Rumah Hijab Medan

Rumah Hijab Medan Menjual berbagai macam jilbab (Segi 4, Pashmina, dan Kerudung)
Murah, Keren, Cantik, dan Update
Proses pemesanan sangat mudah
Simple, Praktis dan Murah

InsyaAllah tiap minggu selalu update produk baru

Harga terjangkau untuk pelajar, mahasiswa, Ibu Rumah Tangga

Produk jilbab InsyaAllah tidak tembus, kain tidak tipis, berbulu dan tegang

Diusakan produk selalu yang terbaik !

21/05/2024

Kisah Imam Hanafi menangis atas di Nasehatin seorang anak Kecil.. Kisah ini syarat akan makna pesan tersirat di dalam-Nya, sehingga kita semuanya bisa memetik pelajaran atas kisah di atas.. Karena seringkali Manusia terjebak sama keangkuhan ketikan merasa punya Jabatan tinggi, maqom tinggi dst, sehinnga diri ini di liputi penuh dengan keangkuhan dan Kepongahan.

20/05/2024

Tentang Ayat Kursi
Kisah imam Hanafi bertemu dengan ateis yang tak beragama

Kisah Aisyah binti Abu Bakar menguasai ilmu kedokteranAisyah adalah istri yang memerhatikan keilmuan dari Rasulullah SAW...
16/05/2024

Kisah Aisyah binti Abu Bakar menguasai ilmu kedokteran

Aisyah adalah istri yang memerhatikan keilmuan dari Rasulullah SAW, yang menjadikannya sebagai guru bagi kaum laki-laki sahabat Rasulullah. Para sahabat pun menjadikan Aisyah sebagai rujukan dalam bidang hadits, sunnah, dan fikih.

Aisyah juga menguasai syair dan ilmu kedokteran atau pengobatan. Diriwayatkan dari Hisyam, bahwa ia mendengar dari bapaknya yang berkata, "Aku tidak melihat seorang pun yang lebih mengetahui ilmu faraidh, fikih, dan syair daripada Aisyah." (HR. Ibnu Abi Syaibah).
Murid-murid Aisyah menyaksikan bahwa sang guru merupakan sosok yang hebat dan mahir dalam segala bidang. Aisyah memiliki pengetahuan yang luas dalam bidang sejarah, sastra, dan kedokteran (pengobatan).
Suatu saat Urwah berkata:
"Aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih pandai dalam bidang kedokteran daripada Aisyah."
Aisyah belajar kedokteran dari para tabib yang biasa mengobati pasiennya dengan obat-obat herbal dan rerumputan. Urwah ibn Zubair kagum akan kepandaiaan dan kemampuan Aisyah dan bertanya pada Aisyah tentang hal tersebut,

"Wahai Bunda Aisyah, aku tidak heran akan daya pemahamanmu, karena engkau istri Rasulullah dan putri Abu Bakar. Aku juga tidak heran dengan ilmu syair dan sejarahmu karena engkau putri Abu Bakar, sementara Abu Bakar adalah orang yang paling ahli dalam masalah itu. Namun aku heran dengan kemampuan dan ilmumu di bidang kedokteran, bagaimana engkau mendapatkannya? Dari mana ilmu engkau dapatkan wahai Bunda?"
Aisyah berkata, "Wahai Urwah, di akhir hidup, Rasulullah mengalami sakit yang tak kunjung sembuh. Saat itu banyak utusan dari bangsa Arab yang berdatangan dari segala penjuru untuk mengobati Rasulullah. Akulah yang harus meneruskan pengobatan Rasulullah."

Aisyah juga termasuk sebagai ahli hadits dan fikih. Ia hafal lebih dari 2100 hadits Rasulullah SAW. Diriwayatkan Abu Musa bahwa ia berkata, "Jika ada sahabat yang menanyakan hadits kepada kami, lalu kami menanyakannya pada Aisyah, maka kami pasti mendapatkan ilmu (penjelasan) darinya." (HR. at-Tirmidzi).

Kisah Aisyah binti Abu Bakar ini bersumber dari buku Kisah Keteladanan dan Hikmah Terbaik Para Sahabat Rasulullah SAW oleh Mutthia Asma' dan Junaidil Awani (2018: 47-48).

15/05/2024

KIsah Imam Syafi'i menuntut ilmu

Kisah Perjalanan Imam Syafi'i Menuntut IlmuKetika berguru di kota Mekah Imam Syafi’i di perintahkan oleh gurunya, "wahai...
15/05/2024

Kisah Perjalanan Imam Syafi'i Menuntut Ilmu

Ketika berguru di kota Mekah Imam Syafi’i di perintahkan oleh gurunya, "wahai Muhammad pergilah engkau ke Madinah untuk berguru lagi, karena sesungguhnya ilmuku sudah habis, semuanya sudah kuajarkan padamu". Imam syafi’i pun menuruti perintah sang guru dan beliau segera berpamitan dengan sang ibu. Berkatalah sang Ibu, "pergilah engkau menuntut ilmu di jalan Allah, kita akan bertemu nanti di akhirat." Maka Imam Syafi'i Pun berangkat ke Madinah mencari guru untuk mengajarkannya ilmu.

Di Madinah beliau berguru kepada Imam Malik. Tak butuh waktu lama, Imam Syafi'i langsung menyerap ilmu yang diajarkan Imam Malik sehingga semua orang terkagum-kagum dibuatnya. Termasuk sang guru yang pada saat itu merupakan ulama tertinggi di Madinah, Imam Syafi'i Pun menjadi murid kesayangan Imam Malik.

Imam Syafii kemudian mengembara ke Iraq dan menimba ilmu di sana, beliau berguru kepada murid-muridnya Imam Abu Hanifah atau Imam Hanafi. Meski sudah banyak menyerap ilmu di Irak, imam Syafi'i belum ingin pulang karena belum ada panggilan dari ibundanya. Di Irak Imam Syafi'i berkembang menjadi murid yang terkenal sangat pintar dan tercerdas. Sehingga dalam waktu singkat ia sudah diminta untuk mengajar. Tak butuh waktu lama, ribuan murid pun berbondong-bondong datang untuk berguru padanya. Hingga ia pun menjadi ulama besar yang terkenal ke seluruh penjuru Irak hingga Hijaz.

Ibundanya imam syafi’i pada setiap tahunnya juga melakukan ibadah haji, pada kesempatan tahun itupun sang ibu melaksanakan ibadah haji. Pada saat itu sang ibu mengikuti kajian dari salah seorang ulama yang mana sang ulama tersebut sering mengucapkan nama imam Syafi'i. Mendengar ulama tersebut sering mengucapkan nama sang anak, setelah pengajian sang ibu pun menjumpai ulama tersebut. Sang ibu bertanya kepada sang ulama Wahai syekh siapakah itu Muhammad bin Idris Asy Syafi’i? sang ulama pun menjawab bahwa imam syafi’i adalah gurunya di irak.

Kemudian sang ibu dengan penasaran menanyakan lagi kepada sang ulama bahwa Muhammad bin Idris Asy Syafi'i yang manakah yang maksud? ulama tersebut pun menjawab bahwa ia merupakan ulama besar yang berasal dari kota mekah. Sang Ibu pun Terkejut mengetahui bahwa guru ulama tersebut merupakan anaknya. Kemudian sang ulama menyampaikan kepada ibunya imam syafi’i bahwa ia ingin berpesan apa kepada sang anak? Sang ibu pun menjawab bahwa ia telah memperbolehkan sang anak untuk pulang ke rumahnya.

Sesampainya sang ulama tersebut di Irak ia langsung menyampaikan pesan tersebut kepada sang guru. Imam syafi'i yang mendengar kabar tersebut langsung bergegas untuk pulang ke mekah. Mendengar kabar sang imam ingin pulang penduduk irak sangat sedih, namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Ketika sang imam ingin pulang, masyarakat serta sang murid pun telah menyiapkan bekal kepada sang imam. Karena sang imam telah menjadi ulama besar di irak ia pun menerima bekal yang sangat banyak, ratusan ekor unta telah diterimanya dari masyarakat dan muridnya disana.

Sesampainya sang imam di pinggir kota mekah, ia pun memerintahkan sang murid untuk me memberitahukan sang ibu bahwa anaknya telah berada di pinggir kota mekah. Sang ibu bertanya apakah yang ia bawa? sang murid pun menjawab dengan bangga bahwa sang imam membawa ratusan ekor unta dan harta lainnya. Mendengar itu sang ibu pun sangat marah dan ia tidak memperbolehkan sang anak untuk pulang.

Dengan rasa bersalahnya sang murid kembali menjumpai sang guru dan menyampaikan bahwa sang ibu marah dan tidak memperbolehkannya pulang. Mendengar berita itu sang imam sangat ketakutan dan menyuruh sang murid untuk mengumpulkan seluruh orang-orang miskin di kota mekah, kemudian ia memberikan seluruh harta yang ia bawa hingga yang tersisa hanya kitab-kitab dan ilmunya. Kemudian sang imam memerintahkan sang murid untuk memberitahu sang ibu tentang hal ini, setelah mendengar kabar tersebut sang ibu pun memperbolehkan sang imam untuk pulang.

Kisah Imam Syafi’i Khatam Al-Quran hingga 60 Kali Selama RamadhanNama Imam Syafi’i yang merupakan salah seorang ulama be...
14/05/2024

Kisah Imam Syafi’i Khatam Al-Quran hingga 60 Kali Selama Ramadhan

Nama Imam Syafi’i yang merupakan salah seorang ulama besar, mujtahid mutlak, pembaharu agama setiap 100 tahun sekali, dan juga pendiri mazhab fiqih yang masyhur diikuti, tentu menjadi nama yang tak asing lagi bagi masyarakat muslim Tanah Air.

Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Muhammad bin Idris bin al-Abbas bin Utsman bin Syafi’ bin as-Sa’ib bin Ubaid bin Abdu Yazid bin Hasyim bin al-Muthalib bin Abdu Manaf bin Qushay. (Lihat: Yusuf bin Taghri, an-Nujum az-Zahirah fi Muluki Mishr, Kairo: Wizaratus-Tsaqafah], jilid II, halaman 176).

Dengan demikian, nama Syafi’i dinisbahkan kepada salah satu nama kakeknya yang bernama Syafi’. Selain nisbah masyhur Syafi’i, namanya juga dinisbahkan kepada al-Qurasyi, al-Muthalibi, dan al-Maki.

Ia lahir di Askelon (Askolan) Gaza, Palestina pada tahun 15 Hijriah. Pada usia 2 tahun, setelah ayahnya wafat, Syafi’i kecil dibawa oleh ibunya ke Mekah. Setelah dewasa, ia dua kali berkunjung ke Baghdad. Di sana ia menyusun qaul-qaul qadim atau mazhab lamanya. Setelah itu, ia menuju Mesir dan tinggal di sana pada tahun 199 Hijriah. Di sana ia menyusun qaul-qaul jadid atau mazhab barunya.

Manaqib atau kisah perjalanan hidup Imam asy-Syafi’i terlalu banyak dan keutamaan-keutamaannya terlalu masyhur untuk diceritakan. Kecerdasan dan kejeniausannya sudah tampak sejak kecil. Tak heran setelah dewasanya, ia berhasil menjadi mujtahid yang brilian.

Bagaimana tidak pada usia 7 tahun, ia sudah hapal Al-Quran. Hapal kitab al-Muwatha karya Imam Malik pada usia 10 tahun. Pada usia 15 tahun, ia sudah mampu berfatwa memenuhi permintaan para ulama lain dan siapa saja yang membutuhkan. Namun, tidaklah ia berfatwa kecuali setelah menghapal 10.000 hadis. (Lihat: Jamaluddin Abul-Farah al-Jauzi, al-Muntazhim fi Tarikh al-Umam, Beirut: Darul Kutub, 1992, Jilid X, halaman 135).

Satu riwayat menyebutkan, pada awal usianya, Imam Syafi’i tidak begitu banyak membaca Al-Quran karena sibuk menuntut ilmu. Baru di penghujung usianya, ia memperbanyak kembali tilawah Al-Qurannya.

Ar-Rabi mengatakan, “Imam Syafi’i setiap hari satu kali mengkhatamkan Al-Quran. Bahkan, di bulan Ramadhan, ia mengkhatamkannya hingga 60 kali di luar bacaan Al-Quran pada saat shalat. Suaranya sangat merdu. Tak heran, saat suaranya terdengar orang banyak, mereka sampai menangis keras.”

Sama halnya dalam ibadah malamnya. Setiap malam, Imam Syafi’i selalu bangun di sepertiganya. Bahkan, di akhir-akhir hayatnya, ia selalu menghidupkannya semalaman.

Husain al-Karabisi pernah menceritakan pengalamannya, “Aku bermalam di tempat Imam asy-Syafi’i tidak hanya satu malam. Di sepertiga malam, ia selalu bangun. Ia tidak kurang membaca ayat 50, bahkan sampai 100 ayat. Tidaklah melewati ayat tentang rahmat kecuali memohon kepada Allah. Dan tidaklah melewati ayat tentang azab kecuali berlindung kepada-Nya.” (Lihat: Yusuf bin Taghri, an-Nujum az-Zahirah fi Muluki Mishr, Kairo: Wizaratus-Tsaqafah, jilid II, halaman 176).

Imam Syafi’i sendiri tutup usia di Fustath (Kairo), pada hari Kamis, akhir bulan Rajab 204 Hijriah dalam usia 54 tahun. Jenazahnya dikebumikan di Qarrafah ash-Shughra yang sekarang dikenal sebagai komplek pemakaman para wali yang ada di Kairo, Mesir. Di tempat pemakamannya terdapat pelataran atau halaman yang pernah dimakmurkan oleh Sultan Shalahuddin Yusuf dan dibangun kubah di atas pusaranya oleh Raja Kamil Muhammad. Dan kubah itu pun masih ada hingga sekarang.

Di sekitar makam Imam Syafi’i terdapat Makam Syaikh Jalaludin Al-Suyuthi, salah satu penulis Tafsir Jalalain bersama Jalaludin Al-Mahalli, Makam Ibnu Hajar Al-Asqalani, Imam Laits, Rabiah Al-Adawiyah dan Sahabat Uqbah bin Umar.

Semoga kita termasuk orang yang mampu mengambil pelajaran dari kesungguhan ibadah Imam Syafi’i, meneladani kecintaannya terhadap Al-Quran, serta memperoleh keberkahan ilmunya. Wallahu a’lam.

Imam al-Bukhari rahimahullah adalah Amirul Mu’minin dalam bidang hadis. Nama beliau adalah Muhammad, putra dari Isma’il ...
12/05/2024

Imam al-Bukhari rahimahullah adalah Amirul Mu’minin dalam bidang hadis. Nama beliau adalah Muhammad, putra dari Isma’il bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Bardizbah Al-Ju’fi, biasa dipanggil dengan sebutan Abu ‘Abdillah. Beliau dilahirkan pada hari Jum’at, 13 Syawwal 194 H di Bukhara (Bukarest). Ayahnya meninggal ketika Imam al-Bukhari kecil sehingga beliau pun diasuh oleh ibunya.

Sedari kecil, Imam al-Bukhari mengalami rasa sakit yang teramat di kedua matanya, hingga mengalami kebutaan. Lantas, apa yang dilakukan ibunda Imam al-Bukhari? Ia senantiasa menekuni doa sepanjang malam dan siang, dengan deraian air mata kejujuran, berbaik sangka kepada Allah ta’ala, tidak putus asa atau mengadu. Suatu malam, ibunda al-Bukhari tertidur, dan ia bermimpi melihat Nabi Ibrahim ‘alaihissalam berkata kepadanya, “Wahai ibu, sesungguhnya Allah telah memulihkan penglihatan putramu karena banyaknya doa yang kamu panjatkan kepada-Nya.” Pagi harinya, dia dapati penglihatan anaknya telah sembuh (Hadyu Sari, hal. 640).

Begitu dahsyatnya doa ibu Imam al-Bukhari. Berkat pertolongan Allah dan doa ibunya, penglihatan Imam al-Bukhari dapat pulih. Hal ini sebagaimana yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang mustajabnya doa orang tua.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ لاَ تُرَدُّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ ، وَدَعْوَةُ الصَّائِمِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ

“Tiga doa yang tidak tertolak yaitu doa orang tua, doa orang yang berpuasa dan doa seorang musafir.” (HR. Al-Baihaqi dalam Sunan Al-Kubra. Syaikh Al-Albani mengatakan hadis ini shahih sebagaimana dalam As-Silsilah Ash-Shahihah no. 1797).

Ketika Allah ta’ala telah mengembalikan penglihatan Imam al-Bukhari, ibunda al-Bukhari berupaya keras mengajari putranya. Imam al-Bukhari juga mengelilingi negeri-negeri Islam untuk mencari hadis-hadis Nabi dengan hafalan yang kuat, kesabaran yang sangat, serta memastikan keshahihan hadis-hadis tersebut. Kitabnya, Shahih Al-Bukhari, menjadi kitab yang paling shahih setelah Kitabullah.

Imam al-Bukhari rahimahullah memiliki kekuatan hafalan yang luar biasa. Imam al-Bukhari rahimahullah pernah berkata, “Aku menghafal seratus ribu hadis shahih, dan dua ratus ribu hadis yang tidak shahih”. (Hadyu Sari, hal. 654).

Suatu ketika Imam al-Bukhari rahimahullah datang ke Baghdad. Para ulama hadits yang ada di sana mendengar kedatangannya dan ingin menguji kekuatan hafalannya. Mereka pun mempersiapkan seratus buah hadis yang telah dibolak-balikkan isi hadis dan sanadnya, matan yang satu ditukar dengan matan yang lain, sanad yang satu ditukar dengan sanad yang lain. Kemudian, seratus hadis ini dibagi kepada 10 orang yang masing-masing bertugas menanyakan 10 hadis yang berbeda kepada Imam al-Bukhari rahimahullah. Setiap kali salah seorang di antara mereka menanyakan kepadanya tentang hadis yang mereka bawakan, maka Imam al-Bukhari rahimahullah menjawab dengan jawaban yang sama, “Aku tidak mengetahuinya.” Setelah sepuluh orang ini selesai, maka Imam al-Bukhari rahimahullah yang berkata kepada 10 orang tersebut satu persatu, “Adapun hadis yang kamu bawakan bunyinya demikian. Namun hadis yang benar adalah demikian.” Hal itu beliau lakukan kepada sepuluh orang tersebut. Semua sanad dan matan hadis beliau kembalikan kepada tempatnya masing-masing dan beliau mampu mengulangi hadis yang telah dibolak-balikkan itu hanya dengan sekali dengar. Sehingga para ulama pun mengakui kehebatan hafalan Imam al-Bukhari rahimahullah dan tingginya kedudukan beliau (lihat Hadyu Sari, hal. 652).

Semoga para orang tua senantiasa mendoakan anaknya dalam kebaikan.

Wallahu waliyyut taufiq.

Penulis: Bini Arta Utama

Referensi :

Ibunda Tokoh-tokoh Teladan, Jumuah Saad, cetakan Aqwam, Solo.
Mengenal Imam Bukhari, Al-Ustadz Abu Mushlih Ari Wahyudi
hafizhahullahu ta’ala, https://muslim.or.id/640-mengenal-imam-bukhari.html
Imam Al-Bukhari rahimahullah, Satu Tanda Kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala, Al-Ustadz Abu Minhal Lc hafizhahullahu ta’ala, https://almanhaj.or.id/3657-imam-al-bukhari-rahimahullah-satu-tanda-kekuasaan-allah-subhanahu-wa-taala.html

Sumber: https://muslimah.or.id/17006-mustajabnya-doa-ibu.html
Copyright © 2024 muslimah.or.id

12/05/2024

4 kunci hidup bahagia

10/05/2024

3 Ciri-Ciri Wanita Sholehah

Address

Jalan Selindit No 387 Perumnas Mandala
Medan
20222

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Rumah Hijab Medan posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Rumah Hijab Medan:

Share