MartMelonk Store

MartMelonk Store import baby and kids

13/12/2023

21+
MAAF, ORGAN REPRODUKSI ANDA SUDAH TIDAK BERFUNGSI LAGI SEBAGAIMANA MESTINYA. ANDA IMPOT3N

JUDUL : BENIH TERAKHIR

“Ayuna Akira binti Ahmad Jaelani! Dengan ini, saya jatuhlah Talak satu padamu. Sekarang, kita bukan suami istri lagi. Tubuhmu haram untuk aku sentuh!” Jemari Aksa Dirgantara yang terangkat itu bergetar. Kemudian dengan sekali hentakan, memukul meja bundar hingga getarannya menjatuhkan foto yang membuat hatinya murka.

Foto itu melayang ke bawah terkena angin. Lalu jatuh dengan posisi gambarnya terlihat jelas.

Baru saja merasakan cinta dengan wanita pilihan Papanya. Tapi mengapa, justru yang dia dapatkan malah penghianatan. Hati lelaki gagah itu memenas. Rahang kotaknya mengeras. Garis wajah tampan itu memerah seiring dengan kemarahan yang sudah memuncak.

Mata Yuna memanas, namun kemudian dia pejamkan seolah menikmati rasa sakit luar biasa yang suaminya berikan. Mata panas itu membuat dua aliran, seperti gunung yang sedang memuntarkan lahar.

Mata berwarna abu- abu menatap pada foto- foto yang terjatuh. Karena foto itulah, sang suami murka dan menceraikannya.

“Baiklah… aku terima keputusanmu,” ucapnya dengan bibir bergetar. Membuang pandang ke sembarang tempat. Segera menghapus air mata yang baru saja keluar. Tak ingin sekalipun air mata itu terlihat oleh seseorang yang menatapnya dengan senyuman licik.

Mata Aksa mendelik ketika mendengar jawaban Yuna. Dengan cepat membalikkan badan. Mata kejam langsung menghujam mata abu- abu yang walau merebak tapi tatapannya menajam, “Apa? Kamu menerima begitu saja?” bentaknya tak terima.

Yuna menarik sebelah ujung bibir, “untuk apa aku menjelaskannya, pasti kamu akan lebih percaya dengan Mama dan Pacarmu itu.” Sorot mata Yuna mengarah kepada dua orang yang sedang tersenyum penuh kepuasan.

Aksa kecewa. Dia mengira, wanita yang secara perlahan singgah dihatinya itu akan membela diri. Memohon belas kasih dan cintanya serta mengatakan dia tidak bersalah. Menjelaskan pada dirinya jika itu hanya fitnah yang tidak mendasar. Itu yang Aksa mau. Lelaki pemarah itu sama sekali tak menyangka, Yuna menerima tanpa pembelaan apapun.

“Jadi, kamu bangga aku sebut sebagai wanita yang tak punya harga diri. Lihat foto- fotomu itu. Berpelukan dengan lelaki yang bukan suamimu? Kamu bangga, ha?” Aksa yang murka. Segera mengambil foto- foto yang tadi diserahkan kekasihnya, membanting foto itu dihadapan sang istri. Tubuh Yuna sedikit terhentak karena kaget. Udara yang disemburkan dari foto yang terbanting, menyapa wajah Yuna yang reflek memejamkan mata.

“Lalu… apa bedanya aku dengan Mas Aksa. Mas Aksa juga setiap hari pergi dengan Cintya tanpa memperdulikan perasaanku sebagai istri sah mu. Lalu kamu anggap apa aku ini?! Jikalaupun aku bilang foto itu hanya hasil rekayasa, Mas Aksa juga tidak mungkin percaya!”

Aksa tercenggang, merasa kesalahannya dikuliti. Ya, dia memang belum menjadi suami yang baik. Selama menikah dengan Yuna, dia tak berhenti bermain asmara dengan Cintya. Bahkan, tega melewatkan malam pertamanya bersama Yuna begitu saja. Hanya karena Yuna gadis kampung yang dijodohkan, dia selalu menyakiti hatinya. Menganggap kedatangan Yuna di rumah ini sebagai musibah.

Tapi, belakangan, entah mengapa dia sedikit luluh dengan istri kampungannya itu.

Dia sangat ingin Yuna mengatakan sesuatu untuk membela diri. Bilang jika foto itu hasil rekayasa dan minta maaf padanya dan Mamanya. Tapi, mulutnya terlalu gengsi untuk berucap.

“Mengapa Mas Aksa diam? Mengamini apa yang aku katakan. Talak sudah keluar. Biarkan aku pergi dari rumah ini!”

Aksa mendelik mendengar ucapan Yuna.

Wanita yang sejak dulu selalu menekan segala amarah, akhirnya bisa meluapkan segalanya. Mungkin inilah batas akhir kesabaran yang dia miliki untuk Aksa, suaminya. Hanya di atas kertas saja menjadi suami istri. Nyatanya, hidup mereka tak seperti suami istri yang sesungguhnya.

Yuna mengelus perut ratanya. Tidak mau memberitahu jika dia sedang mengandung anak Aksa, pemilik beberapa perusahaan besar “ANGKASA COORPORATION” yang bergerak di bidang permakanan.

“Ta- tapi.. Yun…!” Tangan Aksa yang ter- ulur, segera ditampik oleh Cintia, sang selingkuhan.

“Sudah, biarkan saja dia pergi. Kalau kalian bercerai. Kita bisa menikah!” Dengan manja bergelatit pada lengan gagah, lalu meneggelamkan kepala pada dada bidang Aksa. Lelaki itu hanya diam, hatinya berat untuk membiarkan Yuna pergi. Tapi baginya, apa yang dilakukan Yuna adalah sebuah penghianatan yang tak termaafkan.

Wanita itu sempat melirik ke belakang dalam langkahnya, melihat Cintia bergelayut manja di lengan sang suami, hatinya sakit. Ya, dua tahun menjalani biduk rumah tangga bersama walau dengan perjodohan. Membuat Yuna ternyata menaruh hati dengan pria yang akan menjadi Ayah dari anaknya.

*****

Suara decit roda yang beradu dengan anak tangga, membuat mata Aksa mendongak.

Satu demi satu, Yuna melangkah menyeret koper besar, dia tampak kuwalahan . Aksa ingin berlari membantu. Tapi, lagi- lagi, Cintya menggeleng. Memeluk lengan gagahnya dengan erat dan tak membiarkan Aksa pergi kemanapun.

Hanya bisa membuang muka, mata Aksa sudah memerah karena kemarahan dan rasa tidak rela ditinggalkan bercampur menjadi satu.

Yuna sudah berada di ujung tangga, “aku pergi,” ucapnya. Kaki dia langkahkan kembali menuju pintu keluar.

Menarik lengan dari pegangan Cintya, langkah besar Aksa menuju wanita yang masih sah secara hukum menjadi istrinya. Mencekal lengan Yuna dengan kasar, “kamu…. Ingat… kamu sudah menyakiti hati Aksa Dirgantara. Tidak mau meminta maaf dan memohon dihadapanku untuk kumaafkan. Lihat apa yang akan kuperbuat padamu!”

Dengan kasar menghentakkan lengan Yuna, tubuh wanita itu sedikit terdorong kebelakang karena kekasaran Aksa. Untung ada koper besar yang menjaga tubuh itu supaya tidak terbentur. Jika Yuna sampai ambruk dan terbentur, entah apa yang akan terjadi pada anak yang ada dikandungannya.

Mata elang aksa tak memperdulikan apa yang terjadi pada Yuna. Tatapan begis dan kejam tetap dia arahkan pada wanita yang tanpa dia tahu sedang membawa benihnya. Rasa marah dan egonya yang tinggi, membuatnya tidak peka dengan gerakan- gerakan Yuna yang selalu reflek melindungi perut. Hatinya dilanda marah besar, karena apa yang dia harapkan dari Yuna tak dia dapatkan.

“Terserah kamu, Mas. Aku lelah hidup denganmu. Biarkan aku pergi. Toh, selama ini aku tidak pernah kamu anggap sebagai istri,” ucap Yuna tanpa mau memandang Aksa. Tatapan wanita itu lurus ke depan, mengarah pada sebuah pintu yang sengaja dibuka lebar oleh kekasih Aksa.

“Pergi… Pergi kamu yang jauh…. jangan pernah tunjukkan muka kotormu itu dihadapanku lagi. Aku sudah muaaakk!”

Aksa seperti kesetanan, membanting semua vas vas mahal yang ada. Tak memperdulikn teriakan dari dua wanita yang memintanya untuk berhenti.

Yuna yang ketakutan, dengan cepat meninggalkan Aksa yang sedang marah luar biasa.

****

Beberapa hari setelah mendaftarkan gugatan. Aksa masih tak percaya jika dia ternyata selalu memikirkan Yuna. Hidup satu atap lebih dari dua tahun, ternyata membuatnya kehilangan sosok yang selalu melayani kebutuhannya setiap hari. Perhatian, kasih sayang yang dia dapatkan dari Yuna. Tak sama dengan yang dia dapatkan dari Cintya.

Tapi, bayangan Yuna sedang dipeluk lelaki dalam foto itu. Membuat amarahnya semakin menjadi setelah dia tahu jika foto itu bukan editan.

Menggenggam perasaan sedih, marah, kecewa, dia menekan pedal gas tanpa kendali.

Menarik kereta besi itu hingga kecepatan maksimal. Decitan ban dan aspal, bahkan meninggalkan bekas karena kendaraan yang melaju dengan begitu kencang di jalan Tol yang seharusnya maksimal kecepatan yang dilalui hanya seratus kilo meter per jam.

Kewaspadaan dan fokus Aksa tiba- tiba menghilang, ketika tiba- tiba ada mobil yang menyalipnya.

Dengan kecepatan lebih dari seratus lima puluh kilometer per jam. Aksa membanting setir untuk menghindar. Tapi, karena kecepatan yang terlalu tinggi serta bantingan stir yang terlalu menukik tajam, kecelakaan tak bisa ter elak- kan lagi.

“Aaaaaaakk!” Teriakan melengking terdengar seiring dengan hantaman kendaraan yang dia tumpangi pada pembatas jalan.

Hantaman yang sangat keras, membuat kaca dan pintu ringsek parah. Tubuh gagah Aksa terpelanting. Seakan melayang, keluar dengan sendirinya dari mobil. Terlempar hingga beberapa meter jauhnya.

Sedangkan mobil yang ditumpanginya, terguling dan menggulung beberapa kali seperti terbang ke udara.

Gulungan itu menimbulkan percikan api dari bahan bakar yang bocor. Pertama, percikan tersebut membentuk hanya seperti kembang api. Tapi lama- lama….

Booommmmm! Ledakan dasyat terjadi pada kilometer seratus lima puluh. Api dengan cepat membumbung tinggi. Asap hitam

Mengepul dari kendaraan Aksa yang meledak.

Aksa yang tergeletak dan bermandikan darah, hanya dapat memandang nanar mobil kesayangan yang telah meledak dan hancur berkeping- keping.

Lidahnya seakan kelu untuk hanya sekedar meminta tolong.

Pandangan lelaki itu kabur seiring dengan darah yang mengalir membasahi mata. Perlahan, mata itu sudah tak sanggup lagi untuk terjaga. Aksa menutup mata.

******

Seorang Dokter dengan berpakaian serba putih. Memasuki ruangan. Operasi pemasangan Pan untuk kaki yang patah serta beberapa tulang rusuk baru saja dilakukan.

Seorang lelaki tergeletak dengan tubuh yang nyaris penuh dengan alat medis. Dada lelaki itu bergerak kembang kempis seperti seseorang yang kesulitan bernafas.

Bunyi alat berbentuk kotak pengukur detak jantung, berfungsi dengan baik. Bunyi yang teratur menandakan jika jantung lelaki itu berdetak dengan normal.

“Keluarga bapak, Aksa?” tanya seorang Dokter muda sambil membenarkan letak kacamata yang dia pakai.

“Iya, saya Mamanya, Dok!” jawab Mama Aksa mendekat. Wanita itu menggandeng tangan Cintya.

“Maaf, kecelakaan dasyat yang dialami Pak Aksa, membuat organ reproduksi ikut terganggu. Dan maaf, jika saya harus menyampaikan. Bahwa Pak Aksa akan lumpuh dibagian alat vitalnya. Pak Aksa tidak akan bisa mempunyai anak lagi!”

Aksa yang ternyata sudah tersadar, dia mendengar semua yang dikatakan Dokter. Matanya mendelik seakan tak percaya.

****
CERITA INI GRATIS SAMPAI TAMAT DI FIZZO. Klik link dibawah

BENIH TERAKHIR oleh A N R A

AKU ANAK ORANG KAYA, MAS!Siti Rohmah Bab 4Aku setir mobil dengan kecepatan tinggi. Kulajukan ke rumah papa kembali. Tak ...
08/12/2023

AKU ANAK ORANG KAYA, MAS!
Siti Rohmah

Bab 4

Aku setir mobil dengan kecepatan tinggi. Kulajukan ke rumah papa kembali. Tak ada air mata yang menetes di p**i. Entahlah, mungkin air mata ini sudah kering hingga tak lagi berurai.

Mas Zaki, pria yang telah memintaku menjadi istrinya setahun lalu. Kini, ia menalakku. Memang baru sekali ia menalakku. Namun, aku tidak bisa kembali dengannya begitu saja, setelah apa yang ia katakan terhadapku tadi.

Kata-kata yang ia lontarkan akan menorehkan luka di hati. Mungkin baginya ini hanya sebuah emosi, tapi bagiku ini adalah jati dirinya, begitu rendahnya diriku di hadapannya.

Jadi teringat setahun silam, di saat Mas Zaki bertemu dan langsung menyuntingku.

***

Setahun lalu

Aku yang terbiasa bermain dengan anak-anak jalanan, sedang duduk di tepi jalan bersama-sama. Kami menyanyi bersenda gurau di pinggir jalan. Hingga akhirnya datang laki-laki yang tidak sengaja menabrak salah satu dari kami.

Brugh ....

"Au ...." Lita menjerit saat kakinya terlindas sebuah motor yang dikendarai oleh pria berjaket kulit.

"Eh, kamu tuh kalau naik motor liat ke jalan. Kita tuh dah di pinggir, tapi masih aja kamu lindas!" teriakku sembari menunjuk wajahnya yang tertutup helm. Kemudian, ia membuka helm dengan segera.

Setelah ia buka, laki-laki berjaket kulit itu mengucek matanya. Ia memang kesulitan membuka matanya. Sepertinya terkena debu di jalan.

"Maaf, Dek. Saya benar-benar tidak melihatnya. Maaf ya!" ucapnya sembari mengucek matanya. Kemudian ia terus menerus mengedipkan matanya. Hingga akhirnya bisa memperhatikan wajah kami.

"Jadi kamu itu tidak lihat ada kami di sini?" tanyaku lagi.

"Iya, Dek. Maaf ya. Ini uang untuk berobat ke rumah sakit." Ia menyodorkan uang sekitar satu juta rupiah.

Aku raih uangnya, kemudian kuberikan pada Lita yang sudah agak lebih mendingan.

"Maaf, Dek. Ada yang bisa antar saya dengan motor ini tidak, ya?" tanya laki-laki yang belum memperkenalkan namanya.

"Saya bisa antar," tunjukku. Kemudian, aku antarkan ia kembali ke tempatnya. Sebuah bengkel mobil yang lumayan besar dan ternama di kota ini.

Setibanya di sana, aku memberikan motornya kembali. Lalu aku berkenalan dengannya.

"Namamu siapa? Rumah di mana?" tanya Mas Zaki.

"Aku Ana Melissa, rumahku rahasia."

"Loh, kenapa rahasia?"

"Hanya laki-laki yang mau menyuntingku dengan segera yang boleh tahu alamat rumahku," pungkasku. Kemudian, ia meminta nomor kontakku untuk kenalan lebih lanjut.

"Kalau begitu, aku meminta nomer telepon selulermu, boleh?" tanyanya sembari memegang layar ponsel dan bersiap save kontak. Lalu aku sebut nomor kontak dan ia pun menyimpan kontakku.

"Aku pamit," tukasku.

"Hati-hati, terima kasih sudah mengantarkan aku ke bengkel. Ini bengkel milikku." Sombong sekali laki-laki ini, tapi boleh juga dengan tanggung jawabnya terhadap kecelakaan tadi.

Kemudian aku p**ang, dan bertemu dengan papa dan mama. Ia sudah p**ang dari kantor, seperti biasa aku dimarahi karena ketahuan bolos kuliah.

"Ana, dari mana kamu?" tanya papa.

"Pulang kuliah, Pah."

"Bohong, Papa tahu kamu bohong," cecarnya. Kemudian aku duduk di sampingnya.

"Papa akan menikahkan kamu dengan Roy, anak dari Pak Darun." Aku tersentak mendengar ucapan papa.

"Pah, aku belum siap. Lagi p**a aku sudah memiliki calon laki-laki yang akan menjadi suamiku!" jawabku dengan percaya diri.

Tidak lama aku berucap seperti itu, telepon berdering. Dari nomor yang tak dikenal. Kemudian, aku mengangkatnya sebentar saat papa hendak membicarakan pernikahanku.

"Halo, Ana."

"Ya, ini siapa?"

"Aku Zaki, bisa bicara sebentar?"

Aku segera pergi meninggalkan mereka, bicara dengan Mas Zaki, si laki-laki yang tanpa sengaja menabrak Lita tadi.

"Ada apa?"

"Kamu bersedia menikah denganku?" Aku tersentak mendengar ajakannya. Ada apa ini? Papa memintaku untuk menikah dengan Roy. Di sisi lain, ada Mas Zaki yang menyuntingku secara tiba-tiba.

"Loh kenapa aku?" tanyaku terkejut.

"Mama memintaku menikah dengan wanita pilihannya. Aku tidak mau, karena tidak mencintainya. Bolehkah aku menjadikan kamu seorang istri?" Aku terdiam, tapi tak henti-hentinya berpikir. Kenapa bisa kebetulan seperti ini? Aku dan dia sama-sama dipinta untuk menikah dengan pilihan orang tuanya.

"Baiklah, aku setuju. Aku pun sama dengan kamu. Diminta untuk menikah cepat, tapi dengan pilihan orang tua."

"Oh ya? Berati kita jodoh, bisakah aku melamarmu besok?" tanyanya.

"Aku bicara pada orang tuaku terlebih dahulu. Nanti aku hubungi kamu kembali!" Telepon pun terputus. Aku kembali berkumpul dengan papa dan mama.

"Siapa?" tanyanya sinis.

"Pah, aku akan menikah."

"Syukurlah, akhirnya kamu mau menikah dengan Roy." Mama sebegitu bersyukurnya mendengar ucapanku yang baru setengah.

"Mama, aku menikah bukan dengan Roy. Ada laki-laki lain pilihanku."

Mama dan papa saling beradu pandangan sembari menggelengkan kepalanya.

"Ana, Papa tidak akan menyetujui. Khawatir laki-laki pilihanmu hanya memanfaatkan kamu, Ana!" tegasnya.

"Apa Roy tidak memanfaatkan Papa?" tanyaku.

Papa dan mama bergeming, tidak lama kemudian, papa melontarkan kata-kata yang mengejutkanku.

"Papa tidak akan merestui kamu, tapi Papa bersedia menjadi wali nikah untukmu!" tekannya. Ia menuturkan kata-kata dengan penuh ancaman.

"Maksud Papa?" tanyaku.

"Kamu boleh menikah, tapi jangan beri tahu pada keluarganya siapa jati diri kamu sebenarnya. Setelah kamu menikah pun ikut dengan suamimu!" Papa mengancam atau serius?

"Sesak dada Mama, Nak. Kenapa kamu memilih laki-laki itu?"

"Mah, aku baru bertemu dengannya sekali, tapi kok aku merasa kami jodoh."

"Sudah, Mah. Kita masih memiliki Sinta yang nurut dengan kemauan orang tua!" tegasnya.

"Baiklah, aku setuju dengan keinginan Papa." Aku menantangnya. Dari pada harus menikah dengan Roy, si laki-laki hidung belang, lebih baik aku menikah dengan Mas Zaki saja.

Kemudian, aku memberikan kabar kepada Zaki. Bahwa aku telah menyetujui ajakannya untuk menikah dengannya.

Perkenalan singkat dengan Mas Zaki telah menumbuhkan benih cintaku padanya. Begitu juga dengannya, yang lebih memilihku ketimbang gadis pilihan mamanya.

Acara lamaran dilakukan di rumah kecil yang papa sewa. Ia tidak mau memperlihatkan kekayaan kami karena belum mengenal Mas Zaki lebih dalam.

***

Aku melewati jalanan tempat kami bertemu dulu. Kemudian, aku turun dari mobil. Sedikit mengenang tempat ini, tempat awal mula Mas Zaki menabrak Lita. Kira-kira bagaimana kabarnya Lita sekarang ya? Sejak menikah dengan Mas Zaki, aku tak lagi bertemu dengannya.

Aku raih ponsel yang ada di tas, tapi ternyata kontak sudah tidak aktif lagi. Ah rasanya ingin cerita padanya bagaimana rumah tanggaku saat ini.

Aku kembali ke mobil dan hendak p**ang ke rumah papa. Namun, papa sudah menghubungiku terlebih dahulu.

"Halo, Pah."

"Bagaimana?" tanyanya. Aku tahu ia sudah mengetahui jawabanku tapi berpura-pura menanyakan lagi padaku.

"Aku sedang on the way p**ang, Pah."

"Jangan dulu, Papa punya tugas untukmu, tolong belikan bunga mawar berduri dan kirim ke alamat Jl. Tiga Dimensi nomer 5. Tolong Papa kirim bunga itu, ya!" suruhnya. Aku pun menyatukan kedua alis. Kenapa harus aku yang kirim? Bukankah papa memiliki banyak anak buah?

"Pah, kenapa aku? Males ah!"

"Ana, tolong Papa, ya!" perintahnya lagi.

"Baiklah, aku akan antar. Pengirim dari siapa?"

"Tak usah kasih nama pengirimnya," sahutnya. Kemudian telepon pun terputus.

Aku pun membeli bunga mawar berduri seperti perintah papa. Kemudian mengirimkan bunga itu ke alamat yang papa berikan.

Setelah sampai, di sebuah rumah minimalis, kelihatannya rumah orang berada. Di depan garasi juga ada sebuah mobil lumayan mahal terparkir. Entahlah, bunga ini papa kirim untuk siapa. Aku hanya mengikuti perintahnya.

Aku tekan bel rumah yang ada di depan. Kemudian keluarlah si pemilik rumah. Seorang wanita cantik yang berpakaian modis, wajah manis yang terpancar dari balik pintu itu tersenyum tipis kepadaku. Sepertinya aku kenal wanita itu?

Bersambung

Siapa wanita di balik pintu itu? Kalau rame yang komentar entar malam kebut nih. Jangan lupa tap love dan subscribe untuk dapat notifikasi bab selanjutnya.

Cerita ini sudah tamat di KBM. Baca maraton di sana yuk! Biar hilang rasa penasaran.

Ayo bergabung dan subscribe buku AKU ANAK ORANG KAYA, MAS! agar selalu mendapatkan informasi update terbaru di buku ini dan lihat hasil karya lainnya dari Siti_Rohmah21 di aplikasi KBM.

STATUS MANTAN ISTRI, SUAMIKU Penulis: Devi Wulandari *****"Rumah Idaman, Bismillah.." caption yang di sematkan oleh Nita...
19/06/2023

STATUS MANTAN ISTRI, SUAMIKU

Penulis: Devi Wulandari
*****

"Rumah Idaman, Bismillah.." caption yang di sematkan oleh Nita, mantan istri Bang Amran.

Status itu di sertai dengan foto rumah, 2 lantai.
Aku membaca komen Mbak Ratih, Kakak iparku.

[Jadi di beli?] komen Mbak Ratih.

[Insyaallah Mbak, baru depe.] balas Nita.

Setahuku Nita tidak bekerja, tapi bisa membeli rumah. Aku tidak iri dengan rejekinya, Alhamdulillah kan. Walaupun hubungan kami tidak baik, karena entah kenapa Nita tak menyukaiku.

Tapi walaupun begitu, hubungan Nita denga keluarga Bang Amran tetap dekat. Dari pernikahan dulu, Bang Amran susah di mempunyai anak kembar, bernama Aldo dan Tania.

🍒🍒🍒

"Kamu sudah bayar depe-nya?" terdengar suara Ibu mertuaku sedang berbicara, aku yang sedang berjalan menuju dapur, menghentikan langkah.

Di sana ada Bang Amran juga, mereka sedang duduk di kursi, meja makan.

"Sudah Bu, aku memberikan uang 30 juta untuk depe. Pada Nita." ujar Bang Amran.

Jadi uang depe itu dari suamiku, dan Ibu mendukungnya.

"Syukurlah, kasihan kalau Nita dan anak-anakmu tinggal di kontrakan terus," ucap Ibu.

Deg..! Mereka memang tinggal di kontrakan. Yang setiap bulan di bayar Bang Amran. Rumah yang kami tempati ini adalah milikku, kini Bang Amran bekerja menjadi PNS. Dia menjadi PNS setelah menikah denganku saat pernikahan kami berjalan 6 bulan. Saat bersama Nita, finansial mereka justru lumayan, mempunyai toko tapi akhirnya bangkrut dan membuat Nita minta bercerai.

"Dua hari lagi, aku akan memberi uang pada Nita Bu. Untuk melunasi rumah itu," jawab Bang Amran.

Pasti Bang Amran menggunakan uangku, karena dia kini yang memegang ATMku. Tidak bisa, harus kukosongkan Saldo di dalam rekening.

*****
Baca versi lengkapnya ke aplikasi KBM APP. Cari dengan judul yang sama dan nama pena author Devidee17. Atau klik link di bawah ini.

Ayo bergabung dan subscribe buku STATUS MANTAN ISTRI, SUAMIKU agar selalu mendapatkan informasi update terbaru di buku ini dan lihat hasil karya lainnya dari Devidee17 di aplikasi KBM.

Address

Desa Padasuka Kec Lunyuk Kab Sumbawa NTB
Sumbawa
84373

Telephone

+6287710416732

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when MartMelonk Store posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share