Peri Hijab

Peri Hijab Peri Hijab Online Store
WA 085655195600
Tele 085655195600
BBM 5BDC147E

14/09/2025
27/01/2018

KISAH NYATA ISLAMI TENTANG 4 PEREMPUAN PENGHUNI SURGA

Dalam sebuah hadis, Rasulullah pernah bersabda, “Sebaik-baik perempuan muslimah surga adalah Khadijah, Fatimah, Maryam, dan Asiyah,” (H.R. Baihaqi).

KHADIJAH

Suatu hari, datanglah malaikat Jibril kepada Rasulullah, kemudian berkatala, “Ya Rasulullah, Khadijah sebentar lagi akan datang membawa bejana berisi lauk, makanan, atau minuman. Kalau ia sudah datang, sampaikan salam dari Allah dan dariku. Dan, berikan kabar gembira dengan rumah di surge,” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Lihatlah betapa salihahnya beliau hingga Allah menitipkan salam untuknya melalui perantara malaikat Jibril dan Rasulullah. Khadijah dikenal dengan kedermawanannya memberikan segala yang ia punya untuk kepentingan dakwah suami tercintanya, yakni Rasulullah. Khadijah ikhlas meski hartanya habis untuk kepentingan dakwah sehingga tidak heran jika Rasulullah sangat terkesan pada sosoknya. Ia pun tidak pernah hilang dalam ingatan Rasulullah, meskipun ia sudah tiada dan Rasulullah sudah memiliki istri lain yang juga salihah.

Banyak sekali keistimewaan Khadijah yang membuatnya begitu dicintai oleh Rasulullah. Ia perempuan pertama yang percaya dan beriman kepada Allah dan Rasulullah. Selain patuh dan percaya sepenuhnya kepada Rasulullah, Khadijah juga membantu perjuangan dakwah Rasulullah dari berbagai aspek, mulai dari harta, tenaga, pikiran, hingga hal lainnya.

Hal itulah yang bisa dicontoh oleh para muslimah ketika telah menikah dan memiliki suami. Dukunglah suami Ummi jika ia memiliki tujuan berdakwah untuk umat. Bantu semampu yang kita mampu untuk kepentingan dakwahnya dan ikhlaslah mengharap ridha dari Allah saja. Semoga kita semua yang sedang berusaha menjadi istri salihah dapat bertemu dengan Khadijah di Taman Firdaus kelak.

FATIMAH AZZAHRA

Fatimah Azzahra adalah anak dari Khadijah dan Rasulullah. Sosoknya selalu mengagumkan karena ia mengajarkan kepada kita tentang bakti seorang anak terhadap orang tua. Anak perempuan yang salihah memiliki potensi menjadi istri yang salihah juga.

Fatimah adalah anak kesayangan Rasulullah. Meskipun dia adalah putri dari orang nomor satu di dunia, Fatimah tidak pernah menyombongkan diri. Bahkan, dalam urusan memilih jodoh, dia sangat patuh pada pilihan Rasulullah, meskipun orang yang dijodohkan kepadanya bukanlah seseorang yang bergelimang harta, yakni Ali bin Abu Thalib. Baginya, dalam memilih pasangan, kekayaan harta bukanlah tolak ukur, melainkan keimanan dan ketakwaan orang yang kelak mendampinginya dalam mengarungi bahtera rumah tanggalah yang paling penting.

Bakti dan rasa sayang seorang Fatimah terhadap ayahandanya selalu dibuktikan dengan sikap yang terang-terangan, tidak hanya diucapkan di bibir saja, seperti dua kisah di bawah ini.

Pertama, ketika Perang Uhud selesai, Nabi mengalami luka yang cukup parah di bagian pipinya. Gigi Rasulullah patah, kemudian kakinya terluka. Tidak sedikit darah yang keluar dari bagian tubuh Rasulullah yang terluka. Dengan dibantu Ali, Fatimah membersihkan dan menghentikan aliran darah pada tubuh Rasulullah dengan sabar. Ia melakukan hal tersebut karena keikhlasan dan kecintaan terhadap ayahnya.

Kedua, suatu hari, Rasulullah pernah dilempari darah dan kotoran unta oleh Uqbah bin Abi Muith saat sedang sujud di depan Kabah. Fatimah yang mendengar hal itu mengetahui bahwa ayahnya tidak bersalah dan ia melihat bahwa ayahnya sedang dizalimi oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab tanpa alasan yang jelas. Fatimah pun datang menghampiri Rasulullah dan membersihkan kotoran itu dari kepala ayahnya. Setelah itu, ia menghampiri dan memarahi para kafir Quraisy. Karena ia masih kecil, bukan didengarkan, ia justru ditertawakan. Meski begitu, Fatimah sudah menunjukkan bahwa ia memiliki sikap yang tegas dan berani dalam melihat mana yang benar dan mana yang salah.

Kisah tersebut merupakan sebuah pelajaran bagi kita tentang cara seorang anak yang berani membela ayahnya ketika sang ayah dizalimi oleh orang lain. Kisah tersebut cukup menyentuh hati dan memperlihatkan bahwa Fatimah adalah anak yang pemberani. Selain itu, darinya juga kita dapat belajar bahwa sebelum belajar menjadi istri yang patuh kepada suami, belajarlah menjadi anak yang patuh pada orang tua. Dapatkan ridha Allah dengan mendapatkan ridha orang tua dan juga ridha dari suami.

ASIYAH

“Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Firaun dan perbuatannya. Dan, selamatkanlah aku dari kaum yang zalim,” (Q.S. At-Thamrin: 11). Dalam doanya, bisa dilihat betapa sulitnya hidup di posisi Asiyah. Hati kecil selalu menuntunnya untuk menjadi orang yang beriman dan taat kepada Allah, tetapi lingkungan yang ia miliki tidak mendukunganya pada hal itu.

Semua tahu siapa suami dari Asiyah. Ya, dialah seorang manusia yang sangat sombong bernama Firaun. Saking sombongnya, ia bahkan berani merebut kesombongan yang seharusnya hanya dimiliki oleh Allah dengan mengatakan dirinya adalah Tuhan. Barang siapa menolak titahnya, kematian adalah balasannya.

Asiyah membuktikan keteguhan hatinya saat terjadi peristiwa adu ilmu antara tukang sihir utusan Firaun dengan Musa as.. Asiyah bertanya pada pengawal kerajaan, “Siapakah yang menang?” Mereka pun menjawab, “Musa dan Harun.” Asiyah pun kemudian berkata, “Aku beriman kepada Tuhannya Musa dan Harun.” Pernyataan Asiyah tersebut menjadi tamparan yang keras bagi Firaun di muka umum. Karena kemarahannya yang begitu besar, Firaun pun mengancam akan melempari Asiyah dengan batu besar di padang pasir yang panas. Namun, karena ketaatannya kepada Allah, Asiyah tidak takut dan tetap teguh pada pendiriannya. Keteguhan Asiyah pun dicatat oleh Allah di dalam Alquran.

Sebagai muslimah, mungkin kita memiliki cerita yang berbeda-beda dalam meneguhkan hati untuk menjaga diri dan keimanan kita terhadap Allah. Ketika lingkungan tidak mendukung keinginan kita untuk menjadi perempuan salihah, ingatlah bahwa hal ini juga pernah terjadi pada Asiyah. Janganlah pernah merasa sendiri. Selain itu, bagi para muslimah yang tidak memiliki masalah dengan lingkungan, tetapi sulit sekali berubah karena selalu mengada-adakan masalah, tidakkah seharusnya kalian bersyukur karena tidak harus diancam akan dilempari batu besar di gurun pasir hanya untuk sekadar menutup aurat dan menguatkan keimanan kepada Allah? Lawanlah rasa malas itu dan ingatlah bahwa balasan bagi orang teguh terhadap keimanan dan ketakwaan adalah surga seperti yang Allah janjikan kepada Asiyah.

MARYAM

Di zaman yang kini serbamodern dan banyak orang yang menyalahgunakan arti kata kebebasan, kita dapat menjumpai banyak fenomena menyedihkan mengenai perempuan. Kini, banyak perempuan yang tidak bisa menjaga kesuciannya dengan rela melepaskan kehormatannya hanya untuk kesenangan duniawi semata. Kesenangan yang hanya terlihat indah di mata, tetapi tidak dirasakan indah di hati kecilnya sendiri. Ada baiknya kita melihat kembali kisah nyata di masa lalu yang bisa kita contoh saat ini, yakni kisah tentang Siti Maryam binti Ibrahim.

Maryam adalah figur seorang muslimah yang konsisten menjaga kesuciannya. Sebuah harga mahal seorang wanita yang sudah sulit sekali ditemukan di kalangan perempuan zaman sekarang. Suatu ketika, ujian Allah datang kepadanya, yaitu malaikat mengaruniakan seorang anak kepadanya saat ia masih seorang gadis yang tidak memiliki suami. Jika dipikir secara rasional, hal ini sangat tidak masuk akal. Namun, takdir yang Allah tetapkan terhadapnya ia terima dengan ikhlas. Karena kesuciannya, Allah memercayakannya untuk mengandung dan melahirkan Nabi Isa as.. Setelah melahirkan, ia mendidik Nabi Isa dengan sangat baik sehingga terlahirlah pejuang ajaran Allah di muka bumi.

Ada proses panjang yang harus dilalui oleh wanita suci ini sehingga namanya tercatat dalam hadis sebagai wanita yang dijamin masuk surga. Ia harus hidup dengan sulit karena banyak hinaan juga cemoohan yang datang bertubi-tubi kepadanya. Namun, lagi-lagi, ketaatan dan ketakwaan kepada Allah-lah yang membuat muslimah ini kuat dan bersabar dengan cobaan yang datang. Ini karena ia menyadari bahwa hanya Allah-lah yang tahu kalau dirinya tidak pernah berbuat hal sekeji itu. Ia hanya beriman kepada Allah dan tidak peduli pada pandangan orang-orang di sekitarnya. Ia tidak memusingkan cemoohan dan hinaan orang-orang yang tidak tahu apa-apa.

Begitulah keempat kisah nyata muslimah zaman dulu yang dijanjikan Allah masuk surga. Para muslimah masa kini dapat memetik hikmahnya. Selain itu, kita dapat mencontoh dan mengaplikasikannya dalam kehidupan saat ini. Wallahualam bissawab.

15/01/2018

-Kisah Asiyah, Wanita Mulia Istri Firaun Yang Dijamin Masuk Surga-

"Pemuka wanita ahli surga ada empat. Ia adalah Maryam binti Imran, Fatimah binti Rasulullah SAW, Khadijah binti Khawailid dan Asiyah." (HR. Hakim dan Muslim)

Asiyah binti Muzahim merupakan istri raja Fir'aun. Meski sang suami merupakan seorang yang terkenal sangat jahat dan kejam, Asiyah adalah sosok yang sabar, sopan, santun juga penuh kemuliaan. Ia adalah seorang wanita dengan budi pekerti luhur, penyayang dan penuh keteguhan untuk senantiasa berada di jalan yang benar.

Tak hanya cantik budi pekertinya, Asiyah juga merupakan seorang wanita yang begitu cantik parasnya. Kecantikannya inilah yang membuat raja Fir'aun bertekuk lutut padanya. Fir'aun begitu menyayangi Asiyah dan menuruti apa yang diinginkan wanita mulia tersebut termasuk menuruti kemauan Asiyah mengangkat Musa AS sebagai putranya.

Seperti pengantin baru pada umumnya, awal pernikahan menjadi saat-saat yang membahagiakan. Apalagi, saat itu Asiyah menjadi istri dari seorang raja besar di zamannya. Sayang, kebahagiaan tersebut tidak berlangsung lama. Fir'aun mengaku bahwa selain sebagai raja, ia juga merupakan Tuhan dan meminta semua rakyatnya menyembahnya.

Apa yang dikatakan Fir'aun tentu saja membuat Asiyah berat hati. Ia juga dipaksa menyembah suaminya sendiri dan mengakui bahwa sang suami adalah Tuhan. Dengan penuh kesabaran, Asiyah menuruti permintaan suami walau di dalam hatinya ia sangat keberatan, tersiksa dan berontak.

Dari hari ke hari, bulan ke bulan hingga tahun ke tahun, Asiyah terus bersabar menghadapi sifat buruk sang suami. Suatu ketika ia bahkan rela berkorban nyawa menghadapi perlakuan sang suami.

Keteguhan Keimanan Asiyah
Asiyah adalah wanita mulia yang memiliki keteguhan hati kuat untuk selalu beriman kepada Allah SWT. Meski sang suami menyiksanya dengan siksaan berat, ia tak pernah mau mengingkari keteguhan hatinya. Asiyah selalu mengamalkan apa yang diajarkan Musa AS dengan baik. Ia juga hanya menyembah Allah SWT.

Dari Abu Hurairah Radhiyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallohu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya Fir’aun mengikat istrinya dengan besi sebanyak 4 ikatan, pada kedua tangan dan kedua kakinya. Jika ia telah meninggalkan Asiyah terbelenggu maka para Malikat menaunginya," (HR. Abu Ya’la).

Saat Fir'aun mengganjarnya dengan siksaan yang bertubi-tubi atas keimanannya, Asiyah berdoa, "Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Firaun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim.” (Q.S. At-Tahrim [66] : 11).

Atas keteguhan keimanannya, Asiyah pun menjadi salah satu wanita mulia yang dijamin masuk surga oleh Allah SWT. Ia telah menjadi seorang wanita dengan kedudukan sangat mulia. Ia juga merupakan seorang wanita kuat lagi tegas menentang kezhaliman Fir'aun.


(vem/mim)

Tutorial Pashmina Katun. ====================Jangan lupa SHARE yaa. LIKE untuk mendapatkan update informasi terbaru.
09/01/2018

Tutorial Pashmina Katun.

====================

Jangan lupa SHARE yaa.

LIKE untuk mendapatkan update informasi terbaru.

09/01/2018

9 Kisah Perempuan Teladan Pada Zaman Rasulullah

Belajar menjadi seorang muslim yang kaffah tak semudah membalikkan telapak tangan. Banyak yang perlu dipelajari agar kita menjadi berilmu dan mampu mengamalkannya. Sehingga menjadi muslim kaffah bukanlah cuma angan. Kisah-kisah perempuan di bawah ini ditulis agar para muslimah dapat meneladani sikap baiknya.

1. Khadijah Binti Khuwaid
Rasulullah menikahi seorang pengusaha terkenal di Arab. Dialah Khadijah binti Khuwaid. Dalam banyak riwayat, Khadijah adalah istri yang setia pada suaminya.

Dialah orang pertama yang menyatakan beriman dan membenarkan da’wah Rasulullah SAW. Khadijah membela Rasulullah SAW dengan jiwa dan hartanya. Khadijah mendampingi Rasulullah SAW pada masa awal perjuangan da’wah beliau yang sangat berat hingga ajal menjemputnya. Selama Khadijah hidup, Rasulullah SAW tidak menikah dengan wanita selainnya.

Dalam salah satu hadits diriwayatkan bahwa, Rasulullah SAW bersabda:

“Dia beriman kepadaku ketika orang-orang ingkar kepadaku, dia membenarkanku ketika orang-orang mendustakanku, dia menyerahkan hartanya untukku ketika orang-orang mencegah hartanya untukku, dan Allah memberiku keturunan lewatnya, sementara yang lainnya tidak mendapatkannya.” (HR. Ahmad)

2. Aisyah Binti Abu Bakar
Aisyah adalah putri dari sahabat Rasulullah yang paling ia cintai, Abu Bakar. Beliau menjadi istri Rasulullah SAW yang menemani hingga beliau meninggal. Aisyah menjadi istri yang paling banyak mengahabiskan waktu bersama beliau ketika beliau telah menjadi Rasul. Oleh sebab itu, Aisyah banyak meriwayatkan-kan hadits dari Rasulullah, baik dari perkataan beliau maupun kebiasaan-kebiasaannya.

Meskipun Aisyah menjadi istri Rasulullah saat usianya masih belia, namun keteladanannya dalam membangun rumah tangga patut dicontoh. Salah satu kisahnya dalam sejarah dikenal dengan istilah Haditsul Ifhi (berita dusta).

Kisah ini bermula saat Rasulullah dan pasukannya pulang perang Bani Mustaliq. Aisyah yang ikut serta dalam rombongan, kehilangan kalung yang ia pinjam dari saudaranya. Aisyah pun mencari kalung tersebut dan rombongan kaum muslimin meneruskan pulang ke Madinah. Aisyah tertinggal rombongan. Ia berharap rombongan kembali setelah menyadari bahwa ia tertinggal.

Saat menunggu di bawah pohon, seorang sahabat bernama Shafwan bin Mu’aththal lewat dan menawarinya menaiki hewan tunggangannya dan ia akan menuntunnya. Beberapa hari setelah sampai di Madinah, Aisyah dituduh telah selingkuh. Fitnah ini pun menyebar luas hingga Rasulullah SAW mengumpulkan para sahabat dan meminta pendapat mereka terkait hal ini.

Hingga turunlah wahyu dari Allah SWT berikut

“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu mengira bahwa berita bohong itu buruk bagimu bahkan ia adalah baik bagimu. Tiap-tiap seorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakan. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar.” (QS. An-Nur: 11)

3. Fatimah Binti Rasulullah
Tidak semua yang kita dengar harus kita sampaikan kepada orang lain. Apalagi jika hal tersebut bersifat rahasia. Kisah Fatimah, putri Rasulullah dalam menjaga rahasia patut menjadi teladan bagi kita sebagai muslimah. Nah, seperti apa kisahnya?

Ketika sakit yang diderita Rasulullah SAW semakin berat, istri-istri beliau berkumpul di sekelilingnya. Saat itu Fatimah datang menjenguknya. Setelah mempersilakan duduk putrinya, beliau membisikan sesuatu kepada Fatimah. Pada bisikan pertama Fatimah menangis, lalu kemudian ia tertawa setelah bisikan kedua.

Ketika Fatimah beranjak untuk pulang, Aisyah menanyainya apa yang telah disampaikan Rasulullah SAW sehingga ia menangis lalu tertawa. Namun, Fatimah dengan berkata, “Saya tidak akan membuka rahasia Rasulullah SAW.”

Setelah wafatnya Rasulullah, Aisyah kembali mempertanyakan hal tersebut. Akhirnya Fatimah pun menjawab, “Kalau sekarang, bolehlah,” seraya ia melanjutkan:

“Pada bisikan pertama, Rasulullah menyampaikan bahwa Jibril biasanya setiap tahun mengulang bacaan Al Qur’an sebanyak sekali kepadanya, tapi tahun ini dia melakukannya dua kali. Hal tersebut beliau yakini sebagai pertanda ajalnya yang telah dekat, maka beliau berpesan kepadaku agar bertaqwa dan bersabar, karena beliau akan mendahuluiku, mendengar itu aku menangis. Kemudian beliau menambahkan bahwa akulah pemimpin wanita umat ini, dan akulah orang yang paling cepat menyusul beliau, mendengar itu aku tertawa.” (HR. Muslim)

Beberapa bulan kemudian Fatimah wafat menyusul Rasulullah SAW.

4. Shafiyyah Binti Abdul Muthalib
Ketika keamanan bersama terancam, seorang perempuan harus mampu mengambil tindakan tegas. Inilah yang diajarkan oleh Shafiyyah binti Abdul Muthalib. Shafiyyah adalah bibi Rasulullah SAW.

Peristiwa ini terjadi di penampungan yang berisi anak-anak dan perempuan muslimah, saat perang Ahzab terjadi. Suatu malam, terlihat seorang laki-laki yang mengendap-endap di sekitaran penampungan. Kedatangannya diketahui oleh Shafiyyah. Usut punya usut, laki-laki tersebut dikirim kelompoknya dari Bani Quraizah untuk memata-matai penampungan perempuan muslimah tersebut.

Shafiyyah gelisah melihat gelagat yang tidak baik laki-laki tersebut. Segera ia ikat bajunya dan ia ambil sebongkah kayu besar. Ia beranikan diri untuk memukul laki-laki tersebut hingga tersungkur di atas tanah.

Melihat temannya diperlakukan demikian, kelompok Bani Quraizah beranggapan bahwa penampungan perempuan muslimah dijaga ketat. Akhirnya hal tersebut mengurungkan niat mereka untuk melakukan kejahatan terhadap para perempuan muslimah di penampungan tersebut.

5. Ummu Sulaim
Ummu Sulaim merupakan istri dari Abu Thalhah. Keduanya merupakan sahabat Rasulullah SAW. Ummu Sulaim dikisahkan sebagai salah satu perempuan yang tabah.

Cerita ketabahan Ummu Sulaim berawal ketika suatu saat anaknya sakit. Namun karena suatu hal, Abu Thalhah harus meninggalkannya untuk beberapa hari. Ketika Abu Thalhah pergi, anaknya meninggal dunia. Namun, Ummu Sulaim tidak memberitahukan kabar ini kepada suaminya. Ia hanya berpesan pada kerabatnya untuk tidak menceritakan kepergian anaknya kepada Abu Thalhah. Karena ia sendiri yang akan menceritakannya.

Sepulangnya Abu Thalhah ke rumahnya, Ummu Sulaim menghidangkan makan malam untuknya. Selesai makan, Ummu Sulaim berdandan melebihi malam-malam sebelumnya. Akhirnya mereka berdua melakukan hubungan suami istri. Selesai itu, Ummu Sulaim baru menceritakan bahwa anaknya telah meninggal dunia.

Pagi itu juga Abu Thalhah mendatangi Rasulullah SAW untuk mengadukan perlakukan istrinya. Namun Rasulullah SAW justru bertanya:

“Apakah malah itu kalian sempat berhubungan?”

“Ya,” jawab Abu Thalhah

“Semoga Allah memberkahi malam kalian itu,” doa Rasulullah SAW.

Ketabahannya dalam menghadapi cobaan, mendapat ridha dari Rasulullah SAW. Dan beliau pun mendoakan keberkahan pada pasangan Abu Thalhah dan Ummu Sulaim. Beberapa waktu kemudian, Ummu Sulaim diketahui hamil. Diriwayatkan anak yang diberi nama Abdullah tersebut memiliki sembilan anak yang semuanya hafal Al Qur’an.

6. Ummu Salamah

Ia adalah salah seorang istri Rasulullah SAW. Ia mencontohnya menjadi istri yang memiliki keteduhan hati dan mengobati kegusaran suaminya. Kisah ini terjadai pada tahun keenam Hijriah, saat Rasulullah SAW dan para sahabatnya berencana melakukan umrah.

Setibanya di Hudaibiah, rombongan kaum muslimin dihalang-halangi oleh kaum Quraisy. Singkat cerita, akhirnya disepakatilah perjanjian Hudaibiah yang salah satu isinya agar kaum muslimin menunda umrah tahun berikutnya.

Rasulullah SAW akhirnya memerintahkan para sahabat untuk melakukan tahallul dari ihram dan menyembelih kambing. Namun, tidak ada satu pun dari para sahabat yang melakukannya. Rasulullah SAW memahami benar kekecewaan para sahabat karena harus menunda untuk melakukan umrah yang sangat dinantikan.

Rasulullah SAW memasuki tenda dengan gusar. Ummu Salamah yang berada di dalam tenda menanyakan sebab kegusaran Rasulullah SAW. Beliau pun menceritakan semuanya. Ummu Salamah menenangkan Rasullah SAW dan berkata:

“Mengapa tidak langsung engkau lakukan saja menyembelihnya di hadapan mereka? Cobalah, mudah-mudahan dapat menjadi jalan keluar.”

Benar saja, para sahabat yang melihat apa yang dilakukan Rasulullah SAW melakukan hal yang sama. Menyembelih hewan dan sebagian menggundul kepalanya. Sebagian lagi hanya memendekkan rambutnya.

7. Asma Binti Abu Bakar

Asma binti Abu Bakar, salah satu putri Abu Bakar Ash Shidiq. Ia dijuluki Dzatun Nithaqain (pemilik dua ikat pinggang). Ini ketika cerita Rasulullah dan Abu Bakar bersembunyi di Gua Tsur saat perjalanan hijrah dari Mekah menuju Madinah. Saat itu, dilakukan untuk menghindari pengejaran kaum musyrikin Quraisy yang ingin menangkap dan membunuh Rasulullah.

Selama bersembunyi, Asma binti Abu Bakar ditugaskan untuk mengantar makanan dari Mekah menuju tempat persemunyian Rasulullah dan Abu Bakar. Jauhnya jarak dan besarnya resiko jika upayanya ketahuan orang-orang musyrikin tidak ia hiraukan. Dia siapkan makan dan minuman untuk ayahnya dan Rasulullah SAW.

Suatu ketika ia tidak mendapatkan tali pengikat untuk mengikat makanan yang ia bawa. Maka, ikat pinggang yang ia pakai dipotongnya menjadi dua bagian. Satu bagian tetap ia gunakan sebagai ikat pinggang dan bagian yang lain ia gunakan untuk mengikat makanan yang akan dikirim ke gua Tsur.

Ketika Rasulullah SAW mengetahui apa yang dia lakukan, beliau berdoa kepada Allah SWT agar mengganti ikat pinggang Asma dengan ikat pinggang dari surga.

8. Zainab Binti Abu Mu’awiyah

Zainab, mengajarkan kita menjadi orang yang berilmu, termasuk dalam hal beramal. Zainab binti Abu Mu’awiyah adalah istri dari Abdullah bin Mas’ud ra. Ia mendengar Rasulullah SAW menasihati kaum perempuan dengan:

“Sedekahlah wahai kaum wanita, meskipun dengan gelang perhiasan kalian.”

Zainab lalu bergegas pulang ke rumah dan mendapati suaminya sedang duduk. Ia menyadari bahwa suaminya adalah laki-laki miskin. Maka, ia menyuruh suaminya untuk bertanya pada Rasulullah SAW, apakah ia akan mendapatkan balasan jika ia bersedekah pada suaminya.

Suaminya merasa malu untuk bertanya demikian. Akhirnya, ia pergi untuk menemui Rasulullah SAW. Diperjalanan, Zainab bertemu dengan seseorang yang punya nit yang sama dengan dirinya. Akhirnya mereka menyuruh Bilal untuk menanyakan hal tersebut pada Rasulullah SAW.

Maka bersabdalah Rasulullah SAW:

“Mereka berdua mendapatkan dua pahala, yakni pahala kekerabatan dan pahala shodaqoh.”

9. Khaulah Binti Tsa’labah

Kisahnya Allah SWT abadikan dalam surah Al Mujadilah (Perempuan yang Menggugat) ayat pertama.

“Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

Ini ketika Khaulah mengadu kepada Rasulullah SAW atas sikap suaminya yang memperlakukan zihar terhadapnya. Maka kemudian Allah menurukan ayat tersebut yang menjelaskan tentang hukum zihar dalam islam pada ayat-ayat berikutnya.

Diriwayatkan bahwa ketika ia datang mengadu kepada Rasulullah SAW, Aisyah turut mendengarkannya. Namun sebagian pengaduan tersebut tidak dapat didengarnya dengan baik. Tetapi Allah ta’ala yang pendengarannya meliputi segala sesuatu, mendengar semua pengaduannya dan menurunkan ayar Al Mujadilah tersebut.

Koleksi Kebaya Kutu Baru Brokat. ====================Jangan lupa SHARE yaa. LIKE untuk mendapatkan update informasi terb...
09/01/2018

Koleksi Kebaya Kutu Baru Brokat.

====================

Jangan lupa SHARE yaa.

LIKE untuk mendapatkan update informasi terbaru.

Address

Krembangan Taman
Sidoarjo
60257

Opening Hours

Monday 09:00 - 17:00
Tuesday 09:00 - 17:00
Wednesday 09:00 - 17:00
Thursday 09:00 - 17:00
Friday 09:00 - 11:00
14:00 - 17:00
Saturday 09:00 - 17:00

Telephone

+6285655195600

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Peri Hijab posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category