang sebelumnya mengembang di bibir Angelica seketika redup. Kepalanya menoleh, membalas tatapan sang ibu mertua.

"Mama tetap nyalahin aku?" Kali ini, intonasi suara Angelica rendah.

"Kamu memang pantas disalahkan, Angelica. Baiklah, sekarang Mama akan kasih tau kamu alasan Darren enggan menyentuhmu."

Raut wajah Angelica berubah pias. Sikapnya mendadak salah tingkah. Dia takut kalau ibu mertua mengetahui kelakukannya di luar sana. Alasan Darren tak ingin menyentuhnya. Darren sendiri pernah mengungkapkan itu. Ternyata Darren sudah tahu kelakuan Angelica yang s**a bergonta-ganti pasangan di luar sana. Ia yang sering datang ke club malam, yang s**a mabuk-mabukan, selalu melakukan hubungan int1m dengan laki-laki yang baru dikenalinya malam itu. Bagaimana Darren tidak jijik melihat kelakuan istrinya yang sudah sangat biasa bers3lingkuh dan melakukan hubungan yang semestinya hanya dilakukan oleh suami istri?

"Sudahlah, Ma. Aku mau istirahat. Lama-lama aku semakin stres tinggal di sini. Suami enggak perhatian, nikah lagi, eh mertua bawel sekali!"

Angelica benar-benar ngelunjak. Ibu Renata tak tahan lagi, mengatakan aib menantunya itu.

"Perlu kalian tau, anakku Darren enggak mau menyentuh dia karena tau kalau istrinya bers3lingkuh dengan banyak lelaki di luar sana. Jadi, wajar saja kalau Darren merasa jij1k menyentuh daging yang dinikmati banyak lelaki. Benar begitu, Angelica?"

Penulis: Syatizha2
Judul: Rahim Dua Ratus Juta
Tamat di KBM App

Address

Jalan MUSEUM KOTA CINA PAYA PASIR MEDAN MARELAN
Medan

Telephone

+6282165427555

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Sablon Kaos Digital Medan posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share