13/12/2023
21+
MAAF, ORGAN REPRODUKSI ANDA SUDAH TIDAK BERFUNGSI LAGI SEBAGAIMANA MESTINYA. ANDA IMPOT3N
JUDUL : BENIH TERAKHIR
“Ayuna Akira binti Ahmad Jaelani! Dengan ini, saya jatuhlah Talak satu padamu. Sekarang, kita bukan suami istri lagi. Tubuhmu haram untuk aku sentuh!” Jemari Aksa Dirgantara yang terangkat itu bergetar. Kemudian dengan sekali hentakan, memukul meja bundar hingga getarannya menjatuhkan foto yang membuat hatinya murka.
Foto itu melayang ke bawah terkena angin. Lalu jatuh dengan posisi gambarnya terlihat jelas.
Baru saja merasakan cinta dengan wanita pilihan Papanya. Tapi mengapa, justru yang dia dapatkan malah penghianatan. Hati lelaki gagah itu memenas. Rahang kotaknya mengeras. Garis wajah tampan itu memerah seiring dengan kemarahan yang sudah memuncak.
Mata Yuna memanas, namun kemudian dia pejamkan seolah menikmati rasa sakit luar biasa yang suaminya berikan. Mata panas itu membuat dua aliran, seperti gunung yang sedang memuntarkan lahar.
Mata berwarna abu- abu menatap pada foto- foto yang terjatuh. Karena foto itulah, sang suami murka dan menceraikannya.
“Baiklah… aku terima keputusanmu,” ucapnya dengan bibir bergetar. Membuang pandang ke sembarang tempat. Segera menghapus air mata yang baru saja keluar. Tak ingin sekalipun air mata itu terlihat oleh seseorang yang menatapnya dengan senyuman licik.
Mata Aksa mendelik ketika mendengar jawaban Yuna. Dengan cepat membalikkan badan. Mata kejam langsung menghujam mata abu- abu yang walau merebak tapi tatapannya menajam, “Apa? Kamu menerima begitu saja?” bentaknya tak terima.
Yuna menarik sebelah ujung bibir, “untuk apa aku menjelaskannya, pasti kamu akan lebih percaya dengan Mama dan Pacarmu itu.” Sorot mata Yuna mengarah kepada dua orang yang sedang tersenyum penuh kepuasan.
Aksa kecewa. Dia mengira, wanita yang secara perlahan singgah dihatinya itu akan membela diri. Memohon belas kasih dan cintanya serta mengatakan dia tidak bersalah. Menjelaskan pada dirinya jika itu hanya fitnah yang tidak mendasar. Itu yang Aksa mau. Lelaki pemarah itu sama sekali tak menyangka, Yuna menerima tanpa pembelaan apapun.
“Jadi, kamu bangga aku sebut sebagai wanita yang tak punya harga diri. Lihat foto- fotomu itu. Berpelukan dengan lelaki yang bukan suamimu? Kamu bangga, ha?” Aksa yang murka. Segera mengambil foto- foto yang tadi diserahkan kekasihnya, membanting foto itu dihadapan sang istri. Tubuh Yuna sedikit terhentak karena kaget. Udara yang disemburkan dari foto yang terbanting, menyapa wajah Yuna yang reflek memejamkan mata.
“Lalu… apa bedanya aku dengan Mas Aksa. Mas Aksa juga setiap hari pergi dengan Cintya tanpa memperdulikan perasaanku sebagai istri sah mu. Lalu kamu anggap apa aku ini?! Jikalaupun aku bilang foto itu hanya hasil rekayasa, Mas Aksa juga tidak mungkin percaya!”
Aksa tercenggang, merasa kesalahannya dikuliti. Ya, dia memang belum menjadi suami yang baik. Selama menikah dengan Yuna, dia tak berhenti bermain asmara dengan Cintya. Bahkan, tega melewatkan malam pertamanya bersama Yuna begitu saja. Hanya karena Yuna gadis kampung yang dijodohkan, dia selalu menyakiti hatinya. Menganggap kedatangan Yuna di rumah ini sebagai musibah.
Tapi, belakangan, entah mengapa dia sedikit luluh dengan istri kampungannya itu.
Dia sangat ingin Yuna mengatakan sesuatu untuk membela diri. Bilang jika foto itu hasil rekayasa dan minta maaf padanya dan Mamanya. Tapi, mulutnya terlalu gengsi untuk berucap.
“Mengapa Mas Aksa diam? Mengamini apa yang aku katakan. Talak sudah keluar. Biarkan aku pergi dari rumah ini!”
Aksa mendelik mendengar ucapan Yuna.
Wanita yang sejak dulu selalu menekan segala amarah, akhirnya bisa meluapkan segalanya. Mungkin inilah batas akhir kesabaran yang dia miliki untuk Aksa, suaminya. Hanya di atas kertas saja menjadi suami istri. Nyatanya, hidup mereka tak seperti suami istri yang sesungguhnya.
Yuna mengelus perut ratanya. Tidak mau memberitahu jika dia sedang mengandung anak Aksa, pemilik beberapa perusahaan besar “ANGKASA COORPORATION” yang bergerak di bidang permakanan.
“Ta- tapi.. Yun…!” Tangan Aksa yang ter- ulur, segera ditampik oleh Cintia, sang selingkuhan.
“Sudah, biarkan saja dia pergi. Kalau kalian bercerai. Kita bisa menikah!” Dengan manja bergelatit pada lengan gagah, lalu meneggelamkan kepala pada dada bidang Aksa. Lelaki itu hanya diam, hatinya berat untuk membiarkan Yuna pergi. Tapi baginya, apa yang dilakukan Yuna adalah sebuah penghianatan yang tak termaafkan.
Wanita itu sempat melirik ke belakang dalam langkahnya, melihat Cintia bergelayut manja di lengan sang suami, hatinya sakit. Ya, dua tahun menjalani biduk rumah tangga bersama walau dengan perjodohan. Membuat Yuna ternyata menaruh hati dengan pria yang akan menjadi Ayah dari anaknya.
*****
Suara decit roda yang beradu dengan anak tangga, membuat mata Aksa mendongak.
Satu demi satu, Yuna melangkah menyeret koper besar, dia tampak kuwalahan . Aksa ingin berlari membantu. Tapi, lagi- lagi, Cintya menggeleng. Memeluk lengan gagahnya dengan erat dan tak membiarkan Aksa pergi kemanapun.
Hanya bisa membuang muka, mata Aksa sudah memerah karena kemarahan dan rasa tidak rela ditinggalkan bercampur menjadi satu.
Yuna sudah berada di ujung tangga, “aku pergi,” ucapnya. Kaki dia langkahkan kembali menuju pintu keluar.
Menarik lengan dari pegangan Cintya, langkah besar Aksa menuju wanita yang masih sah secara hukum menjadi istrinya. Mencekal lengan Yuna dengan kasar, “kamu…. Ingat… kamu sudah menyakiti hati Aksa Dirgantara. Tidak mau meminta maaf dan memohon dihadapanku untuk kumaafkan. Lihat apa yang akan kuperbuat padamu!”
Dengan kasar menghentakkan lengan Yuna, tubuh wanita itu sedikit terdorong kebelakang karena kekasaran Aksa. Untung ada koper besar yang menjaga tubuh itu supaya tidak terbentur. Jika Yuna sampai ambruk dan terbentur, entah apa yang akan terjadi pada anak yang ada dikandungannya.
Mata elang aksa tak memperdulikan apa yang terjadi pada Yuna. Tatapan begis dan kejam tetap dia arahkan pada wanita yang tanpa dia tahu sedang membawa benihnya. Rasa marah dan egonya yang tinggi, membuatnya tidak peka dengan gerakan- gerakan Yuna yang selalu reflek melindungi perut. Hatinya dilanda marah besar, karena apa yang dia harapkan dari Yuna tak dia dapatkan.
“Terserah kamu, Mas. Aku lelah hidup denganmu. Biarkan aku pergi. Toh, selama ini aku tidak pernah kamu anggap sebagai istri,” ucap Yuna tanpa mau memandang Aksa. Tatapan wanita itu lurus ke depan, mengarah pada sebuah pintu yang sengaja dibuka lebar oleh kekasih Aksa.
“Pergi… Pergi kamu yang jauh…. jangan pernah tunjukkan muka kotormu itu dihadapanku lagi. Aku sudah muaaakk!”
Aksa seperti kesetanan, membanting semua vas vas mahal yang ada. Tak memperdulikn teriakan dari dua wanita yang memintanya untuk berhenti.
Yuna yang ketakutan, dengan cepat meninggalkan Aksa yang sedang marah luar biasa.
****
Beberapa hari setelah mendaftarkan gugatan. Aksa masih tak percaya jika dia ternyata selalu memikirkan Yuna. Hidup satu atap lebih dari dua tahun, ternyata membuatnya kehilangan sosok yang selalu melayani kebutuhannya setiap hari. Perhatian, kasih sayang yang dia dapatkan dari Yuna. Tak sama dengan yang dia dapatkan dari Cintya.
Tapi, bayangan Yuna sedang dipeluk lelaki dalam foto itu. Membuat amarahnya semakin menjadi setelah dia tahu jika foto itu bukan editan.
Menggenggam perasaan sedih, marah, kecewa, dia menekan pedal gas tanpa kendali.
Menarik kereta besi itu hingga kecepatan maksimal. Decitan ban dan aspal, bahkan meninggalkan bekas karena kendaraan yang melaju dengan begitu kencang di jalan Tol yang seharusnya maksimal kecepatan yang dilalui hanya seratus kilo meter per jam.
Kewaspadaan dan fokus Aksa tiba- tiba menghilang, ketika tiba- tiba ada mobil yang menyalipnya.
Dengan kecepatan lebih dari seratus lima puluh kilometer per jam. Aksa membanting setir untuk menghindar. Tapi, karena kecepatan yang terlalu tinggi serta bantingan stir yang terlalu menukik tajam, kecelakaan tak bisa ter elak- kan lagi.
“Aaaaaaakk!” Teriakan melengking terdengar seiring dengan hantaman kendaraan yang dia tumpangi pada pembatas jalan.
Hantaman yang sangat keras, membuat kaca dan pintu ringsek parah. Tubuh gagah Aksa terpelanting. Seakan melayang, keluar dengan sendirinya dari mobil. Terlempar hingga beberapa meter jauhnya.
Sedangkan mobil yang ditumpanginya, terguling dan menggulung beberapa kali seperti terbang ke udara.
Gulungan itu menimbulkan percikan api dari bahan bakar yang bocor. Pertama, percikan tersebut membentuk hanya seperti kembang api. Tapi lama- lama….
Booommmmm! Ledakan dasyat terjadi pada kilometer seratus lima puluh. Api dengan cepat membumbung tinggi. Asap hitam
Mengepul dari kendaraan Aksa yang meledak.
Aksa yang tergeletak dan bermandikan darah, hanya dapat memandang nanar mobil kesayangan yang telah meledak dan hancur berkeping- keping.
Lidahnya seakan kelu untuk hanya sekedar meminta tolong.
Pandangan lelaki itu kabur seiring dengan darah yang mengalir membasahi mata. Perlahan, mata itu sudah tak sanggup lagi untuk terjaga. Aksa menutup mata.
******
Seorang Dokter dengan berpakaian serba putih. Memasuki ruangan. Operasi pemasangan Pan untuk kaki yang patah serta beberapa tulang rusuk baru saja dilakukan.
Seorang lelaki tergeletak dengan tubuh yang nyaris penuh dengan alat medis. Dada lelaki itu bergerak kembang kempis seperti seseorang yang kesulitan bernafas.
Bunyi alat berbentuk kotak pengukur detak jantung, berfungsi dengan baik. Bunyi yang teratur menandakan jika jantung lelaki itu berdetak dengan normal.
“Keluarga bapak, Aksa?” tanya seorang Dokter muda sambil membenarkan letak kacamata yang dia pakai.
“Iya, saya Mamanya, Dok!” jawab Mama Aksa mendekat. Wanita itu menggandeng tangan Cintya.
“Maaf, kecelakaan dasyat yang dialami Pak Aksa, membuat organ reproduksi ikut terganggu. Dan maaf, jika saya harus menyampaikan. Bahwa Pak Aksa akan lumpuh dibagian alat vitalnya. Pak Aksa tidak akan bisa mempunyai anak lagi!”
Aksa yang ternyata sudah tersadar, dia mendengar semua yang dikatakan Dokter. Matanya mendelik seakan tak percaya.
****
CERITA INI GRATIS SAMPAI TAMAT DI FIZZO. Klik link dibawah
BENIH TERAKHIR oleh A N R A