30/09/2025
BELANTARA WAKTU
Di bawah cahaya redup yang jatuh seperti serpih perunggu, aku merasakan waktu sebagai arus yang tak berhenti mengetuk rongga batin. Setiap detik adalah tetes embun yang menyimpan riwayat, setiap jam adalah gugus bayang yang menempel pada dinding kesadaran. Aku menatap langit yang berkabut, seakan menyembunyikan rahasia purba di balik kabutnya. Di sanalah aku memahami, bahwa rindu tak pernah benar-benar hilang; ia hanya beringsut menjadi gema, menggema di lorong sunyi.
Kata-kata terperangkap dalam rongga kerongkongan, ingin pecah menjadi seruan, namun lebih memilih membeku menjadi kristal diam. Aku menunduk, mencoba meraba riwayat yang tercecer; kepingan memori, potongan tawa, serpihan luka. Semuanya berserakan bagai kaca pecah, memantulkan cahaya dari sudut yang berbeda. Dari sanalah aku tahu, bahwa hidup bukanlah deret lurus, melainkan belantara dengan jalan setapak yang kadang menyesatkan, kadang menuntun.
Aku ingin menulis diriku dalam aksara yang sederhana, namun bahasa selalu berkhianat. Ia menjelma belati yang menggores atau sulur yang mencekik. Maka aku hanya diam, membiarkan kesunyian menjadi narasi yang lebih fasih daripada segala kata. Kesunyian yang memelukku dengan lengan panjangnya, menjerat dengan kelembutan yang tak terelakkan.
Dan akhirnya aku menyadari, barangkali manusia hanya penafsir sementara yang menjumlahkan makna dari serpihan yang tak pernah utuh, menakar rasa dari perasaan yang selalu tumpah. Kita semua hanyalah penziarah di dalam waktu, membawa keranjang kosong untuk diisi dengan kehilangan demi kehilangan, hingga akhirnya kita sendiri menjadi kehilangan itu.
Sajak Pesisir | Pesisir Timur, 2025