18/04/2024
Tradisi bersarung masyarakat Madura tidak lepas dari berbagai cerita sejarah masa lampau. Salah satunya adalah Aryo Menak, anak dari Adipati Palembang yang berkeinginan untuk mengunjungi pamannya yang bernama Lembu Peteng di Pamekasan. Setelah menempuh perjalanan jauh dan penuh cobaan, Aryo Menak sampai di Pamekasan. Sesampainya di Pamekasan, Aryo Menak disambut baik oleh Lembu Peteng, bahkan memintanya untuk menginap.
Aryo Menak yang kagum dengan Madura, menolak tawaran menginap dari Lembu Peteng. Dia memutuskan untuk berpetualang hingga Karang Anyar. Singkat cerita, Aryo Menak menikah dengan seorang bidadari setelah selendangnya dicuri olehnya. Selama hidup di Karang Anyar, Aryo Menak hanya melilitkan tubuhnya dengan kain yang disebut “sarung”. Sama dengan istrinya yang melilitkan kain ke badannya dan disebut dengan “samper”.
Maka, cara berpakaian Aryo Menak dan istrinya ditiru oleh masyarakat sekitar dalam berbagai kegiatan dan tradisi. Sehingga, lambat laun, sarung dan samper menjadi cara berpakaian yang terus menyebar dan dipertahankan oleh masyarakat Madura hingga sekarang.
Siapa Banarian yang pernah mendengar cerita ini?