12/04/2015
Kidung Birahi sebagai Penanda Musim .
Garengpung adalah serangga yang mirip lalat besar. Biasanya Garengpung "bernyanyi" dengan menggesekkan kedua sayapnya saat pagi menjelang siang. Uniknya, Garengpung hanya muncul ketika musim hujan telah berakhir dan musim kemarau tiba. Serangga berwarna abu-abu dan berukuran sekitar 4 cm ini muncul sekitar bulan April dan Mei.
Garengpung adalah serangga yang masuk ke dalam keluarga . Ada 3 spesies, yaitu Magicicada Septendenci, Magicicada Cassini, dan Magicicada Septendecula. Di Indonesia yang beriklim tropis, Garengpung muncul setahun sekali yaitu di awal musim kemarau. Sedangkan di Amerika Serikat, ada juga serangga sejenis Garengpung tetapi hanya muncul 17 tahun sekali. Ada juga yang siklus kemunculannya 13 tahun sekali.
Pada akhir musim penghujan dan memasuki musim kemarau yang biasa disebut dengan , serangga ini keluar dari tanah, bermetamorfose menjadi serangga sempurna dan memasuki masa dewasa. Hanya garengpung jantan saja yang mampu menghasilkan suara. Karena memiliki organ timpana sebagai alat penghasil resonasi bunyi yang terdiri dari tiga lapis membran. Alat tersebut terletak di bagian torak yang berwarna oranye. Sedangkan betinanya tubuh sedikit lebih besar dibandingkan yang jantan, tetapi tidak memiliki organ timpana. Tubuh yang jantan lebih langsing. Sedangkan timpana adalah alat yang berfungsi sebagai daya tarik sexual terhadap betina. Seperti halnya ayam merak, hanya yang jantan memiliki bulu indah yang digunakan untuk menarik perhatian betina. memikat serangga betina.
Pengenalan akan karakter garengpung digunakan oleh para leluhur sebagai penanda musim. Rentang waktu 1-25 Maret dikenal sebagai mangsa kasanga (ke 9) atau Jita, mangsa rendheng–pangarep-arep. Sebagai candra penciri adalah wedharing wacånå mulyå (“munculnya suara-suara mulia” yaitu beberapa hewan mulai bersuara untuk memikat lawan jenis).
merupakan kekayaan kearifan lokal, membaca dan memaknai tanda-tanda alam dan menjadikannya sebagai ketentuan/tuntunan/pedoman aktivitas yang bergantung pada kondisi alam seperti kegiatan bertani secara alami. Ketentuan tersebut bersifat lokal/regional dan temporal karena sangat dipengaruhi oleh kosmografi dan klimatologi setempat.
Hampir setiap daerah memiliki semacam pranatamangsa ini, Bali yang kental dengan budaya dan pertanian memiliki , etnik Jerman mengenal atau “penanggalan untuk petani”, Jepang juga menganut tanda-tanda alam untuk aktivitasnya. Pengetahuan dan kearifan lokal yang sangat membantu petani yang memaknai kegiatan bertani adalah menari bersama alam dalam tarian ibadah pemujaan syukur.