International Batik Center

International Batik Center Pekalongan World's City of Batik Konsep dan apa tujuan pembangunan IBC ini? Tetapi unsur budaya juga akan lebih kita munculkan. A.

Launching International Batik Center
Tentu saja bagi siapapun ingin rasanya IBC atau International Batik Center yang terletak di Kabupaten Pekalongan ini dapat segera dibuka secara resmi oleh pejabat setempat. Terlebih lagi bagi yang memiliki toko di International Batik Center, pastinya lebih tidak sabar lagi ingin mendemonstrasikan produk batik kahas pekalongan pada Grosir batik bertaraf Internat

ional. Berkaitan dengan akan di bukanya secara resmi atau launching International Batik Center ini akan di hadiri oleh Ibu Ani Yudoyono yang akan menjadi saksi peresmian International batik center di Wiradesa ini. Kios yang hampir 95% terjual ini akan menampilkan produk terbaik mereka pada event launcing yang akan diselenggarakan pada tanggal 03 Maret 2012. Berdiri di atas lahan seluas lebih dari 4 hektare di jalur Pantura, tepatnya di jalan A Yani Nomor 573 Wiradesa Kabupaten Pekalongan, International Batik Center (IBC) akan menjadi sebuah ikon baru Pekalongan. KEHADIRAN sentra batik dengan label Internasional ini akan semakin menguatkan posisi Pekalongan sebagai pusat batik dan tekstil dunia. Selain itu, adanya IBC diharapkan mampu menarik hati pemerintah untuk membangun bandara di Pekalongan. Direncanakan, peletakan batu pertama pembangunan IBC akan dimulai, Kamis (23/12) mendatang. Menempati tempat bekas pabrik tekstil PT Gunatex Jaya, terletak di sisi selatan jalur pantura, IBC nantinya akan terdiri dari 700 dengan berbagai ukuran, area workshop batik, food court (pujasera), sarana ibadah, tempat parkir luas, serta dilengkapi dengan Museum Batik. IBC merupakan sebuah kompleks yang dirancang untuk dapat menampung kegiatan transaksi perdagangan dan pemasaran batik baik dalam partai kecil, menengah ataupun besar, dalam skala lokal, regional maupun internasional. Dilatarbelakangi dari adanya pengakuan batik sebagai salah satu warisan budaya dunia tak benda asal Indonesia oleh UNESCO pada 2 Oktober tahun lalu, dijadikan sebagai momentum yang tepat untuk membangun batik. Seperti yang dituturkan oleh salah seorang Marketing IBC Tim Pekalongan, Drs Sony Hikmalul MSi, saat ditemui Radar di kantor IBC kemarin. “Apalagi Pekalongan secara luas merupakan kota yang diwarisi oleh nenek moyang kita budaya batik sejak ratusan tahun lalu,” katanya. Dikatakan, bahwa IBC ini dibangun dengan konsep yang berbeda dengan beberapa pasar grosir batik yang telah ada di Kota dan Kabupaten Pekalongan. IBC tidak hanya dikunjungi oleh pembeli mancanegara saja, tetapi juga para pengunjung domestik yang melewati jalur pantura. Filosofi bangunan IBC dikatakan mempunyai daya tarik tersendiri khususnya untuk para pembeli, yaitu dengan filosofi ‘Ngadepake Bandaran Ghede Mungkurake Pagunungan’.
“Kawasan ini memang kita desain tidak hanya sebagai kawasan perdagangan batik semata, seperti pasar-pasar yang telah ada. Kalau di tempat lain kan hanya sebagai tempat penjualan batik semata,” ungkap Sony. Penekanan pada sisi budaya tersebut, lanjutnya, akan ditampilkan dalam suasana di IBC, bentuk bangunan, serta fasilitas-fasilitas penunjang lainnya, seperti kehadiran museum batik mini di kompleks IBC “Disini nanti dilengkapi museum batik, tempat edukasi tentang batik, business center, serta fasilitas lainnya, seperti joglo, yang bisa digunakan untuk menyelenggarakan berbagai event,” paparnya. Sony tidak setuju, jika kehadiran IBC nantinya dianggap akan mematikan grosir-grosir batik yang ada, baik itu di wilayah Kabupaten Pekalongan, seperti Grosir Batik Pantura, maupun grosir batik di Kota Pekalongan.
“Justru akan menghidupkan grosir-grosir itu. Dengan dibangunnya IBC ini, kita akan membuat jaringan secara internasional di mancanegara, sehingga mampu menambah kunjungan wisatawan kemari. Kita ingin meneruskan pembangunan Pekalongan. Jika berhenti sebentar saja, pasti akan ketinggalan dengan daerah lain,” ujar pria yang juga Ketua Politeknik Batik Pusmanu Pekalongan ini. Kemudian, jaringan investor internasional yang telah dibangun tersebut akan menjadi ‘rel’ jaringan batik Pekalongan ke mancanegara. BANDARA
Adanya rencana dari pemerintah pusat yang akan membangun jalan tol dari Brebes yang melewati wilayah Kabupaten Pekalongan menjadi salah satu alasan mengapa IBC dinyatakan sangat tepat untuk dibangun di wilayah Wiradesa. Pasalnya, kata Sony, direncanakan simpul atau pintu masuk dari jalan tol menuju ke Kabupaten Pekalongan dan Kota Pekalongan terletak di daerah Bojong, yang notabene tidak jauh dari Wiradesa. Pada tahun 2012, pembangunan ‘double track’ atau rel ganda jalur kereta di Pantura diperkirakan akan selesai. Dengan adanya rel ganda tersebut, calon pengunjung dari Jakarta akan lebih cepat dan mudah menuju ke Pekalongan. Dengan kereta eksekutif, dari yang semula sampai ke Pekalongan menempuh waktu hingga 4 jam, nantinya akan lebih singkat 1 jam. Sementara, keberadaan stasiun Kereta Api Pekalongan, yang terletak 3 kilometer di sebelah timur IBC “Dengan begitu, para pengunjung yang akan ke sini tidak akan kesulitan, karena dekat dengan sarana transportasi,” ujarnya. Selain itu, adanya wacana pembangunan Bandara Internasional di luar Kota Semarang oleh pemerintah karena Bandara Ahmad Yani yang ada sekarang dinilai sudah tidak layak, dijadikan sebagai momentum yang sangat tepat bagi pengembang IBC. Seperti yang telah dikatakan oleh beberapa tokoh nasional, bahwa rencana pembangunan bandara saat ini direncanakan kalau tidak di Demak yang di wilayah Kendal. Sementara, tanah di Demak cenderung labil, sedangkan di Kendal juga kurang mendukung karena dipenuhi dengan bukit-bukit atau pegunungan.
“Akhirnya, pilihan tepat untuk dibangun bandara ya di wilayah Kabupaten Pekalongan, terutama di sekitar Wiradesa. Selain masih banyak lahan yang tersedia, juga karena kondisi perekonomian disini berkembang pesat,” tandasnya. Sony, mengutip pendapat beberapa tokoh, mengharapkan dengan adanya IBC mampu menarik perhatian pemerintah pusat untuk melirik Pekalongan terutama Wiradesa sebagai lokasi yang tepat untuk membangun bandara. DIDUKUNG
Rencana pembangunan IBC telah mendapatkan dukungan dari banyak pihak, baik kalangan swasta, tokoh agama/ulama terutama ulama Khasrimatik Pekalongan Habib Lutfi Bin Ali Yahya, serta pemerintah daerah setempat. Seperti yang terungkap dalam “Sarasehan Bisnis” Kabupaten Pekalongan yang dilaksanakan pada 18 November lalu. Bupati Pekalongan Dra Hj Siti Qomariyah MA menerangkan, pihaknya mendukung dengan adanya rencana pembangunan IBC, karena selain melestarikan budaya yang telah diakui UNESO sebagai warisan budaya tak benda, juga akan dapat menampung kegiatan transaksi perdagangan dan pemasaran batik, baik dalam partai kecil maupun besar, skala lokal, regional maupun Internasional. “Pekalongan merupakan produsen batik paling besar, produknya mencapai 60 persen di Indonesia,” ucapnya. Pada kesempatan yang sama, Top Marketing International Marketing Consultant, Hadi Irawan menjelaskan, pengusaha memerlukan nilai tambah untuk memasarkan produknya, dan sikap kreatif dengan membangun sistem. “Sehingga akan menjadikan usahanya tetap laris di pasaran, meski dijual dengan harga yang tinggi, tentunya dengan menjadikan produknya berkualitas,” ucapnya. Usaha IBC, lanjutnya, merupakan bentuk usaha yang prospektif dan mempunyai sejarah tinggi tentang keberadaan batik di tanah air, sehingga optimis saja kesuksesan bakal diperolehnya. Sementara Preskom PT Guna Group, Yusuf Gunawan menerangkan, niat untuk membuat IBC merupakan sebuah jalan usaha yang dirintis dengan campur tangan Tuhan, sehingga mudah dan dapat terjadi begitu saja, dengan berbagai eleman pendukungnya. “Tujuan saya hanya agar dapat berguna bagi orang lain,” ucapnya. PUBLIKASI yang dilakukan wartawan dengan medianya masing-masing dinilai akan sangat berperan dalam mempromosikan keberadaan International Batik Center (IBC) ke tingkat nasional dan internasional. Demikian dikatakan Bupati Pekalongan Dra Hj Siti Qomariyah MA dalam sambutannya pada acara Doa Bersama dan Peletakan Batu Pertama Pembangunan International Batik Center di lahan yang akan digunakan untuk pembangunan IBC di bekas bangunan PT Gunatex Jaya, jalan raya Wiradesa nomor 573 Pekalongan, Kamis (23/12).
“Para wartawan juga berperan besar untuk berpartisipasi mengenalkan IBC ke masyarakat luas. Kalau bisa, pembangunan IBC ini tidak hanya dijadikan sebagai ide lokal semata, tetapi ide nasional,” ujarnya. Qomariyah menjelaskan, seluruh bangsa Indonesia bertanggung jawab dengan kemajuan negerinya. “Jadi, yang bertanggung jawab untuk memajukan IBC ini bukan hanya pengelolanya saja, apakah itu pak Yusuf Gunawan (Preskom Guna Group, red) dan lainnya, tetapi kita semua,” tegasnya. Menurutnya, keberadaan IBC merupakan momentum dan pembelajaran yang sangat penting untuk mengelola batik dengan gaya baru. “Sementara, pasar-pasar yang ada tetap berkembang terus, dengan segmentasi yang berbeda,” imbuhnya. Ditambahkan, Kabupaten Pekalongan yang selama ini sudah dikenal luas dengan batiknya harus tetap bisa menjaga image tersebut. Dan salah satunya, adalah dengan membuat pusat batik yang tidak hanya sebagai tempat belanja semata, melainkan juga sebagai pusat budaya, dan kegiatan lainnya tentang batik dan masyarakatnya. Pada kesempatan yang sama, Ketua penyelenggara kegiatan Drs Sony Hikmalul MSi menjelaskan tentang latar belakang pembangunan IBC, yang diprakarsai oleh tiga tokoh internasional, yakni Habib Luthfi Bin Ali Bin Yahya, Tet Siong (mantan penasehat ekonomi negeri Cina, saat ini menjadi salah seorang penasehat pariwisata Indonesia) serta Yusuf Gunawan, presiden Komisaris PT Guna Group.
“Dibangunnya IBC adalah gagasan untuk menjadikan Pekalongan sebagai pusat batik dunia. Terlebih setelah batik diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia tak benda asli Indonesia,” ujarnya. Sedangkan yang berperan sebagai perancangnya, adalah Bambang Panuju (konsultan teknik tingkat internasional) pemilik PT Bina dari Bandung. Dijelaskan pula, bahwa pengelolaan IBC diserahkan kepada tiga tokoh pemrakarsanya, untuk kemudian menunjuk pelaksananya yang berkompeten yang berasal dari kalangan pengusaha di Pekalongan. Kapolres Pekalongan AKBP Edhie Murbowo, yang turut memberikan sambutan menggarisbawahi tentang arti pentingnya keamanan di Kabupaten Pekalongan. Dikatakan, bahwa diperlukan komitmen bersama untuk mewujudkan rasa aman. “Karena pembangunan ekonomi dan keamanan saliong berkaitan.” tegasnya. Sementara itu, Ulama kharismatik Pekalongan yang juga salah seorang pemrakarsa IBC Habib Luthfi Bin Ali Bin Yahya, memberikan gambaran tentang karya budaya bangsa Indonesia pada masa dulu, yakni candi Prambanan dan Borobudur yang sampai sekarang masih memberikan income besar untuk bangsa Indonesia.
“Padahal itu hanya berbentuk batu yang dihias dengan ukiran indah. Itu saja masih bisa mendatangkan turis dan pendapatan bagi Indonesia. Juga makam para wali, yang sudah meninggal ratusan tahun lalu, masih pula memberikan pemasukan secara ekonomi bagi masyarakat sekitarnya,” paparnya. Maka, Habib Luthfi ingin, agar masyarakat Pekalongan menjawab tantangan untuk membuat ramai IBC yang mulai dibangun itu. “Jangan dijawab tidak, tetapi jawablah dengan perbuatan,” pungkasnya. Setelah pembacaan doa oleh Habib Luthfi, dilanjutkan dengan peletakan batu pertama pembangunan IBC tahap pertama oleh ulama kharismatik tersebut. Dilanjutkan secara berturut-turut oleh Bupati Pekalongan, Dandim 0710 Pekalongan, Kapolres Pekalongan, serta Preskom PT Guna Group Yusuf Gunawan. Acara yang dihadiri jajaran Muspida Kabupaten Pekalongan dan beberapa tokoh masyarajat tersebut juga mengawali secara resmi pemesanan kios oleh para pengusaha yang berminat. Tampak diantaranya, mantan Wakil Walikota Pekalongan H Abu Al Mafachir, Ketua Apindo Kabupaten Pekalongan HA Failasuf, dan Ketua Apindo Kota Pekalongan Umar Ahmad




* Perkembangan Batik di Indonesia *

Kerajinan batik di Indonesia telah dikenal sejak zaman kerajaan Majapahit dan terus berkembang hingga kerajaan berikutnya. Mulai meluasnya kesenian batik ini menjadi milik rakyat Indonesia dan khususnya suku Jawa adalah setelah akhir abad ke-XVIII atau awal abad ke-XIX. Batik yang dihasilkan adalah Batik Tulis sampai awal abad ke-XX dan Batik Cap mulai dikenal sekitar tahun 1920. Kini batik sudah menjadi bagian pakaian tradisional Indonesia. Pekalongan
Batik Pekalongan sudah ada sejak sekitar tahun 1800. Namun, perkembangan secara signifikan baru terjadi setelah Perang Diponegoro atau disebut Perang Jawa (1825-1830) di kerajaan Mataram. Perjumpaan masyarakat pekalongan dengan bangsa China, Belanda, Arab, India, Melayu, dan Jepang pada masa lampau telah mewarnai khasanah perbatikan di Pekalongan, baik motif maupun tata warnanya. Seperti Batik Jlamprang yang diilhami dari India dan Arab, Batik Encim dan Klengenan dipengaruhi dari peranakan China, Batik Pagi sore diilhami dari Belanda dan Batik Hokokai diilhami dari Jepang. Perkembangan batik di pekalongan tidak sepenuhnya dikuasai pengusaha bermodal besar, akan tetapi juga sangat bertopang pada ratusan pengusaha kecil dan hampir semua dikerjakan di rumah-rumah. Keanekaragaman tersebut membuktikan bahwa Pekalongan adalah tempat berkumpulnya para penjual dan pembeli yang berasal dari berbagai macam suku bangsa. Batik Pekalongan ini menyatu erat dengan kehidupan masyarakat sehingga Pekalongan merupakan kota yang paling dinamis dalam mengembangkan batik dan merupakan industri batik terbesar di Indonesia dan sudah selayaknya kalau dijuluki sebagai Kota Batik. International Batik Center ( IBC )

Dengan dikenalnya Pekalongan sebagai pusat kerajinan batik, maka International Batik Center (IBC) akan memfasilitasi serta memberikan kemudahan bagi para pengrajin Batik Nusantara untuk mendapatkan kesempatan yang sama dalam memasarkan serta suatu area perdagangan terpadu. International Batik Center menyediakan 700 unit usaha (kios) AC dan Non AC dengan berbagai ukuran yang didukung oleh fasilitas penunjang seperti museum batik, kursus membatik, sarana ibadah, area wisata kuliner dan area bermain anak serta ditunjang oleh area parkir yang luas. Dengan adanya IBC sebagai Pusat Perdagangan Batik yang bersifat Nasional serta International, maka disediakan juga jasa expedisi atau pengiriman barang. Keunggulan International Batik Center

IBC menampung kegiatan transaksi perdagangan dan pemasaran batik dalam partai kecil, menengah maupun besar, skala lokal, skala regional dan skala international. Berlokasi di jalur utama pantura yang merupakan jalur perdagangan di Pulau Jawa, IBC menyediakan fasilitas antara lain: Business Center, ATM Center, Ruang serba Guna, Sistem Keamanan 24Jam, pemadam kebakaran, car call, dan sound system, serta dilengkapi sertifikat HGH Murni dan IMB. Untuk membantu pengusaha kecil maka disediakan juga fasilitas kredit perbankan. International batik center (IBC) di Pekalongan adalah sebuah kompleks yang dirancang untuk dapat menampung kegiatan transaksi perdagangan dan pemasaran batik, baik dalam partai kecil, menengah, maupun besar, dalam skala lokal, regional, maupun internasional. Filosofi International Batik Center
Filosofi bangunan IBC yang mempunyai daya tarik tersendiri khususnya untuk para pembeli, yaitu dengan filosofi "Ngadepke Bundaran Ghede Mungkurake Pagunungan". Dengan konsep yang bersahabat bagi para pembelinya, IBC ini dirancang dengan fasilitas 700 kios dengan berbagai ukuran, area workshop batik, museum batik, food court, sarana ibadah dan area parkir yang sangat luas. Keuntungan, Kemudahan, dan Kenyamanan
Berlokasi di jalan utama Pantura, IBC tidak hanya akan dikunjungi oleh pembeli mancanegara saja, tetapi juga oleh para pengunjung domestik yang sedang melewati jalur utama antar kota tersebut. Sekilas Kota Pekalongan
Dilihat dari budaya dan sejarah batiknya, Pekalongan adalah sebuah kota kecil yang berada di pantai Utara Jawa tengah. Kota ini terkenal akan seni batiknya. dalam sejarahnya, motif Batik Pekalongan diperkenalkan melalui pengaruh dari Belanda, Arab dan China. Pekalongan pernah menjadi pusat batik bagi bangsa Belanda pada tahun 1840 hingga 1940. Ada dua daerah utama yang memproduksi batik di Kota Pekalongan, yaitu Kedungwuni dan Wiradesa. Pengaruh budaya China sangat mem-pengaruhi motif yang tersirat pada batik jenis ini, seperti motif naga, burung Hong dan lain-lain. Dengan eksistensi IBC ini, Pekalongan akan makin dikenal sebagai salah satu kota wisata batik di Indonesia yang dikelola oleh manajemen yang profesional, aktifitas pemasaran yang atraktif serta kalender even yang berkesinambungan. Alamat Lengkap International Batik Center
Business Park Kebon Jeruk Blok I No. 5-6
Jl. Meruya Ilir No. 88 Meruya Utara, Jakarta
Tel. 62-21 30067863, Fax : 62-21 30067861

Jl. Yani (Raya Wiradesa) No. 573, Kabupaten Pekalongan
PO Box 9 PKL, Kode Pos 51152
Tel: 62-285 4416958, 62-285 7865846, Fax (0285) 4416705

Gubernur Jawa Tengah Memborong Sarung Batik di IBC PekalonganGubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo membeli puluhan sarung ...
15/06/2017

Gubernur Jawa Tengah Memborong Sarung Batik di IBC Pekalongan

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo membeli puluhan sarung batik yang dijual sejumlah pedagang di International Batik Center Kabupaten Pekalongan, Rabu.

Saat tiba di IBC Pekalongan, Ganjar langsung menyambangi kios Zilla Collection yang berada di Blok J dan tertarik membeli 20 sarung batik atau satu kodi yang dijual dengan harga satuan Rp125 ribu.

Orang nomor satu di Provinsi Jateng itu kemudian mengunjungi kios Batik Berkah di Blok K dan membeli dua kodi sarung batik berbagai motif serta corak dengan harga satuan Rp40 ribu.

Ganjar juga mampir di kios All Sutan untuk membeli puluhan sarung batik yang dijual satuan dengan harga Rp85 ribu.

Ganjar mengaku memborong puluhan sarung batik itu untuk dibagikan ke sejumlah pondok pesantren dan panti asuhan yang akan dikunjunginya dalam waktu dekat.

"Saya tertarik ini, katanya sarung batik pondok pesantren makanya saya beli agak banyak untuk nanti dibagi kalau ke pondok atau panti asuhan," kata politikus PDI Perjuangan itu.

Sebelum melanjutkan kunjungan kerja di Kabupaten Pekalongan, Ganjar menyempatkan diri melayani sejumlah pedagang batik dan masyarakat yang meminta foto bersama atau sekadar ungin bersalaman.

Ganjar kemudian mengunjungi Panti Asuhan Darul Maitan Al Maktab di Desa Simbang Kulon, Kecamatan Buaran, Kabupaten Pekalongan dan menyerahkan bantuan uang pembinaan dan alat elektronik.

antarajateng.com

16/11/2016

Atlet Catur Kabupaten dan Kota Bertarung di IBC

Alet catur dari Kabupaten dan Kota Pekalongan bertarung pada kejuaraan umum catur di International Batik Center (IBC) Wiradesa, yang diselenggarakan oleh Dinas Pemuda Olahraga, dan Pariwisata (Dinporapar) setempat. Kelompok umum yang diikuti 97 pecatur dipertandingkan antardaerah Kabupaten dan Kota Pekalongan.

Kemudian 257 peserta bertarung pada kelompok pelajar Kabupaten Pekalongan. Pada kelompok SD diikuti 45 siswa, SMP(44 siswa), SLTA(71 siswa), semua dibagi dalam kategori putra dan putri. Menurut Kabid Olahraga Dinporapar Siswanto, kejuaraan tersebut digelar sebagai wadah berkompetisi bagi atlet- atlet catur Kabupaten Pekalongan dan untuk mengukur pencapaian pembinaan prestasi.

”Tujuannya antara lain sebagai momentum peningkatan gairah dan motivasi atlet untuk berlatih dan berprestasi di event olahraga yang lebih tinggi serta untuk memelihara dan meningkatkan persatuan dan kesatuan antaratlet dan pelatih catur Kabupaten Pekalongan,” katanya. Kejuaraan yang cukup menarik perhatian pecatur di Kabupaten dan Kota Pekalongan tersebut untuk kelompok umum dijuarai oleh Wildan asal Kedungwuni, sebagai juara I.

Ifan, warga Bojong, berada di posisi kedua dan juara III diraih atlet asal Kota Pekalongan, Pranoto. Kemudian pada kelompok pelajar muncul nama-nama pecatur junior menjadi juara, yakni Manarul Hidayat dan Maulida Putri Apriliani, keduanya siswa SDN 02 Legokclile, Bojong berhasil meraih juara I kelompok SD.

Juara I Putra Putri

Khizani Zulfana Faqih dari MTs Muhammadiyah Pekajangan dan Fitri Annisa siswi SMP 2 sebagai juara I putra dan putri tingkat SMP. M Zada Nafan dan Berlina Oveldha dari SMK Muhammadiyah Bligo dan SMA 1 Kajen juara I tingkat SLTA.

Selanjutnya juara kedua kelompok pelajar masing-masing diraih Ahdi Khoiril Ilaham siswa SD Baiturrohman Api Api dan Erin Safitri dari SDN 03 Tengengwetan, Salman Syafiíi dari SMPN 1 Bojong, dan Amilatul Afidah SMPN 2 Wiradesa, serta M Husain dari MASS Proto Kedungwuni dan Mutmainah dari SMAN Kandangserang.

Juara III pelajar diraih Chassy Syauqifara dari SDN 01 Wonokerto Kulon dan Devi Septiyaningrum dari SDN 01 Bebel, M Faiz Rizki R dari MTs N Buaran dan Silvina Fatkhul Jannah dari SMPN 2 Wiradesa. Juara III tingkat SMA diraih oleh Panji Surya Perdana dari SMK Muhammadiyah Bligo dan Ulfiya Fitri dari MAN 1 Pekalongan.

berita.suaramerdeka.com

Kompetisi Catur Kabupaten Pekalongan 2016
27/10/2016

Kompetisi Catur Kabupaten Pekalongan 2016

26-28 Februari, Pekalongan Culture Festival 2016.
08/02/2016

26-28 Februari, Pekalongan Culture Festival 2016.

Gubernur Jateng mendampingi Presiden berkeliling di International Batik Center Wiradesa Pekalongan
05/02/2014

Gubernur Jateng mendampingi Presiden berkeliling di International Batik Center Wiradesa Pekalongan

Lomba Rancang Busana dan Motif BatikSekretaris Daerah Kabupaten Pekalongan Ir. H. Susiyanto, MM secara resmi menutup Bat...
08/10/2013

Lomba Rancang Busana dan Motif Batik

Sekretaris Daerah Kabupaten Pekalongan Ir. H. Susiyanto, MM secara resmi menutup Batik Nusantara Expo 2013 (6/10/13) di International Batik Center (IBC) Wiradesa. Rangkaian kegiatan selama expo ini dipungkasi dengan lomba rancang batik dan motif batik.

Sekda dalam sambutannya menyampaikan kegiatan ini merupakan salah satu upaya untuk melestarikan batik sebagai warisan budaya dunia (world heritage) yang kita miliki. “Kami selaku pemda sangat mengapresiasi batik expo semacaam ini. Bagi kita, batik ibarat roh, yang akan selalu ada dan tidak akan pernah hilang sampai kapanpun. Selain itu, juga ibarat nafas kehidupan. Jika batik tersendat, maka hidup kita, utamanya para pengusaha batik akan tersengal-sengal kena asma, alias megap-megap”, ujarnya.
Sekda menambahkan, batik artinya mbabar titik. Dari sebuah titik tersebut kemudian dibuat motif atau gambar batik. “Motif atau gambar batik ini sangat penting untuk terus diperbaharui atau inovasi. Jangan sampai batik yang kita geluti selama ini mengalami titik jenuh dan menjadi monoton. Oleh karena itu, mari kita terus berusaha mengembangkan batik, bagaimana para perancang atau desainer menuangkan ide-ide kreatif dalam membuat motif. Diharapkan kedepan, melalui kegiatan seperti ini batik akan bisa melembaga dan terus lestari”, jelasnya.
Sementara pengusaha batik, Failasuf yang menjadi salah satu juri lomba rancang busana dan motif batik, dalam sambutannya mengatakan sangat senang dengan kegiatan lomba karena diikuti oleh anak muda yang kedepan diharapkan dapat menjadi penerus para perancang batik yang senior. “Saya berharap, semoga untuk tahun-tahun mendatang peserta lomba bisa lebih banyak. Selain itu, dari lomba rancang busana dan motif batik ini dihasilkan karya-karya baru yang lebih kreatif dan beragam”.
Penilaian lomba rancang busana didasarkan pada aspek orisinalitas/keaslian, kreativitas dan komposisi bahan dan warna. Hasilnya untuk juara 1 Raswadi dari Wiradesa, juara 2 Ganang dari Karangdadap dan juara 3 Subekti dari Wiradesa.

Kunjungi & Sukseskan Batik Nusantara Expo   2-6 Oktober Dalam Rangka Memperingati   Nasional
02/10/2013

Kunjungi & Sukseskan Batik Nusantara Expo 2-6 Oktober Dalam Rangka Memperingati Nasional

Batik yang seharusnya menjadi identitas negara Indonesia, ternyata juga banyak diproduksi di China. Mal Thamrin City yan...
21/02/2013

Batik yang seharusnya menjadi identitas negara Indonesia, ternyata juga banyak diproduksi di China. Mal Thamrin City yang dikenal dengan mal batik pun sudah mulai digempur oleh produk batik dari China. Kehadiran batik tersebut akan menjadi pesaing bagi batik Pekalongan

Batik yang seharusnya menjadi identitas negara Indonesia, ternyata juga banyak diproduksi di China. Mal Thamrin City yang dikenal dengan mal batik pun sudah mulai digempur oleh produk batik dari China. Kehadiran batik tersebut akan menjadi pesaing bagi batik Pekalongan.

20/01/2013

Ratusan Lansia Ikuti Fashion Show Batik

Ratusan warga lanjut usia (lansia) yang tergabung dalam Paguyuban Dharma Wulan hari ini (20/1) menggelar kegiatan Parade Batik Wulan Nusantara di International Batik Center (IBC) & Craft, Wiradesa, Kabupaten Pekalongan.

Ratusan lansia dari berbagai daerah di Jawa, seperti Jakarta, Tegal, Kudus, Banyumas, dan Yogyakarta membawakan aneka batik dari daerah masing-masing. Kegiatan yang berlangsung di arena pamer IBC & craft berlangsung meriah.

Diiringi lagu dari daerah masing-masing, mereka memamerkan batik asal daerah yang mereka kenakan. Wakil dari paguyuban Sekar Jagat misalnya menampilkan aneka batik tulis koleksi keraton Yogyakarta dan Pakualam Surakarta.

Sambil menebarkan bunga melati, para ibu memamerkan koleksi batik keraton yang tersohor akan budaya adiluhung. Tidak kalah istimewanya adlah tampilnya mahakarya Batik Pekalongan oey Soe Tjoen yang dibawakan oleh cucu langsung Widianti Widjaja.

Oey Soe Tjoen adalah pembatik Pekalongan yang mulai menciptakan karyanya tahun 1925. Corak batik karyanya yang kini disebut batik khas Pekalongan memiliki motif warna-warni dan flora fauna.

Para peserta terlihat antusias, mereka berhamburan mengamati dari dekat beberapa koleksi Batik Oey Soe Tjoen. Di antaranya batik tulis motif Hokokai dan Encim yang rata-rata perlu waktu tiga tahun untuk produksi per lembarnya.

Kegiatan juga dimeriahkan dengan pergelaran fashion show dari para model profesional yang menampilkan koleksi Batik Zikin.

Wali Kota Pekalongan Dr Basyir Ahmad yang menghadiri acara tersebut mengapresiasi inisiatif Paguyuban Dharma Wulan. Meskipun berusia lanjut, mereka tetap memberikan manfaat bagi bangsa dan negara menjaga kekayaan batik. "Dalam agama saya, hal yang mulia dari manusia adalah ketika bisa bermanfaat bagi banyak orang," tandasnya.

Ketua Umum DPP Paguyuban Dharma Wulan Barlim Subardjo mengatakan, kegiatan diikuti 350 orang lebih dari 12 daerah. Kegiatan itu sebagai wjud dukungan Dharma Wulan dalam perkembangan batik sebagai karya bangsa yang telah diakui dunia. "Ini adalah kegiatan lintas agama, lintas suku dan golongan dalam mempromosikan batik," ujarnya.

Dia berharap semangat anggota dalam menggelorakan kecintaannya pada batik bisa diikuti oleh para anak dan cucunya.

Pasar grosir batik, International Batik Center dan Craft Wiradesa, di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah akan dilengkapi ...
08/12/2012

Pasar grosir batik, International Batik Center dan Craft Wiradesa, di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah akan dilengkapi bangunan pusat kuliner sebagai upaya menarik konsumen berkunjung.

"Kami berkeyakinan dengan dibangunnya fasilitas pusat kuliner, akan berdampak positif terhadap peningkatan omzet penjualan batik karena selain bisa berbelanja, mereka juga dapat menikmati sajian makanan dengan suasana nyaman," kata Direktur IBC Pekalongan, Arief Guyadi.

Lutfi, pedagang batik di IBC mengatakan daganga ramai setelah mendekati akhir pekan. Pembeli batik tersebut di antaranya berasal dari luar daerah, seperti Bali, Surabaya, Solo, Yogyakarta, dan Bandung.

"Biasanya, pada hari Jumat, Sabtu, dan Minggu transaksi perdagangan batik bergrairah. Omzet pada akhir pekan mampu mencapai Rp2 juta hingga Rp3 juta," katanya.

Ia berharap dengan adanya pusat kuliner, pengunjung lebih ramai dan penjualan menigkat.

ANTARAnews.com - Pasar grosir batik, International Batik Center dan Craft Wiradesa, di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah akan dilengkapi bangunan pusat kuliner sebagai upaya menarik konsumen berkunjung.

CLEAN BATIK INITIATIVE , ‘MENGHIJAUKAN’ INDUSTRI BATIKKAJEN - Clean Batik Initiative (CBI) merupakan program 4 tahun (20...
23/11/2012

CLEAN BATIK INITIATIVE , ‘MENGHIJAUKAN’ INDUSTRI BATIK

KAJEN - Clean Batik Initiative (CBI) merupakan program 4 tahun (2010-2013) yang diimplementasikan oleh EKONID (Perkump**an Ekonomi Indonesia-Jerman) dan merupakan bagian dari program SWTCH-ASIA dari Uni Eropa. Bekerja sama dengan Pusat Produksi Bersih Nasional (PPBN) dibawah naungan Kementrian Lingkungan Hidup, Prakarsa Batik Bersih ini disusun sebagai upaya memajukan produksi batik yang ramah lingkungan serta meningkatkan kesadaran publik agar tercipta pengaruh positif terhadap perilaku beli konsumen di Indonesia.

Bertempat di aula lantai 1 Setda Kajen (21/11/12), CBI bekerja sama dengan Pemkab. Pekalongan menyelenggarakan acara Dialog Kebijakan : Upaya Replikasi Program Demi Keberlanjutan Industri Batik Ramah Lingkungan. Kegiatan ini ditujukan untuk para perajin batik atau Industri Kecil Menengah (IKM) di wilayah Kab. Pekalongan baik yang telah menjadi mitra binaan CBI maupun perajin yang belum melaksanakan produksi bersih.

Menurut Koordinator Program CBI sekaligus Deputi Managing Director EKONID Martin Krummeck, proyek CBI ini bermula dari kepedulian akan seni batik sebagai warisan dunia namun sangat memprihatinkan karena cara kerjanya menimbulkan dampak negatif pada para pekerja, masyarakat serta lingkungan sekitar.
“Di Pekalongan, kami telah berupaya melakukan perubahan positif dalam cara kerja. Selama 14 bulan kami mendampingi 162 IKM batik dalam penerapan tata cara produksi ramah lingkungan. Tidak hanya itu, kami juga membantu menggunakan pewarna alami melalui 17 lokakarya dan pendampingan teknis selama 3 bulan. Pada intinya, kami bertujuan menghasilkan produksi batik yang lebih aman bagi pekerja, lebih ramah lingkungan dan lebih menghemat biaya usaha (clean, safe and efficiency)”, jelasnya.

Ditambahkan Martin Krummeck, selama setahun bekerja dari Mei 2011-Maret 2012 telah membantu 162 IKM menghemat biaya produksi tahunan sekitar Rp.820 juta atau sekitar Rp.5 juta per tahun untuk masing-masing IKM. Selain mengefisiensi sumber daya dan pengolahan air limbah, CBI juga mengadakan lokakarya pemasaran untuk IKM batik dan latihan pengembangan rancangan dan produk bersama perancang kain dan mode untuk menggarap motif baru, bahan baru, standar mutu baru serta cara baru dalam melaksanakan usaha secara profesional. “Dukungan lebih lanjut dari pemerintah daerah sangat berarti bagi kami, sehingga kedepannya diharapkan sasaran program CBI untuk menghijaukan permintaan dan penawaran produk batik dapat tercapai”, ungkapnya.

Sementara itu, Bupati Pekalongan yang diwakili oleh Sekda Kab. Pekalongan Ir. H. Susiyanto, MM dalam sambutannya menyampaikan industri batik menjadi usaha dominan di Kab. Pekalongan, dengan jumlah sekitar 12 ribu lebih unit usaha memiliki banyak kendala terutama proses kerja dan pencemaran limbah. “Hal ini perlu kita sikapi bersama, karena pemda jelas tidak bisa bertindak gegabah seperti menyetop proses produksi karena industri ini menyerap lebih dari 90 ribu pekerja. Oleh karena itu, upaya meminimalisir limbah dan dampak yang ditimbulkan terus kami tingkatkan, namun memang hasilnya sampai saat ini belum maksimal”, ujarnya.

Sekda berpesan para perajin yang berkesempatan hadir disini dapat menularkan ilmu yang bermanfaat ini kepada rekan perajin yang lain. “Jika memang ada yang menjadi kendala atau apakah program ini menghambat produksi dapat disampaikan secara langsung di forum ini sehingga didapat jalan keluar demi perbaikan lingkungan dan kelangsungan usaha bersama”, harapnya.

Acara dilanjutkan dengan paparan materi dari narasumber dan dialog interaktif dengan para perajin. Narasumber antara lain Direktur Eksekutif Pusat Produksi Bersih Nasional (PPBN) Dra. Rismawarni Marshal, Staf CBI Yuanita Suryadini serta Wakil Sekjen DEKRANAS Ikhwan Asrin SE, Msi. Materi yang disampaikan antara lain Hasil Pendampingan Teknis Program CBI dan Rekomendasi Keberlanjutan, Update dan Rencana Kegiatan Pemasaran Program CBI serta Bagaimana Melestarikan dan Mengembangkan Batik Pekalongan di Masa Depan.

DESAIN BATIK IBCC UNIK DAN TIDAK PASARANDesain-desain batik yang dipasarkan di IBCC unik, memiliki spesifikasi dan tidak...
07/10/2012

DESAIN BATIK IBCC UNIK DAN TIDAK PASARAN

Desain-desain batik yang dipasarkan di IBCC unik, memiliki spesifikasi dan tidak pasaran. Ungkapan tersebut spontan dilontarkan Prof. Dr. Alex R, MSc Wakil Menteri Perindustrian RI saat memberikan sambutan dalam acara Peringatan Hari Batik Nasional dan Peresmian dan Penandatanganan Prasasti International Batik Center and Craft (IBCC) di aula IBCC Wiradesa, 2 Oktober 2012.
Menurut Alex, jika IBCC ada di Jakarta atau kota besar lain bisa dikatakan biasa-biasa saja, tidak mengherankan, namun jika suatu daerah kabupaten/kota seperti Kab. Pekalongan yang memiliki IBCC ini baru hal yang luar biasa dan membanggakan. “IBCC ini merupakan representasi dari pemikiran yang jauh kedepan/visioner dalam mengantisipasi posisi Kab. Pekalongan di pasar nasional dan internasional, utamanya dalam industri tekstil batik. Tidak ada yang bisa mengalahkan Jateng dalam industri batik”, ungkapnya.
Senada dengan Wakil Menteri Perindustrian, Gubernur Jateng Bibit Waluyo yang berkesempatan hadir bersama istri dan jajaran stafnya mengatakan ide, kreativitas dan inovasi dalam pembuatan batik diharapkan jangan berhenti karena dari produksi batik ini dapat mengangkat ekonomi rakyat dan akan membawa nama daerah dan negara ke tingkat dunia. “Saat ini batik sudah menjadi pakaian berkelas dan terhormat, di Jateng sekarang untuk para pegawai pemerintahan wajib menggunakan batik, setidaknya tiga hari dalam seminggu. Orang-orang di luar daerah juga sudah tidak malu menggunakan batik baik untuk acara resmi atau bekerja”, jelasnya.
Gubernur menambahkan potensi batik ini harus terus dipelihara baik kualitas, kuantitas maupun kontinuitasnya, sehingga bisa dijadikan produk ekspor ke seluruh dunia. “Mari para pembatik dan desainer untuk berlomba-lomba membuat inovasi batik yang nyaman dipakai dan indah dipandang, bahkan saat ini tiap-tiap kabupaten/kota sudah memiliki corak, ragam, warna dan desain yang berbeda menunjukkan ciri khas masing-masing daerah”, imbuhnya.
Sementara Bupati Pekalongan Drs. H. Amat Antono, Msi menyampaikan peringatan Hari Batik Nasional (HBN) ditetapkan sejak batik dikukuhkan Unesco sebagai warisan budaya dunia tahun 2009 di Abu Dhabi Uni Emirat Arab. “Diharapkan peringatan HBN ini akan lebih mendorong perekonomian Kab. Pekalongan, khususnya produk batik yang telah ditekuni lebih dari 12.500 pengrajin dan menyerap tenaga kerja 90 ribu orang”, katanya.
Batik juga merupakan ekspresi budaya yang unik dan memiliki estetika yang membentuk karakter bangsa Indonesia. Dituturkan Bupati, “Batik adalah identitas jati diri bangsa Indonesia. Hal ini yang menjadi latar belakang berdirinya IBC di tahun 2011. Di atas lahan 4 hektar, 184 kios telah dibangun dari 688 kios yang direncanakan. Semoga IBCC dapat menjadi pasar batik modern dan destinasi wisata batik nasional dan internasional”.

Address

Jalan Ahmad Yani 573
Pekalongan
51152

Opening Hours

Monday 09:00 - 17:00
Tuesday 09:00 - 17:00
Wednesday 09:00 - 17:00
Thursday 09:00 - 18:00
Friday 09:00 - 17:00
Saturday 08:00 - 17:00
Sunday 07:00 - 18:00

Telephone

+622854416958

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when International Batik Center posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share