01/11/2016
Hikmah, Gagasan Cinta Dan Anekdot Dalam Sastra Sufi*
Abdul Hadi W. M.
Dalam sejarah tradisi intelektual Islam tak sedikit para Sufi menempati kedudukan istimewa. Selain dikenal masyarakatnya sebagai guru makrifat, tidak sedikit di antara mereka merupakan sastrawan terkemuka dan seniman ulung pada zamannya. Contoh yang masyhur ialah Fariduddin al-‘Attar, Jalaluddin Rumi, Ibn `Arabi, Ruzbihan al-Baqli, Fakhrudin `Iraqi, Hafiz dan Jami dalam sastra Persia. Di Nusantara ahli tasawuf yang juga dikenal sebagai sastrawan ulung ialah Sunan Bonang, Hamzah Fansuri, Syamsudin Pasai, Nuruddin al-Raniri, Bukhari al-Jauhari, Raja Ali Haji, Ronggowarsito dan K.H. Hasan Mustafa. Fariduddin al-`Attar misalnya, bahkan lebih dikenal sebagai penulis alegori-alegori sufistik yang tak tertandingi dalam bahasa Persia.
Sejak muda Sufi dari Nisyapur abad ke-12 ini memang dikenal sebagai tukang cerita yang piawai. di samping ahli farmasi dan minyak wangi. Toko obat dan minyak wanginya yang besar di Nisyapur senantiasa ramai dikunjungi orang. `Attar sering melayani pasien-pasiennya seraya menyampaikan kisah-kisah yang menarik. Di antara kisah-kisah yang dituturkan itu kemudian ada yang digubah menjadi alegori sufi. Misalnya yang masyhur ialah Mantiq al-Tayr (Musyawarah Burung) dan Asrar-namah (Kitab Rahasia-rahasia).
Sebagaimana karya sastrawan Sufi pada umumnya, tema pokok karya `Attar adalah cinta ilahi (`isyq), sebuah gagasan tentang jalan dan metode kerohanian mencapai kebenaran. Dalam Mantiq al-Tayr misalnya, Cinta ditempatkan dalam lembah (maqam) kedua dalam perjalanan burung-burung (lambang roh manusia yang merindukan asal-usul kerohanian dan ketuhanannya) dari tujuh lembah yang harus dilalui untuk menemui raja diraja mereka Simurgh, lambang hakekat ketuhanan dan hakekat diri manusia. Lembah pertama ialah talab (pencarian), sedang lembah ketiga ialah makrifat, selanjutnya lembah ketenangan kalbu, ketakjuban, fana dan baqa. Dalam lembah pertama dan kedua itu banyak godaan, kes**aran dan kebingungan yang dihadapi seorang pencari kebenaran. Seseorang sering menyangka cinta pada dunia, cinta pada lain jenis disebabkan hawa nafsu dan amal perbuatan lain yang didasarkan atas kepentingan diri sebagai cinta sejati.
Meskipun gagasan cinta Sufi itu didasarkan pada metafisika keagamaan dan bersifat transendental, serta dalam mencernanya diperlukan pengetahuan dan pengalaman luas, namun tidak jarang gagasan tersebut disampaikan secara sederhana melalui kisah perumpamaan, anekdot dan puisi yang menarik. Karya mereka sangat melimpah, memenuhi sebagian besar khazanah sastra Islam abad ke-11 – 19 M, mencakup sastra Islam Arab, Persia, Urdu, Turki Usmani, Asia Tengah, Hindi, Sindhi, Bengali, Pasthun, Uyghur, Swahili, Melayu, Jawa dan lain-lain.
Walaupun bertolak dari tema pokok tunggal, yaitu cinta ilahi, tidak berarti karya Sufi tidak anekaragam dan hanya mengungkapkan masalah kerohanian atau cinta transendental. Tidak jarang karya mereka mengandung kritik sosial; di antaranya sindiran terhadap kaum legalis formal dan ulama yang mengagungkan tafsir formal dan rasional terhadap ajaran agama. Karena itu tak mengherankan serangan terhadap Sufi pada umumnya datang dari mereka. Demikianlah yang diungkapkan dalam kesastraan sufi itu bukan semata-mata pengalaman dan keadaan jiwa yang dialami ahli suluk dalam menempuh jalan cinta dan makrifat; melainkan juga contoh-contoh dalam kehidupan individu dan masyarakat yang berkaitan dengan amal dan ibadah. Misalnya tentang ikhtiar dan perjuangan manusia yang tak kenal lelah mencapai kebenaran, serta godaan-godaan hawa nafsu yang sering tak dapat diatasi dengan akibat hatinya keruh dan penglihatan batinnya kabur terhadap hakekat ajaran agama.
Misalnya kisah burung beo yang dicukur gundul oleh majikannya dalam Matsnawi karya Rumi. Rumi menyindir pandangan kaum formalis dan orang yang s**a meniru pendapat orang lain, tanpa mengerti inti persoalannya. Diceriterakan. seorang pedagang memiliki seekor burung beo yang pandai bicara. Suatu hari tuannya pergi ke masjid untuk salat lohor. Burung itu disuruh menjaga kedai. Merasa mendapat kebebasan, burung itu bermain-main ses**a hati. Tanpa disengaja kakinya menyentuh botol minyak goreng. Botol jatuh dan pecah, isinya tumpah. Sebagai ganjaran bagi perbuatannya pedagang memberi hukuman: bulu di kepalanya dicukur sampai gundul. Keesokan harinya seorang professor yang botak kepalanya lewat di depan kedai itu. Merasa menemukan teman senasib, burung beo itu berteriak, ”Hai Kawan Gundul! Mengapa kepala tuan sampai botak? Apa tuan menumpahkan minyak goreng seperti saya?” Orang yang mendengarnya tertawa terbahak, sebab beo itu mengira professor itu sederajat dengan dirinya.
Yang disindir dalam kisah tersebut ialah orang yang berpandangan picik, yang menilai segala sesuatu berdasarkan pengetahuan dan pengalaman pribadinya yang picik. Juga disindir kebiasaan kaum formalis yang menafsirkan ajaran agama semata-mata berdasarkan pengertian legalistik formal. Seperti burung beo milik pedagang itu, kaum formalis sering tak dapat membedakan pengetahuan orang arif dan dirinya karena melihat ilmu dari segi lahirnya semata-mata. Nabi, kata Rumi, makan dan minum seperti manusia biasa. Secara lahir beliau sama dengan manusia biasa. Namun secara batin beliau bukan manusia biasa. Beliau memiliki pengetahuan, akhlaq dan kepribadian yang tak dimiliki orang lain, termasuk para sahabat, wali dan ulama. Tutur Rumi:
Jangan mengukur orang arif dan orang suci
Melalui ukuran yang berlaku atas dirimu ;
Cara menulis kata sher (singa) dan shir (susu) mirip
Namun keduanya memiliki makna yang berbeda.
Apabila cara pandangmu seperti itu
Maka seluruh dunia tak akan ada artinya;
Memang tidak banyak orang
Yang pantas disebut hamba Tuhan sejati.
Mereka mengaku sama dengan nabi dan wali
Mereka mengira wali seperti mereka juga.
”Lihat!”, kata mereka, ”Kami ini manusia,
Mereka juga manusia; kami dan mereka
Sama-sama terikat pada tidur dan makan.
Dalam kebutaannya mereka tak tahu
Bahwa antara keduanya terbentang jarak luas
Tawon dan lebah memang makan
Dari sumber yang sama; Namun yang satu
Hanya memiliki sengatan menyakitkan
Sedang yang lain membuat madu yang lezat.
Sindiran terhadap orang yang merasa puas dengan tafsir formal yang dangkal terhadap segala sesuatu, termasuk ajaran agama, lebih jelas dikemukakan Rumi dalam ”Kisah Lalat dan Pemahamannya Terhadap Kehidupan”:
Seekor lalat mengangkat tinggi kepalanya
Membayangkan dirinya pengemudi kapal besar
Padahal ia hanya berdiri di atas batang padi
Yang bergerak di atas genangan air hujan.
“Kini kulihat lautan luas dan ini kapal besar,
Sebelum menafsir aku telah memikirkannya
Secara mendalam dan lama. Lihat!
Ini lautan dan ini kapal yang berlayar di atasnya!
Sedang aku adalah mualim yang bijak dan handal.
Lantas ia pun mendorong rakit itu ke lautan genangan air
Air yang hanya segayung kelihatan banyak tak terkira,
Apalagi jika dibandingkan dirinya yang kerdil.
Di mana penglihatan hatinya disembunyikan
Sehingga dapat melihat hakekat yang sebenarnya?
Keluasan dunia si lalat hanya sebatas pandangannya
Matanya terasa besar, laut air hujan tampak luas
Dalam tembok pandangannya yang picik.